Jendela Sekolah

Jendela Sekolah
Akal-Akalan Vano


__ADS_3

Selang beberapa menit Dokter yang bertugas di uks itu pun keluar.


"Siapa yang namanya Amanda?" tanya Dokter itu ketika keluar.


"Saya Dok," jawab Amanda.


"Alhamdulillah, Elena sudah sadar, terus dia cari Amanda, katanya ada yang mau dia bicarakan sama namanya Amanda," jelas Dokter tersebut.


"Teman kita gak kenapa-napa kan Dok?" tanya Azka.


"Elena cuma pingsan biasa aja, mungkin efek kekurangan oksigen saat terkunci di dalam toilet," terang Dokter tersebut.


Amanda pun masuk untuk melihat keadaan Elena, sedangkan Vano dan teman-temannya pergi ke belakang sekolah yaitu tempat biasa mereka kumpul.


"Nda," panggil Elena begitu melihat Amanda masuk.


"Syukurlah kalau kamu udah sadar El, tadi aku khawatir banget saat ketemu kamu pingsan di toilet, gimana sekarang lo udah gak papakan?" ucap Amanda.


"Terimakasih Nda, lo udah khawatir gue, dan gue juga udah gak papa," balas Elena.


"Lo juga harus berterimakasih sama Kak Vano dan teman-temannya," kata Amanda, Elena pun mengerutkan keningnya karena belum paham dengan omongan Amanda barusan.


"Jadi, tadi Kak Vano sama gengnya yang udah bantuin aku untuk cari kamu, kita bahkan sampai cek cctv sekolah buat bisa nemuin kamu El," jelas Amanda saat melihat Elena bingung karena ucapan sebelumnya.


"Terus Kak Vano juga yang gendong kamu ke uks," sambung Amanda.


"Iya udah deh nanti aku bilang terimakasih sama Kak Vano," jawab Elena.


"Tapi aku mohon ya Nda, jangan bilang sama Mama dan Papa aku, kalau aku pingsan di toilet karena habis kekunci," mohon Elena kepada Amanda.


"Itu sih aman El, karena kalau sampai Om Sanjaya atau Tante Sarah tau soal ini, udah sih bisa terjadi kehebohan di sekolah ini," ucap Amanda.


Mereka pun kembali ke kelas, setelah Elena merasa baikan, setelah masuk kelas mereka pun melanjutkan pelajaran yang tersisa, walaupun telat masuk kelas, mereka tetap dikasih masuk karena alasan yang masuk akal.


Sementara itu di belakang sekolah Vano dan gengnya sedang membicarakan kejadian yang menimpa Elena.


"Jadi gimana Van?" tanya Alvaro.

__ADS_1


"Seperti yang udah gue bilang dari awal," jawab Vano.


"Lo yakin ngelakuin itu Van?, apa gak akan menjadi masalah baru lagi buat Elena," tanya Alvaro.


"Lo tenang aja, Elena gak akan ikut kebawa ke masalah ini," kata Vano sudah yakin dengan apa yang dia akan lakukan.


Tak terasa waktu pulang sekolah telah tiba, Elena dan Amanda pun juga sudah mau pulang tapi di saat mereka sedang berada di parkiran mereka bertemu dengan Vano.


Elena pun menghampiri Vano untuk berterimakasih kasih, karena Vano sudah membawanya ke uks.


"Halo Kak, aku cuma mau bilang terimakasih karena Kak Vano sudah mau bawa aku ke uks waktu pingsan tadi," ucap Elena dan langsung pergi karena merasa was-was ngobrol dengan Vano.


Karena teringat waktu di panti saat Vano mendatanginya. Tapi langkah Elena harus terhenti saat Vano membuka suara,


"Ada ya orang bilang terimakasih tapi langsung pergi begitu aja," ucap Vano sambil bersandar di motornya.


Mau tidak mau Elena pun kembali lagi untuk mengulangi perkataannya,


"Terimakasih karena tadi Kak Vano sudah membawa saya ke uks," ucap Elena mengulangi perkataannya, tak lupa juga dengan sedikit tersenyum yang di paksakan.


