Joy : A Hope

Joy : A Hope
Bab 11 : Tentang Kedewasaan


__ADS_3

“Ohya, ke mana Mamak? Kenapa enggak ikut?”


Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari bibir Ari. Sedari tadi hendak diucapkan, tetapi ditahan-tahannya karena sutau hal, tidak ingin menyinggung perasaan Eros.


Agak aneh rasanya, mereka berkumpul di sini tanpa sosok Santi, wanita hebat yang paling sabar yang pernah Ari temui. Walau senang karena keluarganya berkunjung dari kampung, tetapi tanpa kehadiran sang ibu tentu saja masih terasa kurang lengkap. Berbeda rasanya.


Suasana ramai yang memenuhi ruang tamu yang juga merekap menjadi ruang makan seketika berubah hening. Kunyahan dalam mulut Joy terhenti. Remaja itu baru saja menyuapkan nasi dan tempe goreng ke dalam mulut.


Sementara Eros---yang sudah lebih dulu makan---sedang merokok di depan pintu menoleh ke arah Joy. Dua laki-laki itu saling beradu pandang.


Hal tersebut tidak berselang lama. Eros memalingkan pandangan dan lagi menyesap batang rokok yang sempat dianggurkan beberapa saat. Dia tampak tak peduli dengan pertanyaan yang dilontarkan si putra sulung, meskipun hanya sekedar menjawab.


Melihat reaksi bapak, Joy jadi linglung. Dia tidak tahu hendak menjelaskan seperti bagaimana.


“Mamak enggak bisa datang. Rumah enggak ada yang jaga katanya. Jadi dia cuma titip salam sama Bang Ari,” ujar Joy lalu mengulas senyum tipis. Senyum yang terlihat tampak dipaksakan.


Ari hanya ber-o-ria menanggapi penuturan sang adik. Lelaki itu menunduk lesu. Dalam diamnya, dia terkekeh miris tanpa diketahui oleh dua orang di sisinya. Titip salam? Bukan itu yang Ari inginkan. Dia hanya ingin memeluk sang ibu dan mengutarakan rasa rindunya pada wanita tersayang. Tetapi itu hanyalah angan semata. Karena pada kenyataannya, Santi masih sosok yang sama seperti dulu. Sosok yang di dalam hati dan pikirannya hanya ada Joy, Joy, dan Joy. Anak kesayangannya.


Setelah itu, benar-benar canggung. Joy hanya bisa menatap nanar sang abang. Joy tahu bagaimana perasaan kakak lelakinya itu. Dia pernah di posisi itu, ketika sikap Eros yang seperti menganaktirikannya dari Ari.


Joy tidak tahu bagaimana cara untuk menghibur Ari. Remaja itu hendak maju merangkul sang abang dan mengatakan padanya bahwa dia tidak boleh bersedih hanya karena hal tersebut. Mamak pasti sangat menyayangi mereka berdua. Wanita itu tidak mungkin membeda-bedakan anak-anaknya. Ya, walau harus Joy akui bahwa wanita itu terlihat dominan lebih peduli dan sayang padanya dibanding Ari.


Ari mengusap sudut matanya yang berair. Lelaki itu mendongak menampilkan raut cerah pada Joy yang ternyata kini sedang menatapnya. Menyadari kecanggungan yang tanpa sengaja baru saja dia perbuat, pemuda itu langsung mencairkan suasana. Segera mengalihkan topik pembicaraan.


“Ah, Joy. Makan yang banyak supaya kamu cepat besar. Lihat, badan kamu kurus sekali.” Sembari menyodorkan tempat nasi dan piring berisi lauk ke hadapan Joy, laki-laki itu bangkit berdiri. Dia pun baru saja menyusul Eros menyelesaikan aktivitas makannya.


Joy mendelik tak suka dikatai kurus. Meksi faktanya benarlah demikian. Selera makannya langsung hilang apalagi ketika melihat piring Ari yang masih tersisa makanan dan langsung ditinggalkan begitu saja. Sejenak, Joy terdiam.


“Si kurus ngatain si kurus!” cibir Joy pelan. Ari sudah berlalu ke kamar mandi multifungsi hendak cuci tangan, jadi pemuda itu tidak membalas cibirannya.


Remaja itu langsung membereskan piring-piring kotor dan membawanya ke tempat pencucian. Sementara nasi juga lauk yang tidak mereka habiskan, Joy simpan di sebuah meja di dapur. Ditutupnya dengan hati-hati oleh tudung yang terbuat dari plastik.


***


Malam kian larut. Udara dingin menyeruak menusuk pori-pori kulit. Suasana yang mencekam sesekali dibuat ramai oleh bisingnya kendaraan yang lewat atau sekadar lolongan anjing malam.


Namun, semua itu tak menyurutkan semangat dua laki-laki yang terus berbagi cerita tanpa kenal waktu. Beralaskan karpet seadanya---setidaknya sudah menghalau badan dari dinginnya ubin.

__ADS_1


“Jadi, ceritanya besok sudah jadi siswa SMK, nih!” usil Bang Ari, melirik jenaka remaja yang berbaring tepat di sampingnya.


Sementara Eros yang tidur di sampingnya Joy sudah terlelap sejak tadi. Mungkin efek kecapekan untuk pertama kalinya lagi melakukan perjalanan jauh apalagi di usianya yang sudah tidak sebugar dulu.


Joy melirik sekilas ke arah bapak, lalu balik menatap Ari sepenuhnya. Jadi, posisi Joy saat ini diapit oleh dua pelindung hebatnya, bapak dan abangnya.


Senyum tipis tersungging di bibir Joy. “Iya, dong,” jawabnya riang.


“Artinya, Joy sudah hampir dewasa,” lanjut Joy berkata optimis.


