Joy : A Hope

Joy : A Hope
Bab 22 : Perlahan Asing


__ADS_3

“Thanks, udah bantuin gue,” kata Arga mengulum senyum di sela-sela makannya.


Joy menatap Arga sekilas, lalu menganggukkan kepala. Seutas senyum tipis turut terbit di bibirnya. Berbanding terbalik dengan reaksi Aletta di sebelah Joy. Bola mata gadis itu berputar jengah.


Beberapa saat lalu bel istirahat berbunyi. Mereka bertiga langsung tancap gas ke kantin. Duduk di bagian belakang pojok ruangan yang tidak terlalu ramai pengunjung. Biasanya siswa-siswi lebih suka mengambil tempat di bagian depan dengan berbagai alasan, misalnya untuk mencari perhatian pada most wanted sekolah di barisan depan. Tidak dengan Joy, Arga, dan Aletta yang justru risi dengan keramaian.


“Mau aja kamu dimanfaatin sama dia!” cibir Aletta pada Joy sembari mengunyah makanan dalam mulutnya dengan tak santai.


Aktivitas makannya terhenti, Arga melirik Aletta sebal. “Sirik aja lo!” balasnya mencibir.


“Dih, ngapain gue sirik! Gue bisa kerjain tugas tanpa bantuan dari Joy. Enggak kayak lo, apa-apa selalu bergantung pada orang lain.” Aletta menjulurkan lidah meledek Arga.


“Lo—!” Bola mata Arga melotot besar. Rahangnya mengeras, menatap Aletta geram. Rasanya ingin mencabik-cabik wajah songong di hadapannya itu.


Aletta memajukan wajah sedikit dan menaikkan kedua alisnya. “Kenapa? Mau marah, hah?!” katanya menantang.


Joy geleng-geleng kepala dan tertawa kecil menyaksikan adu mulut sahabat dan teman sebangkunya itu. Selalu saja berakhir seperti ini jika berada dalam lingkungan yang sama. Aletta dan Arga seperti karakter seekor kucing dan tikus dalam serial ‘Tom & Jerry’, tidak pernah akur.


“Andai lo bukan sepupu gue dan ponakan kesayangan mama, abis lo!” desis Arga bercanda.


Aletta tertawa, merasa menang di atas penderitaan Arga. “Itu tau.”


Sontak Joy terkejut. Dia menatap bergantian dua orang itu. “Kalian ... sepupuan?” tanya Joy dengan bola mata lebar.


Pernyataan itu benar-benar membuat pikiran Joy seketika blank. Joy tidak habis pikir. Entah harus percaya kenyataan itu atau—


Anggukan kepala yang diberikan oleh dua orang itu membuat Joy harus percaya. Arga dan Aletta saling bertukar pandang lalu terkikik geli melihat reaksi Joy.

__ADS_1


“Reaksi lo terlalu berlebihan,” dengus Arga.


“Ini terlalu enggak mungkin.” Joy bergumam. Tatapan kosongnya seperti orang dongok membuat Arga mencibit muak.


Kerut Aletta berkerut samar. “Apanya yang enggak mungkin, Joy?”


“Kamu sepupuan sama dia,” jawab Joy menunjuk  Arga.


“Memangnya kenapa?” Kali ini, Arga yang menyahut. Dagu diangkat tinggi. Raut wajahnya begitu songong.


“Aletta anaknya baik, pintar juga. Enggak kayak kamu berandalan, keras kepala, dan susah diatur,” kata Joy enteng.


Tanpa sadar bola mata Arga yang kian melotot lebar menatapnya berang. Lain halnya dengan Aletta yang sudah terbahak-bahak. Hampir saja tidak bisa mengendalikan tawanya. Berakhir perutnya yang terasa keram.


Joy menatap Aletta bingung. Laki-laki itu belum sadar akan ucapan yang keluar dari bibirnya barusan. Benaknya terus bertanya-tanya ada apa dengan gadis itu.


Joy menggeleng-gelengkan kepalanya, mimik wajah tidak bersalah. “Enggak bilang apa-apa. Saya cuma ngomong fakta,” ujarnya.


“Justru karena kamu ngomong fakta, Arga marah Joy.” Kembali Aletta tertawa usai menyahut ucapan Joy.


Sementara kepala Arga mungkin sudah mengeluarkan tanduk merah andai saja terlihat. “Sialan lo berdua!” umpat Arga.


Cepat-cepat Arga menghabiskan makanannya agar bisa beranjak dari kantin lebih cepat. Dia menutup telinga mengabaikan ledekan Aletta yang sangat mengusik pendengaran.


***


Sisa jam istirahat Joy habiskan dengan berkeliling di perpustakaan sekolah. Joy bosan berdiam diri di dalam kelas dan mendengarkan ocehan Aletta yang terus menceritakan kesehariannya tiada henti seolah cerita itu tak berujung. Sedangkan Arga kembali membolos entah pergi ke mana. Laki-laki itu masih marah padanya perihal perkataannya di kantin tadi. Joy merutuki diri karena tanpa sadar mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


Semenjak lebih dekat dengan Joy, Arga memang sudah jarang bahkan nyaris tidak pernah membolos lagi. Namun, hari ini laki-laki itu kembali mengulang kebiasaan buruknya. Kebiasaan yang sudah mendarah daging. Kebiasaan buruk memang sebaiknya ditinggalkan, tetapi itu butuh waktu yang tidak sebentar. Segalanya butuh proses. Nyatanya, bertindak tidak semudah saat berbicara.


