Jendela Sekolah

Jendela Sekolah
Masa Lalu Vano


__ADS_3

Kini Vano sudah sampai di rumah, dia sedang berada di kamarnya sedang memikirkan bayaran yang pas dari Elena.


"Gue minta apa ya, dari Elena," gumam Vano yang masih memikirkan bayaran yang pas dari Elena.


Disaat Vano sedang memikirkannya ponselnya berdering pertanda ada panggilan masuk,


Vano pun mengambil ponselnya yang berada di atas meja belajarnya. Ternyata yang nelpon adalah Alvaro.


'Halo Al, ada apa lo telpon gue,' tanya Vano sedikit ngegas.


'Santai Van, gue cuma mau ngajak lo keluar aja, biasa nongkrong,' jelas Alvaro dari sebrang sana.


'Ya udah ntar gue kesana, tempat biasa kan?" jawab Vano.


'Iya tempat biasa," ucap Alvaro.


Panggilan pun berakhir, Ternyata Alvaro sama Azka sudah berada di tempat tongkrongan terlebih dahulu, yaitu sebuah warung kopi milik Bang Kemal.


"Gimana Al, Vano mau kesini gak?" tanya Azka setelah Alvaro selesai menelpon Vano.


"Iya dong, mana berani dia nolak orang ganteng kayak gue," ucap Alvaro dengan pdnya.


"Ganteng dari mana, gantengan juga Bang Kemal daripada kamu, iya gak Pak?" kata Azka membandingkan Alvaro dengan Bang Kemal.


"Walaupun usia Abang jauh di atas kalian, tapi kalau soal kegantengan Abang gak kalah jauh sama kalian, bahkan dulu waktu Bang Kemal masih muda, para cewek-cewek di desa Abang pada rebutan buat di nikahin sama Abang," ucap Bang Kemal tak kalah sombong dengan Alvaro.


"Iye deh sipaling di rebutin," balas Alvaro yang nyerah kalau sudah berhadapan dengan Bang Kemal. Bang Kemal memang bukan asli orang Jakarta, dia merupakan anak rantau yang mencari nasip di kota, hingga ia harus membuka warung kopi untuk bertahan hidup di jakarta, tapi warung Bang Kemal tidak banyak pelangan, hanya Vano dan gengnya saja yang menjadi pelanggan setia Bang Kemal. Vano dan teman-temannya juga senang bisa kenal dengan Bang Kemal, karena Bang Kemal selalu memberikan mereka nasehat.


Tak berselang lama motor milik Vano sudah terparkir didepan Warung Kopi Bang Kemal.


Setelah turun Vano pun bergabung dengan mereka,


"Kopi satu Bang, seperti biasa," ucap Vano pada Bang Kemal.

__ADS_1


"Okeh, langsung di buatin," ucap Bang Kemal.


Vano pun duduk didekat di salah satu kursi dekat dengan Alvaro.


"Gimana?, kalian udah ada informasi belum soal Elena," tanya Vano.


"Sejauh ini sih gak ada perkembangan apa-apa Van, apalagi kita juga baru selesai ngurusin masalah Elena yang kemarin," jawab Alvaro.


"Jadi masalah Elena yang kemarin udah selesai?" tanya Vano.


"Kita udah lakuin sesuai perintah lo Van, tapi kita gak bisa jamin kalau Elena bakalan aman, lo juga tau sendiri gimana liciknya Clara," ucap Alvaro.


"Iya juga sih, tapi kita liat aja dulu sejauh mana Clara bertidak ke pada Elena, baru kita tentuin tindakan apa yang kita ambil selanjutnya," jawab Vano.


"Kalau itu gue setuju," jawab Azka.


"Sebenarnya, lo sama Elena pernah bertemu sebelumnya gak sih Van?" tanya Alvaro yang penasaran karena melihat Vano yang segitu buat jagain Elena.


"Gue gak yakin sih, tapi kalau dari tatapan Elena, gue ngerasa kalau itu sama kayak tatapan cewek waktu dulu saat gue baru umur 8 tahun,"


Terlihat Vano yang masih berumur 8 tahun sedang berjalan melewati gang, saat sedang asik berjalan Vano mendengar suara anjing menggonggong dan suara orang minta tolong karena di kejar oleh anjing.


