
“Ran, kamu anggap aku apa, sih, sebenarnya?” tanya laki-laki berwajah manis dan bulu mata lentik itu. Lesung pipi yang acap kali mencuat di pipinya saat menyungging senyum pudar oleh sorot mata sendu.
“Pacar,” jawab Rani dengan entengnya tanpa peduli bagaimana masamnya muka laki-laki itu sekarang. Kembali dia menyendok makanan dari kotak bekal berwarna biru yang dibawanya dari kost tadi.
“Pacarnya siapa?” Laki-laki itu membuka mulut menerima suapan nasi goreng dengan lauk ayam goreng buatan Rani. Dia mengunyah makanan dalam mulutnya dengan wajah cemberut. Sejak pagi tadi suasana hati laki-laki itu tak kunjung membaik. Dan semua itu gara-gara perempuan yang duduk di sampingnya sekarang yang tak lain adalah kekasihnya sendiri.
“Pacarnya Regan,” sahut gadis itu dengan entengnya membuat senyum tipis perlahan terbit di wajah sang kekasih. Tetapi, senyum cerah itu tidak bertahan lama. Saat Rani melanjutkan ucapannya.
“Memang siapa lagi? Joy?” Rani menaikkan satu alisnya sambil menahan kedut di sudut bibirnya.
“Berhenti bahas dia.” Regan berdecak sebal dan membuang muka. Makanan dalam mulutnya dikunyahnya kasar. Joy lagi, Joy lagi. Hatinya selalu terbakar api cemburu setiap kali Rani membahas laki-laki lain di depan matanya sendiri.
Terkikik geli Rani mengamati raut datar Regan. Sesekali jahil tidak masalah, kan? Rani tahu kekasihnya itu sangat sensitif dengan segala hal yang menyangkut Joy. Bahkan, hanya dengan mendengar namanya saja suasana hati Regan langsung memburuk. Karena menurut Regan, Joy bisa saja menjadi salah satu penghambat hubungan percintaannya dengan Rani.
Siang itu mereka berdua sedang berada di taman belakang sekolah. Bel istirahat berbunyi nyaring beberapa saat lalu. Taman belakang sekolah kebetulan sepi kala itu. Ah, tepatnya hampir selalu sepi karena jarang dikunjungi siswa lain. Kantin menjadi tempat ngadem pilihan pertama bagi siswa-siswi SMK Bakti Negoro saat jam istirahat tiba. Jadi, Regan dan Rani leluasa berbincang atau pun memperdebatkan sesuatu tanpa harus menjadi titik perhatian.
“Buka mulutnya!” titah Rani misuh-misuh. Tangannya kembali terjulur ke depan hendak menyuapi cowok manja bin cemburuan itu.
Regan menggeleng cepat dengan pandangan lurus ke depan. “Udah enggak nafsu makan.”
Rani menggeram tertahan. Tuh, kan, mulai lagi! Rasanya dia ingin mencabik-cabik muka sok cool yang sialnya memang tampan di sampingnya itu.
Tanpa sadar nasi beserta lauk di sendok itu berhamburan saat Rani mengeratkan pegangan. Lantas jatuh bebas menodai celana seragam sekolah Regan.
Sama-sama membulatkan mata. Rani membungkam mulut dengan telapak tangan, tak menyangka apa yang baru saja diperbuat. Berbanding terbalik dengan Regan yang kini mendongakkan wajah dan menatap nyalang gadis di depannya.
“Raniii!” geram Regan tertahan.
Laki-laki itu mengatupkan bibir dan membersihkan noda kekuning-kuningan di seragamnya agak kasar. Sembari bibir tak henti merutuki kecerobohan Rani. “Gimana, sih, kamu!” lanjutnya mencibir.
__ADS_1
Rani meringis menyesali perbuatannya. “Ya, maaf. Lagian, kamu ngeselin, ih!” cicit Rani bisa-bisanya masih menyalahkan Regan atas hal itu.
“Aku enggak akan kayak gini kalo bukan kamu duluan yang mulai!” balas Regan tak mau kalah.
Sontak Rani menatapnya dengan pandangan heran. “Lah, kok jadi aku?” protes Rani tak terima.
“Terus siapa?! Siapa yang duluan cari gara-gara tadi pagi.” Sembur Regan mengeluarkan unek-unek yang sejak tadi membuat mood-nya buruk. Deru napas tak beraturan pertanda emosi sedang melingkupi laki-laki itu.
Terperangah untuk beberapa saat dengan pernyataan yang Regan berikan, sebelum akhirnya Rani mendengus. Gadis itu membuang muka tak suka. Lagi-lagi, hal itu yang dipermasalahkan Regan. Apa tidak ada hal lain yang bisa mereka perdebatkan selain itu-itu terus?!
Regan meraih kedua tangan gadis itu untuk digenggamnya. Membuat Rani seketika berpaling ke arahnya. Wajah Rani masih dipenuhi gerut sinis. Namun, begitu bola mata mereka saling bertemu, raut wajah Rani perlahan melunak dan terenyuh dalam sorot sendu milik Regan.
