
Hari telah berganti malam. Bundaran jingga di ufuk barat telah tenggelam sepenuhnya berganti remang-remang cahaya rembulan mengambil alih di langit gelap. Suara jangkrik dan kodok saling bersahutan menutup kisah cerita di sore itu.
Di depan sebuah kamar rumah kost mondar-mandir gelisah seorang remaja lelaki. Ibu jari kiri digigitnya dengan pandangan menatap lurus ke depan. Berharap sosok yang sedang ditunggu kedatangannya muncul di balik pintu gerbang.
Jam tujuh lewat tiga belas menit. Makan malam sudah Joy siapkan. Sejam yang lalu menunggu kedatangan Bang Ari, tetapi tak kunjung menampakkan batang hidung. Ke mana abangnya itu? Tidak biasanya pulang telat seperti ini. Apa mungkin Bang Ari lembur lagi?
Joy mendesah kecewa dan mengusap perut ratanya tanpa bentukan otot seperti beberapa teman sebayanya. “Padahal aku udah lapar,” keluhnya dengan nada panjang.
“Joy.” Seseorang memanggil namanya. Tanpa menoleh pun Joy sudah tahu siapa di balik suara itu.
Sebuah paper bag terjulur ke arahnya. Joy menatap lurus benda berwarna merah muda itu. “Kenapa?” tanya Joy cuek.
Meski wajah Joy sedang tidak bersahabat, tetapi gadis itu tetap mengukir senyum sebisa mungkin. “Ambil,” ujar Rani ramah.
Joy menjulurkan telapak tangannya, menolak mentah-mentah pemberian Rani. “Enggak usah. Makasih,” katanya tanpa perasaan.
Senyum di bibir Rani seketika luntur. Pelupuk makanya mulai berair. Dia menatap Joy dengan pandangan kecewa. “Semarah itu kamu sama aku, Joy?” cicitnya pelan nyaris terdengar.
Joy diam tidak merespons monolog gadis itu. Dia memalingkan pandangan agar tidak luluh oleh sorot mata Rani yang sudah berkaca-kaca.
Rani menggeleng-gelengkan kepalanya dan menundukkan wajah. “Bahkan, aku enggak tahu salahku di mana,” lanjutnya bergumam.
Isak tangis pelan terdengar dari gadis itu. Mata sembabnya dia angkat dan perlihatkan pada Joy. “Kenapa jadi asing begini, Joy?”
Meski demikian, hati Joy yang sekeras batu sama sekali tidak peduli. Dia memilih beranjak dari sana, tetapi tangannya dicekal oleh Rani.
Kembali Joy menatapnya dengan pandangan bertanya. Cepat-cepat Rani menyeka sisa-sisa air mata di pipinya dan menyerahkan paper bag itu lagi.
“Kalo kamu enggak mau, buat Bang Ari aja. Aku sengaja masak banyak buat kalian.” Senyum itu terbit kembali meski kali ini tampak dipaksakan.
Rani berlalu ke kamarnya setelah paper bag itu berpindah tempat ke tangan Joy.
Joy masih terperangah di tempat memandangi kepergian Rani. Entah kenapa perasaannya jadi tak enak bersikap cuek seperti itu pada Rani. Memang salahnya Rani di mana?
Rani tidak salah apa-apa. Ini hanya tentang Joy dan rasa cemburunya. Rani dan perasaannya itu urusan dia. Joy tidak bisa memaksa Rani untuk menyukainya. Lagi pula, Rani juga belum tahu perasaan Joy yang sesungguhnya padanya, bukan?
__ADS_1
Apa perasaan Joy yang salah? Apa seharusnya dari awal rasa itu hanya sebatas rasa kagum saja, tidak lebih?
Joy menundukkan kepala. Pandangannya jatuh pada paper bag dalam genggaman tangannya. “Maaf ... dan makasih.”
***
Joy sedang menata makanan dan peralatan makan di ruang tamu. Ari yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya menghampiri Joy. Tak lama setelah Joy berlalu masuk ke dalam rumah, Ari baru pulang.
“Masak apa Joy?” tanya Ari mengambil tempat di samping Joy.
Joy melirik Ari sekilas memperlihatkan seutas senyum. “Sayur kangkung sama tempe goreng tepung, Bang,” jawabnya.
Bola mata Ari berbinar. Meneguk ludah tak sabar ingin melahap makanan di depannya. Makanan sederhana, tetapi itu justru makanan favoritnya.
Paper bag itu Joy buka. Isinya ikut ditata di atas sajian makanan lainnya. Sedikit menarik perhatian Ari yang lahap-lahapnya makan.
Dahi pemuda itu berkerut samar. “Itu apa?” tanya Ari dengan mulut kembung penuh makanan.
“Opor ayam,” jawab Joy singkat. Remaja itu menyendokkan nasi dan beberapa potong tempe ke piringnya, melewatkan opor ayam pemberian Rani.
Tidak dengan Ari yang langsung sigap menyendok satu potongan ayam itu ke piringnya. Ari mencicipinya. Pemuda itu bergumam menikmati sesuap opor ayam yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
Hening beberapa saat dan hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar.
“Dikasih Rani tadi,” jawab Joy kemudian memecah keheningan itu.
