Joy : A Hope

Joy : A Hope
Bab 25 : Memendam Rasa


__ADS_3

Di jam istirahat setelah kejadian tadi pagi, interaksi antara Joy dan Aletta, juga Arga, menjadi minim. Joy tahu dia salah. Mood-nya sedang buruk dan tak ingin diganggu. Tetapi, mengabaikan teman-temannya juga bukan tindakan yang dibenarkan. Perkara terlambat dan kena sanksi, nyatanya kesalahan itu murni dari diri sendiri. Andai saja dia tidak begadang semalaman pasti hal tersebut tidak akan pernah terjadi.


Joy tidak harus terlibat kecanggungan dengan Arga, teman sebangkunya. Aletta masih tersenyum ceria dan merecokinya dengan berbagai topik pembahasan. Tetapi sekarang, bahkan meliriknya saja pun Aletta enggan.


Tidak sengaja Joy berpapasan dengan Aletta di koridor. Joy baru saja keluar dari bilik toilet, sementara Aletta sendiri hendak ke kantin bersama teman perempuannya. Tawa itu masih ada. Senyum itu masih terpatri indah. Namun, semuanya seketika pudar ketika bola mata indahnya bertemu dengan manik hitam Joy. Joy melihat jelas bagaimana dengan cepatnya perubahan raut wajah Aletta.


Hanya saling melirik sekilas, Aletta membuang muka dengan wajah tanpa ekspresi. Seolah sebelumnya mereka bukan siapa-siapa. Kata lainnya, mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Aletta mengajak teman perempuannya pergi melewati Joy begitu saja. Tanpa meninggalkan sepatah kata. Sapaan hangat yang sering dilontarkannya pun tidak Aletta lontarkan.


Joy pikir marahnya Aletta hanya sesaat. Mungkin pulang sekolah nanti keadaan akan berbalik seperti semula. Aletta akan merecoki Joy di halte depan sekolah yang sedang menunggu angkutan umum dan terus mengajaknya pulang bareng bersama Alan, kakaknya Aletta. Namun, ternyata semua itu hanya ekspektasi Joy semata. Realita menampar Joy sedalam-dalamnya tanpa belas kasihan.


Saat itu bel pulang berbunyi lantang di seantero sekolah. Joy menghadang jalan Aletta di depan kelas saat gadis itu hendak beranjak pergi. Senyum tipis melengkung di bibirnya saat kerut samar muncul di dahi Aletta.


“Aletta, saya mau bicara sebentar,” kata Joy memulai pembicaraan.


Aletta menghiraukannya. Dia berjalan melewati badan Joy. Baru selangkah dia kembali berhenti. Bukan kemauannya, Joy mencekal pergelangan tangan Aletta.


Lewat ekor mata, Aletta melirik telapak tangan besar itu sedang mencengkeram pergelangan tangannya erat. “Maaf. Tapi, aku buru-buru!” pungkasnya tegas.


Penolakan pertama dari Aletta. Joy menelan ludahnya susah payah. Rasanya seluruh syaraf dalam dirinya tidak berfungsi dengan baik sampai lemas sekujur tubuh. Sebagian dalam diri Joy bergejolak tak tentu hanya karena kalimat penolakan itu. Tidak Joy sadari Aletta sudah berhasil keluar dari cengkeramannya dan berlalu pergi.


Laki-laki itu termenung di tempat. Pikiran melayang entah ke mana, yang pasti tidak sedang bersama raganya. Dipandangi sisa-sia kepergian Aletta dengan gamang. Tidak Joy ketahui bahwa kemarahan Aletta tidak hanya berpusat pada sikap cuek Joy semata. Tetapi, lebih dari itu. Sesungguhnya Aletta tidak suka melihat kedekatan Joy dengan Rani.


Itu baru permulaan. Karena di hari-hari berikutnya, Aletta semakin tak tercapai oleh Joy. Semakin Joy mendekat dan ingin memperbaiki semuanya, semakin menjauh pula Aletta merentang jarak. Hingga perlahan seiring berjalannya waktu, mereka mulai asing dan terbiasa sendiri-sendiri.


