
Waktunya Bang Ari gajian. Usai menyelesaikan sisa pekerjaannya, Ari berpamitan pada pemilik bengkel tersebut dan sesama rekan kerjanya. Ari melangkah keluar dari tempat kerjanya dengan langkah riang dan wajah berseri-seri.
Ari tidak langsung pulang ke rumah. Kakinya malah membawa Ari ke bank, di samping bengkel tempatnya kerja. Ari hendak mentransfer separuh uang hasil kerjanya ke orang tua di kampung. Kemarin, Ari sudah berjanji pada ibu dan bapaknya lewat telepon. Meski beberapa kali juga Ari mendapat penolakan dari mereka dan Ari tidak menghiraukannya.
Keluar dari bank dengan seutas senyum menghias bibir, Ari beralih menghampiri penjual makanan di sebelah kirinya. Tadi, saat jam istirahat kerja, ia sempat menghubungi Joy agar tidak memasak.
“Entar, aku beli makanan jadi di warung depan aja.” begitu jawabnya saat Joy bertanya kenapa.
“Oh iya, Bang,” sahut Joy di seberang. Laki-laki itu mengangguk meski Ari tak melihatnya.
“Hati-hati kalau pulang.” Suaranya terdengar lagi sebelum Ari memutuskan panggilan.
“Oke.”
Ada berbagai jenis makanan jadi yang tersaji di warung pinggir jalan itu. Juga ada beragam jenis gorengan, yang sebagiannya lagi masih dalam tahap penggorengan. Ari tergiur melihatnya.
Ari menautkan kedua alisnya, menggaruk tengkuk kepala yang tak gatal. Kalau sudah begini, Ari sendiri yang kebingungan mau beli apa. Semuanya tampak enak di mata Ari.
“Beli apa, Dek?” Suara berat laki-laki paruh baya itu terdengar menginterupsi. Rupanya menyadari keberadaan Ari.
“Nasi kuningnya berapa, Pak?” Ari beralih menatap si penjual. Tadinya fokus menimbang-nimbang makanan apa saja yang hendak dia beli.
“Lima belas ribu, Dek,” sebut si bapak penjual.
Ari mangut-mangut. “Oh, kalo gorengannya?” tanyanya lagi.
“Seribu.” Laki-laki itu tampak sibuk mengaduk gorengannya di wajan berisi minyak panas. Gelembung-gelembung yang diciptakan terdengar cukup berisik. Sesekali menciprat ke udara membuat si penggoreng bergerak menghindar.
“Nasi kuningnya dua porsi, Bang. Ditambah gorengannya dua puluh ribuan,” pesan Ari kemudian.
Si bapak sedang sibuk menggoreng. Jadinya menyuruh anaknya yang sejak tadi hanya duduk anteng di ujung warung sambil bermain handphone. Bergegas anak perempuan itu—kira-kira seusia Joy atau mungkin sedikit lebih tua—membungkuskan pesanan Ari. Dengan cekatan.
“Ini, Kak.” Dua kantung kresek berwarna hitam itu terjulur ke hadapan Ari. Satu kantung berisi dua porsi nasi kuning dan satunya lagi berisi gorengan. “Totalnya lima puluh ribu,” katanya lagi menyebutkan jumlah nominal dari pesanan Ari.
__ADS_1
Lantas Ari menyahut, mengambil alih kantung itu. Sementara tangan kiri yang tidak memegang apa-apa merogoh saku celana. Mengambil selembar uang lima puluh ribu dan menyerahkannya pada gadis remaja itu.
“Terima kasih,” tutur si gadis.
Ari mengangguk kecil. Seutas senyum terbit di bibir sebelum melenggang pergi dari sana.
Dalam perjalanan pulang, handphone di saku celana Ari bergetar. Ari menghentikan langkah sebentar untuk mengangkat panggilan tersebut. Baru melihat nama yang terpampang di layar, Ari sudah bisa menebak tujuan si penelepon.
Ari menggeser ikon hijau itu, lalu mendekatkan handphone ke telinganya. “Iya, Mak?” sapanya langsung.
“Ari, kamu yang barusan transfer uang, ya? Mamak kan sudah bilang tidak usah.” Suara lembut itu terdengar mengomelinya.
Ari hanya terkekeh kecil menanggapinya. Kepalanya mengangguk kecil. “Iya, Mak.”
Hela napas panjang terdengar dari seberang. Santi memejamkan mata. Bibirnya seakan kehabisan kata-kata, tidak tahu harus mengatakan dengan cara apa lagi pada putra sulungnya itu. “Mamak kan sudah bilang tidak usah. Kami di sini masih bisa hidup berkecukupan, sedangkan kalian di sana apa-apa serba dibeli.”
Hati Ari menghangat mendengar itu. Terharu. “Tidak apa-apa, Mak. Itu memang sudah kewajiban Joy sebagai anak sulung untuk menafkahi keluarga setelah ayah.” Ari menyanggah.
“Ya sudah. Baik-baik kalian di sana,” pungkas Santi sebelum panggilan terputus.
“Joy, aku pulang!” seru Ari heboh seraya mengetuk pintu yang tertutup.
