Jendela Sekolah

Jendela Sekolah
Vano Terluka


__ADS_3

Ternyata selama ini Elena salah mengira, bahwa Vano adalah orang yang nakal dan tidak peduli dengan sekitar, Elena jadi merasa bersalah karena sudah menuduh Vano yang enggak-enggak, sekarang El juga jadi tenang untuk berteman dengan Vano, Lalu masalah geng motor yang kemarin Elena liat?. Elena masih tidak mau menanyakan soal itu, takutnya nanti Vano salah paham.


"Oh ya guys, berhubung ini udah mau malam kita balik dulu ya," kata Amanda yang sudah mau pulang.


"Perlu kita antar gak?" tanya Azka.


"Gak usah, kalau gitu gue sama Elena balik duluan ya."


Amanda dan Elena pun meninggalkan warung Bang Kemal untuk pulang, kini Elena dan Amanda sudah berada di dalam mobil yang sedang menuju ke arah rumahnya. Namun di tengah perjalanan di kawasan yang lumayan sepi, tiba-tiba mobil mereka di stop oleh tiga orang preman. Seketika Elena dan Amanda jadi panik, mau minta tolong juga gak orang yang lewat, apalagi kawasan tersebut juga lumayan sepi. Mereka semakin di buat takut setelah salah satu dari preman itu menggedor kaca mobil mereka.


"Turun ... !"


"Kalau lo gak mau turun, ini kaca mobil gue pecahin!" seru Preman tersebut. Sedangkan Elena dan Amanda semakin ketakutan di dalam mobil.


"Aku takut banget El, mereka mau pecahin kaca mobilnya," ucap Amanda yang sudah gemetaran karena ketakutan.


"Terus kita harus gimana Nda," kata Elena yang tak kalah takutnya, apalagi preman tersebut menggedor kaca mobilnya semakin keras.


"Buruan keluar...!"


"Atau gue pecahin kacanya!" Terdengar Preman itu sudah tidak sabar untuk memecahkan kaca mobil, apabila mereka tidak mau turun. Di tengah ketakutannya, Elena baru ingat untuk menelpon seseorang untuk di mintai bantuan, dan orang pertama yang ia ingat adalah Vano.


"Gue baru ingat buat nelpon orang buat minta bantuan," ucap Elena sambil mengeluarkan ponselnya.


"Buruan El telpon orang!" kata Amanda dengan suara gemetaran.


Setelah mengeluarkan ponselnya dari tas, Elena langsung menelpon Vano. Vano yang mendapatkan panggilan dari Elena langsung mengangkat telpon tersebut.


'Kak, tolongin kita,' ucap Elena dengan suara ketakutan. Vano yang mendengar suara Elena seperti sedang ketakutan langsung panik.


'Sekarang lo dengerin gue El, lo coba tenangin diri dulu, terus lo bilang kenapa suara lo seperti ketakutan begitu,' kaya Vano mencoba menenangkan Elena, walaupun Vano sendiri sedang panik.


'Tolongin gue Kak, gue di hadang sama beberapa Preman, terus mereka juga ngancem buat pecahin kaca mobil kita," kata Elena memberitahu Vano.


'Sekarang lo kirim lokasi lo dimana, terus kalau bisa lo jangan keluar dari mobil, sebelum gue datang." Vano pun memutuskan panggilan tersebut dan segera bergegas menuju lokasi yang sudah Elena kirim. Sedangkan Azka dan Alvaro sudah pulang duluan.


"Gimana El?" tanya Amanda.


"Vano sudah otw ke sini," kata Elena memberitahu Amanda.


"Semoga Vano bisa cepat datang, sebelum preman-preman itu memecahkan kaca mobil gue," kata Amanda yang masih ketakutan.


Sementara itu dari arah kejauhan Clara tersenyum puas, karena sudah berhasil membuat Elena dan Amanda ke takutan.


