
Pada akhirnya mereka berangkat ke makam Aditya, mereka pergi menggunakan satu mobil, Elena dan Amanda berada di kursi belakang, sedangkan Sarah dan Rosa berada di kursi depan, sekaligus Rosa yang membawa mobilnya.
Mereka tidak banyak berbincang saat berada di dalam mobil, sampai pada akhirnya mereka sampai di pemakaman, yang diaman tempat Aditya di makam.
"Assalamualaikum Pa," salam begitu sampai di depan Makam Papanya.
"Amanda datang Pa, Amanda gak datang sendiri Pa, disini ada Mama, ada El, ada Tante Sarah juga, mereka semua sangat peduli sama Papa, semoga Papa tenang disana ya, Amanda selalu berdoa semoga Papa di tempatkan di tempat yang terbaik." Amanda berkata sambil menahan air matanya, tapi sekuat apapun Amanda menahannya, air mata semakin kuat juga untuk jatuh, sampai pada akhirnya air matanya terjatuh begitu saja. Elena yang melihat kesedihan Amanda, segera memeluk Amanda dari samping.
"Yang sabar ya Nda, Om Aditya pasti sudah tenang disana, kamu harus kuat di depan Om Aditya, biar dia gak sedih liat kamu nangis," ucap Elena berusaha menenangkan Amanda.
"Yang Elena katakan itu benar sayang, sekarang tugas kita doain Papa, biar Papa mendapatkan tempat yang layak disana," kata Rosa menenangkan Anaknya, walaupun ia sendiri merasa begitu kehilangan sosok suami yang ia sangat cintai dan hormati selama ini. Menurutnya Aditya adalah sesosok laki-laki yang sempurna di matanya, karena Aditya juga begitu menghargainya sebagai Istri, mereka saling melengkapi satu sama lain, walaupun terkadang ada masalah yang harus membuat mereka berbeda pendapat, tapi berkat Aditya yang selalu sabar dalam menghadapinya berbagai masalah pun datang ia lewati, namun semenjak Aditya meninggal, Rosa seperti kehilangan Arah, beruntung keluarga Sanjaya begitu peduli terhadapnya, hingga sekarang ia bisa sekuat ini.
Tak terasa hari sudah semakin Sore, Akhirnya Amanda dan lain meninggalkan makam Aditya, walaupun ada rasa ketidakadilan karena Papanya meninggal begitu aja, tapi Amanda harus menerima kenyataan tersebut.
"Aku aja yang bawa mobilnya Ros," kata Sarah agar Rosa bisa menenangkan diri terlebih dahulu.
"Makasih Sar," ucap Rosa sedikit tersenyum.
Mobil mereka pun melaju meninggalkan area pemakaman.
Sementara itu di warung Bang Kemal, Vano dan anak-anak yang lain sedang berkumpul. Disana juga sudah ada anggota yang lain dari Club motor yang di bangun oleh Vano.
"Mohon perhatiannya sebentar, jadi rencananya besok pagi kita akan keliling buat bantuin orang-orang yang memang butuh bantuan kita, baik itu pengamen, atau apapun itu selama dia butuh bantuan dari kita, kita akan bantu, ini merupakan kali pertamanya Club kita mengadakan acara seperti ini, tujuannya supaya Club kita berbeda dari geng-geng motor yang lain. Jadi besok pagi kita semua udah kumpul di sini, kalian semua paham!" kata Vano panjang lebar menyampaikan tujuannya mengumpulkan anggota Club motornya. Mereka semua yang ada disana mengangguk paham dari apa yang ketua mereka sampaikan.
"Kalau begitu kalian boleh bubar, sampai ketemu besok pagi," kata Vano menyuruh mereka untuk bubar. Satu persatu dari mereka pun membubarkan diri, kecuali Vano, Azka dan Alvaro.
"Semuanya udah beres kan, buat acara besok?" tanya Vano kepada Alvaro.
"Lo tenang aja Bos, semuanya sudah aman," kata Alvaro sambil mengajukan jempolnya.
"Kerja bagus, gue suka orang yang bisa di andalkan," kata Vano memuji kinerja Alvaro.
__ADS_1
"Semua urusan di tangan gue pasti beres," ucap Alvaro yang mulai membanggakan dirinya.
"Biasa aja kali Al, gak usah lebay gitu" kata Azka yang sudah bosan melihat tingkah Alvaro.
"Yee, lo mah sirik sama gue."
"Ngapain juga gue sirik sama orang yang modelnya kayak lo."
"Mending kalian ngopi dari pada ribut terus," ucap Bang Kemal melerai mereka sambil membawa kopi.
"Tau tuh mereka berdua Bang," kata Vano menambahkan.
"Lo sih Az," kata Alvaro tidak mau disalahkan.
