Joy : A Hope

Joy : A Hope
Bab 18. Arga Si Menyebalkan


__ADS_3

Saat sedang menunggu angkot yang tak kunjung datang sejak beberapa menit setelah kepergian Rani dan si laki-laki asing itu. Joy duduk di halte depan sekolah. Sesekali berdiri kemudian berjalan mondar-mandir. Raut wajahnya penuh dengan kegelisahan. Sementara perutnya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Terus keroncongan sejak tadi. Tak urung, decak kesal pun terdengar berulang kali dari bibir.


Sudah hampir setengah jam berlalu, tak satu pun angkutan umum yang lewat. Padahal seharusnya Joy sudah berada di rumah beberapa menit lalu.


“Ini angkotnya mana, sih?" gerutunya lagi. Joy menggaruk tengkuk belakangnya yang tak gatal.


Dari kejauhan, tepatnya di ujung jalan tepat gerbang sekolah, sebuah mobil sedan melaju dari sana dengan kecepatan sedang. Lalu, berhenti tepat di depan halte. Atensi Joy sedikit beralih pada mobil putih itu. Kerut bingung tampak jelas di dahinya.


Kaca mobil itu perlahan terbuka memperlihatkan Aletta dan seorang pemuda dua puluh tahunan di jok kemudi.


“Joy!” Gadis itu memanggilnya dengan seutas senyum.


“Eh, Aletta?” Cukup terkejut Joy.


“Belum pulang juga, ya? Kirain dah pulang dari tadi.” Aletta menyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.


Lantas Joy menggeleng. Raut wajahnya kembali berubah masam. “Angkotnya kagak datang-datang,” keluh Joy sedikit curhat.


Aletta manggut-manggut. “Gimana kalo pulang bareng aja?” celetuknya tiba-tiba.


Joy menatapnya terkejut. Mendadak bola matanya membelalak bulat. Berbanding terbalik dengan Aletta yang langsung menatap pemuda di sebelahnya dengan binar kedua netra hitamnya.


“Boleh, kan, Bang?”


“Hah, i-iya?” Pemuda yang pura-pura sibuk memainkan handphone itu—padahal sejak tadi diam-diam mencuri dengar pembicaraan antara adik perempuannya dan lelaki asing itu—mengangkat wajah cengo.


“Kita boleh pulang bareng Joy, kan, Bang?” Aletta mengulang pertanyaannya. Raut wajah gadis itu benar-benar penuh harapan sang Abang akan mengiyakan permintaannya.


Pemuda itu mengernyit, pura-pura tidak tahu apa-apa. “Joy? Joy siapa?”


“Teman sekelas aku, Bang.” Aletta berujar gemas. Dia menunjuk Joy keluar mobil.

__ADS_1


Pemuda itu mengikuti arah telunjuk Aletta. Sekilas memandangi Joy dari atas kepala hingga ujung sepatu yang dikenakan. “Oh, iya-iya. Boleh,” katanya menyetujui.


Aletta melebarkan matanya senang. Dia menatap Joy excited. “Ayo, naik!”


Joy gelagapan. “Eh, a-anu... Enggak usah. Saya pulang sendiri aja nanti. Enggak papa, kok. Btw, makasih tawarannya,” tolak Joy secara halus.


Bukannya tidak ingin naik mobil itu, hanya saja Joy merasa sungkan. Apalagi dia dan Aletta baru kenalan dan berteman hari itu.


“Yah, kok gitu, sih, Joy!” Aletta berdecak sebal. Raut wajah gadis itu mendadak murung. Bibir mengerucut beberapa senti ke depan.


Joy meringis agak menyesal, tetapi dirasa pilihannya sudah tepat. Remaja itu hanya menggaruk tengkuk salah tingkah saat Abang Aletta menatapnya dengan senyum jahil, sebelum kembali melajukan mobilnya menjauh dari hadapan Joy. Menyisakan Joy bersama kesunyian.


Di dalam mobil, Alan, pemuda itu melirik ke samping. Memperhatikan begitu detail setiap inchi wajah adik perempuannya itu. Senyum jahil yang sempat pudar kini kembali terpatri dengan menyebalkannya.


“Kenapa murung kayak gitu? Suka lo sama dia?” kata Alan sengaja memancing-mancing.


Aletta balas menatapnya sinis, kedua tangannya saling bersedekap dada. “Kepo banget lu jadi orang!” semburnya tak kira-kira. Mood-nya tambah buruk.


