jangan baca sendirian

jangan baca sendirian
MENANTU DURHAKA


__ADS_3

Eh, ada perempuan yang melambaikan tangan.


Lumayan, kali aja bisa diajak kenalan?!


"Tengah malam begini, Mbak ngapain di sini?" tanyaku.


Perempuan tersebut tak menjawab. Tetapi, dia langsung naik dan duduk di jok belakang motor yang aku kendarai.


"Hm, biarlah. Mungkin, kalau sudah waktunya turun, dia akan meminta untuk diturunkan." gumamku dalam hati.


Aku melanjutkan perjalanan.


Sambil melaju, sesekali aku mengajak perempuan tersebut ngobrol. Tetapi, dia hanya terdiam.


Dipikir-pikir. Wajah perempuan tersebut tidaklah asing. Dia mirip sama Ayu, istrinya Warno.


Tetapi, tak mungkin kalau dia Ayu. Ayu kan sudah meninggal beberapa hari yang lalu!


Saat melewati kuburan, perempuan tersebut menepuk pundakku.


Aku berhenti dan mencoba bertanya.


Saat memalingkan wajah ke belakang, perempuan itu terbang sambil tertawa.


Aku syok dan mencoba menyalakan mesin motor. Tetapi, mesin tak mau hidup!


Aku begitu ketakutan dan langsung jatuh pingsan.


Itulah, yang Rano ceritakan padaku.


"Yang benar, No? Mungkin, Kamu salah lihat?"


"Benar Bu, Aku berani sumpah. Kalau perempuan tersebut adalah Ayu, menantumu!"


Aku tak bisa berkata-kata lagi.


Soalnya, bukan hanya Rano yang pernah diganggu sama Ayu.


Hampir semua warga dikampung ini pernah diganggu sama dia.


"Ya sudah Bu, Aku permisi dulu. Assalamualaikum...."


"Walaikumsalam."


Namaku Asih. Aku seorang Janda beranak satu.


Sepeninggal suamiku, Warnolah yang menjadi tulang punggung keluarga.


Saat itu, usia Warno sudah tidak muda lagi.


Disamping ingin mempunyai cucu, aku juga menginginkan ada seorang perempuan yang bisa membantuku dirumah. Karena, aku sudah tua dan sering sakit-sakitan.


Warno adalah anak yang giat bekerja. Tetapi, dia tak mempunyai kerjaan tetap.


Dia akan mengerjakan apa saja, yang penting halal.


Pukul 5 sore, Warno pulang.


Seperti biasa, dia selalu mencium tanganku.


"War, Ibu mau ngomong sesuatu. Tetapi, tidak sekarang. Kamu mandi saja dulu ya?!"


"Oh, ya sudah Bu. Aku mau mandi dulu!"


Beberapa saat kemudian, Warno menemuiku.


"Bu, katanya mau ngomong sesuatu?"


"Iya Nak. Usiamu kan, sudah tak muda lagi. Temanmu juga sudah banyak yang menikah dan mempunyai anak. Ibu sudah tua dan sering sakit-sakitan. Ibu takut, kalau Ibu tiada sebelum menimang cucu!"


"Iya si Bu. Kebetulan, Aku juga sudah punya pacar."


"Syukurlah. Siapa nama perempuan tersebut?"


"Namanya Ayu, Bu."


"Ayu? Anaknya Pak Rokim?"


"Iya Bu. kengapa, Ibu kaget begitu?"


"Tidak apa-apa. Ibu senang kalau Kamu sudah punya pacar!"


"Kalau Ibu merestui. Bulan depan, lamarkan Ayu untukku!"


"Iya Nak, Insya Allah ...."


Sebenarnya, aku merasa berat hati kalau anakku pacaran sama Ayu. Apalagi, mau menikahi dia.


Padahal, hampir seluruh warga tahu akan sifat Ayu.


Perawan tua yang sombongnya bukan main.


Mungkin, karena tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, dia jadi seperti itu.


Ibunya meninggal dunia, saat usia Ayu masih belia.


Dia dibesarkan oleh Ayahnya dan sering ditinggal dirumah sendirian.


Sebulan kemudian....


Aku dan Warno mendatangi rumah Pak Rokim. Kebetulan, beliau ada dirumah.


Aku memberitahukan niat kita mendatangi rumahnya.


Pak Rokim memanggil Ayu dan dia duduk diruang tamu bersama kita.


Ayahnya menjelaskan perihal kedatangan kami dan Ayu pun setuju.


Kita pun menentukan tanggal untuk pernikahan.


Tanggal sudah didapat dan beberapa hari kemudian, Warno dan Ayu pun menikah.


Warno yang sudah beberapa hari tak mendapat pekerjaan. Akhirnya, ada salah satu teman yang mengajaknya bekerja. Tetapi, tidak di kampung ini.


