
Dimalam hari orang sudah ramai berkumpul di jalan raya bersamaan dengan suara motor yang bersahutan, di malam ini akan di adakan balap liar, seperti malam-malam sebelumnya, Vano dan juga gengnya berada di tempat itu.
"Lo serius gak mau turun malam ini Van?" tanya Azka.
"Iya, malam ini gue gak turun, lo aja yang turun gantiin gua," jawab Vano
"Tumben lo gak mau turun, biasanya lo gak pernah lewat kalau soal balapan," kata Alvaro
"Gua lagi gak mod aja buat balap malam ini," ucap Vano yang masih tidak mau kasih kejelesan kenapa dia tidak mau ikut balap malam ini.
Seorang cewek dengan pakaian yang cukup terbuka berjalan ke tengah jalan sambil membawa sapu tangan ia pun mulai berhitung,
Tiga
Dua
Satu
Cewek itu melempar sapu tangan yang di bawanya ke atas, begitu sapu tangan itu mau mendarat, Azka dengan percaya diri melajukan motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan lawannya cukup jauh, tapi lawannya tidak mau mengalah begitu saja ia juga melajukan motornya untuk menyusul Azka, akhirnya terjadilah persaingan yang sangat ketat antara Azka dan lawannya, tapi kemampuan Azka membawa motor harus di akui oleh lawannya karena Azka berhasil Finish di urutan pertama.
"Gue baru tau kalau lo ternyata jago juga bawa motor," puji Alvaro.
"Gimana, keren kan gue bawa motornya," ucap Azka menyombongkan dirinya.
"Bolehlah," kata Vano menambahkan.
"Tapi kayaknya kemampuan lo belum bisa nandingin kemampuan Vano deh," kata Alvaro. yang diakui juga oleh Azka.
"Itu sih udah pasti, Vano belum ada tandingannya sampai sekarang," ucap Azka
"Habis ini kita mau kemana," tanya Alvaro mengalihkan pembicaraan.
"Kayaknya gue mau balik duluan, badan gue rasanya kurang enak," kata Vano yang membuat Alvaro dan Azka sedikit khawatir.
"Mau kita temenin pulang gak Van?" kata Alvaro yang khawatir dengan keadaan Vano.
"Gak usah, gua bisa sendiri kok, kalian lanjut aja nongkrongnya," kata Vano tidak mau merepotkan teman-temannya.
"Lo beneran gak mau ditemenin pulang Van?" tanya Azka memastikan.
__ADS_1
"Iya."
Vano pun melajukan motornya menuju rumahnya, sesampainya di rumah iya langsung masuk untuk beristirahat tapi di meja makan sudah ada Mama dan Papanya yang sedang makan.
"Kamu udah pulang Van, ayo sini makan malam bareng Mama sama Papa," kata Diana mengajak Vano makan malam.
"Tadi Vano udah makan di luar Ma, Vano mau istirahat dulu," jawab Vano dan langsung naik ke atas menuju kamarnya.
Diana yang biasanya tidak pernah melihat anaknya seperti itu sedikit khawatir, soalnya Vano selalu ramah dengan keluarga nya dan selalu menyempatkan diri untuk berbincang dengan kedua orang tua nya.
"Papa merasa ada yang aneh gak sih sama anak kita," ucap Diana kepada suaminya yaitu Dirgantara.
"Iya Ma, sepertinya anak kita sedang ada masalah," kata Dirgantara yang juga merasakan apa yang di rasakan oleh istrinya.
Sementara itu Vano membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil melihat kearah langit-langit kamarnya,
Sekilas iya terbayangkan dengan wajah Elena yang sepertinya tidak asing baginya tapi Vano masih bingung dimana ia pernah bertemu dengan Elena.
"Siapa kira-kira cewek yang tadi aku lihat di sekolah, dan tatapannya aku merasa tidak asing dengan tatapan itu," gumam Vano,
Vano merasa frustasi mengingat dimana ia pernah ketemu dengan Elena sebelumnya.