Ari mangut-mangut dan mengambil satu potong bagian opor ayam itu lagi. “Enak,” pujinya.
“Kamu enggak makan?” Ari menatap Joy bingung begitu sadar akan sesuatu.
Joy bergumam kecil dan mengulas senyum menanggapinya. Sebenarnya Joy ingin mencicipinya juga, tetapi terlanjur dia sudah menolak pemberian itu tadi dari Rani sendiri. Apa kata Rani nanti jika tahu Joy ternyata memakan pemberiannya? Apa nanti Joy akan dicap munafik?
Sekarang, Joy hanya bisa meneguk ludah sendiri. Menggeleng pelan kemudian menjawab, “Bang Ari aja yang habisin. Aku lagi enggak nafsu makan opor ayam.”
Ya, itu hanya sebuah alasan agar kebohongan Joy tidak terlihat di mata Ari.
__ADS_1
Raut wajah Bang Ari menjadi ceria mendengar itu. “Oke, deal!” sahutnya semangat.
Di balik tembok pembatas kamar, tepatnya di kamar sebelah. Diam-diam Rani mencuri dengar pembicaraan Joy dan abangnya.
Senyum yang sempat terukir di wajah gadis itu saat Bang Ari memuji makanan hasil buatan tangannya sendiri seketika luntur saat Joy tidak mau barang sedikit pun mencicipinya. Sesak di dada Rani terasa mengimpit dada. Rani tersenyum kecewa. Usahanya untuk memperbaiki hubungan dengan Joy ternyata sia-sia. Padahal susah payah Rani membuat opor ayam itu berbekal resep dari internet.
Tentang perasaannya pada Joy. Rani tidak tahu perasaan seperti apa yang sedang dia rasakan. Bukan karena menaruh perasaan pada tetangga kost-nya itu. Rani menganggap Joy tidak lebih dari teman dan adik kelas. Tetapi, kenapa harus sesesak ini?
***
Malam kian larut. Cuaca langit sedang bagus. Warna biru pekatnya hanya terlihat remang-remang dikalahkan oleh gelap gulita yang menyelimuti angkasa raya. Hanya berbekal cahaya bintang-bintang kecil yang mengitari rembulan.
Kurang lima menit pukul dua belas malam. Joy yang sejak tadi bergerak gelisah di atas kasur tempat tidurnya mengerjapkan mata dan bangun. Remaja itu menggaruk pelipisnya kemudian berlalu ke dapur.
Joy membuatkan kopi Bang Ari dan akan mengantarkannya ke teras depan nanti. Bang Ari belum tidur dan sedang bermain game online. Sebuah kebiasaan Bang Ari kalau tidak bisa tidur.
Mungkin Bang Ari mengira Joy sudah tertidur lelap. Padahal empat jam terakhir Joy tidak benar-benar tertidur. Matanya susah sekali terpejam. Seperti ada banyak adegan mimpi atau sekadar khayalan yang berkelabat di kepalanya. Sepertinya Joy harus menyalurkan dulu semua ide-ide cerita dalam kepalanya agar bisa tidur nyenyak. Sudah lama Joy tidak menulis dan mempublikasi bab baru ceritanya di platform online itu.
Bola mata Joy berbinar. Ini waktu yang tepat. Banyak yang bilang kalau jam-jam kelelawar berkeliaran mencari mangsa seperti ini, akan banyak ide-ide yang muncul. Sepertinya Joy harus mencoba.
“Bang, ini kopinya.” Joy meletakkan secangkir kopi itu di atas meja, mengganti gelas yang sudah kosong dan hanya tersisa ampasnya saja.
Perhatian Ari beralih. Dia menatap adiknya dengan alis bertekuk samar. “Begadang lagi kamu? Kirain udah tidur dari tadi,” katanya melayangkan pertanyaan begitu selesai mengembuskan asap dari rokok yang baru saja diisapnya.
“Susah tidur, Bang.” Joy mengambil tempat di samping Bang Ari. Dia mengerutkan kening tak suka sembari mengibas-ibaskan tangan di udara saat asap rokok Bang Ari melewati wajahnya.
“Susah gimana? Banyak pikiran kamu, ya?” Tebakan Bang Ari benar.
Joy mengangguk tak minat. Remaja itu menggusah napas panjang. Lalu merogoh kantung celananya dan mengambil benda pipih dari sana. Saat sedang asyik berselancar di media sosial, suara Bang Ari menginterupsinya.
“Kalau mau main hp di dalam kamar aja. Jangan di sini. Dingin,” tegur Ari.
Pemuda itu mengusap lengan dan mengeluarkan desis kecil saat udara malam menyapa kulit putih telanjangnya. Kembali dia mengisap rokoknya, lalu membuang puntungnya yang berwarna merah menyala.
Melirik Joy sekilas sembari berkata, “Aku lagi merokok juga. Enggak bagus buat kesehatan kamu kalau asapnya kamu hirup.”
__ADS_1
Joy mendengus sebelum beranjak dari tempat duduknya. Peduli pada kesehatan orang lain, tetapi pada diri sendiri tidak. Itulah Bang Ari. Terkadang Joy heran dengan sikap abangnya itu.
***