"Gitu dong, tapi bantuan gue tadi gak gratis lo," kata Vano dengan tersenyum jail.


"Bantuan lo mau di bayar berapa?" tanya Elena dengan nada galak, sampai dia lupa kalau yang ada di depannya itu kakak kelasnya.


"Santai gak usah ngegas gitu, lo tenang aja gue gak minta bayaran pakai uang kok, karena gue tau kalau lo gak akan mampu kalau bayar gue pakai uang," ucap Vano yang meremehkan Elena.


Vano belum tau aja sedang berhadapan dengan siapa, kalau sampai Vano tau bisa-bisa dia langsung menghilang dari muka bumi karena sUdah berbicara seperti itu.


Vano pun mengambil Handphone nya yang berada di saku celana, lalu dia menyerahkan ke Elena.


"Tulis kontak lo di handphone gue, nanti gue hubungin lo buat minta bayarannya, karena sekarang gue belum kepikiran buat minta bayaran apa sama lo," ucap Vano dengan santai.


Elena yang merasa punya hutang budi sama Vano, akhirnya menulis kontaknya di handphone Vano.


"Nih, udah gue tulis kontak gue di handphone lo," kata Elena sambil mengembalikan handphone Vano.


Di rasa urusannya sudah selesai Elena pun pergi di hadapan Vano dan kembali ke mobil Amanda.

__ADS_1


Setelah kepergian Elena, Vano pun tersenyum penuh kemenangan, karena sudah berhasil mendapatkan kontaknya Elena.


"Ternyata cara gue, berhasil juga buat dapetin kontaknya," seru Vano dan langsung melajukan motornya untuk pulang.


Sementara Amanda yang melihat Elena baru kembali ke mobilnya di buat heran dengan sikap Elena yang seperti sedang di landa kekesalan.


"Lo kenapa El, kayak orang kesal gitu," tanya Amanda.


"Iya gue lagi kesal, bisa-bisanya tu cowok minta bayaran karena tadi udah bantuin gue, lagian gue juga gak butuh bantuan dia," ucap Elena yang masih merasa kesal karena ulah Vano.


"Maksud lo Kak Vano?" tanya Amanda.


"Terus siapa lagi kalau bukan dia," jawab Elena.


"Emang dia minta bayar berapa?"


"Katanya dia gak mau di bayar pakai uang, takutnya gue gak ada uang buat bayar dia, jadinya dia minta kontak gue buat dihubungin kalau dia udah kepikiran mau di bayar pakai apa," jawab Elena.


"Wah-wah, ada yang perlu di kasih paham nih, dia belum tau seberaya kayanya lo El, bisa-bisanya dia bilang lo gak punya uang," kata Amanda yang sengaja memanaskan-manaskan Elena, padahal sebenarnya Amanda tau itu hanya akal-akalan nya Vano buat dapetin kontaknya Elena.


Karena yang Amanda liat Vano bukan orang yang seperti itu.


"Jadi kita mau pulang, apa lo mau ngomel-ngomel disini?" tanya Amanda.


"Ya kita pulang lah, gue udah selesai ngomel-ngomelnya," jawab Elena, tapi masih terlihat kesal, Amanda hanya tersenyum pelan melihat ekspresi Elena saat sedang kesal.


Mereka pun akhirnya meninggalkan area sekolah untuk segera pulang.


Ternyata sedari tadi ada yang merhatiin mereka yaitu Clara dan gengnya,


"Belum kapok juga itu anak baru, sekarang dia semakin punya nyali buat deketin Vano," kata Naomi.


"Lo harus bertindak sih Ra, biar itu anak baru gak semakin ngelunjak," ucap Vania menambahkan.


"Kita liat dulu, itu anak baru, kalau melewati batas dan semakin gak tau diri, baru gue akan kasih pelajaran biar tu anak baru kapok, dan menyesal sudah berurusan dengan Clara," kata Clara dengan tersenyum licik sesuai dengan khasnya.


"Sekarang mending kita cabut," perintah Clara.

__ADS_1


Mereka pun meninggalkan area sekolah juga untuk pulang.


__ADS_2