
"Bagus! Bagus sekali! Nona mendapatkan nilai penuh, nilai penuh! Selamat nona selamat" Tepuk tangan paman mo begitu mengema, barulah saat itu via tersadar ternyata dia tidak bermimpi.
Dengan teliti via membaca pengumuman itu berulang ulang barulah dia merasa lega. Akhirnya dia bisa mendapat beasiswanya lagi. Namun memikirkan dua jurusan yang akan diambilnya apakah keduanya bisa mendapat beasiswa?
Via ragu, tapi masih ada waktu untuk menanyakan itu. Yang penting untuk saat ini dia telah memperoleh kelulusan yang memuaskan, nilai penuh. Bahkan dalam mimpinya tidak pernah terbersit akan hal itu, tapi kini dia meraihnya membuat hatinya bergetar karna bahagia.
Akhirnya paman mo menyudahi euforianya, dan kembali ke laptop.
"Nona sekarang nilai ujian anda sudah keluar, untuk jurusan sudahkah anda pilih?"
Tanya paman mo
"Sudah paman, aku rencananya akan mengambil jurusan keuangan dan TI" terang via
"Dua jurusan?"
"Hm, semoga aja keduanya bisa dapat beasiswa"
"Nona kenapa mengharapkan beasiswa? Bukankah biaya kuliah nona akan ditanggung oleh tuan muda?" Paman mo sedang menebak apakah nonanya akan pergi setelah masuk perguruan tinggi? Oh tidak,,tuan mudanya akan gila jika hal itu terjadi, pikirnya
"Paman, aku senang kakak bersedia menanggung biaya kuliahku, tapi klo bisa beasiswa kan lebih bagus paman, uang kakak tidak akan terpakai jadi tidak mengurangi tabungan kakak" jelasnya, via gak tau aja klo uang kakaknya tuh banyak takkan habis tujuh turunan jangankan untuk biaya kuliah biayaain seumur hidup via pun sanggup. Ingin sekali paman mo menjelaskan hal itu, tapi paman mo memilih bungkam. Biarlah nonanya tau sendiri pikirnya
Akhirnya paman mo bernafas lega, syukur nonanya tidak berencana pergi saat perkuliahan dimulai.
"baiklah nona jika itu keinginan nona, paman hanya berdoa semoga harapan nona terkabul"
"amin, trimakasih paman"
Paman mo yang sudah tidak ada kepentingan lagi beranjak menuju belakang untuk memantau para pelayan seperti biasanya. Sedangkan via masih berdiam diri diruang tamu sambil memikirkan kegiatan perkuliahannya nanti. Via tersentak kaget tatkala mendengar dering handphonenya, rupanya kakaknya yang menelpon
__ADS_1
"halo kak,"
"via selamat ya, telah meraih nilai penuh dalam ujian penerimaan mahasiswa baru, kakak sangat bangga padamu"
"trimakasih kak, ini juga berkat doa kakak dan juga bantuan akomodasi kakak. Jika bukan karna bantuan kakak, via tidak akan bisa meraih ini, sekali lagi via mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya, semoga kakak selalu dilimpahkan rezeki dan juga kesehatan" entah kenapa via terbawa suasana dan tanpa disadari mengucapkan kata kata itu. Sebenarnya lama sebelumnya ingin sekali via mengatakan itu secara langsung sambil menundukkan badan kepada kakaknya, namun karna hanya bisa lewat telepon tak apalah yang penting niatnya benar benar tulus apalagi ada momentnya saat ini yakni perolehan nilai penuhnya. Dipikir pikir jika tidak ada bantuan akomodasi dan beasiswa dari kakaknya via tidak akan mungkin bisa lulus sekolah menengah atas bahkan mengikuti ujian penerimaan mahasiswa baru. Mungkin saat ini dia masih berkutat dengan pekerjaan sambil menabung. Tak terasa air matanya menetes teringat hal itu,.
Al yang mendengar ucapan gadisnya yang tiba tiba tersebut jadi teringat akan keadaan gadisnya sebelum bertemu dengannya. Kehidupan yang sangat miris, hanya mengandalkan beasiswa yang tak seberapa yang hanya bisa melunasi biaya sekolah. Biaya lainnya seperti biaya buku, pembangunan, biaya les yang semuanya harus diusahakan sendiri ditambah biaya kehidupannya sehari hari. Sungguh menyedihkan. Al merasa sesak jika mengingat hal itu, gadisnya calon istri masa depannya harus berjuang keras untuk hidup sementara dia hidup dalam kemewahan. Benar benar ironis.