“Aku enggak suka kamu dekat sama dia, Ran. Aku cemburu liat kedekatan kamu sama Joy.” Laki-laki itu mengungkapkan segala kegundahan yang meresahkan hatinya selama ini.
“Aku ingin kamu berhenti berhubungan sama dia!” kata Regan bersungguh-sungguh menelisik bola mata indah gadis di depannya itu.
Hening melingkupi dua remaja yang sedang dimabuk asmara itu. Hanya bola mata beradu di antara mereka berdua. Dengan posisi tangan masih saling menggenggam.
Lantas Rani menarik tangannya dari genggaman Regan. Kembali dia duduk tegap dengan pandangan lurus ke depan. Terlihat kepalanya menggeleng pelan. “Aku enggak bisa lakuin itu, Gan. Maaf,” ujarnya sedikit ketus.
Regan mengerutkan kening tak suka. “Kenapa enggak bisa?” tanya Regan sedikit menuntut.
Rani menatap Regan kesal. Sudah berapa kali dia jelaskan pada laki-laki itu dan sampai sekarang tak paham-paham juga. “Ya, karena—”
“Abangnya dia baik sama kamu, iya?! Itu kan alasan kamu setiap kali ditanya?” sela Regan dengan cepat. Intonasi suaranya juga meninggi.
Rani menahan napas mendengar bentakan Regan. Sebelum-sebelumnya laki-laki itu tak pernah berucap kasar padanya. Ini untuk yang pertama kalinya. Jadi, wajar jika Rani cukup terkejut.
“Aku muak sama alasan itu, Ran!” Sekali lagi Regan menyentaknya tak tanggung-tanggung.
__ADS_1
Rani mendengus sembari membuang muka sinis. “Gimana lagi, sih, caranya aku jelasin ke kamu supaya kamu ngerti, Gan?” gumamnya pelan tetapi masih terdengar oleh Regan.
Terlampau kesal, Rani kembali menolehkan badan menghadap Regan. “Kenapa kamu sebegitu enggak sukanya sama Joy? Kamu punya dendam sama dia?” tuntutnya mengintimidasi Regan.
“Aku cemburu Rani!” sergah Regan emosi.
Dua alis itu saling bertautan. Rani menatap Regan dalam. “Kenapa cemburu? Aku enggak ada hubungan apa-apa sama dia Regan! Dia cuma tetangga kost aku. Abangnya baik selama ini sama aku. Aku merasa berhutang budi sama Bang Ari. Aku juga udah janji sama dia bakal jagain adiknya di sekolah!” tutur Rani menjelaskan. Untuk ke sekian kali. Tetapi, mengapa Regan tak paham-paham juga?
“Oke! Aku enggak permasalahkan hal itu. Kamu mau membalas kebaikan abangnya, terserah kamu!” pungkas Regan ingin mengakhiri perdebatan tak berujung itu.
Regan beranjak dari bangku taman dengan kasar. Dia melangkah lebar menjauh dari hadapan Rani. Sementara Rani hanya bungkam sembari membuang muka tanpa berniat mencegah aksi sang kekasih. Keduanya sedang dilanda emosi dan masing-masing mempertahankan keegoisannya.
Beberapa langkah dari hadapan Rani, Regan menghentikan langkah dan melirik ke belakang lewat ekor mata. “Aku enggak percaya kalau kalian hanya sebatas teman dan tetangga kost. Itu yang bikin aku cemburu, Ran,” ungkap Regan dengan nada suara lebih rendah dari sebelumnya.
Rani terkekeh sinis. “Terserah kamu, Gan. Aku enggak peduli!”
“Mungkin kamu hanya menganggapnya teman, Ran. Tetapi tidak dengan dia.” Lagi Regan bergumam.
Ucapan itu berhasil mengalihkan atensi Rani sepenuhnya. Gadis itu beranjak menghampiri Regan beberapa langkah dari hadapannya. “Maksud kamu?” Tatapan penuh tanya Rani layangkan pada Regan.
Regan melirik Rani sekilas lewat ekor mata. Untuk melihat ekspresi wajah yang gadis itu tunjukkan. “Aku bisa lihat dari tatapan matanya ke kamu, Ran. Dia suka sama kamu,” katanya dan langsung melenggang pergi begitu saja.
Rani tinggal dan hanyut dalam pikirannya sendiri. Kata-kata Regan berhasil membuatnya merenung di tempat. Seketika pikirannya terasa kosong. Sumpah! Pikiran Rani tak sekalipun pernah mengarah ke sana. Tak pernah terbesit dalam hatinya hal itu akan terjadi.
Namun, mengingat bagaimana perlakuan laki-laki itu padanya selama ini. Kata-katanya yang selalu lembut saat berbicara, juga senyum tipis seketika terumbar saat tak sengaja papasan di koridor sekolah. Kenapa semuanya jadi terasa bumerang?
Apa benar Joy, tetangga kost-nya itu menaruh perasaan padanya?
Rani menggeleng-gelengkan kepalanya linglung. “Enggak. Itu tidak mungkin.”
__ADS_1
***