
Di pagi hari Vano harus terpaksa bangun di sebabkan oleh suara emas dari Mamanya.
"Vano!..."
"Bangun!, ini udah jam berapa kamu masih belum bangun, gimana kamu mau jadi pewaris Dirgantara kalau bangunnya aja susah." Diana terus saja ngomel-ngomel sampai Vano bangun.
"Ini Vano udah bangun Ma," ucap Vano sambil berusaha membuka mata nya.
"Pasti semalam kamu pulangnya udah larut malam, makanya susah buat di bangunin," tebak Diana dan sudah pasti tebakannya benar.
"Mama tunggu di bawah, kita sarapan bareng," kata Diana dan langsung keluar dari kamar Vano. Vano pun pergi ke kamar mandi dengan cepat daripada nanti Mamanya ngomel lagi.
"Anaknya udah bangun Ma?" tanya Dirgantara begitu melihat Diana turun.
"Ya gitu, anaknya susah di bangunin," kata Diana dengan sedikit tak berselera.
"Kita harus banyak bersabar dalam menghadapi Vano, apalagi di usia dia yang sekarang, udah pasti anaknya susah di atur," kata Dirgantara yang berusaha menguatkan Diana.
"Mama juga tau kalau soal itu Pa, tapi Mama masih gak nyangka kalau anak kita sudah sebesar sekarang, sekarang anak kita sudah tidak kecil lagi, padahal rasanya baru kemarin Mama ngendong Vano," ucap Diana dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Udah, Mama jangan sedih gitu dong, malu kalau di liat Vano kalau Mama sedih begini," kata Dirgantara yang mengerti perasaan istrinya.
Tak berselang lama Vano pun turun, yang dimana Vano sudah siap dengan seragam sekolahnya. Vano pun bergabung dengan kedua orangtuanya di meja makan.
"Kapan kamu main ke kantor Van?" tanya Dirgantara di sela-sela waktu mereka sarapan.
"Sekali-kali kamu main ke kantor Papa, Van. Supaya orang kantor juga tau siapa yang akan jadi pewaris Dirgantara selanjutnya," kata Diana menambahkan.
"Vano masih mau fokus sekolah dulu Pa, lagian Vano kan harus belajar dulu biar bisa kelola perusahaan," jawab Vano.
"Tapi seenggaknya kamu main-mainlah ke kantor, biar kamu juga tau kondisi kantor kayak gimana."
"Nanti kalau Vano ada waktu Pa," jawab Vano singkat.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Vano pun berangkat ke sekolah, begitu pun dengan Dirgantara yang berangkat ke kantor.
Kini motor Vano sudah memasuki gerbang sekolah dan menuju ke arah parkiran. Sesampainya di parkiran di sana sudah ada Alvaro dan Azka.
"Wih tumben bos kita gak datang telat," kata Alvaro begitu Vano turun dari motornya.
"Emang gue kayak lo yang suka telat." Vano berkata sambil menoyor kepala Alvaro
"Gue mah orangnya rajin, gak kayak kalian pada yang suka telat," ucap Alvaro membela diri.
"Perasaan lo yang paling suka telat," kata Azka membalas perkataan Alvaro.
"Ya gak usah di perjelas juga, tadi gue cuma becanda aja," kata Alvaro yang kalah telak oleh Azka.
"Mending sekarang kita masuk ke kelas, daripada ntar Pak Soleh datang, kan urusannya bisa berabe," ajak Azka mengajak mereka masuk ke kelas.
"Gue setuju sama Azka, mending sekarang kita masuk ke kelas," timpal Vano yang setuju dengan usulan Azka.
Mereka bertiga pun cabut dari parkiran dan pergi ke kelas. Bersamaan dengan itu Bel sekolah juga berbunyi yang menandakan kegiatan ngajar mengajar sudah di mulai.
"Sampai disini dulu pertemuan kita ya anak-anak," ucap Guru tersebut mengakhiri kelas.
"Iya Pak," jawab para murid dikelas itu.
Setelah Guru keluar, para murid juga keluar untuk sekedar ke kantin atau bermain di sekitaran sekolah.