"via, kakak tidak pernah menganggap via orang asing yang muncul tiba tiba lalu kakak bantu, justru jauh sebelumnya kakak sudah menganggap via keluarga. Dalam keluarga tidak ada yang namanya terimakasih, cukup hanya bertindak sesuai dengan tugas masing masing. Misalnya kakak tugasnya kerja, mama tugasnya menikmati hidup sementara via tugasnya belajar. Hanya itu, sisanya jangan dipikirkan, ok?"
via mengangguk "hm, baiklah kak."
"sudah jangan murung lagi, nanti cantiknya hilang"
"via gak murung kak, via cuma lagi berpikir gimana kehidupan para mahasiswa saat kuliah, apakah harus pindah ke asrama?"
"ada yang pindah, ada juga yang tidak. Bagi yang pindah mungkin tempat tinggalnya jauh dari kampus tapi klo via gak perlu untuk pindah kampus incaran via kan dekat dari mansion" Al jelas tidak akan mengijinkan gadisnya nginap diluar apalagi pindah. Big no
"itu tidak keharusan via, intinya semua boleh jadi pilihan tidak ada aturan harus diasrama"
"oh gitu ya kak, rupanya kakak tau banyak ya hehehe"
"tentu saja, kakak kan salah satu pemilik saham kampus incaran mu itu, jadi otomatis kakak tau dong situasi keseluruhannya" Al mengusap usap dadanya boong dikit gapapa lah ya, entar klo via tau aku pemilik kampus itu bisa bisa dia merasa gak nyaman lagi kuliah disana, pikirnya.
"ohh" via mangut mangut "syukurlah gak harus pindah keasrama, akan ribet buat beberes"
"hm,,oia jurusan apa yang via pilih?"
"via milih jurusan keuangan dan TI kak"
__ADS_1
"sekali dua? Yakin bisa?"
"pasti kak, dulu aja sekolah sambil kerja masa sekarang kuliah dua jurusan gak bisa?"
"asal jangan terlalu dipaksakan aja"
"tenang aja kak,,semua akan baik baik aja. oia tadi kakak bilang kakak tau semua tentang kampus itu, via nanya sesuatu boleh?"
"mau tanya apa?"
"via kan ngambil dua jurusan bisa gak dua duanya dapat beasiswa?"
"tentu bisa, tapi kamu ajuin langsung saat pengisian formulir nanti. Kalo diliat dari nilai penuhmu kemungkinan akan dihubungi oleh pihak kampus, kamu tunggu aja" Al bukan sengaja mengatakan itu karna via gadisnya, tapi memang via akan diprioritaskan berdasarkan nilai penuhnya.
"iyakah? Wah berarti bisa langsung dibahas dong pas ditelpon nanti"
"iah tanyakan saja semuanya yang via ragu, pihak kampus akan mengupayakan sebisa mungkin memenuhi keinginan via"
"baiklah kak, via akan menunggu panggilan dengan sabar"
"yasudah kakak mau kerja lagi, via baik baik ya disana klo ada apa apa telpon kakak atau paman mo"
"siap kak, kakak juga jaga kesehatan"
" hm, kakak matikan telponnya"
Tak terasa hampir satu jam via berbicara dengan kakaknya. Tidak ada lagi kecanggungan atau ketakutan, semua mengalir apa adanya. Via beranjak berdiri menuju kamarnya.
Paman mo yang tadinya ingin kedepan sekilas melihat nonanya bertelepon dengan tuan mudanya. Tampak senyum dibibirnya p
__ADS_1
melihat keakraban nonanya ditelepon. Semoga saja hubungan tuan muda dan nonanya dilancarkan, doanya.
Lain halnya disekolah, mantan kepala sekolah via saat ini sedang antusias membagikan berita perihal siswi peraih nilai tertinggi yang berasal dari sekolahnya. Saking semangatnya dia bahkan memposting dimedia sosialnya. Sehingga banyak sekali pujian yang diberikan para rekannya baik digrup maupun media sosial. Tak ketinggalan dengan para guru, masing masing membagikan kabar gembira itu dimedia sosialnya bahkan ditambahkan dengan poto via yang pernah mengikuti olimpiade. Seketika dunia maya kembali digegerkan dengan berita tentang via.