
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam, akhirnya Joy dan Eros tiba di tempat tujuan. Mobil berhenti di sebuah rumah bertingkat dua dengan pintu kamar hampir memenuhi setiap sisi bangunan.
Gelap sudah menyelimuti bumi begitu mereka memijakkan kaki di tanah asing, khususnya bagi Joy. Cahaya remang-remang dari rumah kos-kosan itu sudah menarik perhatian Joy semenjak turun dari mobil. Bola matanya tiada henti menelusuri seluruh penjuru bangunan rumah panjang itu. Bangunan yang akan menjadi tempat pulangnya selama tiga tahun di kota tersebut.
“Ayo, bantuin supirnya angkut barang-barang dari mobil.”
Ucapan Eros mengejutkan Joy membuyarkan lamunan remaja itu. Lantas Joy menoleh dan mengangguk kaku. Lanjut, dia berjalan ke bagasi mobil membantu sang supir menurunkan barang-barang mereka yang cukup banyak dan menguras tenaga. Mereka adalah penumpang terakhir yang diantarkan sang supir di kala itu.
Begitu selesai, Joy berserta sang supir menghampiri Eros. Seakan peka, Eros merogoh saku celana belakang. Mengambil dompet dari sana dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah.
“Makasih, ya, Pak! Nanti kalau sudah mau balik, tak hubungin Bapak lagi, ya,” ujar Eros ramah seraya menyerahkan uang itu pada sang supir.
Kepala supir itu mengangguk. Tangannya terulur mengambil alih uang itu. “Baik, kembali kasih,” sahutnya singkat.
Lepas berpamitan, dia bergegas masuk ke dalam mobil dan berlalu dari pekarangan rumah itu.
Hingga mobil itu sudah tak terlihat lagi di pandangan mereka, Eros dan Joy berjalan menghampiri sebuah kamar kos di lantai satu yang sangat dekat dengan tangga penghubung ke lantai dua.
Barang-barang mereka diangkut satu persatu di depan kamar. Eros mengetuk pintu beberapa kali. Namun, tak kunjung jua mendapat respons dari dalam. Raut resah mulai tampak di wajah pria dewasa itu.
Sementara kening Joy mengerut. Dia mendekatkan kepala pada satu titik. Lalu kembali menatap sang bapak yang belum menyerah mengetuk pintu sembari menyerukan nama sang kakak sulung.
“Pak, kayaknya Bang Ari enggak ada di dalam. Pintunya digembok,” kata Joy sembari memperlihatkan sebuah gembok besar yang menggantung mengunci pintu pada Eros.
Eros mengikuti arah telunjuk putra bungsunya. Sial! Dia mengumpat dalam hati. Jadi sedari tadi, dia hanya membuang-buang waktu mengetuk pintu.
Kini, Joy dan Eros melayangkan pandangan ke sekitar. Berharap ada penghuni kamar lain yang keluar dan bisa mereka tanyai tentang keberadaan Ari.
Dan mungkin karena kebisingan yang mereka ciptakan beberapa saat lalu, seorang gadis remaja keluar dari sebuah kamar di sebelah kamar kos Ari. Wajah gadis remaja itu teduh. Tampak sedikit lebih tua dari Joy. Joy taksir gadis itu kakak dua tahun darinya.
Langkah pendek gadis itu menghampiri Joy dan Eros. Senyum tipis yang hangat hadir di wajah gadis itu.
“Selamat malam, Pak. Lagi cari siapa, ya?” ujar gadis itu menyapa.
Joy yang berdiri di samping Eros terpaku mendengar nada suara gadis yang begitu lembut. Perawakan gadis itu pada pertemuan pertama berhasil membuat Joy tergugah hingga terkesan.
Joy menunduk malu begitu bola matanya tak sengaja bertemu dengan netra cokelat milik gadis itu.
__ADS_1
Senyum tipis turut hadir di wajah Eros. Wajah yang biasa menampilkan raut dingin itu.
“Kira-kira penghuni kamar ini kemana, ya?” Eros balik bertanya sembari tangan menunjuk kamar berpapan nomor 3.
“Oh, Bapak cari bang Ari, ya?” Gadis itu menebak dalam hati mungkin keluarga tetangga kosnya yang dari kampung.
Anggukan yang dia dapat dari Eros membuat gadis itu melanjutkan ucapannya. “Mungkin Bang Ari-nya belum pulang kerja, Pak. Biasanya dia pulang jam tujuh ke atas,” ujar sang gadis memberitahu.
Eros manggut-manggut. “Makasih, ya,” katanya dibalas anggukan oleh gadis itu.
“Ya udah, kalo gitu saya masuk dulu, ya, Pak. Mari!” katanya berpamitan lalu melesat pergi dari hadapan Eros dan Joy.
Joy baru bisa menegakkan kepala kembali setelah memastikan gadis itu benar-benar sudah pergi dari hadapannya. Diam-diam remaja itu melirik jam yang terpampang di layar ponselnya.