"Itu akibatnya karena lo udah berani berurusan sama Clara," ucap Clara tersenyum puas. Namun seketika senyum Clara luntur, karena ia melihat Vano datang.


"Loh kok bisa ada Vano," kata Clara sambil berusaha menelpon preman suruhannya untuk berhenti, tapi semuanya sudah terlambat.


"Woi!"


"Lo berhenti gangguin mereka!" teriak Vano begitu turun dari motornya.


"Wah-wah, ada yang sok jagoan disini," ucap salah satu Preman tersebut yang kini beralih ke pada Vano. Walaupun postur tubuh Preman itu lebih besar dari Vano, tapi Vano tidak getar sedikitpun untuk melawan mereka.


Satu persatu preman itu maju untuk menghajar Vano, namun dengan mudah Vano mengalahkan anak buah preman tersebut. Sekarang tinggal satu lawan satu, antara ketua Preman itu dengan Vano, hingga duel mereka pun dimulai, pertarungan mereka terlihat sangat sengit, karena Vano dan Ketua preman itu sama-sama kuat.


Elena dan Amanda yang melihat pertarungan Vano, harap-harap cemas, apalagi Vano sudah terlihat kewalahan menghadapi ketua preman itu. Namun tiba-tiba dari arah belakang, salah satu Preman yang udah di kalahkan oleh Vano, bangun dan mengeluarkan pisau,


"Vano awas ... !" teriak Elena saat melihat preman itu mau menusuk Vano dari belakang. Vano yang mendengar teriakan Elena segera menoleh, untungnya dengan sigap Vano menghalang pisau preman itu menggunakan tangannya, namun naas Vano terkena sayatan di bagian tangan karena menghalang preman itu agar tidak menusuknya, dengan cepat darah keluar dari tangan Vano. Para preman yang melihat tangan Vano berdarah langsung pergi dari tempat itu. Begitu juga dengan Clara, Clara takut kalau ada orang yang melihatnya, maka akan jadi masalah besar.


Elena dan Amanda segera turun dari mobil, dan langsung menghampiri Vano. Begitu melihat tangan Vano yang sudah semakin parah Elena dan Amanda pun berinisiatif untuk membawa Vano ke rumah sakit.


"Kita harus bawa Vano ke rumah sakit Nda," kata Elena sambil bersimpuh di tanah dan memangku Vano sambil memegang tangan Vano, karena sekarang kondisi Vano sudah melemah, dan terkapar di jalan.

__ADS_1


"Gue gak papa El," ucap Vano dengan suara serak dan pelan, dan seketika Vano pingsan di pangkuan Elena.


"Vano, bangun Van!" ucap Elena menyadarkan Vano, namun Vano masih belum sadar.


"Ayo El, kita angkat Vano ke mobil dan bawa ke rumah sakit," kata Amanda yang juga cemas dengan kondisi Vano. Elena dan Amanda pun membopong Vano ke dalam mobil, setelah itu mereka menuju ke rumah sakit.


"Bisa bawa mobilnya lebih cepat lagi gak Nda?," kata Elena yang sudah prihatin melihat kondisi Vano.


"Iya El, ini gue lebih cepat," ucap Amanda, Amanda pun melajukan mobilnya lebih cepat supaya lebih cepat sampai ke rumah sakit. Dan benar saja tak berselang Amanda sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit yang bertuliskan RS Jati Darma. Amanda pun turun dan memanggil perawat yang bertugas di rumah sakit tersebut untuk membantu Vano.


Kini Vano sudah berada di ruang IGD dan sedang di tangani oleh Dokter.


"Semoga Vano gak kenapa-kenapa ya Nda," ucap Elena yang cemas dengan kondisi Vano.


"Kita berdoa yang terbaik buat Vano El," kata Amanda yang juga mencemaskan kondisi Vano.


"Oh ya Nda, kita belum kabarin keluarga Vano," ucap Elena di sela-sela kepanikan mereka.


"Tapi kita gak kenal sama keluarga Vano, terus cara kasih taunya gimana?" kata Amanda yang sudah tidak bisa berpikir lagi.