Warno pergi merantau.


Untungnya, ada Ayu yang menemaniku dirumah.

__ADS_1


Warno pamit dan dia pun berangkat.


Setelah Warno pergi meninggalkanku, sifat Ayu langsung berubah.


Dia menjadi anak pemalas dan menghabiskan waktu dengan handphonenya.


Aku mencoba menasehatinya dengan cara lembut. Tetapi, Ayu malah marah.


Beberapa hari berlalu. Ayu menunjukan sifat aslinya.


Tak hanya sibuk bermain handphone, dia juga kerap menyuruhku mengerjakan pekerjaan rumah.


Bahkan, mencuci pakaian sendiri saja dia tidak mau dan selalu menyuruhku dengan marah-marah.


Aku tak berdaya dengan sifatnya dan hanya bisa berdoa dalam salatku.


Aku menangis dan memohon sama tuhan yang mahakuasa, agar mata hati Ayu, terbuka.


Aku terus bersabar menanggapi sifatnya yang sudah memperlakukanku sebagai pembantu dirumah sendiri.


Bukan hanya menyuruhku dengan paksa. Dia juga kerap memukuliku.


Padahal, waktu itu aku sedang sakit keras.


Yang paling menyakitkan. Waktu itu dia menyeretku secara paksa dari dalam kamar menuju dapur.


Dia mendorongku sampai terjatuh.


Aku menangis. Tetapi, dia masih terus menyuruhku untuk mencuci piring.


Dia memegang sapu dan beberapa kali memukulkan gagang sapu ke lantai dan akhirnya, menendang punggungku. padahal saat itu, aku mencoba bangun karena tersungkur.


Beberapa bulan sekali, Warno pulang.


Tetapi, aku tak pernah mengadukan perilaku Ayu.


Ayu pernah mengancam akan membunuhku, kalau saja, aku mengaduhkan perilakunya pada Warno.


Aku tak mengaduh bukan karena takut. Tetapi, aku kasihan sama Warno kalau saja dia tahu dan menceraikan istrinya. Aku tak mau membuat Warno sedih.


Yang aku pikirkan hanyalah, sesuatu saat, Ayu akan sadar!


Beberapa bulan kemudian. Perut Ayu sudah mulai membesar.


Dia hamil dan hari ini, sudah genap sembilan bulan.


Air ketubannya sudah pecah dan dukun beranak pun sudah dipanggil kerumah.


Tetapi, sampai berhari-hari Ayu tak kunjung melahirkan.


Dan akhirnya, Ayu dirujuk kerumah sakit.


Saat itu, Aku ikut menyaksikan proses kelahiran Ayu.


Dia begitu tersiksa.


Aku menangis dan mencoba membelai rambutnya.


'bug,' Ayu memukul wajahku. Bukan itu saja, Dokter dan Suster yang membantu persalinan pun, tak luput dari amukan Ayu.


Akhirnya, kaki dan tangan Ayu dipegang secara paksa oleh tim dokter dan dia diikat ke ranjang.


Barulah, Dokter bisa tenang dan melanjutkan proses persalinan.


Ayu menggeram dan menarik napas panjang.


Lantas, Ayu menjatuhkan kepalanya ke bantal.


Cucuku lahir kedunia.


Aku menangis bahagia dan tersenyum sambil melihat kearah Ayu.


Dokter, memberikan bayinya pada Ayu.


Tetapi, Ayu masih terdiam dengan mata melotot dan mulut mengangah lebar.


Aku mendekati Dokter dan mengambil anak Ayu dari gendongannya.


Aku tersenyum bahagia setelah melihat wajahnya yang mirip dengan Warno.


"Inalillahi wa innailaihi roji'un...."


Aku kaget dan memalingkan wajah.


Dokter menggelengkan kepala sambil berpesan, agar aku bisa tabah.


Setelahnya, mereka pergi meninggalkan ruangan.


Aku mendekati Ayu dan menangisi kepergiannya.


Kening Ayu, aku cium sebagai tanda perpisahan.


Setelah menguburkan jenazah Ayu. Esok harinya, Warno pulang.


Dia tampak senang melihatku yang tengah menggendong bayi.


Dia langsung menebak, kalau bayi tersebut adalah anaknya.


Tak lama, Warno bertanya tentang Ayu.


Aku bingung harus jawab apa?!


Warno memaksaku dan akhirnya, aku memberitahukan padanya.


Warno menangis, dia begitu terpukul dengan kabar yang dia dengar.


Tak begitu lama, ada penjaga kuburan yang datang kerumah. Namanya, Pak Kodir.


Dia datang membawa kabar. Kalau, kuburan Ayu berantakan. Seoalah-olah ada orang yang mengacak-acak kuburannya.


