
Segala bentuk perpisahan tidak ada yang namanya bahagia. Pastinya selalu berakhir sedih, tak menyenangkan hati. Perpisahan selalu identik dengan tangis haru penuh air mata. Seorang pun di bumi ini tak ada yang menginginkan hal tersebut terjadi pada diri mereka.
Ada perpisahan berarti harus siap merelakan. Karena perpisahan adalah bagian dari kehilangan. Kehilangan yang bersifat sementara, atau kehilangan untuk selama-lamanya.
Seperti perpisahan yang terjadi dalam keluarga yang satu ini. Santi tidak bisa membendung air mata kesedihan ketika sang putra bungsu juga hendak meninggalkan kampung. Setelah kepergian Ari, putra sulungnya merantau ke kota, kini giliran Joy menyusul sang kakak untuk melanjutkan pendidikannya. Kehilangan dua putra kesayangannya sekaligus dalam waktu yang berdekatan.
Rasanya, Santi tak ingin melepas Joy di hari itu. Melihat mobil penumpang yang datang menjemput anaknya membuat hati teriris dan dada berdenyut nyeri. Sesak. Entah bagaimana cara menggambarkan isi hatinya lagi.
Namun, mau tidak mau, Santi harus mau. Santi harus mengikhlaskan. Saat ini dia tak boleh egois. Keadaan yang memaksa. Meski pada akhirnya, dia juga yang akan menanggung sepi. Tom dan Jerry yang selalu membuat rumah heboh kini sudah pergi.
Dari awal Santi harusnya sadar bahwa ketika dua putranya itu sudah beranjak dewasa maka mereka akan pergi meninggalkannya demi mengubah sebuah nasib. Berjuang untuk mengangkat derajat mereka. Tidak berakhir sadis seperti kisahnya dan Eros dulu hingga untuk mencari sesuap nasi pun harus bekerja keras.
Kesalahan tersebar yang pernah dibuat oleh Eros dan Santi adalah ketika mereka memilih menjalin hubungan yang lebih serius pada saat mereka masih bukan siapa-siapa. Memilih untuk hidup berkeluarga bahkan ketika mereka masih bergantung pada orang tua. Belum mandiri sepenuhnya. Wajar saja, mereka bisa dibilang menikah muda tempo itu. Namun, kesalahan itu serasa bisa mereka tebus ketika berhasil menyekolahkan anak-anaknya setidaknya sampai tamat di bangku SMK.
Suatu kebanggaan tersendiri lagi ketika salah satu dari anaknya berprestasi hingga tak jarang menuai pujian dari lingkungan sekitar. Joy bahkan dari awal sudah mengangkat derajat orang tuanya secara perlahan meski secara tidak langsung. Akan tetapi, pencapaian yang dia raih berhasil membuat dua orang tuanya merasa bangga padanya.
Sudah terparkir sebuah mobil sedang di pekarangan rumah Eros. Bagasi terbuka lebar, tersingkap ke atas memperlihatkan isi perutnya. Seorang sopir di samping mobil baru saja memasukkan barang-barang salah satu penumpangnya itu ke dalam bagasi. Pria yang berusia sekitar tiga puluhan tahun itu menyenderkan badan ke samping mobil. Sambil bersedekap dada menatap drama keluarga di depannya yang entah kenapa lama-kelamaan membuatnya turut haru.
“Mak, Joy berangkat, ya. Mamak hati-hati di rumah. Jangan bekerja terlalu keras. Jangan angkat yang berat-berat. Mamak hati-hati. Mamak harus selalu sehat,” ujar Joy berpamitan sekaligus memberi wejangan pada wanita itu yang sedari tadi tak henti menitikkan air mata.
Santi tanpa sepatah kata pun menarik Joy dan membawa anak itu dalam dekapannya. Masih terlalu berat rasanya untuk melepas anak yang satu itu. Selain pintar, Joy juga anaknya baik dan penurut. Meski beberapa kali mengeluh jika disuruh, namun anak itu akan tetap menjalankan tugas yang diperintahkannya.
“Mamak jangan nangis dong. Masa anaknya mau pergi ditangisi, sih! Memangnya Joy mau mati apa?” katanya lagi mencoba menghibur.
