Joy : A Hope

Joy : A Hope
Bab 21 : Suasana Gerah di Pagi Hari


__ADS_3

Kembali Joy menyaksikan pemandangan yang berhasil membuat dadanya bergemuruh, bergejolak tidak tentu. Perasaan yang tidak dia sukai karena tak bisa dideskripsikan artinya. Perasaan yang baru pertama kali dia rasakan semenjak masuk di jenjang putih abu. Aneh, tetapi nyata.


Pagi itu, Joy sudah siap dengan seragam sekolah dan tas hitam di punggung. Begitu keluar dari pintu rumah bersama Bang Ari yang hendak berangkat kerja, langkahnya seketika terhenti. Rani dan laki-laki asing itu sedang bercengkerama di depan matanya dan hendak berangkat bareng ke sekolah. Pemandangan yang membuat gerah di pagi hari yang sejuk.


Raut ceria dan senyum lebar itu luntur. Suara derum motor terdengar. Joy menatap kosong dua orang di atas motor yang berlalu meninggalkan pekarangan. Kepalan tangan Joy mengerat di bawah sana.


Dari samping, Ari melirik Joy bingung. Melihat ekspresi adik laki-lakinya itu membuat Ari mengerutkan kening. “Kenapa?” tanya Ari dan tidak ada respons dari Joy. Begitu mengikuti arah pandang Joy, Ari langsung paham apa yang membuat berubahnya ekspresi adiknya.


Senyum jahil terbit di wajah Ari. Dia menyenggol lengan adiknya sambil bersiul kecil. “Kelihatannya, ada yang lagi cemburu, nih?” goda Ari menaikturunkan alis.


Sontak Joy menatapnya tak bersahabat. “Siapa yang cemburu? Enggak ada tuh!” ujarnya ketus.


“Lah, merasa sendiri dong. Padahal aku enggak pernah ngomong kamu, loh.” Ari menyengir tanpa dosa. Ada raut salah tingkah yang mencuat dari wajah Joy membuat Ari kian gencar menjahilinya.


“Ah, masa bodoh!” Joy beranjak meninggalkan Ari. Sebisa mungkin menyembunyikan semu merah yang mencuat di pipinya.


Di belakang Ari masih setia menertawainya. Sial, Joy hilang kendali sampai Ari mengetahui semuanya. Termasuk perasaan abu-abunya pada Rani, tetangga kost-nya.


Apa benar, dia cemburu pada Rani seperti kata Bang Ari? Joy bergumam dalam hati. Joy menghentikan langkah sejenak dan merenung di tempat. Apa itu artinya dia menyukai Rani? Tetapi, sejak kapan rasa itu ada?


“Liatin aja terus! Diembat orang lain baru tau rasa!” seru Ari yang masih terdengar oleh Joy bersama tawa meledeknya.


***


“Joy, bawa baju praktik enggak?!”


Suara cempreng Aletta menggelegar di gendang telinga Joy begitu menginjakkan kaki ke dalam kelas. Gadis itu sudah menghadangnya di ambang pintu. Suasana hati Joy sedang buruk pagi itu. Dia hanya memalingkan pandangan dan berjalan melewati badan Aletta.


Cukup lama Aletta terperangah di tempat. Bertanya-tanya dalam hati ada apa dengan teman baiknya itu. Tidak biasanya Joy datang dengan wajah murung seperti itu. Pun akhirnya Aletta menyusul Joy yang sudah duduk anteng di tempat duduknya.


Kembali Aletta merecoki Joy dengan pertanyaan yang sama. Tak kunjung Joy menjawab pertanyaannya membuat Aletta sedikit kesal. Bahkan remaja itu menelungkupkan kepalanya di atas meja untuk menghindar dari pertanyaan Aletta.


Arga yang sedari tadi sibuk bermain game menatap Aletta   dengan pandangan lelah. “Sudahlah, Ta. Joy-nya lagi enggak mau diajak bicara,” tuturnya.

__ADS_1


Tatapan nyalang Aletta menusuk tajam manik mata Arga. “Diam! Enggak usah ikut campur. Aku lagi enggak bicara sama kamu!” sahut Aletta sewot.


Sorot tajam Aletta melunak begitu menatap Joy. Arga mendengus melihatnya. Dalam diam, Arga mencibir Aletta.


Decak sebal terdengar. “Apa susahnya, sih, jawab pertanyaan aku! Kamu tahu, baru-baru ada info di grup kalau hari ini praktik pertama di mapel produktifnya Pak Stefen,” beritahu Aletta.


“Sumpah lo, demi apa!” timpal Arga menoleh dengan bola mata melebar.


“Serius, Ta?” sambung Joy.


Nyatanya bukan hanya Arga, tetapi Joy pun demikian. Tidak dapat menyembunyikan raut kagetnya. Dia langsung mengangkat wajah begitu mendengar penuturan Aletta.


Aletta memutar bola matanya. “Harus dijelaskan dulu ternyata baru ada respons,” gerutu Aletta.