Sekelas. Berada di ruang yang sama. Bahkan, berada di lingkungan yang sama pula. Bukan tidak mungkin, tidak saling menyapa atau lebih parahnya tidak saling mengenal.


Dari kejadian itu, ada satu hal yang Joy petik. Tidak masalah kesal pada diri sendiri, asal jangan sampai berimbas pada orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan penyebab kekesalan itu. Sebab ketika kamu kembali dan ingin mengambil rute utama dari jalan pintas yang sempat kamu pilih, orang yang kamu tinggalkan tidak akan berdiri di tempat yang sama lagi. Dia akan pergi menempuh jalannya sendiri, menganggap semua di antara kalian sudah selesai, dan hanya sebuah kisah masa lalu yang tak ingin dia ingat apalagi diulang kembali.

__ADS_1


Meski beberapa orang bodoh yang memilih tinggal, tetap bertahan dan rela disakiti berkali-kali tanpa tahu rasa sakit. Pada akhirnya mereka akan kalah dan pergi membawa luka lebar jika kesalahan yang sama terus diulang berulang kali. Nyatanya mereka tidak setegar tampang luarnya, tetapi mereka sedang menguji diri sampai di mana batas kesabarannya dan kapan akan mengakhiri semua itu.


***


“Ada hubungan apa lo sama Rani?”


Pertanyaan itu Arga lontarkan sebelum guru di jam pertama masuk mengajar. Sepertinya mereka tidak perlu repot-repot menunggu karena dari kabar yang dibawa ketua kelas mereka barusan bahwa guru yang bersangkutan tidak akan masuk hari ini. Entah apa halangannya, si ketua kelas tidak menyebutkan. Menyebalkan memang. Mentang-mentang dia salah satu sumber info dari guru-guru, dia jadi seenaknya memberi informasi setengah-setengah.


Sebenarnya sudah sejak tadi Arga ingin menanyakan hal itu, tetapi dia sedang menunggu waktu yang tepat saja. Melihat Joy tidak punya kesibukan dan kondisi kelas sedang sibuk dengan urusan pribadi-pribadi, Arga pikir ini waktunya.


Ya, setelah hampir satu minggu mereka diam-diaman. Ah, memang pada dasarnya Joy yang selalu membuka obrolan. Sementara Arga hanya mengikut saja. Joy cuek dan tak mau menyapa, Arga bisa lebih dari itu. Itu bukan masalah besar untuk Arga.


Seketika Joy menoleh. Aktivitasnya sedang menulis novel terhenti. Nama Rani dibawa-bawa ke dalam obrolan, tentu saja menarik perhatian Joy.


“Saya—“ Bibir itu terbuka pelan dan berucap gagap. Tak lama terkatup kembali. Rasanya cukup canggung setelah saling diam entah berapa hari lamanya, lalu tiba-tiba membuka topik obrolan yang menurut Joy tak biasa.


“Kita enggak ada hubungan apa-apa. Kita cuma—”


“Bohong!” sela Arga jelas menolak alasan yang Joy berikan.


Joy mengerutkan kening dalam. Diam-diam menelisik dengan saksama raut wajah Arga seketika merah padam seperti orang yang sedang menahan emosi.


“Dia kasih lo air minum sambil senyum waktu itu. Gue enggak percaya kalo di antara kalian enggak ada hubungan apa-apa. Lo pacaran, kan, sama Rani?” Tatapan mata Arga yang setajam elang rasanya seperti sedang menginterogasi Joy. Bukan hanya itu, deru napas yang memburu semakin meyakinkan Joy bahwa Arga ada sesuatu terhadap Rani.


“Kenapa jadi kepo sama hubungan saya sama Rani?” Joy bertanya balik.


Pertanyaannya berhasil membungkam habis bibir Arga. Diam tak berkutik sekarang laki-laki di sampingnya. Entah ke mana hilangnya kalimat panjang lebar dan nada sinis saat berbicara padanya.

__ADS_1


Joy sedikit memiringkan kepala dengan tatapan intimidasi. “Kamu suka sama Rani?”