Pukul 18.15, batinnya.
Remaja itu berdecak. Lanjut pandangannya dia sapukan ke sekeliling rumah kosan. Di samping kiri, ada sebuah pohon besar yang di bawahnya lengkap dengan tempat lesehan yang dibuat dari kayu. Lalu, di samping kanannya ada beberapa pohon mangga, juga pohon jambu.
Lingkungan di sini cukup asri. Mungkin pemilik kosnya sedikit galak sehingga pekarangan begitu bersih. Tak ada sampah-sampah plastik dan semacamnya berserakan. Hanya dedaunan tua yang gugur dari pohon memenuhi halaman rumah nan cukup luas.
“Joy, sini duduk dulu. Mungkin abangmu agak lama pulangnya,” ucap Eros yang sedari tadi diam-diam memperhatikan gerak-gerik sang putra bungsu.
Joy menoleh, mendapati bapak yang sudah duduk di sebuah bangku kayu di samping tempat mereka berdiri tadi. Pria dengan wajah yang mulai keriput itu menepuk-nepuk bangku panjang sebelahnya yang kosong.
Hal sederhana itu berhasil menghadirkan seutas senyum di bibir Joy. Lihat, Eros begitu memperhatikannya hanya terkadang pria itu enggan memperlihatkannya secara terang-terangan.
Joy menghampiri bangku panjang itu dan mendudukkan dirinya di samping Eros. Hela napas panjang terdengar darinya sampai-sampai Eros seketika menatapnya bingung.
“Kamu kenapa?” tanya Eros.
Joy balik menatap bapak. Senyum getir kali ini menghias bibir. “Capek dikit, Pak,” jawabnya dengan jujur.
Raut lelah itu mulai diperlihatkan tanpa ragu oleh Joy. Bukan capek karena perjalanan jauh, tetapi capek dalam defenisi yang luas.
Eros menatapnya lekat. Pria itu terdiam untuk selang waktu yang lama. Sejenak terenyuh dengan ucapan putra bungsunya. Tidak ada dusta dalam kata-kata Joy. Bola mata anak itu menjelaskan semuanya.
Seakan sadar dari apa yang dipikirkannya, Eros langsung mengubah raut wajahnya kembali datar. Dia menatap Joy tanpa ekspresi.
__ADS_1
“Tidak usah mengeluh tentang kehidupanmu. Bahkan kehidupan Bapak waktu seusiamu jauh lebih berat. Tetapi Bapak tidak pernah mengeluh sekalipun. Kamu itu anak laki-laki. Jadi, kamu harus kuat.”
Setelah itu, keheningan melanda keduanya. Joy yang tertampar dengan ucapan Eros memilih bungkam dan tak ingin mengeluh lebih jauh. Joy yang mengira akan mendapat kata-kata motivasi dari Bapak ternyata hanya imajinasi semata. Hal yang mustahil terjadi.
Berhadapan dengan Eros harus berbekal kesabaran. Jika kesabaranmu hanya setipis tisu yang dibelah dua maka segeralah menjauh. Jangan mencari perkara!
***
“Joy. Bapak.”
Suara itu mengalihkan perhatian Joy dan Eros yang entah sudah berapa lama terjebak dalam lamunan masing-masing.
“Bang Ari,” sebut Joy beranjak dari tempat duduknya, diikuti Eros.
Keheningan yang tercipta pecah begitu Ari menampakkan batang hidungnya di depan kedua laki-laki berbeda usia itu. Tak terelakkan raut terkejut memenuhi wajah Ari meski didominasi oleh rasa bahagia.
Tanpa mempedulikan penampilannya saat ini yang kacau balau, keringat mengucur deras membasahi seluruh badan. Ari langsung menghambur ke pelukan sang bapak dan sang adik. Menyalurkan rasa rindunya yang terpendam selama beberapa minggu ini. Akhirnya hari yang dinantikan tiba.
“Ari kangen,” cicit Ari dalam pelukan Eros. Nada suaranya terdengar begitu manja sampai membuat Joy mengerut tak suka.
Diam-diam Eros menyungging senyum. “Malu sama badan,” sindirnya ketus.
Ari merengut. Pemuda itu mencebikkan bibir. Joy bergidik ngeri melihatnya.
“Bang Ari lebay,” cibir Joy mendengkus.
Ari seketika menatapnya sinis. “Sirik aja lo!”
Joy hanya terkekeh. Akhirnya dia bisa beradu mulut secara langsung dengan abangnya setelah terpisahkan oleh jarak dan waktu beberapa minggu lamanya.
“Surprise buat ulang tahun Bang Ari!” seru Joy tiba-tiba dan langsung menghambur ke pelukan Ari.
Ari terdiam sejenak sebelum bibirnya berkedut menyungging senyum tipis. Dia balas memeluk sang adik dan berkata, “Makasih.”
Eros tersenyum melihat interaksi dua putranya itu. Rasanya tenang melihat mereka berdua akur seperti itu.
***
__ADS_1