Jendela Sekolah

Jendela Sekolah
Perubahan yang Begitu Cepat


__ADS_3

Kini di warung Bang Kemal sudah ada Vano dan beberapa anggota One Blood lainnya, termasuk Alvaro dan Azka.


"Akhirnya kegiatan pertama One Blood selesai juga," kata Alvaro setelah duduk di kursi yang ada di warung Bang Kemal.


"Iya, ternyata seru juga ngelakuin kegiatan seperti ini, apalagi bisa berinteraksi langsung sama masyarakat yang kita bantu," ucap Azka juga.


"Kegiatan seperti ini bisa memberikan kita banyak pelajaran, apalagi setelah melihat kehidupan warga yang kurang mampu, kehidupannya sangat kesulitan, apalagi ini ibu kota sangat banyak saingan yang harus mereka hadapi," kata Alvaro yang prihatin melihat kerasnya perjuangan mereka dalam bertahan hidup.


"Kita bisa dibilang beruntung karena kita bisa makan enak tiap hari, makanya gue buat kegiatan seperti ini, biar kita semua bisa belajar dan menghargai apa yang kita punya sekarang," kata Vano mengingatkan teman-temannya.


"Apalagi di umur kita yang sekarang, sudah tidak ada lagi waktu kita buat bermain-main," ucap Alvaro yang menyadari kalau sekarang mereka sudah menginjak dewasa.


"Ada manfaatnya juga kita melakukan kegiatan seperti ini, karena kita sadar bahwa selama ini kita terlalu sering membuang-buang waktu pada hal yang tidak bermanfaat," kata Vano yang semakin membuat mereka sadar untuk merubah kebiasaan mereka yang tidak baik selama ini.


"Gue juga baru sadar soal itu, apalagi setelah melihat begitu banyak orang yang tidak seberuntung kita, tapi walaupun begitu mereka terlihat sangat bahagia, bahkan bisa tersenyum dengan lepas, padahal kita tau sendiri gimana susahnya mereka," kali ini Azka berbicara cukup serius.


"Jadi gue rasa, kegiatan One Blood yang seperti ini, harus tetap kita lakukan, mungkin satu bulan sekali, atau lebih," kata Alvaro memberikan usulan.


"Gue juga setuju kalau soal itu," kata Azka menambahkan.


"Kalau gitu nanti kita atur kapan kita akan buat kegiatan seperti ini lagi," kata Vano yang sepertinya juga setuju.


Setelah dirasa tidak ada lagi yang perlu mereka bahas, mereka pun membubarkan diri, tak terkecuali Vano yang juga pulang, apalagi waktu sudah semakin sore. Setelah sampai di rumah dan sudah turun dari motor Vano pun langsung masuk kedalam rumah. Setelah masuk, disana Vano mendapati Mamanya yang sedang menyantap kue.


"Tumben Mama bikin kue," ucap Vano dan duduk di dekat Mamanya yang sedang berada di meja makan.


"Ini Mama bikin kue juga karena ada temannya," jawab Diana.

__ADS_1


"Jadi anak teman Mama itu beneran kesini?" tanya Vano yang tidak terlalu memperdulikan anak teman Mamanya itu.


"Jadi dong, sayangnya kamu gak ada disini sih, jadi Mama gak bisa kenalin kamu," ucap Diana yang sudah selesai memakan kue.


"Vano gak tertarik juga buat kenalan Ma," jawab Vano yang terlihat tidak tertarik dengan pembahasan tersebut.


"Kamu belum kenal aja Van, coba kalau kamu udah kenal sama dia, lagian orangnya juga gak kalah Cantik kok, apalagi cantiknya natural tanpa polesan make up sedikit pun," ucap Diana supaya Vano sedikit tertarik.


"Udah lah Ma, mau gimana pun orangnya Vano gak akan tertarik sama sekali," kata Vano yang sudah jenuh mendengar Mamanya membahas tentang anak teman Mamanya itu.


"Awas aja, kalau nanti kamu suka sama anak teman Mama itu, kalau sudah kenal," kata Diana yang tidak mau berhenti membuat Vano penasaran.


"Vano kekamar dulu ya Ma." ucap Vano yang sudah tidak mau meladeni Mamanya. Setelahnya Vano pun bangkit dari tempatnya dan berlalu begitu saja.


"Sampai kapan kamu akan terus menunggu orang yang belum pasti Van. Apalagi orang yang kamu tunggu belum ada kejelasannya sama sekali." Diana berkata begitu Vano sudah jauh pergi meuju kamarnya.


"Pagi Pak," sapa Vano begitu Pak Wijaya lewat di depannya setelah turun dari mobil.


"Tumben kalian rajin, gak biasanya bapak liat kalian datang sekolah sepagi ini." Pak Wijaya berkata seolah-olah itu merupakan kejadian yang sangat langka.


