
Waktunya makan malam. Joy dan kedua orang tuanya sudah duduk mengelilingi meja makan. Di atas meja ada nasi satu tempat, satu piring tempe sambal, serta sayur daun singkong tumbuk. Mungkin makanan yang sangat sederhana bagi orang-orang yang berada. Namun, justru berbanding terbalik dengan keluarga Joy. Tempe sambal sebagai lauk sudah lumayan mewah bagi mereka.
Keheningan tercipta selama makan. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Eros tampak menikmati makan malamnya. Terlihat dari gelagatnya yang beberapa kali memejamkan mata setiap kali menyendokkan makanan ke dalam mulut. Dia mengunyah cukup lahap. Berbanding terbalik dengan Santi dan Joy yang tampak santai. Beberapa kali mereka saling pandang dan berbicara lewat mata. Entah apa yang sedang mereka diskusikan atau mungkin perdebatkan.
Mendapat anggukan dari Santi—seolah wanita itu mendukung Joy untuk angkat bicara—Joy mengalihkan atensi menatap Eros yang duduk di ujung meja sebagai kepala keluarga. Sejenak hanya memperhatikan pria itu dengan lamat. Hingga Eros menyadari hal tersebut, dia balik menatap Joy yang kini tampak gelagapan karena ketahuan sedang menatapnya dengan tak biasa.
“Kenapa?” tanya Eros, menyadari maksud tatapan Joy yang ragu-ragu.
“Ah, enggak, Pak. Joy—” Mulut Joy berkomat-kamit tidak jelas. Dia gugup hingga bingung hendak mengatakan apa.
“Joy katanya mau ngomong sesuatu yang penting sama Bapak,” kata Santi menyela, greget sendiri melihat Joy.
Menunggu Joy selesai bicara bukanlah pilihan yang tepat. Lagi pula, Santi tipe orang yang tidak suka menunggu lama. Tidak beda jauh dengan Eros yang selalu to the point.
Raut penasaran tergambar di wajah Eros. Kerutan bingung muncul di dahi yang mulai keriput itu. Eros yang baru saja menyelesaikan makan, meraih segelas air dan menenggaknya dalam sekali tegukan. Lalu, menatap Joy penuh tanya yang lebih terkesan menuntut.
Joy meringis pelan dalam hati. Lewat ekor matanya melirik sinis Santi. Duh, gara-gara Mamak, nih!
“Ummm, anu Pak—Joy ....” Joy bingung menjelaskannya hendak dimulai dari mana.
“Joy lulus seleksi di SMA Harapan Bangsa jurusan Bahasa Indonesia, Pak,” ungkap Joy pada akhirnya.
Dia mengatup bibir rapat usai berbicara. Apalagi Joy tidak langsung mendapat respons dari Eros. Pria itu terdiam cukup lama hingga kemudian buka suara.
“SMA?” beo Eros dengan kernyit di hidung tanda tak suka. “Jadi, kamu mau lanjut di SMA? Ambil jurusan Bahasa pula.”
Pria itu tertawa sumbang. Joy tidak tahu dimana letak lucunya ucapannya tadi. Yang jelas, Eros tengah menertawakannya.
“Kamu mau jadi apa kalau lanjut di SMA, Joy? Pikirkan baik-baik masa depan kamu. Pikirkan juga pekerjaan sehari-hari orang tuamu ini. Belum tentu kita punya uang untuk sekolahkan kamu di tingkat tinggi. Apa gunanya masuk SMA kalau pada akhirnya jadi pengangguran?” celoteh Eros panjang lebar. Berbicara dengan nada santai, namun tetap terdengar tegas.
“Setidaknya, kalau kamu masuk SMK, kamu masih punya skill yang bisa kamu praktikkan. Bisa buka usaha kecil-kecilan kalau sudah tamat nanti.”
__ADS_1
Hati Joy menjerit-jerit tak suka mendengar itu. Ingin sekali dia menentang ucapan itu, tetapi apalah daya Joy tidak punya nyali sebesar itu. Memberanikan diri, Joy angkat bicara.