Tidak ada jawaban dari dalam, kembali Ari mengetuk pintu itu sedikit lebih keras. “Joy!” Diulang berkali-kali.
Decitan pintu terdengar dari samping mengalihkan perhatian Ari. Disusul seorang gadis muncul dari sana dengan wajah segarnya. Rambut diikat rapi.
Kerutan kecil muncul di dahinya. “Baru pulang, Bang?”
Ari mengangguk. “Terganggu, ya? Maaf,” ringisnya menyengir.
Sudut bibir itu berkedut. Rani menggeleng. “Enggak. Santai aja kali, Bang,” sanggahnya.
“Joy-nya ketiduran kali, Bang. Kecapaian. Baru pulang dia,” kata Rani mengadu.
__ADS_1
Kepala Ari spontan menoleh ke samping lagi. Guratan penuh tanya tampak mendominasi raut wajah. “Baru pulang?” cicit Ari nyaris terdengar, mengulang dua kata yang terlontar dari bibir Rani.
Mengangguk mantap, Rani bersuara lagi. “Habis kerja kelompok di rumah teman katanya.”
Kerutan itu kian jelas menukik kedua alis. Tumben sekali Joy tidak menghubunginya—hanya sekadar meminta izin padanya. Lama terlena dalam pikiran sendiri sampai tidak menyadari bahwa pintu di depannya sudah terbuka. Bahkan, tanpa susah-susah dia mengetuknya. Seperti tadi.
“Eh, Bang? Sudah pulang?” Joy menyapa di depan pintu dengan muka bantalnya. Mata merah itu dikucek-kuceknya beberapa kali untuk memperjelas penglihatan. Seragam sekolah masih melekat di badan proporsional untuk remaja seusianya.
Ari mengangkat wajah. Dia memaksakan senyumnya terbit kembali saat bola mata mereka saling menubruk. Meski rasa penasaran mendominasi untuk menginterogasi. Sebisa mungkin, Ari mengesampingkan satu hal tersebut.
“Kamu enggak masak, kan?” tanya Ari menyerahkan dua kantung kresek itu ke hadapan Joy. “Ambil.”
Bola mata Joy berbinar menyambut kantung kresek itu, kepalanya menggeleng. Dia masuk ke dalam rumah terlebih dahulu untuk menyiapkan makan malam. Ari berbalik ke toilet umum yang terletak di samping kiri bangunan untuk mencuci muka.
Lepas makan malam, dua laki-laki itu duduk santai di ruang tamu. Dua kopi hitam tersaji di hadapan mereka. Menemani—dan sebagai pemanis—obrolan manis mereka di malam itu.
Malam kian larut, namun mata masih terjaga. Tak ingin terlelap dan bergabung di alam mimpi, lalu menyatu dalam sunyi.
Pintu sengaja dibiarkan terbuka. Angin merembes masuk menyapu kulit wajah hingga mata terpejam. Menikmati sensasi dingin itu.
Kepulan asap rokok yang membumbung tinggi perlahan menyatu dengan udara. Bau khas menyengat memenuhi ruangan. Joy sampai menutupi hidung dengan telapak tangan. Tadinya sedang melanjutkan ceritanya di platform berwarna biru itu—sebelum akhirnya terganggu oleh bau asap rokok. Salah satu ceritanya sudah hampir mencapai target agar bisa dikontrak. Joy tergiur melihat nominal penghasilan jika karyanya berhasil kontrak eksklusif.
Puntung rokok dengan ujung merah menyala digesekkannya ke asbak hingga padam. Ari menyudahi kegiatannya menenangkan pikiran. Beralih menyeruput kopi yang masih hangat itu hingga tersisa setengah.
“Sejak kapan merokok, Bang?” Pertanyaan itu menarik atensi Ari. Joy di pojok ruangan bersandar pada tembok menatapnya dengan raut penuh tanya.
Ari tertawa ringan. Terdengar hambar. Tatapannya menerawang ke depan. Memori kenangan yang tak bisa terulang secara spontan hadir tanpa aba-aba.
“Dari dulu. Cuma sembunyi-sembunyi dari bapak,” ungkap Ari.
Ari melirik Joy. Terkekeh melihat ekspresi kaget adiknya. Mata melotot besar seakan hendak keluar dari tempatnya.
“Pas kelas tiga SMA. Waktu itu terbawa-bawa sama teman. Awalnya aku tolak karena takut sama bapak. Tapi, karena ditantang dan dikatai banci sama teman-teman ... ya, aku enggak terimalah! Eh, tahunya malah kecanduan rokok.” Seakan mengerti arti tatapan Joy, Ari menjelaskan lebih detail. Mengatakan semua itu dengan nada santai, tanpa beban sama sekali.
__ADS_1
Tak sepatah kata pun respons yang keluar dari bibir Joy. Laki-laki itu hanya menatap gamang Ari dengan pikiran menerawang jauh. Benaknya meronta-ronta berkata, ‘jika Ari saja sampai hilang kendali ketika diajak nakal oleh temannya, bagaimana dengan Joy yang kini malah berteman dengan orang bermasalah di sekolah?’