"Bagus dong Pak kalau kita rajin," kata Alvaro berbangga.


"Bagus, pertahankan. Kalau begitu bapak duluan," kata Pak Wijaya sambil mengacungkan jempolnya, dan langsung berlalu. Vano dan teman-temannya juga langsung pergi ke kelas, terlihat Vano dan teman-temannya begitu semangat untuk belajar pagi hari ini, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Pada jam pelajaran mereka juga tidak bolos, mereka terlihat menikmati kelas pada jam tersebut, sampai Guru yang mengajar pun terheran melihat keseriusan mereka, karena itu merupakan pemandangan yang baru. Sampai akhirnya jam istirahat sudah tiba, mereka bertiga pun pergi ke kantin, namun saat berjalan menuju ke kantin, ada salah satu siswa menabrak Vano.


Bruk...


Siswa yang menabrak Vano itu pun sangat ketakutan saat tau siapa yang ia tabrak, karena sudah pasti Vano akan menghajarnya, oleh karena itu tidak ada yang mau berurusan dengan Vano.

__ADS_1


"Maaf Kak, tadi aku gak sengaja," ucap siswa tersebut meminta maaf sambil gemetaran karena takut terhadap Vano. Siswa lain yang melihat kejadian tersebut sudah mengira kalau Vano akan menghajar siswa yang menabraknya. Namun mereka semua di buat tercengang saat melihat apa yang Vano lakukanlah.


"Iya gak papa, lain kali hati-hati," ucap Vano sambil tersenyum dan langsung lanjut berjalan menuju kantin. Semua orang yang melihatnya masih tidak percaya, bahwa itu adalah Vano, karena yang mereka kenal, Vano adalah orang yang keras kepala, dan tidak suka di usik sedikit pun. Semua orang pun bertanya-tanya, ada apa dengan Vano.


Kini Vano sudah berada di kantin bersama Alvaro dan Azka, makanan yang mereka pesan juga sudah datang, saat mereka tengah asik menyantap makanannya Elena dan Amanda juga datang ke kantin. Azka yang melihat Amanda dan Elena masuk pun memanggil nya.


"El, Nda, sini gabung bareng kita," ajak Azka sambil memanggil mereka berdua. Elena dan Amanda pun mendekat dan terpaksa bergabung karena gak enak sama Azka.


"Lo udah pesan?" tanya Azka begitu mereka duduk.


"Belum, lagian kita juga baru datang," jawab Amanda yang masih canggung dengan keadaan tersebut, apalagi kini mereka tengah berada di kantin, apalagi Amanda juga tau kalau Vano dan gengnya sangat terkenal di kalangan para siswa, jadi Amanda takut kalau ada gosip di antara para mahasiswa karena terlihat makan bareng dengan Vano dan gengnya.


"Aku sama Amanda makan di kursi lain aja ya Kak," kata Elena yang juga merasa gak enak buat makan satu meja dengan Vano dan gengnya.


"Lo gak usah, gak enakan gitu kali El, lagian kita juga gak ada masalah kan Van?" tanya Azka sambil melihat ke arah Vano.


"Iya, kalian tenang aja, kalau takut kena gosip, lagian kita juga santai-santai aja," kata Vano yang menyadari keresahan Elena dan Amanda.


"Tapi sekarang semua orang melihat ke arah kita dengan tatapan gak suka Kak, lebih baik kita gak usah satu meja," kata Elena sambil memperhatikan sekitar, yang dimana semua orang yang sedang makan di kantin itu melihat kearah Elena dan Amanda dengan tatapan tidak suka.


"Lo gak usah khawatir soal itu, lagian yang ngajak lo buat makan bareng kan kita bukan lo, jadi lo tenang aja," kata Azka santai sambil kembali menyantap makanannya.


"Nanti kalau ada gosip yang enggak-enggak, gue gak mau tanggung jawab ya," tegas Amanda yang khawatir akan terjadi sesuatu sama mereka.


"Iya, lo tenang aja, mending sekarang lo pesan makanan," ucap Vano, yang sekilas juga melihat ke arah Elena. Amanda pun memesan makanan terlebih dahulu, dan meninggalkan Elena sendiri di sana bersama dengan Vano dan teman-temannya. Bertepatan dengan itu Clara dan Vania masuk ke kantin, dan Clara pun melihat Elena yang sedang duduk satu meja dengan Vano.


"Makin di biarin, makin seenaknya aja tu cewek miskin, malah sekarang sok kecentilan buat dekektin Vano, " kata Clara dengan kesal.

__ADS_1


"Kalau kayak gini gak bisa di biarin sih Ra," kata Vania yang semakin membuat Clara tambah kesal. Clara pun berjalan menuju ke arah meja Vano, yang disana ada Elena juga.


__ADS_2