“Tapi kan, Pak. Joy mau jadi penulis. Joy mau fokus sama hal-hal yang berbau kesastraan,” bantah Joy, mencoba membuka pikiran Eros yang hanya berfokus pada alur masa depan Joy buatannya sendiri.
Eros menggeleng. Melarang keras. “Tidak! Bapak tidak setuju.”
“Apalah penulis itu. Tidak ada yang bisa kamu harapkan dari situ. Coba buka pikiran kamu lebar-lebar Joy. Ada banyak pekerjaan di luar sana yang punya peluang besar dan gaji yang tidak main-main. Dan, kamu hanya akan mengabdikan dirimu menjadi seorang penulis yang gajinya tidak seberapa? Dimana letak otakmu itu! Kenapa tidak kamu pergunakan dengan baik, hah?!”
Joy menunduk mendengar bentakan itu. Kali ini, dia tidak berani untuk membantah dua kali.
“Bapak tahu selama ini kamu hobby menulis dan mengarang. Bahkan, buku tulis kamu cepat habis karena saking banyaknya cerita yang kamu tulis. Bapak mengerti dengan hobby-mu dan Bapak tidak akan pernah melarang kamu untuk melakukan itu. Tetapi, Bapak tidak suka kalau kamu akan lebih berfokus pada hal itu dibanding memikirkan hal apa yang bisa membuat masa depan kamu cerah di kemudian hari,” tukas Eros memberi saran. Sedikit senyum tipis di akhir kalimat.
Joy yang tidak tahan lagi untuk menahan semua gejolak dalam hatinya beranjak dari meja makan. Dia masuk ke dalam kamar dan mengunci kamarnya. Menenggelamkan wajah di bantal dan menumpahkan kesedihannya sekeras-kerasnya.
Sakit sekali rasanya ketika keluarga sendiri yang mematahkan impian kita. Oke, Joy paham bahwa perkataan Eros tidak sepenuhnya salah. Tetapi, tidak bisakah pria itu mengizinkannya untuk meraih mimpinya sendiri dan menentukan arah hidupnya sendiri? Rasanya tidak enak jika terus menjadi robot berjalan yang langkahnya diatur selamanya oleh seseorang.
****
“Kenapa menangis?” tanya Ari begitu perhatian. Wajah pemuda itu langsung terpampang di layar ponsel Joy begitu Ari mengangkat panggilan videonya.
Cukup lama menebak-nebak dalam pikiran, hingga Ari tersadar akan suatu hal. Lantas, Ari bertanya lagi, “Jadi gimana?”
Remaja lelaki yang sedang berbaring di tempat tidur sambil memeluk bantal guling dari samping itu menggeleng lemah. Joy sesenggukan.
“Ba-bapak … enggak setuju, Bang,” jawabnya tersendat-sendat.
Tangisnya kembali pecah. Mata mulai membengkak. Sudah terlalu lama menangis. Setelah kabur dari meja makan, Joy langsung menghubungi abangnya dan mengadukan semuanya pada pemuda itu.
Ari menggusah napas kasar selepas mendengar cerita Joy. Bapak tidak setuju. Sudah dia duga. Tanpa Joy jawab pun dia sudah tahu. Bahkan jauh sebelum Joy hendak memberitahu hal tersebut pada Eros---hari dimana Ari memberinya saran, sejujurnya Ari sudah ragu terhadap respons Eros nantinya. Sengaja Ari memberi saran pada Joy agar remaja itu tidak kecewa terlalu dalam nantinya. Sekarang saja Joy sudah meronta-ronta seperti bocah SD yang tidak diberi uang jajan.
“Cengeng. Sudah, berhenti nangisnya! Kamu itu sudah 15 tahun, sudah gede. Enggak usah kayak anak kecil terus. Harusnya kamu sudah bisa berpikir lebih dewasa.” Bukannya menghibur atau melayangkan tatapan iba, yang ada Ari malah meledek. Berdecak tak suka.
__ADS_1
Sontak Joy menghentikan tangisannya, menyisakan sesenggukan kecil. Sempat dia melirik sinis ke layer ponsel. Jengkel. Joy mengerucutkan bibir beberapa senti ke depan.
“Adeknya lagi sedih juga,” sindirnya, membuat Ari mendengus.