Warno marah dan hampir memukul Pak Kodir. Tetapi, aku mencoba menghentikannya dan menyuruh dia untuk bersabar.


Akhirnya, kita pun pergi ke area pemakaman.


Pak Kodir, berjalan paling depan.


Sampai di tanah kuburan Ayu. Pak Kodir menunjuk kearah kuburan dan dia berucap, kalau tak berbohong.

__ADS_1


Aku menangis, melihat tanah kuburan Ayu yang berantakan.


Kedua batu nisannya pun lepas.


Aku dan Warno duduk disebelah kuburan Ayu sambil menangis.


Pak Kodir, langsung pergi meninggalkan kita berdua.


Warno, mengusap air matanya dan dia langsung merapikan kembali kuburan milik Ayu.


Aku pun berdiri dan mencoba membantu Warno.


Kemarin malam, terdengar suara orang yang menangis.


Aku melihat sosok perempuan mengenakan baju berwarna putih kusam.


Sambil menangis, dia berjalan mendekati cucuku.


Aku begitu ketakutan dan membaca ayat suci.


Tak lama, sosok tersebut menghilang.


Tetapi, aku sempat melihat wajahnya.


Wajahnya mirip seperti Ayu.


Malam ini, cucuku tidur dikamar berbeda.


Dia tidur dengan Warno, Ayahnya.


Aku hanya bisa berdoa. Semoga, malam ini Ayu tak datang kerumah.


Tengah malam, aku terbangun.


Warno berteriak memanggil-manggil nama Ayu.


Aku langsung bangun dari tempat tidur dan segera keluar kamar.


Warno tak menutup rapat pintu kamarnya.


Aku berdiri mematung didepan pintu.


Warno memegangi anaknya dengan erat.


Ayu, mencoba mendekati mereka berdua.


Aku kembali melangkahkan kaki dan masuk kedalam kamar Warno.


Ayat suci kembali aku bacakan. Ayu teriak kepanasan dan menghilang.


Aku mendekati Warno yang tengah duduk diranjang.


Warno, masih menggendong anaknya.


Aku duduk disamping Warno sambil menangis dan mengelus-elus kepala cucuku yang menangis begitu hebat.


napas Warno terengah sambil memandang kesetiap penjuru kamar.


Tak lama, terdengar suara perempuan tertawa dari luar rumah.


Suara tersebut semakin lama semakin tak terdengar. Mungkin, dia pergi menjauh.


Pas keesokan hari, warga datang silih berganti.


Mereka datang degan perihal yang sama.


Mereka mengaduhkan, kalau Ayu sudah membuat resah dan kerap mengganggu warga.


Aku mengadakan acara yasinan dan tahlilan setiap harinya.


Padahal seharusnya, acara tersebut hanya diadakan sampai hari ke tujuh dan disambung lagi, pada hari ke empat puluh.


Walau sudah berhari-hari diadakan acara tersebut, arwah Ayu tak kunjung pergi. Dia masih terus meneror para warga.


Pada suatu hari, aku memberanikan diri dan bertanya pada ustaz yang biasa memimpin acara tahlilan.


Awalnya dia enggan untuk bicara.


Sampai, orang lain meninggalkan rumah dan ustaz pun berkata,


"Ayu, ada di sini. Mungkin, kalian tak bisa melihatnya. Aku sudah bertanya pada Ayu. Dia bilang, kalau tak akan pergi sebelum membawa anaknya."


Hanya tangisan yang bisa aku curahkan.


Warno, ikut sedih setelah mendengar apa yang ustaz jelaskan.


Esok harinya, kita mengadakan acara ruwatan dan berharap, Ayu tak lagi bergentayangan.


Setelah mengadakan acara ruwatan. Cucuku tiba-tiba sakit.


Warno panik dan langsung membawanya pergi ke salah satu Mantri.


Tetapi, panasnya tak kunjung turun.


Sudah berhari-hari dia sakit dan malam ini, cucuku meninggal.


Yang diucapkan sama ustaz ternyata benar.


Sepeninggal cucuku, arwah Ayu tak lagi bergentayangan.


Apa aku harus senang, karena Ayu sudah tak lagi mengganggu?


tetapi, tak ada salahnya aku bersedih setelah ditinggal oleh cucuku yang masih bayi!


__Tamat__


teman baca jugak novel baru ku berjudul. wanita keji . menceritakan 2 anak gembar . yg berdarah dingin.


WA&WU . romantis


bacon . horror


ruang misteri . horro jugak


wanda315 . vantasi petualangan.


tolong di supot di like jugak komentar apa yg harus di perbaiki . follo dan vote jugak vot nya .. terimakasih

__ADS_1


__ADS_2