Ari menahan tawa mendengar kata terakhir adiknya. Dewasa, katanya?


Pemuda itu mengangkat satu alis ke atas. “Yakin?”


Dan bodohnya, Joy mengangguk dengan percaya diri. “Iya, memangnya kenapa? Bang Ari ragu?”


Lama Ari membisu, tidak langsung menanggapi pertanyaan sang adik. Lalu, menggelengkan kepala sembari mengulas senyum tipis.


Jika boleh jujur, Ari sangat suka dengan kepercayaan diri sang adik. Tetapi satu hal yang harus dia peringatkan. Jangan sampai terlalu percaya diri sampai lupa bagaimana caranya untuk turun. Terlalu berbahaya jika tiba-tiba penyangganya roboh dan jatuh merosot ke jurang yang paling dalam.


“Iya, Abang percaya sama Joy. Tetapi, Joy harus tahu. Dewasa enggak semudah dengan apa yang Joy pikirkan barusan. Dewasa bukan ditentukan dari umur Joy. Kamu sudah masuk SMK, sudah berusia 16 tahun, tidak harus berarti kamu sudah dewasa.” Ari memberi penjelasan panjang lebar, seakan ingin membuka lebar-lebar pemikiran Joy yang ternyata masih begitu sempit tentang kedewasaan. Ada baiknya Ari mengajari tentang bagaimana seseorang yang sudah layak disebut dewasa kepada adik satu-satunya itu sejak dini.


“Kata guru biologi Joy, seseorang dikatakan dewasa jika sudah melalui tahapan pertumbuhan dari bayi hingga remaja. Batas usia anak remaja 17 tahun, kan, Bang?”


Lagi, Ari terkekeh mendengar celoteh sang adik yang jelas-jelas sangat ingin menentang pandangannya tentang kedewasaan.


Pemuda itu manggut-manggut. Tatapannya lurus tertuju pada langit-langit ruangan.


“Iya, guru Joy enggak salah. Apa yang dikatakannya memang benar. Dan itu, defenisi dewasa secara fisik.” Ari melirik ke arah Joy lepas mengatakan itu. Senyum tipis tersungging di bibirnya, menjelajahi setiap inci wajah sanga adik yang kini tampak semakin bingung.


“Dewasa secara fisik?” Joy menggumamkan tiga kata itu, dibalas anggukan oleh Ari.


Pemuda itu menghela napas. Rasanya sedikit lelah mendefinisikan tentang kedewasaan pada Joy. Tetapi, itu tidak masalah bagi Ari.


“Dewasa fisik, belum tentu dewasa dalam hal psikis, bukan?” Satu alis Ari kembali terangkat, mencoba meminta pendapat dari Joy.


Raut wajah Joy seketika berubah. Kerutan bingung di dahi pun lenyap. Lelaki itu termenung sejenak. Kata-kata Ari berhasil membuat pikirannya sedikit terbuka.

__ADS_1


“Iya, sih. Usia tidak menentukan kedewasaan seseorang, tetapi tentang bagaimana mereka menyikapi suatu masalah.”


“Banyak orang tua yang menuntut anaknya dewasa. Mereka tidak sadar bahwa cara mereka memperlakukan sang anak tidak mencerminkan kedewasaan.”


“Juga banyak anak-anak di luar sana yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Mereka harus berhenti sekolah dan jadi pengemis jalanan agar kebutuhan ekonomi mereka terpenuhi.”


“Nah, itu tau!” Ari menimpali.


Remaja lelaki itu kembali menghadap ke arah Ari. Wajahnya berubah ceria seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.


“Bang Ari keren!” Joy memuji dengan raut kagumnya.


“Bang Ari gitu, loh.” Dipuji seperti itu membuat Ari besar kepala. Bahkan pemuda itu sudah menepuk-nepuk dada dengan bangganya.


“Tak kirain Bang Ari bodoh, ternyata pinter juga,” sambung Joy asal ceplos.


Hal yang membuat Ari seketika menoleh dengan raut wajah protes.


“Sialan!” umpatnya hanya dibalas dengan kekehan ringan oleh Joy.


Sudah dibuat melayang sampai ke langit ke tujuh, lalu dihempaskan lagi ke tanah kering yang tandus tanpa kira-kira. Sakit sekali rasanya!


“Ohya, cewek yang di samping kos abang. Bang Ari tahu namanya?” Joy kembali bertanya setelah jeda beberapa saat lamanya dan hanya keheningan yang mengisi keduanya.


Ari yang sudah memejamkan mata sedari tadi, namun belum tidur sepenuhnya balik bertanya. “Kenapa? Kamu naksir sama dia?”


Joy langsung gelagapan. Remaja itu tidak tahu hendak menjawab apa. “Eng-enggak. Kata siapa?!” ujarnya sewot, nada bicaranya terdengar terbata-bata.


Dalam diam, Ari menahan senyum. “Rani. Namanya Rani. Dia orangnya ramah,” katanya kemudian.


Joy hanya manggut-manggut seolah tak peduli dengan hal tersebut. Padahal berbanding terbalik dengan hatinya yang kini berbunga-bunga hanya dengan mengetahui nama gadis cantik itu saja.


“Sudah, tidur.”


Gumam seseorang yang tidur di samping Joy menginterupsi obrolan dua laki-laki itu yang mulai merambat kemana-mana. Matanya terpejam. Joy tidak tahu sejak kapan pria itu mendengarkan obrolan mereka. Apa sedari tadi diam-diam Eros menguping pembicaraannya?


“Joy, besok hari pertama kamu sekolah. Awas terlambat!” peringat Eros lagi dengan nada suara rendah.

__ADS_1


“I-iya, Pak.” Joy meringis. Mencoba memejamkan mata meski rasanya sulit sekali.


***


__ADS_2