"Vano.....Ayo bangun Van,"
"Ini udah jam 7 pagi emangnya kamu gak sekolah." Terdengar suara Diana dari luar kamar Vano,
Mau tidak mau Vano akhirnya bangun, Vano sangat lah mengantuk karena hampir semalaman dia tidak tidur karena memikirkan Elena, namun Vano masih belum ingat dimana ia pernah bertemu dengan Elena.
Dengan masih mengantuk Vano memasuki gerbang sekolah dan kini sudah berada di parkiran, betepatan dengan itu Elena dan Amanda juga datang, Elena dan Amanda pun turun dari mobil.
"Ayo El kita masuk," ucap Amanda yang mengajak Elena segera masuk ke kelas.
Setelah mengambil tasnya, Elena dan Amanda pun akhirnya meninggalkan area parkiran, namun sedari tadi ada orang yang terus melihat ke arah mereka, siapa lagi kalau bukan Vano,
Vano terus saja melihat kearah Elena yang memasuki kelas, sampai pandangannya harus buyar karena kedatangan Alvaro dan juga Azka.
"Badan lo udah enakan bro sampai bisa masuk sekolah?" tanya Alvaro.
Padahal semalam Vano hanya beralasan saja kalau badan nya kurang enak, padahal ia baik-baik saja.
__ADS_1
"Badan gue udah enakan kok," jawab Vano
"Terus itu mata kenapa kayak sebelas dua belas sama mata panda, semalam lo gak tidur?" tanya Alvaro yang melihat mata Vano yang sudah seperti mata panda.
"Gue tidur kok, mending sekarang kita masuk kelas," ucap Vano mengalihkan pembicaraan, agar teman-teman Vano tidak tambah curiga.
Vano tidak mungkin menceritakan kenapa semalam ia tidak tidur, bisa- bisa Vano di ketawain sama gengnya kalau ketahuan gak tidur cuma gara-gara mikirin cewek.
Karena mereka mengenal Vano paling anti sama cewek, walaupun cewek-cewek banyak yang antri buat jadi pacarnya Vano termasuk Clara teman kelas mereka, sekaligus ketua geng cewek yang di kenal suka membully adik kelasnya yang tidak mau mengikuti keinginanya.
Begitu Vano masuk kelas, seperti biasa Clara selalu menghampirinya untuk menawarkan Vano sarapan pagi dari bekal yang ia bawa.
"Pagi Van," ucap Clara yang sudah duduk di dekat Vano.
Vano tidak memperdulikan Clara, tapi bukan Clara namanya kalau menyerah begitu saja.
"Aku bawain sarapan buat kamu Van, dimakan ya,"
"Aku masak sendiri lo Van, sepesial buat kamu," ucap Clara yang tidak pantang menyerah berusaha membujuk Vano, tapi sepertinya usahanya harus sia-sia karena Guru Matematika untuk pelajaran pertama mereka sudah datang, mau tidak mau Clara harus kembali kemeja nya.
Melihat kotak makanan yang ditinggalkan oleh Clara, Vano pun mengambilnya, melihat Vano mengambil kotak makanannya Clara pun tersenyum bahagia, namun senyumnya harus sirna karena ternyata Vano memberikan kotak makanan tersebut ke Alvaro.
Alvaro yang mendapatkan makanan gratis tidak mungkin menolak, Clara yang melihat itu pun jadi cemberut dan hilang mod.
Bel sekolah sudah berbunyi pertanda jam istirahat sudah tiba, semua murid menyerbu kantin termasuk Elena dan Amanda.
Sementara itu Clara masih saja mau mendekari Vano untuk mengajaknya makan di kantin,
"Van, lo mau makan bareng di kantin gak?" tanya Clara dengan penuh harap, namun harapan Clara harus pupus karena lagi-lagi Vano menolaknya.
"Gua gak bisa Ra, soalnya gua mau tidur kalau lo mau makan ajak Alvaro sama Azka aja," jawab Vano dan ia pun tidur di mejanya.
"Mungkin lain kali kita bisa makan bareng Van," ucap Clara.
"Gimana?, jadi gak kita makan bareng" tanya Alvaro.
"Jangan harap!" kata Clara dengan tegas dan langsung keluar dari kelas
Azka hanya ketawa melihat Alvaro di perlakukan seperti itu, karena itu merupakan pemandangan yang sudah sering ia lihat.
__ADS_1