“Dih, cuma nanya doang juga!” kilah Alan. Tak pernah ada kata mengalah dalam kamus hidup Alan jika berada di mode debat bersama Aletta.


Untuk kali ini, Aletta sedang tak minat untuk berdebat dengan sang kakak.


***


Sejam menunggu tak satu pun satu angkot yang lewat. Tidak ada pilihan lain, Joy pada akhirnya jalan kaki. Sudah setengah jam laki-laki itu menyusuri jalan raya yang seakan tak berujung. Bukan hanya kaki yang mulai letih, keringat pun bercucuran membasahi wajah. Langit sedang panas-panasnya padahal hari sudah sore.


Lagi, decak sebal terlontar dari remaja itu. Untuk ke sekian kalinya menggerutu.


“Resiko sekolah jauh dari rumah,” gumamnya pada diri sendiri. Rasanya Joy ingin meraung-raung.


Dari kejauhan, bola mata Joy menangkap sebuah pemandangan yang mengundang rasa dahaganya. Penjual minuman dingin pinggir jalan sedang dikerumuni anak-anak.

__ADS_1


Joy menelan ludah saat sekelompok anak berjalan ke arahnya dengan masing-masing cup pop ice dalam genggaman tangannya. Sesekali diminumnya pakai sedotan.


Joy tergiur. Sempat terbesit dalam pikirannya untuk ikut membelanjakan uang tabungan dalam dompetnya itu. “Tidak. Aku tidak boleh boros. Masih banyak kebutuhan yang lebih penting dari pada minuman 5 ribuan itu.” Joy menggeleng keras. Membuang jauh-jauh apa yang baru saja dipikirkan. Meski, beberapa kali Joy menoleh ke belakang saat berhasil melewati tempat jualan itu.


“Oi, ngapain jalan sendirian kayak orang gila?” Entah angin berhembus dari mana, tiba-tiba terdengar celetukan dari samping.


Joy terlonjak kaget dan menolehkan kepalanya ke samping. Seorang laki-laki dan motor matic yang dikendarainya menjadi pemandangan pertama Joy.


“Eh, kamu? K-kok bisa di sini?” Tentu saja Joy kaget. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan laki-laki itu di jalan.


Arga melengoskan pandangan. “Lo pikir jalan ini punya nenek moyang lo, terus gue harus ijin dulu baru bisa lewat sini?” cibir Arga dengan bibir pedasnya.


Joy menyengir, suasana sedikit canggung. Entah kenapa dia merasa tertahan di sana. Mau pamit dan melangkah pergi rasanya berat sekali.


“Naik!” kata Arga kemudian cukup sarkas di telinga Joy.


Lelaki itu menyalakan mesin motornya kembali bersiap untuk pergi. Saat tak ada respons dari Joy, Arga meliriknya kesal dan berdecak. “Lo budeg apa gimana, sih? Enggak denger gue ngomong, hah?”


“A-apa?” Joy mencicit lemah. Dia yang tak paham situasi menggaruk tengkuk belakangnya.


Arga menggeram tertahan. “Naik, goblok!” Dia menatap nyalang Joy.


“Eh, i-iya ....” Joy menuruti perintah Arga. Dia naik ke motor cowok itu.


Joy sendiri bingung kenapa jadi berakhir seperti ini. Lagi pula Joy pun tidak pernah meminta untuk nebeng ke motor Arga, tetapi cowok itu yang seakan memaksanya untuk ikut bersamanya. Ditambah muka seram Arga saat murka tadi membuat nyali Joy ciut.


“Rumah lo di mana?” Saat sebelumnya perjalanan mereka hanya diisi suara deru motor yang bertabrakan dengan arah hembusan angin. Arga membuka topik pembicaraan lebih dulu.


“Hah? Apa?” sahut Joy yang memang tak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Arga. Suatu kebiasaan buruknya ketika sedang naik motor. Tiba-tiba menjadi orang tuli saat ada yang mengajaknya bicara.


Joy memajukan sedikit kepalanya, mungkin saja Arga akan mengulang pertanyaannya. Sementara Arga berdecak usai menghela napas kasar.

__ADS_1


“Rumah lo di mana?!” Arga menaikkan nada suaranya sedikit lebih tinggi sampai-sampai urat lehernya menonjol.


***


__ADS_2