
“Menutup kegiatan MOS kita pada hari ini, saya meminta pada setiap perwakilan jurusan minimal dua orang untuk menampilkan bakatnya.”
Karena kata-kata itulah Joy berakhir di atas panggung saat ini. Berdiri kaku, bingung hendak melakukan apa karena gerogi. Ingin sekali Joy menyalahkan teman-temannya yang memilih dan mendaftarkan Joy ke panitia sebagai salah satu perwakilan dari jurusan mereka.
Remaja itu hendak membuka suara dengan bantuan mic tepat di depan bibir, tetapi hanya suara gagap terbata-bata yang terdengar. Sorakan caci maki langsung terdengar riuh memenuhi lingkungan sekolah yang luas itu. Semuanya menertawakan Joy.
Sedangkan Joy hanya bisa menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajah merah padamnya. Tangan terkepal kuat di sisi celana abu-abu. Bukan karena marah, tetapi semata-mata untuk menguatkan diri agar tetap berdiri kokoh di tempatnya. Tidak lari dari atas panggung seperti di adegan-adegan film atau sinetron yang sering dia tonton.
Malu sekali rasanya ditertawakan di depan umum seperti ini.
Seorang gadis yang duduk di sebuah stand---tempat panitia berkumpul---beranjak dari tempat duduknya membuat beberapa temannya bertanya-tanya.
“Eh, Ran! Lo mau kemana?” Seorang murid meneriakinya. Remaja laki-laki itu baru saja kembali dari kantin dengan dua botol minuman. Minuman yang satu hendak dia berikan pada gadis yang kini berlari ke tengah lapangan dan berakhir di atas panggung.
Gadis dengan rambut yang dikuncir satu itu mengambil mic di depan Joy membuat beberapa murid yang memperhatikannya jadi bertanya-tanya apa yang hendak dia lakukan. Sementara beberapa murid lainnya masih sibuk menertawakan Joy.
Begitu mic itu didekatkan ke bibir, suara bising dari sound sistem terdengar. Berikutnya suara Rani yang terdengar.
“Diam!” Satu kata. Namun mampu mengheningkan suasana.
Raut dingin yang teraduk bersama amarah menatap ratusan bahkan mungkin ribuan murid di depannya itu. Rani paling tidak suka jika melihat aksi perundungan secara langsung seperti ini.
Di barisan depan tiga orang laki-laki yang masih cekikikan menertawakan Joy berhasil menarik perhatian Rani.
“Eh, kalian bertiga! Sudah merasa lebih baik kamu dari dia?” kata Rani sembari menunjuk laki-laki di sampingnya.
Tiga laki-laki tadi seketika menutup rapat bibirnya. Suasana benar-benar hening. Tak ada lagi yang berani membantah ucapan senior mereka.
“Temannya belum bicara sudah ditertawakan.” Rani menggerutu sebal.
“Siapa saja tadi yang menertawakan Joy. Coba sini tampilkan bakatnya! Berani, enggak?” tantang Rani.
Dan ketika ucapannya barusan tak mendapat respons apapun, Rani menyunggingkan bibir ke bawah. Setelah jeda beberapa saat dan hanya keheningan yang melingkupi, Rani mengalihkan atensinya pada Joy.
__ADS_1
Mic itu berpindah tangan ke Joy kembali. Usapan lembut yang Joy dapat di bahu refleks membuatnya terkejut sekaligus perlahan tenang di waktu yang bersamaan.
“Rileks aja. Enggak usah pedulikan mereka. Anggap kamu sedang sendiri, oke?” tutur Rani.
Joy mengangguk. Dengan senyum tipis dia membalas, “Makasih, Kak.”
Hanya dibalas anggukan oleh Rani. Kemudian gadis itu berjalan turun dari panggung. Sekali dia menoleh ke belakang dan mengumamkan kata semangat pada Joy.
Senyum tipis itu kian melebar. Seakan mendapat dorongan, tanpa rasa gugup lagi Joy membacakan puisi yang pernah dia tulis beberapa tahun lalu.
Dari sekian banyaknya pasang mata yang menyaksikan Joy dengan tatapan memuja, Joy hanya terpaku pada satu tatapan seorang gadis di teras koridor. Rani sedang menatapnya begitu lekat, dengan senyum malu-malu terpatri di bibir begitu menyadari Joy membalas tatapannya. Setiap kata yang terangkai dari bibir Joy membentuk seutas frasa indah membuat pipi bersemu merah.
Keduanya tak menyadari sebuah tatapan tajam dari seseorang tak jauh dari tempat Rani berada. Rahang mengeras kokoh dan tangan terkepal kuat. Dia memandangi Joy begitu saksama---bak memantau mangsa yang harus diterkam---dengan sirat benci terpancar di bola matanya.
