
Berbeda di jam pertama dan jam kedua tadi yang hanya diisi dengan jam kosong. Di jam ketiga sekaligus jam terakhir untuk jadwal mata pelajaran hari itu, seorang guru laki-laki muda memasuki ruang kelas X DPIB.
Badan proporsional dan wajah putih bersih yang mendukung pesona guru itu membuat beberapa murid, terlebih murid perempuan terkesiap di pertemuan pertama.
Kacamata hitam yang tadi bertengger di depan mata dilepas begitu berdiri gagah di depan kelas. Pandangan lurus menatap murid berjumlah 25 orang itu secara bergantian. Sedangkan kedua tangan dipalingkan ke belakang sehingga membentuk posisi seperti pada saat istirahat sempurna.
Sejenak hanya hening yang melingkupi. Terlihat beberapa murid seperti menahan napas dengan raut wajah tegang. Entah karena gugup atau karena hal lain. Padahal, tadi suasana kelas sangat bising. Sampai-sampai guru muda itu mendengar keributan mereka dari luar selagi berjalan di koridor menuju kelas mereka.
“Mukanya jangan pada butek begitu, dong. Ini baru pertemuan pertama kita, loh. Masa kesannya langsung buruk,” gurau sang guru muda, lalu terkekeh.
Lengkungan di kedua sudut bibir guru muda itu terlihat manis. Kemudian, laki-laki itu menepukkan kedua tangannya seraya berseru, “Oke, anak-anak. Selamat pagi dan mari kita mulai perkenalan pada hari ini.”
“Nama saya, Jordan Nataniel. Guru matematika, sekaligus wali kelas kalian, X DPIB,” ujar guru itu lagi.
“Ihhh, Pak! Kok, ganteng amat, sih. Umur berapa, Pak?” Seorang murid di bangku belakang barisan tengah, tanpa malu bertanya dengan gaya centil pada guru baru mereka.
Sekejap semua pasang mata tertuju padanya, tak terkecuali Pak Jo, guru muda itu. Seketika sorakan ‘uuu’ yang panjang diserukan murid-murid lain untuk meledek pertanyaan si murid centil tadi.
Murid itu menatap teman-temannya dengan pongah. Senyum remeh tercetak di bibir. “Huh, apa loh semua! Sirik, bilang bosss!” cercanya balik.
Pak Jo hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa ringan melihat tingkah murid barunya. Ada-ada saja. “Sudah, sudah. Jangan saling meledek. Kalian ini, kan, satu kelas. Murid baru lagi. Harus solid,” katanya menegur.
“Ah ya, nama kamu siapa?” lanjut Pak Jo bertanya seraya menunjuk si murid centil.
“Saya, Pak?” sahutnya begitu heboh, dan langsung mendapat anggukan dari Pak Jo.
Gadis itu mengulum senyum seraya mengibaskan rambutnya ke belakang. Salah tingkah. Dia menatap Pak Jo malu-malu dan lanjut berkata, “Nama saya, Milea, Pak.”
“Oh, Milea.” Pak Jo manggut-manggut.
Sedetik kemudian, laki-laki itu kembali bertanya saat teringat sesuatu. Dia menatap si murid centil dengan satu alis terangkat. “Dilan-nya mana?”
Hening sejenak, hingga terdengar suara respons, “Kan, Bapak.” Kemudian menundukkan kepala menyembunyikan wajah bersemu merah.
“Dih, lebay, lu!” cibir seorang murid laki-laki yang duduk di samping Joy.
Arga. Remaja itu memang kembali setelah jam istirahat tadi. Joy mendapatinya sedang tidur—menelungkupkan kepala di atas meja—di sebelah bangkunya begitu memasuki kelas.
“Milea KW dia, Pak!” sorak Arga lanjut mengadu pada Pak Jo.
Tatapan Pak Jo beralih pada laki-laki itu. Senyum seketika berubah menjadi ramah. “Halo, Arga. Ketemu lagi kita di tahun ajaran baru. Selamat bergabung di kelas saya. Semoga betah untuk satu tahun ke depan,” sapanya menyambut dengan nada santai seolah mereka teman dekat.
__ADS_1
Tidak ada respons dari Arga selain lengkungan di sudut bibir kiri. Seringai tipis.
Joy bahkan tak paham dengan murid yang satu itu. Menurutnya, Arga itu sesuatu misterius yang harus dia pecahkan.
“Oke, anak-anak. Sampai di sini dulu perkenalan kita untuk hari ini. Dan kalau ada yang ingin bertanya lebih lanjut tentang saya mungkin bisa chat ke nomor WhatsApp ini.”
Semua murid perempuan seketika histeris begitu Pak Jo mengeluarkan spidol bertinta hitam dan mulai menulis sederetan angka berjumlah dua belas digit di papan tulis. Dengan gercep mereka menyalinnya ke sampul belakang buku tulis mereka. Siapa yang akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu? Tentu saja jawabannya tidak ada. Jarang-jarang guru akan membagikan nomor WhatsApp pribadinya ke sembarang murid, apalagi ini guru muda.
“Dan, Milea. Tadi, kamu bertanya tentang usia saya, kan? Umur saya 22 tahun,” sambungnya lagi, menjawab pertanyaan yang tadi dilontarkan Milea.
Para murid perempuan dibuat melongo tak percaya. Berbeda dengan Milea yang makin kesemsem pada Pak Jo. Masih muda banget! Calon suami idaman bukan, sih?! pekiknya dalam hati.
Kembali Pak Jo menatap murid-muridnya. “Sekarang, giliran kalian yang memperkenalkan diri kalian pada Bapak.”
Perkenalan dimulai secara beruntun dari bangku depan sebelah kanan hingga bangku belakang. Setiap murid berkesempatan memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama, alamat tempat tinggal, dan asal sekolah mereka.