"Atau kita telpon teman-temannya Vano, mereka pasti kenal keluarga Vano," kata Elena yang membuat Amanda ingat kalau ia punya kontaknya Azka.


"Kenapa gue gak kepikiran soal itu, sekarang gue coba telpon Azka." Amanda pun menelpon Azka, tak berselang lama panggilan mereka pun terhubung.


'Iya Nda, ada apa?' tanya Azka dari sebrang sana, Azka baru sampai di rumahnya.


'Az, sekarang lo lagi dimana?' tanya Amanda.


'Gue baru sampai rumah,' jawab Azka.


'Sekarang lo bisa kerumah sakit gak?'


'Kerumah sakit?, emangnya siapa yang di sakit, lo baik-baik aja kan Nda,' kata Azka yang tidak kepikiran sama sekali soal Vano.


'Gue sekarang ke rumah sakit, sekarang lo kasih tau gue nama rumah sakitnya,' ucap Azka yang tiba-tiba menjadi panik.


'Rumah Sakir Jati Darma.'


Setelah mengetahui nama rumah sakitnya, Azka memutuskan panggilan tersebut dan bergegas menuju ke rumah sakit Jati Darma, namun sebelum pergi Azka sempat mengabari Alvaro lewat Chat.


Sementara itu di rumah sakit, Dokter yang menangani Vano sudah keluar.


"Gimana kondisi teman kita Dok?" tanya Elena.


"Alhamdulillah, teman Mbak baik-baik aja, karena sayatan yang ada di tangan pasien tidak terlalu dalam, tapi sekarang pasien butuh istirahat karena ia kehilangan banyak darah," jelas Dokter itu.


"Syukur lah kalau Vano baik-baik aja," ucap Elena yang merasa lega.


"Apa boleh kita jenguk teman kita Dok?" tanya Amanda.


"Untuk sementara waktu, biarkan pasien istirahat terlebih dahulu, nanti kalau pasien sudah sadar, kalian boleh menjenguknya," terang Dokter tersebut.


"Baik Dok kami mengerti," kata Elena.


"Kalau begitu saya permisi."


"Terimakasih Dok."


Setelah Dokter itu pergi barulah Azka dan Alvaro datang.


"Gimana kondisi Vano?" tanya Azka langsung.


"Kata Dokter, luka yang di alami Vano tidak terlalu parah, sekarang Vano cuma butuh istirahat dan masih belum sadarkan diri," jawab Amanda.

__ADS_1


"Tapi sebenarnya apa yang terjadi sama Vano, sampai Vano bisa terluka seperti ini?" tanya Alvaro. Amanda pun menceritakan semua kejadian yang ia alami bersama Elena, dan Amanda juga menceritakan kenapa Vano bisa mendapatkan luka di tangannya, Amanda menceritakan semuanya tanpa terlewat sedikit pun.


"Gue curiga kalau ada orang di balik ini semua," ucap Alvaro begitu mendengar semua cerita Amanda.


"Gue juga mikirnya gitu sih Al, tapi orangnya siapa?" kata Azka yang setuju dengan Alvaro, sekaligus bertanya-tanya tentang siapa orang di balik ini semua.


"Nanti kita cari tau soal itu, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Vano," ucap Alvaro yang memilih lebih fokus dengan kesehatan Vano.


"Oh ya, kalian punya kontaknya keluarga Vano kan?, soalnya gue sama El, belum kabarin keluarga Vano tentang kondisi Vano sekarang," ucap Amanda.


"Gue ada, nanti gue kabarin keluarga Vano," jawab Alvaro.


"Kalau gitu gue sama El balik dulu, takutnya orang rumah nyariin kita," kata Amanda yang ijin untuk pulang.


"Kalau gitu biar Azka yang anterin kalian pulang, takutnya nanti terjadi sesuatu yang gak kita inginkan," kata Alvaro memberikan usulan.