"Ke kantin yuk El," ajak Amanda sambil memasukkan bukunya di dalam meja.
"Ayo, gue juga udah laper banget," jawab Elena.
Pada akhirnya Elena dan Amanda pergi ke kantin. Sementara di lain tempat yaitu di belakang sekolah di sana sudah ada Vano dan teman-temannya.
"Gimana Van?, lo udah liat kan hasil pekerjaan gue," kata Alvaro membanggakan dirinya karena sudah berhasil menyelesaikan tugas yang di berikan oleh Vano.
__ADS_1
"Lo emang paling bisa di andelin, tapi lo juga harus awasin Naomi, siapa tau di dendam sama Elena, karena dia ngira kalau Elena yang udah laporan dia ke Guru BK," kata Vano memperingati Alvaro.
"Lo tenang aja Van, gue gak lepas tangan gitu aja," ucap Alvaro menyakinkan Vano, kalau dia bisa diandalkan.
"Terus rencana lo selanjutnya apa Van?" tanya Azka membuka suara.
"Kita harus pastikan dulu kalau Elena itu orang yang sama dengan cewek yang gue temuin waktu gue masih umur 8 tahun dulu, yang gue ceritain waktu itu," kata Vano sambil mengingat-ingat kejadian 12 tahun yang lalu.
"Terus cara lo buktikan kalau dia orangnya gimana?" tanya Azka yang belum tau rencana Vano.
"Sini gue kasih tau," ucap Vano. Azka dan Alvaro pun mendekat ke arah Vano, setelah Vano membisikan sesuatu kepada mereka, mereka pun paham dengan rencana Vano.
"Gue yakin lo pasti berhasil," kata Alvaro setelah mengetahui rencana Vano.
"Gue juga yakin lo bakal berhasil sama rencana lo," tambah Azka.
Setelah mendapat dukungan penuh dari kedua sahabatnya itu, Vano semakin yakin untuk menjalankan rencananya untuk membuktikan kalau Elena adalah orang yang sama dengan orang yang ia temui 12 tahun yang lalu.
Sementara di kantin Elena dan Amanda tengah asik menyantap makanan yang sudah mereka pesan sebelumnya, namun tiba-tiba meja mereka di gebrak oleh Clara.
"Lo kan yang udah laporin Naomi ke Guru BK," tuduh Clara.
"Lo udah datang main gebrak meja orang, sekarang lo nuduh kita?" ucap Amanda yang tidak terima. Sementara Elena berusaha memberhentikan keributan tersebut karena semua orang di kantin tengah memperhatikan kejadian tersebut.
"Udah deh gak usah ngeles, siapa lagi yang laporin Naomi kalau bukan kalian, lo pasti gak terima kan karena Naomi udah ngunciin sih cewek miskin ini di toilet," kata Clara sambil menghina Elena dengan menyebutnya cewek Miskin.
"Biar pun lo Kakak kelas gue, bukan berarti gue takut sama lo, apalagi lo udah nuduh teman gue yang belum pernah dia lakuin sama sekali." Amanda berkata dengan emosi yang sudah meluap.
"Lo pasti di manfaatin sama ni cewek miskin buat belain dia," kata Clara yang membuat Amanda semakin emosi, tapi kali ini Elena tidak diam.
"Kakak gak punya hak buat ngejudge orang seenaknya gitu, apalagi nuduh gue manfaatin orang," seru Elena yang tidak terima di tuduh seperti itu oleh Clara.
"Alah, mana ada maling mau ngaku," ucap Clara yang masih seolah tidak percaya dengan apa yang Elena katakan.
__ADS_1
"Itu sih terserah Kakak mau percaya apa gak, yang penting gue udah ngomong yang sebenarnya," kata Elena tidak memperdulikan omongan Clara.
"Kali ini gue biarin kalian bebas, tapi bukan berarti urusan kita selesai," kata Clara sambil melirik tajam ke arah Elena dan Amanda. Setelahnya Clara pergi dari tempat tersebut dan di ikuti oleh Vania dari belakang. Sedangkan semua orang yang berada di kantin tersebut hanya bisa diam, karena mereka sudah tau seperti apa Clara.