Namun, tak urung juga beberapa murid perempuan dengan centil menambahkan beberapa hal seperti umur, hobby, dan bahkan makanan kesukaan mereka. Itu semata-mata hanya untuk caper ke Pak Jo. Meski Pak Jo sendiri tidak menanggapi perkenalan mereka dengan serius.
Dan, murid laki-laki hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah teman sekelas mereka. Giliran yang bening-bening aja langsung kayak cacing kepanasan!
Usai perkenalan diri. Pertemuan di hari pertama, hari itu, diakhiri dengan kata-kata penutup, “Baik atas kerjasamanya yang baik. Mari kita tutup pertemuan hari ini dan berjumpa di pertemuan-pertemuan berikutnya. Semoga kita bisa lebih akrab lagi sebagai seorang wali kelas dan para muridnya.”
Senyum senantiasa terpatri di bibir saat berkata demikian.
Kelas di jam terakhir ditutup lebih cepat. Padahal belum tiba waktunya untuk pulang. Alhasil, jam kosong kembali diisi oleh keriuhan murid-murid. Beberapa juga memanfaatkannya dengan berkeliaran keluar kelas dan mencari kawan baru atau sekadar caper dari satu kelas ke kelas lain. Ini dominan murid cewek, sih, yang caper ke senior-senior tampan.
Sementara di kelas. Diam-diam Joy melirik murid laki-laki di sebelahnya itu yang sedang asik main game online. Sering kali umpatan kasar dan tak pantas diucapkan keluar dari bibir kurang ajar itu. Rasanya Joy ingin sekali menegur setiap kali terdengar kata haram itu.
“Tadi, bolos ke mana?” Joy melayangkan pertanyaan dengan hati-hati agar tak menyinggung perasaan Arga seperti tadi pagi. Joy hendak mengajak kenalan dan akrab dengan murid yang ditakuti oleh teman sekelasnya itu.
Belum ada respons. Mungkin laki-laki itu tidak mendengarnya atau pura-pura tuli.
“Untungnya, enggak ada guru yang masuk. Jadi kamu enggak absen,” kata Joy lagi.
Kali ini sedikit ada respons. Kepala Arga terangkat bersama dengan hela napas gusar dari hidungnya.
Arga menatap datar Joy. Game online di handphone tau lagi menarik sehingga dimasukkannya ke dalam saku celana abu-abu. “Terus, urusannya sama lo?”
Joy dibuat bungkam beberapa saat.
“Sewot amat, kayak cewek aja loh!” cibir Arga dan langsung beranjak dari tempat duduknya sembari menentang tas punggungnya.
__ADS_1
“Eh, mau ke mana lagi? Ini belum jam pulang. Nanti dihukum loh kalo ketahuan bolos!” seru Joy memperingati saat laki-laki itu melangkah keluar kelas dan kini sudah berdiri di ambang pintu kelas.
“Lo enggak usah ikut campur dan peduliin gue. Gue enggak butuh itu semua, apalagi dari tukang berisik kayak lo. Ganggu aja!” kata Arga sebelum punggungnya menghilang di balik pintu kelas.
Joy yang beranjak kembali menjatuhkan dirinya ke tempat duduk semula. Hela napas lelah teriring karena tak dapat menghentikan aksi Arga.
“Udahlah, Joy. Cuekin aja si Arga,” celetuk seseorang yang tahu-tahu sudah duduk di sebelah Joy—tempat duduknya Arga.
Joy menoleh dengan raut lesu. Bersamaan dengan itu seutas senyum manis langsung menyambutnya dari seorang gadis di sebelahnya.
Ya, Aletta. Gadis yang tadi mengajaknya kenalan, tetapi Joy buru-buru. Jangan tanya dari mana gadis itu tahu namanya. Tentu saja dari perkenalan tadi.
“Mending makan nasi goreng buatan Mamaku aja.” Lanjut sebuah tempat bekal berwarna pink terulur ke hadapannya.
Joy menatap benda berbentuk kotak persegi panjang itu, kemudian menatap wajah si pemberi. Senyum itu masih setia terukir di bibir ranumnya.
“Tapi, saya kenyang,” kilah Joy menolak pemberian itu.
Raut wajah gadis itu langsung berubah muram dari sebelumnya. “Bohong! Aku tahu kamu belum dari jam istirahat tadi,” timpal Aletta keukeh mengulurkan kotak bekal itu.
Sekali lagi Joy menatap gadis itu. “Kamu?”
“Tenang. Aku udah kenyang di kantin tadi. Aku lupa kalo hari ini bawa bekal. Ya, dari pada mubazir mending aku kasih ke kamu aja, kan?”
Dengan tak enak hati, Joy menerima itu. Dia membuka penutup bekalnya begitu mendapat instruksi dari Aletta.
“Ayo, dimakan!”
“Makasih.” Joy tersenyum canggung, kemudian menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Enak. Satu kata yang langsung terlintas di pikirannya saat mengunyah nasi goreng tersebut.
“Sekarang mau jadi teman aku, kan?”
Baru tiga kali menyuapkan nasi itu ke dalam mulut. Joy langsung menghentikan kunyahannya dan menoleh.
“Jadu kamu nyogok aku pake makanan ini buat temanan?” tanyanya.
Sontak Aletta menggeleng keras. “Eh, enggak! Bukan itu maksud aku. Tadi emang mau ajak kenalan. Tapi kayaknya lagi buru-buru,” kata Aletta menjelaskan.
“Kalau begitu, mari berteman.” Joy berucap dengan enteng.
Aletta berbinar. “Beneran?”
__ADS_1
Joy mengangguk. Perlahan senyum terbit di bibir melihat reaksi Aletta yang se-excited itu.
***