Joy : A Hope

Joy : A Hope
Bab 15 : Rasa Aneh


__ADS_3

Bel istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu. Murid-murid SMK Bina Negoro sudah berhamburan keluar kelas. Masing-masing dengan tujuan tertentu. Entah jajan ke kantin, membaca buku di perpustakaan, nongkrong di berbagai penjuru sekolah, atau bahkan bermain bola di lapangan.


Berbeda dengan Joy yang memilih untuk menetap di dalam kelas. Mau keluar pun tidak punya tujuan. Jadi, lebih baik dia di kelas saja menunggu jam istirahat usai. Lagi pula, Joy tidak punya uang jajan. Ah ya, bukannya tidak punya. Joy lebih suka menabung jika punya uang lebih daripada membelanjakannya dengan hal-hal yang tidak penting. Apalagi sekarang, biaya sekolah Joy bertambah dua kali lipat dibanding biaya sekolah sewaktu di bangku SMP. Masih baik di pendaftaran kemarin Joy mendapat potongan biaya sekolah 50% karena lulus lewat jalur prestasi. Kalau tidak salah, siswa yang lulus lewat jalur reguler di sekolah ini, biaya sekolah mereka rata-rata satu jutaan ke atas.


Joy geleng-geleng kepala mengingat hal itu. Bisa-bisa orang tuanya stres memikirkan biaya sekolahnya, belum lagi biaya hidup jika hal tersebut terjadi. Lalu, embusan napas kasar terdengar dari hidung remaja itu. Entah sampai kapan dia akan menjadi beban keluarga seperti ini? Sampai kuliah nanti?


“Makanya, Joy belajar dengan baik supaya kelak Joy tidak merasa berhutang budi sama bapak dan ibu. Melihat kamu sukses saja sudah membuat kami bangga. Pengorbanan kami menyekolahkan kamu rasanya tidak sia-sia,” kata ibu waktu itu.


Senyum hangatnya di bawah naungan langit jingga di sore itu, dan bagaimana dengan lembutnya sang ibu mengelus-elus rambut hitam Joy bersama tatapannya yang penuh kasih sayang. Semua itu masih terekam jelas dalam ingatan Joy.


Joy ... tidak akan pernah lupa moment yang satu itu. Jika saja masih bisa diulang, maka Joy akan terus kembali ke masa itu dan mengulangnya di setiap saat ia rindu. Ah, jawabannya tentu saja ‘iya, masih.’, tetapi vibes-nya sudah pasti berbeda. Tidak lagi sama.


Tersadar dari lamunan yang kian jauh, Joy beranjak dari tempat duduknya. Dadanya hangat penuh dengan rasa yang menggebu-gebu. Satu tekadnya di hari itu. Joy harus belajar lebih giat lagi. Dia akan membuktikan pada kedua orang tuanya, terlebih pada ibunya bahwa Joy bisa dan tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan mereka untuk menyekolahkannya.


Kelas sudah mulai sepi. Hanya terhitung dua tiga murid yang masih dalam kelas bersamanya. Saat Joy melangkah keluar kelas—hendak membuang air kecil ke toilet—langkahnya terhenti oleh seorang murid yang menghadang jalannya.


“Hai,” sapa murid perempuan itu sudah berdiri di hadapan Joy. Senyum tipis terukir di bibirnya. Sepertinya dia ingin berkenalan. Sekiranya itu yang langsung terlintas dalam benak Joy.


“Hai.” Joy menyapa balik dengan ramah.


Murid itu tampak salah tingkah. Terlihat dari kepalanya yang seketika menunduk dan senyum malu-malu tertahan di bibir. Namun, Joy yang sangat tidak peka hanya mengernyitkan dahi heran.


“M-mau ke kantin, ya?” ujarnya lagi dengan suara terbata-bata.


Joy tidak langsung merespons. Fokus lelaki itu hanya fokus pada setiap perubahan raut wajah gadis itu.

__ADS_1


“Bareng, yuk!” ajaknya berbinar.


Seketika Joy tertawa ringan. “Enggak. Saya mau ke toilet,” jawabnya seraya terkekeh di akhir.


Sontak raut wajah gadis itu berubah seratus delapan puluh derajat. Senyum di bibir, juga binar di kedua bola mata itu sirna entah ke mana. Berganti menjadi raut lesu dan masam.


