
Pernah suatu kali di SD saat kegiatan pembelajaran di sekolah. Seorang guru sedang mengajar dan bertanya pada Joy. “Joy, apa cita-citamu?”
Joy yang masih polos waktu itu---pikiran masih belum terbuka lebar---mengulas senyum lebar. Dengan semangat dia menjawab, “Aku mau jadi guru, Bu.”
Sang guru turut mengulum senyum. “Sungguh mulia cita-citamu, Nak,” kata sang guru memuji. Sisa jam pelajarannya, dia menceritakan bagaimana perjuangan kerasnya sehingga bisa menjadi seorang guru. Menceritakan bagaimana mulianya pekerjaan seorang guru.
“Tanpa guru, tidak akan yang namanya dokter, tentara, polisi, dan profesi pekerjaan lainnya. Mereka lahir. Mereka bisa ada, karena seorang guru.” Begitu kata guru SD-nya yang membuat semangat Joy semakin membara untuk menjadi seorang guru. Joy termotivasi.
Lalu, ketika Joy sudah duduk di bangku SMP, seorang guru matematika juga menanyakan hal yang sama padanya.
“Cita-cita kamu mau jadi apa?”
Tidak langsung Joy menjawab. Remaja lelaki itu tampak menimang-nimang apa yang hendak dia katakan. Seketika teringat akan ucapannya ketika masih SD. Dia bercita-cita ingin menjadi guru. Ingin mengatakan hal tersebut, tetapi Joy ragu.
Joy merasa seperti ada yang berubah darinya semenjak duduk di bangku SMP. Semuanya baru, segalanya terasa berbeda. Termasuk cita-cita Joy yang katanya hendak menjadi guru. Namun, Joy tidak bisa menjabarkan dengan detail perbedaan yang dirasakannya itu lewat kata-kata.
Terlihat semua pasang mata tertuju pada Joy, si bintang kelas. Mereka semua tampak menunggu jawaban dari Joy. Tak terkecuali guru matematika itu sedan menatapnya dengan satu alis terangkat.
“Aku mau jadi guru matematika, Bu.” Dan, pada akhirnya ada perubahan pada cita-citanya itu. Dulu saat masih SD ingin menjadi guru umum, sekarang Joy hanya ingin menjadi guru mata pelajaran matematika.
Dan, sekarang. Saat Joy hendak masuk di jenjang menengah atas, cita-citanya berubah lagi. Bahkan berubah drastis. Melenceng dari cita-cita masa kecilnya. Yang dulunya ingin menjadi guru, sekarang Joy ingin menjadi seorang penulis. Sangat bertolak belakang, bukan?
__ADS_1
Semua itu bermula ketika Joy tiba-tiba ingin menghasilkan sebuah karya sebelum tamat di jenjang SMP. Tetapi, dia bingung hendak membuat apa. Setelah sekian lama merenung, tiba-tiba dia punya ide ingin menulis cerita bersambung. Hingga ketika Joy berhasil menyelesaikan satu cerita itu, tahu-tahunya dia malah ketagihan dan ingin membuat cerita yang baru lagi.
Pada saat itu, Joy sama sekali belum mengerti akan penggunaan tata cara penulisan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tulisan masih ambrudal karena ditulis di buku catatan, juga kalimat yang rata-rata tidak sesuai EYD. Intinya, ada banyak kesalahan yang Joy rasakan. Wajar saja, dia hanya seorang penulis pemula yang bahkan belum berani mempublikasikan satu pun karya.
Berawal dari kata iseng dan sistem coba-coba, membawa Joy pada rasa penasaran sekaligus ketertarikan untuk mendalami lebih jauh hal tersebut. Ada banyak hal yang perlu Joy gali lebih dalam untuk melakukan revisi terhadap beberapa naskah mentah yang berhasil dia selesaikan setahun lamanya.
Joy yang tidak konsisten kini berada di ambang kebingungan. Bimbang hendak melanjutkan pendidikan ke mana. Di satu ingin terus belajar tentang bahasa Indonesia, namun di sisi lain tidak bisa berbuat apa-apa karena turut andil Eros. Bahkan berkutik pun Joy tidak berani jika sudah berhadapan dengan pria itu.
***
“Akhirnya naskah satu ini kelar juga.” Joy beranjak dari tempat tidurnya, dari balutan selimut yang membuat badan hangat di pagi hari yang masih berembun itu. Bangun pagi tadi dia tidak langsung keluar kamar, tetapi menyelesaikan naskah novelnya lebih dulu yang sudah hampir selesai.
