
Di pagi yang begitu cerah, semua murid baru dari sekolah SMA Swadaya berkumpul di lapangan untuk mendapatkan arahan dari Kepala sekolah, terkait dengan aturan-aturan yang berlaku di sekolah.
Di tengah penyampaian pidato oleh Kepala Sekolah. Pak Soleh selaku keamanan di sekolah itu membawa tiga anak remaja yang juga murid di sekolah itu. mungkin bagi murid baru ini adalah hal yang baru pertama kali mereka lihat, tapi bagi murid yang sudah lama di sekolah ini, pemandangan yang demikian sudah hampir setiap hari mereka lihat, karena ketiga remaja yang di bawa oleh Pak Soleh adalah biang masalah di sekolah ini, dan ketiga remaja itu di ketuai oleh Vano, sisanya ada Alvaro dan Azka sebagai anggota yang gak kalah bandelnya seperti Vano.
"Apa mereka mau bolos lagi Pak?" tanya Pak Wijaya selaku kepala sekolah.
"Betul sekali Pak, mereka bolos lagi dan seperti biasa mereka bolos lewat tembok sekolah, untung aja saya sigap tadi, kalau gak mereka udah kabur," jawab Pak Soleh.
Pak Wijaya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan tiga murid nya itu.
"Untuk murid baru mohon perhatiannya sebentar,"
"Jadi tiga kakak kelas kalian yang di depan ini adalah murid yang tidak patut untuk di jadikan tauladan kalian, tiga murid ini adalah biang masalah di sekolah ini, mereka suka sekali bolos sekolah, jadi Bapak harap kalian tidak seperti mereka ini," ucap Pak Wijaya kepada para murid baru yang ada lapangan.
Seketika semua murid jadi heboh dan ribut setelah mendengar perkataan Pak Wijaya, banyak dari para murid membicarakan Vano, Alvaro dan Azka.
"Ganteng sih ganteng tapi kalau tukang bolos skip dah."
"Modal ganteng doang tapi suka bolos."
Begitu lah kira-kira ucapan dari beberapa murid baru yang ada di lapangan, di selah-selah keributan tersebut ada yang membuat Vano sedikit tertarik, yaitu pada salah satu murid baru yang penampilannya sangat berbeda dengan yang lain, karena ia tidak terlihat memakai make up dan penampilan nya yang seperti orang dari kalangan bawah, yang di maksud Vano adalah Elena, memang penampilan Elena sangat berbeda dengan yang lain karena ia sangat malas untuk merias diri. Merasa ada yang melihat ke arahnya Elena pun mecoba mencari tau siapa yang melihat nya, hingga pada akhirnya Elena melihat ke arah Vano begitupun dengan Vano melihat ke arahnya sehingga mereka kini saling adu pandang, sampai pada akhirnya Elena memutuskan kontak mata terlebih dahulu, sehingga membuat Vano tambah penasaran, karena kebanyakan wanita yang ia temui selalu suka memandangi nya berbeda dengan Elena yang seperti tidak suka dengannya.
"Baik semuanya, Terimakasih atas perhatiannya kalian boleh kedalam kelas, kecuali kalian bertiga," kata Pak Wijaya tegas yang seperti ingin memakan orang yang tentunya siapa saja yang melihat nya akan ketakutan, tapi sepertinya itu tidak mempengaruh terhadap Vano dan gengnya.
Kini sudah jam istirahat beberapa murid sudah berada di kantin untuk makan, begitupun dengan Vano dan gengnya yang terlihat sedang duduk di pojokan kantin.
"Sialan banget kita ketahuan bolos, mana di suruh bersihin toilet lagi," gerutu Alvaro.
"Lo sih lelet jadinya kita ketahuan sama Pak Soleh," ucap Azka mengatai Alvaro.
__ADS_1
"Lo kali yang lelet makanya kita ketahuan," balas Alvaro gak mau kalah.
Sedangkan Vano fokus memperhatikan Elena yang baru datang, Elena terlihat datang bersama dengan temannya yaitu Amanda.
"Woi Van, lo ngeliatin apaan?, fokus amat sampai gak merhatiin kita," tanya Alvaro sambil ikut mengarah ke tempat yang Vano liat.