Bola mata yang berlarian tak tentu disertai wajah salah tingkah membuat Joy terkikik geli. Baru kali ini dia melihat senyum malu-malu di wajah laki-laki yang lebih sering memasang muka garang.


“Jadi, kamu benar suka sama Rani? Dan, cemburu melihat kedekatan kita berdua?” Dua alis sekaligus terangkat. Senyum jahil kian mengembang sempurna di sudut bibir Joy.


Tidak takut lagi Joy meledek Arga terang-terangan. Dekat dengan Arga seperti ini, rasanya membuka mata Joy lebar-lebar bahwa Arga aslinya tidak seseram yang orang-orang lihat. Wajah garang itu sepertinya hanya topeng semata untuk bertahan hidup di lingkungan toxic agar tidak dimangsa predator yang derajatnya lebih tinggi.


“Iya, gue memang suka sama Rani. Kenapa?! Lo enggak suka karena gue suka sama pacar lo?” cerca Arga bertubi-tubi mengakui semuanya.


Hening melingkupi mereka berdua. Sejenak. Joy diam menatap dalam mata Arga. Joy sudah menebak ini dari awal. Raut wajah Arga sudah menjelaskan semuanya. Tetapi, mendengar sendiri pengakuan itu dari bibir Arga ... kenapa rasanya jadi sesesak ini? Apa salah jika Joy egois dan mengatakan bahwa Arga dan siapa pun tidak boleh menyukai Rani selain dirinya?


“Gue suka sama dia dari awal gue masuk di sekolah ini. Hari pertama ikut MOS, gue ogah-ogahan. Karena gue memang enggak suka sama keputusan bokap gue yang pengen gue masuk SMK. Tapi, di hari itu, gue ragu sama keputusan gue sendiri. Ketika gue bertemu Rani.” Arga melirik Joy sambil memamerkan senyum lebar. Senyum manis yang pertama kali Joy lihat.


“Dia cewek yang baik. Pintar juga. Waktu itu, gue dihukum senior karena terlambat di hari terakhir MOS. Tetapi, dengan sukarela dia datang dan menawarkan bantuan buat gue. Dia rela jadi bahan bully sama teman seangkatannya waktu itu karena dianggap caper ke gue. Tetapi, dia enggak peduli sama sekali. Dari situ kita semakin dekat. Banyak yang iri melihat kedekatan kita. Sampai suatu hari, gue enggak sengaja bikin masalah yang bikin Rani menjauh dari gue. Gue menyesal pernah menyia-nyiakan kesempatan bersama dia waktu itu.”


Senyum itu berubah menjadi senyum pedih yang tak bisa dijelaskan. Sorot matanya begitu sendu seolah benar-benar menyesali perbuatan yang pernah dilakukan seperti kata-katanya barusan.


Joy penasaran dengan masalah yang Arga maksud. Tetapi, Joy tidak akan memaksa Arga untuk menceritakan hal tersebut padanya. Lagi pula Joy tidak punya hak untuk tahu semua rahasia masa lalu Arga. Mereka tidak hanya lebih dari sekadar teman sebangku. Bukan sahabat seperti yang pernah Joy damba-dambakan dulu saat pertama kali bertemu Arga.


Joy tersenyum menenangkan. Ditepuknya pundak Arga, lalu diusap pelan. “Tenang aja. Saya sama Rani benar enggak ada hubungan apa-apa. Kita hanya tetangga kost saja yang tidak sengaja akrab. Saya juga enggak tahu kenapa Rani bisa sebaik itu sama saya,” kata Joy balik menceritakan sesuatu yang pernah terjadi antaranya dengan Rani.


Joy rasa Joy tidak perlu mengatakan perasaan yang sebenarnya pada siapa pun. Cukup dia saja yang merasakannya. Joy akan pendam sampai di mana batas waktu dunia harus tahu segalanya. Lagi pula, ketika Joy mengungkapkan perasaan yang sebenarnya pada Rani. Joy tidak ingin cintanya bertepuk sebelah tangan. Joy belum siap mendengar kalimat penolakan dari bibir Rani.


***


 

__ADS_1


__ADS_2