Joy : A Hope

Joy : A Hope
Bab 17. Joy Cemburu?


__ADS_3

Masih di hari yang sama kala itu.


Nyatanya, tidak ada yang spesial dari embel-embel ‘murid baru’ di hari pertama sekolah. Selain, rasa jenuh yang berkepanjangan karena gabut. Kegiatan pembelajaran pun belum berlangsung secara normal.


Perlahan wajah ceria beberapa murid yang terpampang sejak pagi tadi sudah sirna. Berulah di kelas bukan hal menarik lagi bagi beberapa murid. Usai murid-murid nakal yang suka usil meninggalkan kelas, suasana sedikit terasa damai. Kelas seketika hening cipta tanpa terdengar suara berisik, kecuali alunan musik yang terdengar dari handphone salah satu murid di pojok belakang. Sejak tadi hanya musik melow yang terputar membuat suasana cukup dramatis.


Sementara beberapa murid serempak menelungkupkan wajahnya di atas meja. Sebagian sampai tertidur pulas, sebagiannya lagi tidak bisa barang sekali pun sekadar memejamkan mata.


Hingga ketika salah satu lagu yang sedang populer saat itu mengalun, murid yang memutar musik tersebut ikut menyanyikan lirik lagunya.


“Jika aku bisa, ku akan kembali


Ku akan merubah, takdir cinta yang kupilih


Meskipun tak mungkin, walaupun ku mau


Membawa kamu lewat mesin waktu.”


Siswi itu mengakhiri lagunya dengan nada sumbang. Bahkan dengan pedenya tadi, dia memperdengarkan itu sambil berjalan ke depan kelas dan mengadakan konser mendadak tanpa sadar dengan kondisi suaranya. Tidak sadar bahwa kini semua bola mata sedang menatapnya jengkel. Telinga disumpal dengan kedua tangan dan bibir meringis pelan. Suara Lika, nama murid itu, sangat tidak ramah di telinga.


“Heh, kamu! Mending diem aja, deh. Kamu itu sadar apa gimana, sih? Udah suara false kayak kambing, sok-sokan nyanyi lagi!” ledek seorang murid berparas cantik di bangku depan.


Dan, semua murid tampak menyetujui ucapan Rika barusan.


“Bilang apa lo barusan?” Lika melotot. Tak terima dikatai jelek seperti itu, Lika langsung menghampiri murid yang baru beberapa jam lalu menjadi teman sekelasnya dengan pongah.


Lika menggebrak meja sampai-sampai semua di ruangan tersebut terlonjak kaget. Beberapa murid secara langsung mengumpatinya kasar, tetapi tak diindahkan oleh Lika.


Fokus gadis itu hanya pada Rika yang tanpa gentar kini mengangkat dagu tinggi-tinggi seolah sedang menantangnya.


“Kenapa? Enggak terima?” Rika beranjak dari tempat duduknya dengan raut wajah songong.


Mereka saling perang lewat mata. Hingga wajah keduanya hanya terpaut jarak kurang dari dua puluh senti. Memakan cukup waktu hal itu berlangsung. Sebelum pada akhirnya salah satunya memilih untuk mengakhiri dengan kekehan sinis.


“Suara kamu emang jelek, kok,” kata Rika lagi, terang-terangan.


Sedangkan respons Lika malah mencebik. “Bilang aja lo iri, kan? Ngaku lo!” ucapnya percaya diri.

__ADS_1


Gantian Rika yang berdecih. “Apa?! Iri sama kamu?” pekiknya seakan-akan terkejut.


Lanjut, Rika tertawa sambil geleng-geleng kepala. “Enggak level banget,” tukasnya seraya melambaikan tangan di udara dan dengan nada suara khas.


“Dih, memangnya lo siapa? Selevel Lyodra, hah?!” Giliran Lika yang meledek, tepatnya meremehkan.


Namun, dengan mantapnya Rika mengangguk sebagai respons atas pertanyaan Lika.


“Iya, aku the next Indonesia Idol!” sergahnya tanpa ragu.


Lika mati-matian menahan tawa. Karena tak kuasa lagi beradu debat dengan Rika, pada akhirnya dia mengalah. “Yayaya, terserah lo,” ujarnya di sela-sela tawanya saat berjalan kembali ke tempat duduknya.


Bunyi bel tanda pulang mengakhiri segala jenis kegiatan di kelas saat itu. Joy yang sedari tadi membaca sebuah cerita di sebuah platform online, tempat biasa ia menulis, mengalihkan perhatian begitu mendengar dering nyaring yang menggema di seantero sekolah.


Sedari tadi, murid satu itu sama sekali tidak tertarik pada drama teman kelasnya yang baru saja berakhir beberapa saat lalu. Laki-laki itu memang cenderung cuek akan sekitar.


