Jendela Sekolah

Jendela Sekolah
Keseruan Teman-Teman Vano


__ADS_3

Tok...Tok....Tok


"Amanda!...."


Terdengar suara Elena memanggil Amanda dari luar sambil mengetuk pintu. Tak berselang lama pintu pun terbuka,


"Amanda nya ada di rumah Bi?" tanya Elena.


"Non Amanda belum pulang Non," jawab Bi Sri.


Belum lama Bi Sri berucap, mobil Amanda sudah terlihat memasuki kawasan rumahnya.


"Itu Non Amanda baru pulang, kalau begitu Bi Sri balik ke belakang dulu ya Non," pamit Bi Sri begitu Amanda sudah pulang.


"Iya Bi, Terimakasih."


"Udah lama El?" tanya Amanda begitu turun dari mobil dan menghampiri Elena.


"Belum terlalu lama sih. Lo habis dari mana?" tanya Elena selanjutnya.


"Masuk dulu, ntar gue ceritain di dalam," ucap Amanda.


Elena dan Amanda pun masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


"Jadi gitu ceritanya El," ucap Amanda setelah menceritakan semua yang ia lakukan tadi pas keluar bersama Azka, Amanda menceritakan sedetail mungkin tanpa terlewatkan sedikit pun.


"Jadi tadi Kak Azka minta nomor lo ke gue buat ngajak lo keluar," kata Elena yang baru mengetahui alasan Azka meminta kontak Amanda pada nya.


"Jadi Kak Azka minta nomor gue di lo," kata Amanda yang seakan tidak percaya. karena Azka sampai segitunya buat bisa ngajaknya keluar.


"Emang lo sama Kak Azka udah berkontak, sampai Kak Azka bisa hubungin lo." tanya Amanda penuh selidik.


"Kata Kak Azka dia dapet kontak gue dari Vano, gue sama Kak Azka sebelumnya gak bekontak," jelas Elena.


"Btw, Kak Vano udah minta bayarannya belum?" tanya Amanda, yang baru ingat soal Vano.


"Udah, tapi gue juga bingung sih itu termasuk bayaran apa gak," kata Elena yang membuat Amanda semakin bingung.


"Emang dia minta bayaran kayak gimana, coba lo ceritain yang jelas biar gue juga gak ikut bingung," ucap Amanda yang ikut bingung dan juga penasaran.

__ADS_1


"Jadi kemarin Vano telpon gue, dia suruh gue datang ke taman, setelah gue datang ke taman, terus Vano bilang kalau dia mau di bayar dengan cara temenin dia keliling taman tersebut, akhirnya gue setuju buat temenin dia keliling taman, terus yang bikin gue tambah bingung, pas Vano ngira kalau gue tinggal di Panti," jelas Elena sedetail mungkin tanpa terlewatkan sedikit pun.


"Kok bisa Kak Vano ngira lo tinggal di Panti?" tanya Amanda yang tentu saja Elena tidak tau jawabannya.


"Ya mana gue tau, tapi gue bilang aja kalau gue emang tinggal di panti, bahkan kemarin dia nganter gue pulang ke Panti," kata Elena jujur.


"Sampai segitunya?" ucap Amanda seakan tidak percaya.


"Iya."


"Tapi alasan Kak Vano ngira lo Anak Panti apa Ya," kata Amanda bertanya-tanya.


"Mana Pantinya, yang Keluarga gue punya lagi," ucap Elena yang seakan tidak percaya juga.


"Atau bisa jadi Kak Vano pernah liat lo, pas lo lagi di panti, kan lo sering tuh pergi ke Panti." Kata Amanda menerka-nerka.


"Bisa jadi sih," ucap Elena yang masih belum yakin.


Akhirnya mereka memutuskan untuk tidak membahas masalah itu lagi, dari pada mereka semakin bingung tapi tidak menemukan titik terang sama sekali.


Di malam hari terlihat Vano tengah makam malam bersama keluarganya, saat Vano tengah asik menyantap makanannya. Pak Dirgantara bertanya kepada Vano.


