Jendela Sekolah

Jendela Sekolah
Kemarahan Laura


__ADS_3

Kini Vano sedang duduk di kursi yang ada di Restoran, Vano sedang menunggu Alvaro dan Azka untuk datang, hingga beberapa detik Azka dan Alvaro sudah datang.


"Tumben lo ngajak kita ke sini Van?" tanya Alvaro


"Ada yang pingin gua omongin sama kalian, dan gua butuh bantuan kalian" kata Vano dengan santai dan tetap cool.


Alvaro dan Azka pun menatap Vano dengan serius, karena selama mereka berteman ia belum pernah melihat Vano berbicara seserius ini.


"Kalian ingat sama cewek kutu buku yang lo waktu di sekolah itu" tanya Vano


"Iya ingat, jangan bilang kalau lo ada masalah sama itu cewek kutu buku" jawab Alvaro sekaligus menduga kalau Vano memiliki masalah sama Elena, cewek yang di maksud Alvaro


"Saat tu natap gua kemarin pas kita ketahuan bolos sama Pak Sholeh gua ngerasa itu cewek gak asing bagi gue, dan itu yang selalu bikin gue kepikiran terus"


"Jangan bilang kalau lo gak tidur kemarin gara-gara itu cewek" tebak Alvaro dan Vano membenarkannya.


"Makanya gue minta tolong sama kalian buat cari tau asal usul itu cewek" ucap Vano selanjutnya.


"Yang lo maksud Elena kan Van?" kata Azka buka suara.


"Kok lo bisa tau namanya?" tanya Vano penasaran


"Kemarin gua gak sengaja ketemu dia sama temannya di jalan, karena ban mobil temannya bocor jadi gua bantuin, setelah gua selesai bantuin dia akhirnya kita kenalan, oh ya seingatku nama teman ceweknya Amanda" jelas Azka


"Informasi yang bagus, jadi kita bisa ngulik informasi tentang itu cewek lewat temannya"


"Caranya?" tanya Alvaro


"Caranya, Salah satu dari kalian deketin temannya Elena" kata Vano tanpa pikir panjang.


Seketika Alvaro dan Azka saling pandang setelah mendengar apa yang barusan Vano ucapkan.


"Lo becanda kan Van"


"Gua lagi gak becanda Al"


"Kalau gitu Azka aja yang deketin temannya si kutu buku itu" ucap Alvaro sambil mengarah ke Azka


"Loh kok jadi gua" kata Azka tidak terima


"Karena lo yang udah kenalan sama temannya si kutu buku itu" jawab Alvaro


"Kata Alvaro ada benarnya juga Az" tambah Vano


Demi persahabatan mereka akhirnya Azka setuju untuk mendekati Amanda untuk mendapatkan informasi tentang Elena


Semetara itu Keluarga Sanjaya sudah mau pamit karena sudah larut malam

__ADS_1


"Terima kasih Pak Sanjaya sudah meluangkan waktunya untuk datang kesini"


"Sama-sama Pak Dirgantara, saya juga merasa senang bisa datang kemari" balas Sanjaya


Pak Dirgantara dan Diana pun mengantar Keluarga Pak Sanjaya sampai di luar.


"Untuk Nak Elena kapan-kapan main kesini lagi ya, biar Tante ada teman main dirumah" kata Diana kepada Elena sebelum pulang


"Iya Tante" jawab Elena dengan tersenyum.


Akhirnya Keluarga Sanjaya meninggalkan kediaman Dirgantara, tak berselang lama setelah kepulangan Keluarga Sanjaya, terdengar suara motor Vano masuk kedalam garasi rumah.


Begitu Vano masuk di ruang tamu sudah ada Diana dan Dirgantara.


"Malam Ma, Pa" sapa Vano


"Kamu habis darimana Van?" tanya Dirgantara


"Habis keluar Pa," jawab Vano santai sambil duduk.


"Sekarang kamu sudah kelas tiga SMA Van, itu artinya kamu sudah besar, jadi Papa harap kamu bisa rubah kebiasaan kamu yang suka keluar-keluar malam"


"Lebih baik perbanyak lagi waktu belajar, biar kamu lulus dengan nilai yang tinggi" nasehat Dirgantara kepada Vano


"Iya Pa"


"Sekarang kamu istrihat biar besok gak susah dibangunin"


Vano pun masuk kedalam kamarnya untuk istirahat, tapi Vano tidak langsung tidur ia masih memikirkan Elena, dimana dia pernah bertemu dengan Elena, sampai pada akhirnya Vano ketiduran.


