Joy : A Hope

Joy : A Hope
Bab 8 : Pasrah pada Keadaan


__ADS_3

Bulan Juli telah tiba. Bulan Juni berlalu begitu saja seperti bulan-bulan sebelumnya, ada suka dan ada dukanya. Dua hal yang tidak mungkin bisa dipungkiri oleh manusia di dalam hidup.


Namun, setidaknya di bulan kemarin ada satu hari istimewa yang seolah dikhususkan untuk Joy. Di hari kelulusan Joy, dia berhasil meraih peringkat umum hingga akhirnya lulus seleksi di SMA favorit yang menjadi incarannya. Walau demikian, Joy juga harus mengalami beberapa hari suram ketika tidak sependapat dengan Eros, sang bapak. Joy seolah dipaksa harus menelan pil pahit untuk mengubur dalam-dalam keinginannya yang sudah setinggi langit waktu itu. Joy harus merelakan mimpinya demi mengikuti mimpi Eros yang ingin diraih lewat dirinya.


Tidak ada yang bisa Joy lakukan selain pasrah. Mau tidak mau Joy lanjut sekolah di tingkat SMK, bukan SMA. Padahal Joy sudah punya peluang besar untuk masuk di tempat bergengsi itu plus dapat beasiswa lagi. Akan tetapi, sekali lagi dia tekankan hidup Joy hanya seperti robot berjalan yang digerakkan oleh seseorang.


Eros sendiri yang mendaftarkan Joy di sebuah sekolah menengah kejuruan di kota, dan entah bagaimana ceritanya sehingga Joy bisa lulus seleksi begitu saja. Rupanya Eros mendaftarkan Joy lewat jalur prestasi.


Ah, ya. Joy sendiri belum pernah mengunjungi sekolah barunya tersebut. Katanya, sekolah baru Joy lumayan dekat dengan kost tempat tinggal Bang Ari. Eros sengaja mencari sekolah dekat situ karena Joy akan tinggal bersama abangnya kelak.


Joy hanya bisa menghela napas, menguatkan diri agar terus sabar. Mau melawan pun tak punya nyali sebesar itu. Dia harus merelakan tiga tahun ke depannya terkekang dalam alur hidup yang sudah diatur oleh Eros sendiri.


Saat sadar bahwa akan tinggal satu atap bersama abangnya, senyum tipisnya terukir. Tidak masalah! Kedengarannya tidak terlalu buruk.


Minggu depan, Joy sudah masuk sekolah. Tepatnya masa pengenalan lingkungan sekolah selama satu minggu, lalu setelah itu Joy dan teman seangkatannya baru dinyatakan lulus seratus persen sebagai murid di SMK tersebut.


Joy tidak sabar menunggu hari itu tiba. Bukan karena apa-apa, dia hanya ingin bertemu Ari yang sudah beberapa minggu belakangan ini mereka hilang kontak. Semenjak hari itu, Joy tidak pernah menghubungi abangnya lagi. Awalnya Joy memang kesal. Namun, pada akhirnya dia menyerah juga. Beberapa kali Ari menghubunginya, akan tetapi Joy abaikan. Sengaja Joy lakukan untuk memberi surprise pada pemuda itu. Kebetulan, pertengahan bulan ini adalah hari kelahiran Ari.


Selain itu, Joy juga sedikit penasaran dengan bentuk dan suasana di sekolah barunya tersebut. Sekolah yang akan menjadi tempatnya menuntut ilmu selama tiga tahun ke depan. Tempat di mana Joy akan menghabiskan masa putih abunya. Apakah lingkungannya sebagus dalam imajinasi Joy sesuai yang Eros sering ceritakan?


Entahlah! Joy tidak ingin percaya lagi pada sesuatu yang belum pernah dia lihat. Dulu pernah dia mengalami hal itu. Ekspektasinya sudah besar pada sesuatu yang sedang dijelaskan oleh temannya. Namun, ketika bola mata Joy sendiri sudah menyaksikan hal tersebut, dia hanya bisa melongo tak percaya. Menatap temannya penuh protes dan bertanya apa yang istimewa dari hal tersebut.


Intinya, indah dan bagus di mata setiap orang itu relatif. Bisa saja kamu menyukai hal-hal sepele, namun tidak dengan orang sekitarmu. Kamu mengagung-agungkannya, tetapi itu justru biasa saja di mata mereka. Begitu pun sebaliknya.

__ADS_1


Ugh, mengingat waktunya yang semakin hari semakin menipis tinggal di kampung ada sedikit rasa tak rela Joy ingin pergi. Tempat yang sudah selama lima belas tahun ditempatinya itu sudah menyimpan banyak memori kenangan yang tidak mungkin bisa Joy lupakan. Bukan hanya itu, Joy akan jauh dari orang tuanya. Belum pernah sekalipun Joy akan pergi dan meninggalkan kampung. Hidup berhari-hari, bahkan bertahun-tahun jauh dari orang tua. Pasti Joy akan sulit beradaptasi meski pada akhirnya akan terbiasa juga. Akan tetapi, satu yang harus Joy tahu bahwa ini barulah awal dari segalanya. Kemungkinan besar jika sudah selesai nanti dan sudah mendapatkan pekerjaan layak dia akan semakin jauh dari orang tua untuk mengejar karier.


Tadi pagi, Joy berkunjung ke rumah Bayu dan menceritakan semua yang dialaminya pada sahabat dari kecilnya itu. Bayu cukup prihatin padanya karena baru kali ini mereka akan pisah sekolah. Apalagi alasan mereka pisah sekolah hanya karena hal yang enteng. Tak ada yang Joy dapatkan selain kata-kata motivasi dari Bayu untuk tidak menyerah begitu saja.