"Jangan bilang kalau lo lagi ngeliatin itu cewek?" ucap Alvaro sambil menujuk ke arah Elena.
"Terus urusan nya sama lo apa kalau gue liatin tu cewek, emang itu cewek pacar lo?" Vano berucap sambil melihat ke arah Alvaro.
"Bukan begitu sih Van, tapi masak selera lo turun, apalagi sama cewek kutu buku seperti itu yang penampilannya gak banget," kata Alvaro yang merasa Elena bukan tipe cewek yang dia mau.
"Tapi kok dia bisa sekolah disini ya, padahal ini sekolah kan sekolah elite yang biayanya lumayan mahal, kalau di liat dari penampilan tu cewek kayak orang dari kalangan bawah," kini Azka yang berucap ia sangat penasaran kenapa Elena bisa masuk ke sekolah nya yang terkenal cukup mahal itu.
"Mungkin dapat beasiswa," ucap Alvaro menduga.
"Sejak kapan kalian jadi tukang gosip begitu, kayak ibu-ibu," tanya Vano heran melihat teman-temannya.
"Lagian kita juga gak tau asal usul tu cewek, jadi gak usah di nilai dari penampilan nya aja," kata Vano, dan Vano pun beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kantin meninggalkan Alvaro dan Azka.
"Tumben-tumben Vano bisa ngomong kayak gitu, mungkin otaknya udah konslet," kata Alvaro yang tidak percaya dengan apa yang barusan Vano katakan.
"Bisa jadi sih, soalnya kita gak pernah liat dia belain cewek." Azka juga merasa heran dengan bosnya itu.
"Mungkin tadi pagi salah minum obat," sambung Alvaro, dan mereka pun pergi dari kantin dan menyusul Vano.
Sementara itu Elena dan Amanda sedang asik ngobrol sambil makan di kantin.
"Lo serius ntar balik bareng gue?" tanya Amanda sambil menyendok bakso yang ia pesan tadi.
__ADS_1
"Iya, emangnya kamu keberatan kalau aku nebeng pulang?" tanya Elena balik.
"Kenapa lo gak suruh sopir lo aja yang jemput," tanya Amanda lagi.
"Lo tau sendiri kan kalau gue gak suka yang kayak gitu yang terlalu mewah-mewah," jawab Elena.
"Ada ya orang yang gak suka kemewahan, kalau gue jadi lo tiap hari pasti shopping mulu." Amanda merasa heran dengan sifat Elena yang tidak suka memperlihatkan kekayaannya, Padahal Amanda tau sendiri seberapa kaya keluarga Elena karena Amanda adalah tetangga sekaligus teman kecil Elena dan sudah di anggap keluarga oleh Orang tua Elena.
"Bukannya kamu juga sering shopping."
"Tapi keluarga ku kan gak sekaya kamu El, jadi aku gak sering shopping," keluh Amanda
"Udah ah gak usah di bahas di sini, takutnya ada orang yang denger obrolan kita."
Setelah kenyang Elena dan Amanda kembali ke kelas untuk lanjut belajar, tapi sebelum kembali ke kelas Amanda pergi ke toilet terlebih dahulu untuk mencuci tangan tapi saat tiba di toilet ia mendengar siswa lain sedang membicarakannya.
"Amanda kok mau ya, berteman sama Elena,"
"Iya, padahal Amanda kan anak konglomerat tapi kok mau ya berteman sama Elena yang dari kalangan bawah,"
"Apa mungkin Amanda kemakan sama omongannya Elena sampai dia mau berteman sama Elena."
"Bisa jadi sih."
Kira-kira begitu lah ucapan dari beberapa siswa yang ada di toilet itu.
Mendengar percakapan yang sudah mengarah kemana mana, Amanda segera melangkahkan kakinya lumayan keras saat masuk ke toilet, melihat siapa yang masuk, siswa yang tadi ngomongin Amanda pun keluar dari toilet, Amanda hanya tersenyum tipis melihat kelakuan teman-temannya.
"Kalian belum tau aja siapa Elena, kalau aku jadi Elena udah aku keluarin kalian dari sekolah ini," batin Amanda.
__ADS_1