"Cuma ke Warung Bang Kemal aja Pa, Papa tenang aja Vano udah gak balapan lagi sesuai janji Vano," kata Vano yang sudah tau tujuan Papanya bertanya.


"Awas aja kalau kamu ketahuan balap lagi, masak pewaris tunggal perusahaan Dirgantara suka balapan, udah pasti para investor tidak ada yang mau bekerjasama dengan perangkat kita lagi," kata Dirgantara mengingatkan Vano.


"Iya Pa, lagian Vano sama Papa kan udah buat kesepakatan, jadi Vano gak mungkin balap lagi," terang Vano.


"Papa pegang janji kamu."


Setelah selesai makan Vano pun pergi keluar, ia tidak berbohong kepada Papanya, karena Vano benar-benar pergi ke warung Bang Kemal. Karena ada yang akan mereka bahas disana bersama dengan Alvaro dan Azka.


Tak berselang lama setelah kedatangan Vano, salah satu dari anak buah Vano pun datang untuk melaporkan tugasnya ke pada Vano.


"Apa ada perkembangan dari tugas yang saya berikan," tanya Vano pada anak buahnya itu.


"Semuanya ada di dalam map ini Bos."


"Kerja bagus, sekarang kamu boleh pergi," perintah Vano.

__ADS_1


Setelah kepergian Anak buahnya, Vano pun bergabung dengan Alvaro dan Azka yang sudah duluan datang di Warung Bang Kemal. Dan seperti biasa Vano meminta Bang Kemal untuk membuatkan Kopi.


"Tumben lo datangnya lama," kata Alvaro kepada Vano saat sudah duduk.


"Tadi ada acara makan malam dulu di rumah, makanya gue datangnya agak telat," jelas Vano.


"Oh ya Az, misi lo udah berjalan belum?" tanya Vano beralih ke Azka.


"Udah, bahkan tadi sore gue udah makan bareng sama Amanda di Cafe," jawab Azka.


"Terus udah ada informasi apa yang lo dapat dari Amanda?" tanya Vano selanjutnya.


"Gak banyak sih, soalnya gue juga baru pertama kali makan bareng sama Amanda, jadi gue gak terlalu nanya banyak takut nya nanti Amanda curiga."


"Yang gue tau dari Amanda, dia bilang kalau udah berteman lama sama Elena, bahkan kata Amanda mereka udah berteman dari kecil," tutur Azka.


"Berarti Amanda tau banyak tentang Elena, karena gak mungkin mereka cuma berteman aja selama itu tanpa menyimpan rahasia satu sama lain," kata Vano dengan yakin dan serius.


"Gue juga mikirnya gitu pas Amanda bilang kalau sudah berteman dengan Elena sejak kecil," timpal Azka.


"Terus lo Al, udah beres belum masalah Elena yang kemarin?" tanya Vano kepada Alvaro.


"Lo tenang aja Van, lo liat aja besok hasilnya." Alvaro berkata dengan percaya diri.


"Oke kita liat besok disekolah, kalau sampai lo gak ada hasilnya, gue bikin lo jadi cincang tumis," ancam Vano.


"Masa teman sendiri mau di cincang, yang benar aja lo Van," ucap Alvaro yang takut sekaligus bergidik ngeri di cincang sama Vano.


Pembicaraan mereka pun terhenti saat Bang Kemal datang membawa kopi pesanan mereka.


"Kalau Bang Kemal boleh tau, kalian lagi ngobrolin apa sih, keliatannya serius gitu," kata Bang Kemal ikut bergabung setelah mengantar kopi.


"Biasa Bang, lagi bahas masalah Alvaro, karena gak ada cewek yang naksir sama dia." Vano berkata sambil bercanda kepada Bang Kemal.


"Itu mah Bang Kemal udah gak heran," timpal Bang Kemal yang semakin membuat Vano dan Azka tertawa, sedangkan Alvaro hanya bisa pasrah di jadikan bahan candaan.


"Terus aja kalian ejek Al," kata Alvaro sambil memasang wajah kusut.


"Ceritanya ada yang ngambek nih," goda Vano.

__ADS_1


__ADS_2