Remaja itu merenggangkan otot-ototnya terutama yang bagian pergelangan tangan dan leher yang terasa sakit karena terlalu lama mengetik sambil menatap layar ponsel. Matanya pun sedikit terasa perih hingga mengeluarkan air. Sepertinya faktor terlalu lama menulis. Begadang hingga jam satu subuh hanya untuk menulis, lalu bangun jam setengah enam pagi lanjut menulis lagi.
Tak lupa Joy mengantongi ponselnya tersebut ke saku celana olahraga pendek, lalu berjalan keluar kamar. Suasana ruang tamu sudah sepi. Saat melewati dapur saat hendak ke kamar mandi untuk cuci muka pun Joy tak mendapati sosok Santi yang biasanya sudah berkutat dengan peralatan di dapur di jam seperti ini. Joy mengerutkan kening. Apa kedua orang tuanya sudah berangkat ke kebun?
Posisi kamar mandi sekaligus toilet Joy ada di dekat dapur di luar rumah. Tepatnya di dekat kebun belakang rumah. Saat Joy usai cuci muka dan wajah sudah segar, samar-samar mendengar suara cangkul dari arah kebun belakang. Semakin Joy menajamkan pendengaran maka semakin terasa nyata juga bahwa suara itu memang berasal dari belakang rumah. Joy yang penasaran, lantas mencari tahu. Dia berjalan beberapa langkah ke depan dan mendapati bapaknya sedang mencangkul tanah hendak membuat bedeng-bedeng.
“Pagi, Pak!” sapa Joy mengukir senyum, meski dia tahu bahwa sapaannya tidak akan dibalas.
Eros menatapnya sekilas, lalu kembali mencangkul tanah yang cukup keras. Mungkin karena efek kemarau yang sudah beberapa minggu ini tak turun hujan. Peluh sudah membanjiri pelipis pria itu padahal masih pagi. Sesekali mengusap keningnya yang juga ikut basah.
__ADS_1
Joy iba dan terenyak dengan pemandangan di depannya. Dia selalu merasa berdosa setiap kali melihat orang tuanya bekerja keras sampai keringatan sementara dirinya hanya bersantai-santai saja. Bahkan, perasaan benci yang sempat hinggap di hati Joy beberapa hari ini langsung lenyap terbawa suasana. Ya, hubungan Joy dan Eros sedikit merenggang dan hilang komunikasi perihal makan malam waktu itu. Joy sempat mendiami sang bapak yang nyatanya tidak peduli sama sekali padanya. Eros acuh tak acuh membuat Joy menyerah sendiri pada akhirnya. Sebut saja dia kalah.
“Joy minta maaf, ya, Pak, soal kemarin-kemarin,” ucap Joy penuh sesal. Bola matanya berkaca-kaca. Joy paling tidak bisa untuk tidak menangis jika di keadaan haru atau sedih seperti ini.
“Sudah tidak usah menangis. Cengeng sekali.” Eros mencibirnya. Nada pria itu selalu tegas hingga terkesan sarkas.
Namun, kali ini Joy tidak sakit hati mendengar kalimat itu. Justru, dia terkekeh. “Mau Joy bantu enggak, Pak?” ujarnya lagi menawarkan diri.
Terdengar Eros mendengus. Lanjut berkata, “Sana bantu Mamak kamu petik sayur. Kayaknya dia belum sempat masak sarapan. Cuciannya tadi lumayan banyak. Kasihan dia dari tadi pagi belum berhenti kerja.”
Joy mengikuti arah pandang Eros yang nelangsa. Sorot mata Joy langsung meredup, menatapi kasihan. Terlihat sosok seorang wanita yang tampak lesu memetik berbagai macam sayuran di kebun sebelah.
Joy menghela napas. Menatap Eros sejenak kemudian berlalu pergi. Namun, baru beberapa kali melangkah. Joy menghentikan langkah kembali saat namanya dipanggil oleh Eros.
Dia berbalik dengan secercah harapan di kedua bola mata. Joy kira Eros akan meminta maaf padanya perihal beberapa waktu lalu, apa lagi saat nada panggilan pria itu yang lebih lembut. Akan tetapi, semua itu runtuh ketika ....
“Lain kali, jangan suka begadang. Entar bangun kesiangan lagi. Kasihan Mamak kamu kerja sendiri terus.”
“Kamu sudah besar Joy. Bapak harap kamu bisa paham apa maksud Bapak,” katanya lagi.
Senyum Joy langsung pudar. Dadanya terasa sesak. Harapannya yang terlalu tinggi dihempas tanpa ampun oleh kenyataan. Harusnya Joy sadar bahwa Eros tetaplah Eros. Tidak mungkin sifatnya akan berubah secepat itu hanya karena meminta maaf pada Joy soal makan malam itu.
__ADS_1
Sangat mustahil!