Bicara soal Arga dan Aletta. Sampai saat ini, kenyataan tentang Arga dan Aletta yang sepupuan belum bisa diterima baik oleh akal sehat Joy. Joy lupa bahwa di dunia ini segalanya tidak ada yang tidak mungkin. Dunia penuh misteri, teka-teki, dan kemustahilannya.


Joy duduk sambil membaca novel di sebuah tempat yang disediakan khusus di perpustakaan. Punggungnya dia sandarkan ke bangku kayu. 4 fiksi tersebut diangkat sejajar mata hingga wajahnya nyaris terlihat. Cibir pelan acap kali terdengar dari bibir. Halaman per halaman Joy buka dan hanya dibaca sekilas. Hingga buku itu terpaksa ditutupnya agak kasar. Suara decitan bangku mengisi kesunyian yang terjadi di ruang kedap suara itu. Beberapa pasang mata secara refleks menoleh ke arah Joy. Pergerakan kecil saat Joy beranjak dari bangku sepertinya cukup mengganggu dan menarik perhatian.


Joy sedikit membungkukkan wajah. Senyum tipis yang terbit di bibir seolah mewakili permintaan maafnya. Saat tidak menjadi pusat perhatian lagi, Joy melangkah pergi ke rak buku khusus novel dan mengembalikan novel yang tadi dipinjamnya.


“Ceritanya kurang seru. Alurnya terlalu monoton. Bukan selera aku.” Joy berdecak mengomentari novel yang barusan dibacanya.


Kembali Joy memilih-milih novel yang hendak dibaca. Tujuan pertama dia ke perpustakaan sebenarnya karena hal ini. Joy hendak mencari referensi agar bisa melanjutkan ceritanya yang sudah hiatus hampir sebulan lagi. Tiba-tiba Joy stuck saat ceritanya hampir mencapai konflik. Ide yang sudah tersusun rapi bahkan sampai ending hilang dari memori ingatan tanpa sisa. Rasanya sia-sia jika Joy menghentikan cerita itu di tengah jalan dan berakhir bernasib sama seperti beberapa karya sebelumnya. Terpaksa usai sebelum ending.


Empat novel dengan cover yang tampak menarik sudah berada dalam genggaman Joy. Kembali Joy memilah-milah salah satu novel dari keempat novel tersebut. Seutas senyum kembali terukir setelah hilang beberapa menit lalu. Ketiga novel lainnya sudah dikembalikan ke tempat semula dan kemudian beranjak menjauh dari rak novel. Novel yang dipilihnya dibuka pelan hingga menampilkan lembar pertama. Dibacanya bagian prolog itu. Senyum di bibir kian lebar. Sepertinya Joy tidak salah pilih. Baru bagian prolog, tetapi Joy sudah dibuat menerka-nerka. Alur cerita tak tertebak seperti ini yang Joy suka. Genre kesukaan Joy.


Tidak berlangsung lama senyum itu kembali pudar. Berganti adu kesakitan dari seseorang yang baru saja ditabraknya. Novel yang jatuh ke lantai ubin seputih tulang dipungutnya, lalu beralih menatap orang di depannya.


“Maaf—” katanya tercekat dan langsung menggantung di udara saat manik matanya bertemu dengan manik mata cokelat milik gadis itu.


“Joy ...” Bulu mata lentik itu mengerjap beberapa kali. Suara lembut yang selalu terngiang-ngiang di kepala menggema di gendang telinga Joy. Dada berdebar kencang dengan tak santai seakan tidak tahu tempat.


Sempat terlena dalam bola mata indah itu. Joy geleng-geleng kepala dan segera beranjak dari sungkurnya. Raut wajah berubah datar tanpa ekspresi. Dia tidak boleh luluh semudah itu. Ingatkan Joy kalau dia masih marah pada Rani. Tepatnya, Joy cemburu. Rasanya Joy ingin menarik kata maafnya kembali. Joy terlalu gengsi untuk mengatakan hal itu pada Rani.


Rani terperangah di tempat. Dia menatap sisa-sisa kepergian Joy dengan gamang. Ada apa dengan tetangga kost-nya itu, tanya-tanya Rani dalam hati. Ada yang berubah dari Joy. Tidak, lelaki itu benar-benar sudah berubah. Tatapan matanya sudah tidak selembut dulu. Raut datar itu sungguh asing di mata Rani. Bahkan tanpa repot-repot laki-laki itu membantunya berdiri. Dia langsung berlalu pergi begitu saja.


Sekarang, seperti ada jarak abstrak yang terbentang di antara mereka berdua. Tetapi, Rani tidak tahu apa penyebabnya. Yang Rani tahu mereka semakin asing seiring berjalannya waktu.


***

__ADS_1


__ADS_2