__ADS_1
Sontak Santi menggeplak belakang punggung Joy. Tak suka dengan bercandaan anak itu. “Bercandanya kamu enggak lucu!” omelnya.
Joy hanya terkekeh menanggapi ucapan Santi.
Kemudian pelukan mereka terurai. Perhatian Joy teralih pada Eros di samping Santi. Sedari tadi pria itu hanya diam saja sambil menonton adegan sad antara ibu dan anak itu.
“Pak, kita berangkat?” katanya memastikan hal tersebut. Rencananya, Eros akan mengantar Joy ke kota hari ini dan besok baru balik lagi ke sini.
Santi sangat kekeh agar Eros mengantar Joy. Wanita itu takut terjadi sesuatu pada Joy di jalan. Karena ini, pengalaman pertama Joy ke kota.
Tampak pria berwajah datar itu mengangguk setelah terdiam beberapa saat. “Ayo, berangkat.”
“Nak, kamu hati-hati, ya, di kampung orang. Jangan nakal dan tetap jadi anak yang rendah hati. Ingat, ada kedua orang tuamu yang menunggu kesuksesanmu di kampung,” tutur Santi memberi saran diangguki oleh Joy dengan mantap.
“Joy pergi, Mak,” cicit Joy yang mungkin tak terdengar oleh siapa pun. Dia melambaikan tangannya ke arah Santi, dibalas dengan begitu antusias.
Mobil melaju keluar dari pekarangan menyisakan jarak di antara mereka. Perlahan hilang hingga lenyap sepenuhnya dari pandangan Santi. Rasanya lutut Santi terasa lemas. Hingga ketika tak kuat lagi menahan bobot badannya, dia tersungkur mengenaskan ke bawah tanah.
“Salam buat abangmu juga!” lanjut Santi berseru entah pada siapa. Hanya sapuan angin lalu yang merespons.
Bayu turut hadir di situ. Namun, lelaki itu bergegas pergi begitu namanya dipanggil oleh orang tuanya. Setelah mengucapkan selamat jalan pada sahabatnya itu dan beberapa kalimat lainnya, baru Bayu beranjak dari pekarangan rumah Joy.
Dan kini, lelaki itu hanya bisa memandangi kepergian temannya dari balik jendela rumah. Satu utas senyum yang penuh makna terbit di bibir. Senyum yang perlahan berubah menjadi seringai kecil. Hilang sudah tatapan iba yang sempat dipancarkannya itu.
__ADS_1
***
Di atas mobil, di sepanjang perjalanan Eros hanya diam saja. Joy melirik ke samping. Rasanya dia sedang duduk bersebelahan dengan patung. Tak ada tanda-tanda kehidupan dari diri Eros selain kedipan bola mata dan deru napasnya.
Pria itu tampak kaku dan hanya akan bergerak ketika mobil bergerak tak karuan ketika melewati jalan yang rusak dan berlubang. Entah apa yang sedang membebani pikiran pria dengan tatapan lurus nan kosong ke depan itu.
“Pak, kenapa?” Joy membuka suara, membuyarkan lamunan pria itu.
Eros menoleh dengan satu alis terangkat seraya bergumam.
“Bapak ada masalah apa? Kenapa cuma diam saja sedari tadi?” tanya Joy tak dapat membendung rasa penasarannya lagi.
Nada suara yang begitu lembut. Nada suara yang selalu membuat Eros merasa berdosa sekali dan tidak tega pada anak itu jika harus mengatakan sebuah kebenaran pada anak itu. Kebenaran yang mungkin saja akan menyakiti hati Joy.
Lantas, Eros memalingkan wajahnya ke samping tak kuasa menahan titik air mata yang kini sudah menetes membasahi pipi. Namun, dengan ahlinya dia menyembunyikan itu dengan mengusap kasar wajahnya sehingga samar di penglihatan Joy.
“Tidak ada apa-apa. Bapak baik-baik saja,” ujar Eros pada akhirnya. Kembali duduk tegak seperti semula.
“Mungkin perasaan kamu saja,” lanjutnya bergumam.
Kerutan di hidung Joy tampak jelas. Seperti tak percaya dengan jawaban bapaknya. Cukup lama lelaki itu merenung hingga akhirnya menemukan titik terang yang sepertinya berhubungan dengan sikap Eros hari ini.
***
__ADS_1