"Gak usah Kak, kita bisa pulang sendiri kok, lagian rumah kita juga lumayan dekat dari sini," kata Elena yang menolak usulan Alvaro.


"Iya udah kalau gitu, nanti kalau udah sampai rumah kabarin kita ya," kata Azka.


"Iya Kak."


Elena dan Amanda pun pergi dari rumah sakit tersebut untuk pulang, rencananya besok sepulang sekolah, Elena dan Amanda akan menjenguk Vano kembali.


Setelah kepulangan Elena dan Amanda barulah Alvaro menelpon keluarga Vano. Diana yang mendapatkan kabar soal keadaan Vano langsung bergegas ke rumah sakit. Kini Vano sudah sadarkan diri, ia sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, bertepatan dengan di pindahnya Vano, Diana dan Dirgantara pun datang.


"Apa yang terjadi Nak?, sampai kamu bisa luka seperti ini," tanya Diana begitu tiba di ruangan tempat Vano di rawat.


"Vano baik-baik aja kok Ma, ini cuma luka ringan," jawab Vano sambil tersenyum.


"Luka ringan gimana, itu tangan kamu sampai di perban begitu," protes Diana.


"Sekarang kamu kasih tau Mama, kenapa kamu bisa terluka seperti ini," kata Diana yang minta kejelasan.


"Vano habis nolongin teman kita yang di hadang sama preman, tapi sialnya preman itu bawa senjata tajam, karena Vano gak waspada alhasil tangannya kena sayatan pisau yang di gunakan preman itu," ungkap Alvaro yang menceritakan kronologi kejadiannya.


"Udah, Mama gak usah khawatir, Vano baik-baik aja," ujar Vano yang tidak mau melihat Mamanya sedih.


"Terus teman kamu yang di bantu sama Vano, baik-baik aja kan?" tanya Dirgantara.


"Alhamdulillah teman kita baik-baik aja Om, kebetulan juga teman kita yang bawa Vano ke rumah sakit," jawab Azka.


"Terus teman kamu itu mana?" Kini Diana yang bertanya.


"Kebetulan tadi teman kita udah balik duluan, takutnya nanti kalau pulang tengah malam makin bahaya, apalagi teman kita cewek tan," jawab Alvaro.


"Oh, Temannya Cewek," ucap Diana sambil melirik ke arah Vano.


"Mama gak usah mulai deh, Vano cuma bantuin teman Vano, gak ada tujuan lain," ucap Vano sebelum Mamanya ngomong yang enggak-enggak.


"Iya, Mama percaya kok Van," kata Diana sambil tersenyum menggoda Vano.


"Lagian anak kita juga udah besar Ma, biarin aja," ucap Dirgantara menambahkan.


"Kok sekarang Papa jadi ikut-ikutan kayak Mama," kata Vano yang tidak terima Papanya ikut-ikutan seperti Mamanya, yang suka menggoda Vano kalau masalah Cewek.


"Tapi yang Papa bilang emang benar Van, kalau Papa sih gak ada masalah kalau kamu udah mulai cari calon menantu buat Papa, apalagi sebentar lagi kamu akan ganti Papa di perusahaan," kata Dirgantara semakin menggoda Vano. Vano hanya bisa menahan kekesalannya dengan pura-pura tidur, sedangkan Alvaro dan Azka hanya tersenyum mendengar ucapan Dirgantara.


Sedangkan di lain tempat, Clara sedang menelpon seseorang dan memarahinya.


'Kalian di kasih tugas gampang aja gak bisa, pokoknya gue gak mau tau, kalau sampai orang yang udah kalian lukai itu kenapa-kenapa, kalian harus tanggung jawab.'


Setelah mengatakan itu Clara langsung memutuskan panggilannya.

__ADS_1


"Kenapa semua rencana gue jadi berantakan, ini semua gara-gara si cewek miskin itu," kata Clara dengan emosi. Namun belum selesai Clara meluapkan emosinya, ponsel Clara berdering.


__ADS_2