"Yang ada mah lo yang selalu bikin keributan," balas Azka tidak mau kalah. Mau sampai kapanpun mereka tidak akan pernah ada yang mau mengalah. Vano sendiri juga sudah lelah melihat mereka ribut terus, tapi kalau tidak melihat mereka ribut pasti rasanya ada yang kurang. Mungkin karena Vano sudah terbiasa melihat mereka ribut setiap hari, baik di sekolah maupun di tongkrongan.
Sementara itu di sebuah Cafe, disana terlihat Clara sedang bertemu dengan seseorang, yang ia panggil dengan sebutan Kak.
"Udah, tapi tidak bisa secepat itu Kak, apalagi tugasnya lumayan berat." Keluh Clara.
"Tugas begitu aja lo gak bisa, tapi lo masih mau uang yang banyak," kata Orang itu mengomentari kinerja Clara dalam menyediakan tugas.
"Kalau gitu, kenapa gak Kakak sendiri aja yang selesain tugasnya," kata Clara tidak terima di remehkan.
"Lo tinggal kerjain aja, gak usah banyak protes." Usai berkata seperti itu, orang itu pun pergi meninggalkan Clara.
"Kenapa gue harus berurusan sama orang seperti dia, nyebelin banget." Clara ngomel sendiri setelah orang itu pergi.
Selang beberapa menit Clara juga meninggalkan Cafe tersebut. Setelah sampai di rumahnya Clara harus kembali pusing karena melihat kedua orangtuanya bertengkar.
"Dipikiran Mama cuma ada uang, uang dan uang!"
__ADS_1
"Apa pernah Mama mikirin gimana susahnya Papa cari uang!" kata Lukman dengan suara marah-marah.
"Siapa suruh Papa sanggup nikahin aku, kalau Papa sendiri gak mampu biayain kehidupan aku!" Jihan berkata tak kalah keras nada bicaranya tehadap Lukman suaminya.
"Mending Papa ceraikan Mama, dari pada Papa bikin aku hidup susah!" kata Jihan tanpa mengindahkan kemarahan suaminya.
"Sampai kapan pun aku gak akan ceraikan Mama!, enak aja kamu mau ninggalin aku begitu aja," kata Lukman menanggapi keinginan istrinya itu.
"Itu terserah Papa, kalau Papa gak bisa ngasih aku uang, mending aku pergi dari rumah ini," ucap Jihan, Jihan pun meraih tasnya yang berada di meja riasnya dan keluar meninggalkan Lukman yang masih marah-marah.
Clara hanya bisa menyaksikan itu semua tanpa ikut campur sedikit pun, karena Clara takut kalau dia yang akan menjadi sasaran kemarahan Papanya. Clara lebih memilih berdiam diri di kamar daripada harus melihat Papa dan Mamanya bertengkar terus setiap hari.
Itu juga yang menjadi alasan Clara membully orang-orang, karena Clara butuh perhatian dan kasih sayang, karena selama ini Clara belum mendapatkan itu semua dari kedua orangtuanya. Sehingga berusaha mendapatkannya dengan cara yang salah. Memang terkadang kita tidak tau kehidupan orang seperti apa, masalah apa yang orang hadapi, tapi kita hanya melihat bagian luarnya saja, tapi kita langsung berspekulasi bahwa orang itu tidak baik, tanpa tau alasannya, walaupun memang caranya yang salah.
Clara sudah kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya saat Papanya mengalami pemecatan dari kantor tempat ia bekerja, karena Lukman Papanya Clara, melakukan korupsi, bukan tanpa alasan Lukman melakukan korupsi, ia melakukan itu semua demi memenuhi kebutuhan istrinya yang suka shopping sana sini, dan juga suka membeli perhiasan, sedangkan gaji Lukman yang hanya sebagai Staf biasa tidak cukup, karena itulah Lukman melakukan korupsi, tapi Istrinya yang tidak bisa puas akan harta, apalagi setelah mengetahui Lukman di pecat ia jadi seperti sekarang, suka keluyuran dan jarang pulang rumah.
Di saat Clara tengah berdiam diri dikamar Ponselnya berdering, Clara pun mengangkat panggilan tersebut.
'Ada apa Nao?' tanya Clara, ternyata yang menelponnya adalah Naomi.
'Lo gak mau nongkrong Ra, gue bosen di rumah terus dari pagi, ini gue lagi di Cafe sama Vania, lo kesini ya,' kata Naomi dari sebrang sana.
"Gue gak dulu Nao, lain kali aja ya.' Clara pun memutuskan panggilan tersebut begitu aja.
"Kenapa?" tanya Vania.
"Katanya Clara gak bisa datang," jawab Naomi sedikit kecewa.
"Mungkin Clara lagi ada kerjaan yang gak bisa ditinggalin," ucap Vania asal.
"Bisa jadi sih, soalnya tadi Clara juga matiin telpon nya begitu aja," kata Naomi tanpa curiga apapun terhadap Clara. Naomi dan Vania pun lanjut nongkrong tanpa kehadiran Clara.
__ADS_1