
Katanya, bahagia itu sederhana.
Entah siapa yang pertama kali mengucapkan ungkapan itu. Intinya, Joy sependapat dengannya.
Meski harus melanjutkan pendidikan di SMK---bukan SMA yang merupakan salah satu impiannya. Meski harus merelakan jurusan Bahasa Indonesia yang didamba-dambakannya. Yang penting, Joy masih diberi kebebasan untuk mengekspresikan skill-nya di platform kepenulisan.
‘Ceritanya keren. Alur ceritanya juga susah ditebak. Selain itu, ada banyak pelajaran yang dapat kita petik di dalamnya. Aku suka.’
Hanya karena satu komentar dari akun ber-username @Vanila di salah satu karyanya, Joy sampai jingkrat-jingkrat di kasur kecil tempat ia tidur. Tidak ada yang dapat mengalahkan kebahagian Joy di malam itu.
Awalnya iseng-iseng membuka aplikasi orange---tempat Joy biasa menulis cerita---untuk mengecek akunnya yang mungkin sudah lebih dua bulan terbengkalai. Joy menatap sendu dua cerita yang sudah dipublikasikannya itu dengan salah satu cerita ber-label tamat, tetapi readers-nya tak kunjung mencapai angka seribu. Padahal cerita itu sudah diselesaikannya sejak setahun yang lalu. Miris sekali.
Namun, saat hendak melanjutkan tulisannya untuk part berikutnya. Sebuah notifikasi berhasil menarik perhatian Joy. Sebuah komentar di ceritanya yang sudah tamat. Dalam sekejap mata mampu mengubah suasana hati Joy jauh lebih baik dari sebelumnya.
Malam kian larut. Namun, mata tak bisa diajak kompromi. Di luar hanya suara jangkrik dan kodok terdengar saling menyahut. Bumi tanpa cahaya rembulan malam itu. Langit gelap. Baru saja langit usai menumpahkan isinya yang entah sudah berapa lama tertampung. Guntur dan rinai hujan perlahan reda---nyaris terdengar. Menyisakan tampias hujan yang berkabut di jendela kaca.
Tingkah aneh Joy, tentu mengundang pertanyaan dalam benak Ari. Guratan bingung jelas terpampang di wajah pemuda itu ketika melayangkan tatapan ke samping tempatnya tidur. Game online di ponselnya---kini tidak lagi menarik---dianggurkan. Padahal, sebentar lagi win.
“Joy, ada apa?” tanya Ari kemudian.
Seketika Joy diam seolah barusan dia tidak melakukan apa-apa. Sial, kenapa Joy baru sadar kalau di ruangan ini bukan hanya dia saja! Rutuk Joy habis-habisan dalam hati.
Remaja itu menundukkan kepala, menyembunyikan wajah yang kini sudah se-merah tomat. Lalu, mengubah posisi tidurnya menyamping---membelakangi sang kakak.
Lagi, tingkah Joy membuat Ari gagal paham. Pemuda itu hanya geleng-geleng kepala lalu diikuti gelak tawa renyah.
“Joy, Joy... kamu ini ada-ada saja,” tutur Ari.
Tidak ada sahutan dari Joy. Tak berselang lama hening kembali tercipta di antara mereka. Masing-masing sibuk dengan kegiatan masing-masing. Joy yang sedang semangat-semangatnya menulis cerita untuk update-an besok pagi, sementara Ari kembali terlena dalam game online-nya.
***
__ADS_1
Pagi-pagi sekali, Mamak dan Bapak di kampung sudah menelpon. Tentu tidak menganggu tidur pagi Ari dan Joy karena dua laki-laki itu selalu bangun lebih awal. Di pagi hari biasanya mereka berbagi tugas. Contoh kecilnya, ketika Joy sedang memasak maka Ari akan membantu dengan mencuci piring.
Topik pembicaraan tak jauh-jauh dari ‘bagaimana keadaan Joy dan Ari di kampung orang?’ dan pertanyaan sejenis lainnya.
Suara cempreng milik Santi di seberang sudah rusuh di pagi buta. Urung membuat Joy dan Ari ilfeel. Mereka malah senang sekaligus lega karena orang tuanya masih peduli.
Lengkap dengan seragam putih abu dan tas hitam di punggung, kini Joy sudah siap berangkat sekolah. Hari ini adalah hari pertamanya resmi sebagai murid SMK Bina Mulia setelah mengikuti kegiatan MOS selama tiga hari berturut-turut.
“Bang, Joy duluan.” Joy berpamitan pada Bang Ari yang masih asik teleponan dengan Mamak.
“Bentar, Mak,” kata Ari lalu menjauhkan handphone dari telinganya dan beralih menatap Joy. “Iya, hati-hati,” lanjut katanya pada Joy.
“Siap, Bang!” Joy mengangguk. Jempol kanannya teracung.