“Kamu jangan patah semangat. Enggak jadi sekolah di SMA, bukan jadi alasan kan untuk kamu jadi penulis?”


Bayu menepuk pundaknya sambil memasang senyum menenangkan. “Joy, peluang kamu itu sangat besar. Jangan berkecil hati. Meskipun nanti kita enggak satu sekolahan lagi, bukan berarti kita saling melupakan, bukan? Bagi aku, kamu akan tetap jadi sahabat terbaik yang pernah kukenal.”


Joy hanya bisa mengulum senyum saat itu. Terenyuh dengan kata-kata Bayu. Tatapannya begitu lekat. Darah di sekujur saraf tubuhnya berdesir hebat. Enggak Bang Ari, enggak Bayu. Kenapa semua orang di sekitarnya menjadi dewasa, tepatnya mendadak dewasa?


Namun, ada benarnya juga apa kata mereka. Tidak lanjut di SMA, bukan menjadi alasan Joy untuk berhenti mengejar mimpi. Seorang penulis lahir tidak harus dari lulusan jurusan Bahasa Indonesia. Yang intinya sekarang, Joy harus lebih memperdalam lagi skill yang dimilikinya tersebut selagi Eros masih memberinya kesempatan menjadikan menulis sebagai hobi.


Baiklah, Joy akan melupakan perkara yang lalu-lalu. Tiba saatnya dia fokus pada jalan yang tampak lebih menantang di depan mata. Meski awalnya agak ragu, Joy optimis pasti bisa melewati semua itu.


Sekolah baru, suasana baru, juga seragam baru. Semuanya harus baru.


Joy terkekeh dengan tingkah sahabatnya itu. Dari dulu memang sudah seperti itu. Jika Joy sedang sedih, maka Bayu dengan segala tingkah kekonyolannya akan menghibur Joy sampai tertawa kembali. Bagi Joy, Bayu memang definisi sahabat sejati.


Joy berharap semoga setelah ini, mereka tidak menjadi sosok yang asing. Belajar banyak dari pengalaman, banyak dari mereka yang dulunya katanya sahabat berakhir seperti orang yang tidak saling mengenal setelah terpisah oleh urusan duniawi masing-masing.


***


Malam itu, kembali Eros dapat giliran untuk ronda malam. Di kampung tersebut diadakan piket bergilir setiap minggu sehingga semua warga laki-laki dapat bagian berjaga, meski beberapa dari mereka juga ada yang bandel dan tidak mau menjalankan tugas. Saat petang sudah menjelang, Eros sudah siap sedia di pos ronda. Seperti biasanya pos sudah selalu ramai baru Eros datang, dominan anak-anak muda yang masih bujang.

__ADS_1


Eros tersenyum dan balas menyapa ketika beberapa bapak-bapak seumuran atau bahkan lebih tua darinya melontarkan sapaan padanya. Meski Eros terlihat dingin dan pendiam dari luar, namun itu tak membuatnya berhenti bersosialisasi seperti ini. Dan karena hal itu juga, Eros banyak belajar sesuatu meski di beberapa waktu masih terkadang egois dan tak mau mengalah.


“Ari mana, Om? Udah lama enggak kelihatan.” Salah seorang teman Ari bertanya dengan nada lantangnya. Pemuda itu tampak celingak-celinguk seperti seseorang yang tengah mencari sesuatu.


Eros menoleh pada pemuda itu dan kembali menyungging senyum. Mungkin teman-teman putra sulungnya itu juga merasa kehilangan sosok dewasa dan humble seperti Ari.


Ah, dia teringat lagi pada anak nakal yang satu itu. Apa terlalu berlebihan jika Eros mengatakan bahwa dia rindu? Bohong jika Eros mengelak dari hal itu. Hanya saja dia gengsi mengatakannya setiap kali Ari menelepon.


“Ari sudah kerja di luar kota,” jawab Eros pada akhirnya, membuat beberapa teman Ari mengangguk sambil ber-o ria.


Sementara di tempat lain, Santi yang baru selesai menggoreng ubi hasil kebun mereka memanggil Joy dan menyuruh sang anak membawa sebagian hasil gorengannya itu ke pos ronda.


Joy yang tadinya sedang asyik main ponsel di ruang tamu mendadak girang dan menyambar rantang kecil itu dari tangan sang ibu. “Siap, Bu!” ujarnya tegas sambil hormat.


Santi terkekeh. Entah apa yang membuat putranya itu semangat empat lima jika disuruh ke pos ronda. Entah apa yang membuatnya betah di sana.


Tangannya kemudian terangkat mengusap lembut rambut Joy. “Hati-hati di jalan,” pesannya.


Joy mengangguk dengan senyumnya sebelum melesat pergi dari sana bak superman.


Santi hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah Joy. Hingga senyum yang sedari tadi ditahan-tahan akhirnya terukir juga.


Kedatangan Joy di pos ronda sambil membawa makan membuat suasana kembali ramai. Mereka tampak saling berebut ubi goreng. Makanan khas penduduk desa. Pengolahannya sederhana, namun rasanya enak. Beberapa dari mereka juga tiada henti memuji Santi yang hampir tiap suaminya ronda akan menjamu mereka seperti ini.

__ADS_1


Satu hal yang membuat Joy terenyuh lagi di malam itu. Eros tampak tersenyum dengan kedatangannya. Tidak seperti kemarin-kemarin yang akan sinis ketika melihatnya ada di pos ronda seperti ini.


***


__ADS_2