Joy tersenyum canggung menyadari perubahan itu. Tak enak hati rasanya.


“Ya udah, saya duluan,” pamitnya sedikit membungkukkan badan dan langsung melewati gadis itu begitu saja.


Gadis itu berbalik dan langsung berseru saat Joy sudah berada di ambang pintu. “Nama aku, Aletta!”


Langkah Joy terhenti sebentar, lalu berlalu kembali tanpa merespons perkenalan diri gadis itu. Bukan Joy tidak mau berkenalan, tetapi keadaan sedang tidak mendukung saat itu. Air kencingnya sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi.


***


Laki-laki itu baru saja keluar dari bilik toilet. Ujung rambutnya sedikit basah usai mencuci muka. Wajahnya juga tampak lebih segar dari sebelumnya.


Saat sedang merapikan rambut yang berjatuhan menutupi dahi dengan menyisirnya ke belakang. Langkah Joy tiba-tiba terhenti. Padahal ruang kelasnya masih ada setidaknya lima langkah atau lebih dari tempatnya saat itu.


Perhatiannya teralihkan pada dua murid di koridor seberang, tepatnya di koridor gedung ruang perpustakaan, sedang mengobrol santai. Bangunan dua tingkat itu tampak lebih menonjol dari bangunan-bangunan lainnya. Bangunan tersebut memang dirancang khusus untuk ruang guru dan ruang kantor di lantai atas, serta ruang perpustakaan di lantai bawah.


Joy menautkan kedua alisnya dengan mata memicing guna menajamkan penglihatan. Kepalanya sedikit lebih condong ke depan.


“Itu ... Kak Rani?” ujarnya menggumam, telunjuk kirinya secara refleks menodong ke depan.

__ADS_1


“Dia lagi ngobrol sama siapa?” lanjutnya bicara pada diri sendiri.


Seorang murid lelaki yang tampak seumuran dengan Rani. Lesung di pipi terbentuk setiap kali sudut bibirnya melengkung, juga kumis tipis yang mulai tumbuh di area antara bibir dan hidung. Bahkan Joy sebagai laki-laki pun mengakui parasnya.


Secuil perasaan aneh tiba-tiba menggerogoti hati Joy. Entah timbul dari mana. Mungkin iri dengan paras laki-laki yang sedang bersama Rani itu, atau mungkin cemburu atas kedekatan mereka?


Entahlah, Joy pun heran dengan perasaannya sendiri.


Joy mematung di tempat. Setia memandangi dua murid itu meski sudah melangkah dari koridor tempat mereka mengobrol. Kian jauh dan hilang dari pandangan Joy, rasa di dada pun kian terasa sesak.


Joy tidak kenal siapa murid laki-laki itu. Mungkin saja teman sekelasnya Rani. Joy juga tidak tahu apa topik obrolan mereka sampai-sampai diselingi canda tawa. Pun beberapa kali Rani tersenyum malu-malu sembari memandangi laki-laki itu dalam diam.


Terlena dalam pikirannya sendiri sampai tidak sadar akan waktu yang terus bergulir. Bel tanda usainya jam istirahat berbunyi beberapa saat lalu, dan Joy tidak mendengarnya. Semua murid sudah berhamburan kembali ke dalam kelas. Koridor yang tadinya ramai kini menjadi sepi.


Joy tak sadar akan itu semua. Joy baru sadar ketika seorang guru datang menghampiri dan menepuk pundaknya. Remaja itu terlonjak kaget dan secara refleks balik badan.


Baru saja Joy ingin mengumpat, tetapi sebuah tatapan tajam penuh intimidasi yang ia dapatkan menyulutkan nyalinya.


“Kenapa masih berkeliaran di koridor? Tidak dengar bel berbunyi?” tegur guru laki-laki bercambang itu.


Badan besarnya, juga nada suara rendah yang dia gunakan saat berbicara membuat Joy merinding. Diam tak berkutik.


“A-anu Pak—”


“Masuk kelas cepat! Atau saya hukum?”

__ADS_1


“I-iya, Pak.” Joy menyengir ngeri dan langsung lari terbirit-birit menjauh dari guru killer itu.


***


__ADS_2