“Lebay.” Ari mencibir. Rasanya muak bercampur geli setiap kali melihat Joy menampilkan muka merajuk seperti itu. Dulu ketika Joy masih kecil suka rewel, Ari akan menenangkannya dengan cara menggendong sampai Joy tertidur lelap. Namun, sekarang keadaannya sudah berbeda. Mereka berdua sudah tumbuh dewasa. Joy bukan anak kecil lagi.
“Lebih baik turuti aja apa kata Bapak. Toh, dia enggak larang juga kamu menulis,” saran Ari lagi setelah terdiam beberapa saat.
“Kamu masih bisa loh jadi penulis tanpa harus masuk jurusan itu.”
“Abang sama aja kayak Bapak!” Sontak mood Joy tambah anjlok mendengar itu. Tanpa memedulikan Ari, Joy langsung memutuskan panggilan video. Kembali Joy meraung-raung tidak jelas. Menumpahkan segala kesedihannya di malam kelam itu.
****
“Ini kopinya, Pak,” kata Santi seraya memindahkan kopi hitam dari nampan dalam genggaman tangannya ke atas meja di ruang tamu.
Kepulan asapnya masih terlihat jelas, menguar ke udara. Wajar saja, Santi baru balik dari dapur untuk menyeduhnya. Tadi setelah makan makam, Eros menyuruh Santi untuk membuatkannya kopi pahit. Hanya gumam kecil yang dia dapat dari Eros.
Lalu, wanita ber-daster merah itu duduk di kursi rotan samping suaminya dengan nampan diletakkan di atas paha. Dia melirik ke samping memperhatikan Eros, suaminya.
Pria yang sedang mengenakan sarung sengaja dililit di pinggang itu, tampak asyik dengan kepulan asap rokoknya. Sesekali menyesap, lalu beralih meraih canteng kopi pahit itu dan menyeruputnya sehingga mengeluarkan bunyi khas. Eros tampak menikmati kegiatan santainya setelah bekerja di kebun seharian. Cukup merokok sambil minum kopi di tengah malam seperti ini yang mampu menghilangkan rasa penatnya.
Pandangan pria itu menerawang lurus ke depan. Entah apa yang sedang dia pikirkan atau yang sedang membebani pikirannya. Banyak sekali permasalahan yang menimpa keluarganya beberapa tahun belakangan ini. Kehidupan ekonomi mereka merosot turun. Padahal sebentar lagi putra bungsu mereka akan masuk ke jenjang menengah atas yang tentu biaya sekolahnya tidak main-main. Ditambah hubungan komunikasinya dengan kedua putranya kian menipis hingga hilang interaksi. Mungkin dua hal itu yang menganggu pikirannya.
“Jangan terlalu kekang anak-anak, Pak. Kasihan Joy. Berikan dia sedikit kelonggaran, beri dia waktu untuk menentukan masa depannya sendiri,” ujar Santi, sangat hati-hati dalam memberi saran karena tak ingin menyinggung perasaan sang suami.
Eros menoleh penuh protes. Rokok yang hendak diesapnya menggantung di depan bibir. Sekilas, karena cepat-cepat mengalihkan pandangannya kembali. “Tidak perlu mengajariku, Santi. Aku tahu mana yang terbaik untuk anak kita,” sahut Eros tak ingin dibantah.
Santi menunduk. “Aku cuma mengingatkan, Pak,” tukasnya lirih.
“Duluan, Pak.” Lepas berkata demikian, Santi beranjak dari kursi dan masuk ke kamar setelah menaruh nampan ke dapur, ke tempat semula. Menyisakan Eros yang masih merokok bersama kesunyian mencekam.
__ADS_1
Seketika Eros teringat akan putra sulungnya. Biasanya anak itu akan menemani Eros merokok sambil minum kopi. Jika mereka tidak bermain kartu, maka Ari akan bermain game sepanjang malam hingga telat bangun esok paginya. Entah bagaimana kabar anak itu di kampung orang? Semenjak kepergiannya, mungkin baru sekali dua kali Ari menelpon. Sepertinya, Eros yang akan menghubunginya lebih dulu kapan-kapan.
****