“Kamu bawa?” Joy balik bertanya. Mengabaikan gerutu Aletta.


Aletta mengerutkan hidung tak suka, lalu menggelengkan kepala. “Enggak,” jawabnya singkat ogah-ogahan. Tatapan sinis masih terlempar untuk Joy. Sungguh, Aletta sedang kesal. Tadi saja, laki-laki itu cuek bebek saat Aletta menanyainya.


Joy menggusah napas lega. Raut risaunya sedikit berkurang begitu mengedarkan pandangan ke sekitar. Hampir semua teman sekelasnya membicarakan hal tersebut. Setidaknya bukan cuma Joy yang tidak membawa baju praktik.


Arga mengangkat wajah dan melirik Joy sekilas. Raut risau mendominasi wajahnya. “Kok, dadakan begini, sih?!” Arga beralih menatap protes Aletta, seolah menyalahkan gadis itu karena dia yang pertama kali memberitahukan hal tersebut.


“Protes sama Pak Stefen. Jangan ke aku!” ketus Aletta sebelum melenggang pergi ke tempat duduknya.


“Aduh, gimana dong?! Pasti jadi bulan-bulanan Pak Stefen lagi, nih, ahhh!” rutuk Arga frustrasi.


Joy meliriknya sinis. “Bisa diam, enggak?” cebik Joy kesal.


Sesuai kata Aletta, di jam kedua pelajaran hari itu. Tepatnya di mata pelajaran yang dibawakan Pak Stefen, kelas X DPIB melaksanakan praktikum untuk yang pertama kalinya. Keluh dan protes serempak para siswa layangkan begitu Pak Stefen masuk ke dalam kelas dan memberitahukan hal tersebut.


“Kita enggak bawa baju praktik, Pak. Gimana dong?”


“Kasih infonya dadakan, sih, Pak!”

__ADS_1


Sekiranya begitu keluhan berulang berputar di gendang telinga Pak Stefen sampai membuatnya memejamkan mata muak. Pelipis dipijatnya pelan. Pagi sejuk seperti ini harusnya diperhadapkan dengan hal-hal sejuk yang bisa membuat pikiran lebih fresh, bukan malah sebaliknya. Diperhadapkan dengan keributan yang hampir membuat kepalanya meledak.


“Oke, ini salah Bapak yang telat kasih info. Hari ini masih saya maklumi. Tapi besok-besok kalau enggak bawa baju praktik, siap-siap dapat sanksi!” ujar Pak SStefe menengahi tegas.


Barulah siswa-siswi kelas X DPIB bisa bernapas lega mendengar itu. Saat Pak Stefen memberi instruksi, mereka semua beranjak dari tempat duduk dan mengikutinya ke ruang praktik jurusan.


Di koridor beberapa kali Pak Stefen menoleh ke belakang dan memelototi siswa yang membuat keributan, terus bercanda selama perjalanan. Diam sejenak, lalu kembali berulah. Begitulah murid pembangkang. Biasanya mereka suka berjalan paling belakang agar leluasa bercanda. Pada akhirnya Pak Stefen mengalah dengan berhenti menegur kumpulan si pembuat onar.


“Hari ini, kita praktik menggambar bangunan tingkat dua tiga dimensi. Harap duduk di depan komputer masing-masing.” Pak Stefen menginstruksi dari depan ruangan.


Semua siswa mengangguk dan mengambil tempat di depan komputer. Mereka mulai menjalankan benda berbentuk persegi panjang yang berbangun ruang itu. Mereka mengerjakan tugas dari Pak Stefen diselilingi canda tawa membuat suasana ruangan di pagi itu menjadi hidup.


Joy di pojok ruangan tampak serius mengerjakan tugas. Tatapan matanya terus tertuju pada monitor di depannya. Berbanding terbalik dengan Arga yang duduk di sebelahnya, terus mengoceh hal-hal tidak penting.


“Joy, ini cara gambarnya gimana, sih?”


“Anj*r, gue salah gambar!”


“Joy, gimana cara hapusnya njir?!” Arga bertanya panik. Memekik histeris saat tidak sengaja salah klik.


Beberapa pasang mata menatap bingung ke arahnya, kecuali satu tatapan nyalang dari depan ruangan. Manik mata itu terasa ingin menelannya hidup-hidup.


“Jangan bikin ulah kamu, Ga. Berhenti buat saya pusing!” kata Pak Stefen sarkas. Dia melengoskan pandangan jengah.


“Iya, Pak. Maaf!” sahut Arga terdengar tak ikhlas.


Joy yang sudah mengerjakan tugas menatap malas teman sebangkunya itu. Kapan anak nakal itu tobat dan berhenti berulah?


“Sini, saya bantu kerja.”


Arga tersenyum senang saat Joy menawarkan diri. Dengan senang hati membiarkan Joy mengambil alih. Ini yang dia tunggu-tunggu sedari tadi!


***

__ADS_1


 


__ADS_2