Joy beranjak dari tempat duduknya. Merapikan sejenak seragamnya yang tampak kusut dari sebelumnya, kemudian menyampirkan tas ke pundak kirinya. Sedangkan tali sebelah kanannya dibiarkan menggantung di udara. Tak lupa Joy memakai topi abu-abunya sebelum melangkah keluar dari kelas dan berbaur bersama teman-temannya yang lain di koridor sekolah.


Begitu sampai di parkiran sekolah, pandangan Joy terkunci pada sebuah objek. Seorang gadis tak asing sedang berdiri memunggungi Joy di depan gerbang sekolah.


“Kak Rani ...?” sapa Joy begitu berdiri tepat di samping gadis itu.


Ya, dia Rani. Tetangga kost, juga kakak kelasnya.


Gadis itu menoleh dan sedikit menampakkan raut kagetnya tahu-tahu Joy sudah ada di sebelahnya. “Eh! Hai, Joy!” sapanya balik.


Perlahan, senyum tipis terukir di wajah gadis itu. Entah karena murah senyum atau hal lain saat satu area lingkaran dengan Joy, tetapi Joy selalu terpukau pada senyuman itu.


Joy tersadar dari lamunannya dan langsung membuang jauh-jauh sesuatu yang dipikirkannya. “Ah ya, lagi ngapain di sini, Kak?” Joy bertanya.


“Nungguin teman, ya?” tebak Joy asal.


Dan, tepat sasaran.


Rani mengangguk. “Iya, tapi enggak datang-datang.” sahutnya seraya melongok kan pandangannya mencari orang yang dimaksud.


“Oh,” Joy manggut-manggut. “Ya udah, kalo begitu saya duluan, ya, kak,” pamitnya dan langsung dipanggil Rani.

__ADS_1


“Hati-hati.”


Satu kata, namun entah kenapa mampu membuat jantung Joy bereaksi begitu cepat dan tak normal. Seutas senyum yang tak biasa terbit di bibir remaja itu seakan mewakili semua perasaan yang entah sejak kapan berkecamuk dalam dada.


Namun, bunga-bunga yang mekar dan kupu-kupu yang beterbangan melayangkan jiwa itu, euforia-nya tidak berlangsung lama. Setelah, saat Joy melangkahkan kaki. Sebuah motor berhenti di belakangnya, tepat di hadapan Rani.


Joy menolehkan setengah badannya ke belakang dan melihat sebuah motor sport dan seorang murid laki-laki yang sepantaran dengan Rani mengendarainya. Joy sedikit menaikkan sebelah alisnya ke atas. Bukannya murid laki-laki ini yang bersama Rani di koridor gedung perpustakaan tadi?


Laki-laki itu hanya menatap Joy yang berdiri tak jauh dari hadapan mereka sekilas, lalu mengalihkan tatapan sepenuhnya pada gadis di sebelahnya.


Samar-samar Joy mencuri dengar isi percakapan mereka.


“Udah lama nunggunya?” tanya laki-laki itu pada Rani. Dapat Joy lihat raut kecemasan yang bersemayam di balik wajah santai murid itu.


Dibalas gelengan kepala oleh Rani. Senyum tipis menghias bibir. Sama seperti ketika berbicara dengan Joy. “Enggak juga,” sanggahnya.


Sudut bibir lelaki itu tampak melengkung ke atas meski tertutupi helm full face. “Maaf, ya. Motorku terparkir paling depan tadi, makanya lumayan susah ambilnya. Harus nunggu pulang yang parkir paling akhir,” katanya panjang lebar menjelaskan, seperti tak ingin ada kesalahpaham sedikitpun di antara mereka. Joy menyadari hal itu.


Senyum di bibir Rani kian lebar. Gadis itu mengerjap polos. “Iya, aku bilang enggak apa-apa juga,” balasnya sedikit bernada.


Lalu, keduanya tertawa ringan. Entah di mana letak lucunya. Tidak ada sama sekali, gerutu Joy dalam hati. Remaja itu mendengus. Tampaknya tidak suka dengan kedekatan Rani dan laki-laki asing itu. Namun, entah kenapa Joy masih enggak untuk berlalu dari sana.


“Ya udah, naik,” titahnya kemudian, dan dituruti oleh Rani. Gadis itu naik ke jok belakang dengan sedikit bantuan oleh murid itu.


“Siap?” Laki-laki itu menarik gas hingga motornya mengeluarkan deruman.


“Siap!” Dibalas dengan acungan jempol Rani di udara.


Laki-laki itu menginjak pedal gigi, hingga motor sport berwarna merah itu meluncur bebas ke jalan raya yang sedang ramai-ramainya.


Joy hanya bisa terperangah di tempat saat Rani sempat melihatnya di sana. Namun, gadis itu mengabaikannya seolah tak melihat sesuatu yang menarik. Justru, dia kembali bersenda gurau bersama si laki-laki asing itu.


Ada hubungan apa mereka? Apa mereka lebih dari sekadar pacaran?


Gengsi, tetapi Joy haru mengakui ini. Joy cemburu.


***

__ADS_1


__ADS_2