Ke esokan paginya siswa dari SMA Swadaya sudah berdatangan termasuk Elena dan Amanda.


Saat menuju ke kelas Elena tak fokus melihat kedepan hingga,


Brukk..


Elena tak sengaja menabrak siswa yang berada di depannya yang ternyata itu adalah Clara.


"Apa kau tidak bisa melihat di mana kau berjalan?, sampai bisa menabrak orang didepanmu" kata Clara dengan marah.


"Maaf Kak saya gak sengaja" kata Elena minta maaf


Tapi bukan Clara namanya kalau memaafkan orang begitu saja,


"Lo bakal gua maafin kalau lo mau minta maaf sambil berjongkok di hadapan gue" pinta Clara dengan senyum penuh kelicikan, Amanda yang mendengar itu tidak terima sahabatnya di perlakukan begitu saja.


"Teman gua udah minta maaf ya, dan dia juga gak sengaja jadi gua rasa lo gak perlu suruh dia buat lakuin apa yang lo minta" kata Amanda dengan kesal

__ADS_1


"Lo berani bentak gue?,"


"Lo belum tau siapa gue?" kata Clara dengan nada yang merehkan


"Mau lo siapa kek, gua gak peduli yang penting teman gua udah minta maaf" balas Amanda tak mau kalah.


"Nda, udah Nda" kata Elena yang tak mau melihat Amanda marah-marah seperti itu.


Sementara itu di sekitar mereka sudah banyak siswa yang melihat mereka berdebat, temasuk Vano dan gengnya dari arah kejauhan tapi ia tidak mau ikut campur


Perdebatan mereka pun harus terhenti saat salah satu guru melerai dan bel sekolah juga sudah berbunyi,


"Awas lo ya, urusan kita belum selesai" kata Clara sebelum meninggalkan Elena dan Amanda.


Dari arah kejauhan diam-diam Azka mengagumi keberanian Amanda melawan Clara yang dikenal suka menindas orang lain, dan Vano menyadari hal itu.


"Lo gak papa kan El" tanya Amanda khawatir


"Gua gak papa kok, terima kasih udah mau ngebelain gua, lo emang sahabat terbaik gue" kata Elena yang merasa beruntung memiliki sahabat seperti Amanda.


"Lo juga sahabat terbaik gue" balas Amanda


Mereka pun masuk kedalam kelas, di dalam kelas semua orang melihat ke arah Amanda karena berani melawan Clara, Salah satu dari mereka mendekati Amanda saat sudah duduk.


"Lo keren Nda, berani melawan bahkan membentak balik Kak Clara" puji Susan


"Emang dia siapa sih sampai orang pada takut sama dia" kata Amanda yang tidak tau siapa Clara


"Kalau gua dengar dari ceritanya sih, Kak Clara itu dikenal suka menindas adik kelas, bahkan sampai membulynya loh" kata Susan


"Pantes yang lain pada takut, kalau gue sih gak takut emang ini sekolah punya orang tua nya apa, sampai berani ngebuly orang," ucap Amanda dengan percaya diri.


"Hati-hati aja kalian berdua siapa tau Kak Clara masih marah sama kalian berdua."


"Lo tenang aja, gue jamin gak akan terjadi apa-apa," kata Amanda meyakinkan temannya itu.


Sementara itu Clara dan gengnya masih membahas kejadian tadi di toilet sekolah.


"Siapa itu cewek berdua, berani-beraninya dia ngelawan gua," kata Clara.


"Mungkin dia belum tau siapa itu Clara sesungguhnya," ucap Naomi yang semakin membuat Clara marah.


"Lo harus kasih kedua adik kelas yang sok jagoan itu pelajaran, biar dia tau sedang berurusan sama siapa," kata Vania yang semakin membuat Clara terbakar api kemarahan.


"Gue gak akan melepaskan mereka begitu saja,"


"Kalian liat aja, gue bakalan bikin dua adik kelas itu tertunduk tak berdaya di hadapan gua." kata Clara dengan senyuman liciknya.

__ADS_1


__ADS_2