"Tolong...tolong... aku di kejar sama Anjing galak,"


Semakin lama semakin dekat suara tersebut, tak berselang lama sesosok cewek yang seusia dengannya, keluar dari persimpangan gang yang berada di depan Vano.


"Waduh, bisa gawat nih kalau sampai gue dikejar sama itu anjing, mending gue ikut lari,"


Akhirnya Vano dan cewek yang tadi, lari bersama untuk menghindari amukan dari anjing.


Hingga mereka melewati beberapa gang sampai anjing itu sudah tidak kelihatan dan terdengar lagi suaranya.


"Kok bisa sih lo dikejar sama anjing?, mana anjingnya serem gitu lagi," tanya Vano.

__ADS_1


"Gue iseng aja gangguin, eh taunya gue dikejar," jawab cewek itu dengan polos.


"Gimana lo gak dikejar kalau lo gangguin, ternyata lo nakal juga ya," ucap Vano sambil terkekeh.


Mereka pun berpisah karena Vano yang harus kembali ke rumah neneknya yang ada disana, Di tengah perjalanan pulang kerumah neneknya, Vano baru inget buat nanyain nama cewek yang tadi dia temui.


"Aduh, gue kok bisa lupa ya, buat nanya namanya," ucap Vano pada dirinya sendiri.


Flashback off 


"Jadi gitu, dan gue yakin kalau Elena adalah orang sama, dengan cewek yang tadi gue ceritain," kata Vano menceritakan masa lalunya kepada Alvaro dan Azka.


"Ada sesuatu yang bisa lu inget gak tentang cewek itu?" tanya Azka.


"Ada sih, waktu itu gue sempat nemuin kalung yang gue yakin itu punya itu cewek jatuh, waktu dikejar sama anjing," jawab Vano.


"Lo masih nyimpen kalung yang lo maksud?" tanya Alvaro


"Masih, gue taruh di laci meja belajar gue," jawab Vano.


"Berarti itu bisa jadi petunjuk buat lo nemuin cewek yang lo maksud, atau lo tunjukin itu kalung ke Elena, karena lo bilang kan Elena mirip tatapannya sama cewek yang lo maksud," jelas Alvaro yang sudah mendapatkan titik terangnya.


"Untung lo ngingetin gue Al, jadi nya sekarang gue udah tau mau ngelakuin apa," ucap Vano dengan ekspresi wajahnya yang terlihat senang.


Mereka pun melanjutkan obrolan, dan kembali memesan kopi, karena kopi yang sebelumnya sudah habis, dan juga membantu Bang Kemal agar dagangan nya banyak yang laku.


Sementara itu Elena dan Amanda sedang berada di kamar Elena. Mereka tengah berbincang perihal masalah tadi disekolah, saat Elena terkunci di toilet.


"Gue gak nyangka kalau urusan nya bisa jadi panjang kayak gini El, cuma gara-gara lo nyenggol dia, itupun karena lo gak sengaja," ucap Amanda yang masih tidak percaya dengan apa yang sudah Clara lakukan kepada Elena.


"Emang lo yakin Nda, kalau yang udah kunciin gue anak buahnya Clara?" tanya Elena yang masih tidak percaya.


"Gue liat sendiri di cctv kalau yang ngunciin lo itu di toilet anak buahnya Clara, dan udah pasti itu atas perintah Clara karena tadi pagi lo gak sengaja nyenggol dia waktu di koridor sekolah," kata Amanda menyakinkan Elena.

__ADS_1


"Emang Clara sejahat itu ya, kalau beneran dia yang udah ngelakuin ini semua gue sih gak habis pikir," ucap Elena.


"Apa lo cuma diam aja El, lo gak mau laporin semua ini ke kepala sekolah?, secara lo kan pemilik sekolah tersebut, udah pasti dong kepala sekolahnya dengerin omongan lo dan ngedukung lo," ucap Amanda mencoba menghasut Elena.


__ADS_2