Rani miliknya. Selamanya tetap miliknya. Dia tidak akan pernah membiarkan seorang pun untuk memiliki gadis gemulai itu selain dirinya! Tegasnya dalam batin.
Tidak terasa, tahu-tahu Joy sudah berjalan turun dari atas panggung diiringi tepuk tangan dari murid-murid---yang tadinya menertawakan Joy---begitu usai membacakan karyanya berbentuk puisi.
Joy kembali ke barisan jurusannya berkumpul. Disambut dengan meriah karena berhasil mewakili jurusan mereka lebih dari kata baik.
Bersamaan dengan itu, kegiatan kembali diambil alih oleh panitia pelaksa. Kegiatan MOS selama tiga hari diakhiri oleh kata-kata sambutan dari kepala sekolah.
***
Teriknya matahari siang itu seolah ingin membakar hidup-hidup semua makhluk di bumi. Lapisan ozon yang perlahan menipis akibat ulah manusia sendiri rasa-rasanya sudah tidak berfungsi lagi.
Di sebuah halte depan sekolah berdiri seorang murid laki-laki berseragam putih abu sedang menunggu jemputan umum yang biasanya lewat tepat waktu. Namun, entah karena ada hambatan apa di hari itu sehingga angkot telat setengah jam.
Matanya menyipit, teriknya matahari menyilaukan. Kucuran keringat mengalir deras dari pelipis turun hingga ke wajah. Sesekali diusapnya pakai punggung tangan. Desah dan napas gusah mengalun sendu dari bibir. Bukan hanya itu, jakun naik turun akibat kerongkongan kering.
“Angkotnya lama amat, dah,” gerutunya untuk ke sekian kali. Lagi, diusapnya peluh yang sudah merembes ke wajah.
“Joy!”
__ADS_1
Hingga seruan dari samping mengalihkan perhatian remaja laki-laki itu.
Joy mengulum senyum. “Hai, Kak.”
Gadis dengan seragam yang sama dengan Joy itu mengerutkan dahi seolah bertanya mengapa Joy masih di halte. “Saya kira kamu sudah pulang Joy,” katanya.
Joy menyengir memperlihatkan deretan giginya yang cukup rapi. “Belum, Kak. Angkotnya belum lewat juga,” ujar Joy menjelaskan.
Hanya dibalas dengan anggukan tanda mengerti oleh Rani. Kemudian gadis itu berjalan ke sisi halte dan mengambil tempat di bangku yang telah disediakan. Melihat Joy mondar-mandir gelisah, Rani memanggil dan mengajaknya duduk. Joy berbalik bersama senyumnya kemudian berjalan menghampiri Rani.
Keduanya pun duduk di bangku dengan suasana hening. Rani dengan pandangan lurus ke depan, sementara Joy sesekali mencuri pandang pada gadis cantik di sebelahnya. Tiada henti Joy terpikat pada paras kakak seniornya itu.
“Makasih, Kak,” celetuk Joy tiba-tiba tanpa sadar.
Rani yang mendengar seketika menoleh dan menaikkan satu alisnya. Kepalanya sedikit meneleng. “Makasih? Buat apa?” tanya Rani.
Lamunan Joy buyar. Remaja itu langsung memalingkan wajahnya dengan kepala menggeleng beberapa kali. Dalam hati tiada henti merutuk diri.
Saat dia melirik Rani sekilas lewat ekor matanya dan gadis itu masih memandanginya menuntut penjelasan. Lagi, Joy dibuat kikuk. Sembari menggaruk tengkuk yang tak gatal, dia berkata, “I-itu, Kak. Makasih buat yang tadi. Udah bantuin aku pas diketawain anak-anak.”
Rani yang tampak kurang percaya dengan penjelasan Joy memicingkan mata, Joy terintimidasi. Sebelum pada akhirnya Rani manggut-manggut sambil menggumamkan huruf o.
“Santai aja kali,” cengirnya di akhir.
“Btw, kamu keren banget tadi baca puisinya. Saya enggak nyangka loh ternyata tetangga kost saya jago baca plus cipta puisi,” sambung Rani dengan pandangan kagum.
“Makasih, Kak.” Joy mengulum senyum. Kepalanya menunduk untuk menyembunyikan raut wajahnya yang kini seperti udang rebus.
“You're wellcome.”
Percakapan keduanya berakhir bersamaan dengan datangnya angkot yang sudah ditunggu-tunggu sedari tadi. Joy melirik Rani, kemudian keduanya beranjak menghampiri angkot di pinggir jalan tersebut.
***
__ADS_1