
“Berhenti, Bang!” seru Joy begitu mereka tiba di depan sebuah rumah kost.
Sesuai instruksi Arga menarik pedal rem. Motornya berhenti tepat di depan gerbang rumah. Arga membuka helm saat merasakan pergerakan di belakangnya. Sepertinya Joy turun dari motor.
Arga menyugar rambutnya ke belakang sembari meletakkan helm itu di atas tangki motor. Arga mengerutkan kening tak asing dengan pemandangan di depannya.
“Benar, di sini rumahnya?” Dia menatap Joy dengan raut muka tak terbaca.
Mendapat anggukan dari Joy, pandangan Arga kembali menelisik ke dalam pekarangan rumah. Bangunan panjang bertingkat dua, pohon mangga yang tumbuh besar di dekat pagar tembok, serta tanaman hijau yang merambat hampir menutupi tembok. Semua itu tak asing di mata Arga.
Ya, rumah kost-kostan di depannya sering dia datangi, bahkan jauh sebelum mengenal Joy. Namun, dia baru tahu ternyata teman kelasnya ada yang tinggal di sini.
“Sejak kapan tinggal di sini?” Arga bertanya tanpa melirik Joy. Rasa penasarannya tak terbendung lagi. Sebab selama dia berkunjung ke sini, tak sekalipun batang hidung Joy tampak di bola matanya. Apa mungkin Joy tipikal anak rumahan yang lebih suka mengurung diri di dalam kamar?
“Seminggu yang lalu, Bang,” jawab Joy sekenanya. Joy baru saja merapikan rambut acak-acakan dan sedikit lepek akibat terpaan angin selama perjalanan. Joy memang tidak memakai helm.
Tatapan Arga tiba-tiba berubah garang. Laki-laki itu menoleh tak santai. “Jangan panggil gue Abang! Gue bukan kakak lo.” Arga memperingati lewat tatapan.
“Tapi, kan, kamu tua setahun dari saya,” timpal Joy.
“Cuma setahun,” dengus Arga.
Joy tersenyum jahil. “Makasih, Bang. Udah repot-repot antar saya pulang,” katanya kemudian.
Lagi dengusan yang terdengar. Arga hanya merespons dengan gumaman. “Lo emang ngerepotin!”
Arga hendak memakai helm-nya kembali. Namun, tangannya terhenti di udara ketika sebuah tangan terjulur ke arahnya. Beralih Arga menatap si pelaku. Dengan raut wajah penuh tanya.
“Joy,” kata Joy memperkenalkan diri, menjawab kebingungan di wajah Arga.
Arga hanya menatap sekilas tangan menggantung di depannya itu tanpa minat. Lalu membuang wajah sembari mendengus. “Arga,” sahutnya cuek.
Sebenarnya, Joy sudah tahu nama laki-laki itu dari teman sekelasnya. Hanya saja Joy sedang ingin berbasa-basi sebagai langkah awalnya mengakrabkan diri pada Arga. Dari awal bertemu Joy sudah terobsesi agar bisa berteman baik dengan teman sebangkunya itu.
__ADS_1
Joy segera menarik tangannya kembali saat tidak mendapat respons. Meski demikian, wajahnya masih mempertahankan senyuman.
Arga sudah memasang helm-nya. Ketika hendak berlalu, laki-laki itu membunyikan klakson berpamitan pada Joy. Lalu, motor itu melaju kencang dan hilang dari pandangan.
***
Satu bulan telah berlalu. Waktu bergulir begitu cepat hingga tak terasa. Tidak ada yang spesial bagi Joy selama satu bulan menyandang status sebagai murid baru. Di sekolah semua berjalan biasa-biasa saja seperti biasa. Semenjak hari itu, sejak Arga mengantarnya pulang. Hubungan Joy dengan teman sebangkunya itu sudah ada kemajuan. Meski beberapa kali Arga memasang raut jutek ketika Joy mencecarnya berbagai nasehat jika hendak membolos, atau menjawab dengan nada ketus untuk merespons kata-kata Joy. Namun, setidaknya ada sedikit kemajuan.
Di samping itu, Joy juga semakin akrab dengan Aletta. Tak ada lagi kecanggungan antara mereka berdua. Lebih tepatnya, Aletta dengan sikap humble-nya selalu bisa mencairkan suasana. Seribu cara dia miliki untuk membuat percakapan menjadi seru.
Pernah suatu hari saat jam kosong, Arga memergoki mereka berdua sedang mengobrol sesuatu di dalam kelas. Di bangku pojok belakang. Teman-teman sekelas mereka sudah berhamburan keluar kelas—dengan tujuan masing-masing—sedari tadi setelah mendengar kabar bahwa guru yang hendak mengajar di kelas mereka tidak datang.
Sementara Arga sendiri entah datang dari mana. Pastinya tidak jauh-jauh dari membolos ke roftoop atau ke warung di belakang sekolah. Saat jam pertama tadi, Arga kena sanksi yaitu dikeluarkan dari kelas karena tidak mengerjakan tugas rumah. Bukannya sedih atau semacamnya, remaja itu malah bersorak senang membuat sang guru dan beberapa murid geleng-geleng kepala.