“Salam buat Mamak dan Bapak, ya,” titipnya lanjut. Hanya dibalas dengan gumam singkat oleh Ari.
***
Kelas X jurusan DPIB sedang ramai-ramainya. Jam pertama di hari pertama sebagai murid baru belum ada guru yang mengajar alias jam kosong. Jadilah kelas itu sekarang riuh akan kegaduhan yang diperbuat masing-masing murid.
Dan di barisan depan, ada murid-murid alim yang duduk tenang. Menunggu guru masuk dan berharap kegaduhan itu segera usai. Mereka hanya akan bersuara atau bergerak ketika merasa perlu dilakukan. Biasanya mereka adalah perkumpulan murid-murid cerdas dan berprestasi.
Joy ada di antara murid-murid barisan depan. Sedari tadi cowok itu hanya membuka dan mengunci layar handphone-nya. Lalu, mengetuk-ngetuk meja menggunakan jari-jarinya.
Gabut. Satu kata yang menjelaskan semuanya.
Joy bingung hendak melakukan apa. Hendak melanjutkan cerita di platform kepenulisan, tetapi mood-nya sedang tidak mendukung. Joy tahu dia sudah terlalu lama hiatus. Namun, untuk sekarang, rasanya bukan waktu yang tepat untuk kembali aktif di dunia kepenulisan. Ya, mungkin dia akan sesekali menulis jika sedang ingin dan di waktu santai saja.
“Oiii, tempat ini masih kosong, kan?” Sebuah celetukan dari samping menyadarkan Joy dari lamunan.
Remaja itu menoleh. Didapatinya seorang murid laki-laki dengan beberapa luka lebam di wajah. Yang paling parah, luka di sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah.
__ADS_1
Daripada meladeni pertanyaan murid itu, Joy lebih menelisik penampilannya begitu detail. Joy tebak cowok itu hablis berkelahi.
Sementara si murid cowok yang menunggu jawaban dari Joy. Namun tak kunjung mendapat respons, langsung mengambil tempat di bangku kosong itu. “Oke, gue duduk di sini,” ujarnya kemudian tak ingin dibantah.
Joy menautkan alisnya bingung. Meskipun bangku itu kosong dan Joy tak mempermasalahkan cowok itu untuk duduk di sana, tetapi rasanya aneh saat cowok itu sudah duduk di sana sebelum dipersilakan.
Cowok itu melepas tas ranselnya yang gepeng seperti tak ada alat tulis di dalam. Lalu, kembali bangkit dari tempat duduknya dan hendak beranjak pergi. Namun, langkah kakinya tercekat oleh suara Joy.
“Loh, mau ke mana? Bukannya baru datang. Kamu terlambat, ya?” serang Joy dengan pertanyaan.
Cowok itu menoleh tanpa ekspresi. Dia mengintimidasi Joy lewat tatapan. Sepanjang detik berlalu dan hanya keheningan yang menyapa, hingga akhirnya cowok itu membuka suara.
“Apa urusannya sama lo?” Satu alis cowok yang belum Joy tahu namanya itu terangkat saat melayangkan pertanyaan. Raut wajahnya masih sama. Datar.
Telak. Joy hanya bisa menundukkan kepala dengan mulut bungkam. Baiklah, mungkin seharusnya dia tidak menanyakan hal itu. Joy sadar pertanyaannya tadi sedikit lancang untuk ukuran di pertemuan pertama.
Hela napas kasar terdengar, lalu diikuti suara derap sepatu yang perlahan menjauh. Dan kembali hening.
Namun, hal itu tidaklah berlangsung lama. Sepintas Joy mendengar bisik-bisik di sekitar. Entah apa yang mereka obrolkan. Intinya, tak jauh-jauh dari cowok aneh bak jelangkung itu. Datang tak diundang, pulang tanpa pamit.
“Tadi, itu bukannya Arga, ya?”
“Arga? Siapa, sih?”
“Loh, kamu enggak tahu? Dia itu senior yang tinggal kelas. Harusnya tahun ini sudah kelas 11, sih. Katanya, dia anak nakal, suka tawuran, bolos juga. Pokoknya toxic gitu lah.”
“Ihhh, kok aku tiba-tiba jadi ngeri, ya. Satu kelas sama dia.”
Joy mengerutkan dahi. Samar-samar percakapan dua orang di bangku seberangnya masuk ke gendang telinganya. Entah kenapa, topik itu sedikit menarik perhatiannya untuk mengetahui lebih lanjut tentang Arga, cowok aneh itu.
Kata dua murid perempuan di sampingnya itu, Arga nakal. Arga toxic.
__ADS_1
Joy yakin ada sebab dan alasan di balik semua itu. Seperti pepatah, api tidak akan berkobar jika tidak terpercik bensin.
***