Samar-samar dari tempatnya berdiri saat itu, Arga mendengar percakapan Joy dan Aletta.
“Eh, kamu baca noveltoon juga?” Aletta tidak dapat menyembunyikan ekspresi kaget di raut wajahnya.
Joy mengangguk. “Saya menulis juga,” katanya memberitahu.
Aletta terkejut untuk yang kedua kali. Kali ini, bola matanya membulat besar. Kepala Aletta sedikit maju ke radiasi Joy seakan tak percaya dengan ucapannya. “Serius?” dan hanya satu kata hiperbola itu yang keluar dari bibir.
Sudut alis Joy berkedut ke atas. “Kenapa saya harus bohong?” Wajahnya begitu santai saat melayangkan pertanyaan balik.
Aletta geleng-geleng kepala, bibir berdecak kagum. Bola mata lebarnya berbinar menatap Joy. “Gila. Keren, sih!” pujinya dengan tepuk tangan kecil.
“Cowok baca novel, terus penulis juga ...?” Tak henti bibir Aletta menggumamkan kalimat kagum.
Joy berdecih sembari membuang muka. “Memangnya perempuan saja yang bisa menulis? Laki-laki banyak yang jadi penulis juga, loh.”
Kata-kata Joy seolah menunjukkan bahwa Aletta terlalu berlebihan hanya karena fakta yang satu itu tentang dirinya.
Bola mata Aletta berputar malas. “Bukan itu masalahnya. Aku tahu penulis itu enggak cuma cewek aja. Penulis cowok juga banyak,” sanggah Aletta.
__ADS_1
“But, aku kaget aja. Kalo selama ini salah satu penulis cowok ada di sekitar aku. Bahkan kita temanan.” Aletta menoleh. Binar itu terlihat lagi saat bola matanya bertemu dengan manik hitam milik Joy.
“Kamu melebih-lebihkan. Saya hanya penulis pemula yang baru menetas tahun kemarin. Kualitas tulisan saya juga belum seberapa,” kata Joy menyanggah semua pujian yang Aletta lontarkan.
“Di mata aku, kamu tetap keren!” kekeh Aletta tidak peduli. Gadis itu memamerkan senyum lebar.
Joy geleng-geleng kepala pasrah. Terserah kamu, katanya dalam hati.
“Nama akunnya apa?”
“Joydev_12,” ujar Joy menyebutkan username akunnya.
Aletta mengetik username itu di pencarian aplikasinya. Begitu muncul, Aletta langsung mengikuti akunnya.
Arga mematung di tempat beberapa saat, sebelum melangkahkan kaki menghampiri tempat duduknya. Lagi, Arga menatap dua murid itu secara bergantian begitu Joy dan Aletta menyadari keberadaannya. “Kalian pacaran?” tanyanya frontal.
Dua orang itu saling beradu pandang dengan wajah cengo. Cukup lama mereka hanya saling menatap seolah ada jeda panjang. Lalu, kembali menatap Arga dan serempak menggelengkan kepala.
“Kami enggak pacaran!” bantah Joy tegas.
Aletta melirik Joy lewat ekor mata sebelum menimpali. Ada redup di kedua bola matanya saat Joy mengucapkan penolakan berkedok bantahan. Perasaan campur aduk yang tak bisa dideskripsikan. “Cuma teman biasa,” lirihnya menyambung ucapan Joy.
Alih-alih mendengarkan jawaban dua orang itu, Arga memilih menelungkupkan wajahnya di atas meja. Tak lama, suara dengkuran halus mengisi ruang kelas yang dihinggapi kesunyian beberapa saat.
Joy yang saat itu kembali sibuk dengan aktivitas membacanya, tidak menyadari raut pucat Aletta. Entah apa penyebab berubahnya ekspresi wajah gadis itu. Namun, Arga sempat melayangkan tatapan datar padanya tadi.
Sementara dengan Rani, tetangga kost-nya. Joy sudah jarang berkomunikasi dengannya. Mungkin karena kesibukan masing-masing atau karena hal lain. Jika tak sengaja berpapasan di koridor sekolah maupun di rumah kost, mereka hanya saling menyapa sekilas dengan senyum canggung di wajah masing-masing, lalu selesai.
Dari yang Joy lihat, Rani semakin akrab dengan laki-laki asing itu. Tak sekali dua kali Joy menjumpai dua orang itu di area sekolah dengan obrolan serunya, tetapi beberapa kali.
Joy mencoba tidak peduli, meski pada kenyataannya tidak bisa. Jauh di dalam lubuk hatinya ada rasa tidak rela melihat kedekatan mereka. Sebut saja Joy bodoh sebab tidak peka terhadap perasaannya sampai tidak bisa membedakan bahwa dia sudah jatuh hati pada Rani, bukan hanya sebatas kagum saja. Entah sejak kapan Joy sudah melabuhkan hatinya pada perempuan itu. Cinta pertamanya.
***
__ADS_1