Joy : A Hope

Joy : A Hope
Bab 24 : Akibat Begadang


__ADS_3

“Joy, bangun! Kamu enggak sekolah?”


Suara Bang Ari sungguh mengusik tidur nyenyak Joy di pagi itu. Sudah beberapa kali pemuda itu mencoba membangunkan Joy yang masih tepar bergelung dengan selimut tebalnya. Bahkan ketika Ari sudah siap berangkat kerja, mata Joy masih terpejam damai. Dengkur halus masih terdengar.


Ari geleng-geleng kepala. Dia menghela napas, kemudian mengambil satu timba air dan mencipratkannya ke wajah Joy. “Woi, bangun! Hampir jam tujuh ini. Kamu sudah telat ke sekolahnya!” seru Ari tak bisa bersikap santai lagi.


Terlonjak kaget, Joy bangun dengan linglung. Matanya yang sipit menatap Bang Ari bingung. “Ada apa? Kenapa?” Nada suaranya serak khas orang bangun tidur.


Di satu sisi gemas dengan tingkah adiknya itu, tetapi di sisi lain Ari tak bisa menahan kikik geli. “Ada kebakaran,” jahilnya.


“Kebakaran?! Di mana?” Bola mata merah itu terbelalak lebar. Joy langsung bangun dari tempat pembaringannya dan memasang kuda-kuda waspada.


Ari menahan kedut di sudut bibirnya. “Di kamar sebelah. Tapi apinya udah padam karena kamu sudah bangun.”


Joy mengacak rambutnya. Dia menatap sebal Ari. “Jahil banget, sih, Bang!” keluhnya menggerutu.


Ari menabok lengan Joy. “Jahil-jahil begini buat kamu juga kali! Tahu enggak sekarang udah jam berapa?” dengus Bang Ari membela diri.


Joy membuka layar ponselnya. Bola matanya langsung terbelalak lebar. “Udah hampir jam delapan!” pekiknya histeris.


Panik. Satu kata yang menggambarkan suasana hati Joy sekarang.


“Mati. Pasti kena hukuman nih.” Joy menepuk kening. Dia merutuki kebodohannya. “Aduh kenapa enggak bangunin aku, sih, Bang. Jadi telat, kan?!” gerutunya pada Bang Ari.


“Nah, kan. Salahin abang lagi. Siapa suruh begadang?” omel Ari.


“Sudah cepat beres-beres sana. Nanti Abang anter pinjam motor teman di bengkel.” Ari menghela napas dan mengalah saat Joy terus menyalahkannya.


“Cepat!” geram Ari membentak Joy.


Gerakannya sangat begitu lamban. Benar-benar sedang mengulur waktu yang singkat. Kalau lewat dari jam delapan pasti pintu pagar sekolah tidak akan terbuka lagi. Joy tidak masuk dan berakhir tanpa keterangan di buku absen. Satu poin minus untuk Joy.


Tiga kali absen berturut-turut dalam seminggu mendapat peringatan pertama. Enam kali absen tanpa keterangan dalam satu semester, orang tua mendapat surat panggilan dan peringatan kedua untuk siswa. Sepuluh kali absen dalam satu semester mendapat peringatan terakhir dan beasiswa dicabut bagi murid berprestasi.


Ari tidak ingin hal itu terjadi. Dia akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk adiknya. Apa pun itu.

__ADS_1


***


“Lari keliling lapangan sepuluh kali!” instruksi Bu Asri berkacak pinggang dari pinggir lapangan. Lewat kacamatanya menatap nyalang beberapa murid di depannya.


Sesuai tebakan Bang Ari. Bangun kesiangan, telat ke sekolah, dan berakhir mendapat hukuman. Itulah akibat begadang semalaman. Joy baru tidur saat ayam berkokok satu kali. Jam dua subuh tepatnya.


Sudah ketinggalan pelajaran di jam pertama1q 11dapat sanksi lagi. Mana cuaca sedang tidak bersahabat. Sedang ampun-ampunnya panas matahari. Untung saja Joy masih dibukakan pintu gerbang. Itu karena Bang Ari mengantarnya dengan motor teman kerjanya sambil kebut-kebutan di jalan.


Entah bagaimana nasibnya jika Bapak di kampung tahu dalam sebulan Joy sudah absen ke sekolah. Tidak bisa Joy bayangkan bagaimana muka marahnya Eros. Mungkin Joy akan disuruh pindah sekolah ke kampung.


Satu kali putaran lagi, Joy selesai melaksanakan hukumannya. Dalam hati Joy terus merutuki diri dan menganggap hari itu hari sial.


Kondisi wajah Joy sungguh mengenaskan. Wajah memerah dengan bulir-bulir keringat yang tampak sangat mengganggu. Seragam acak-acakan dan sedikit basah oleh keringat.


Joy beranjak untuk berteduh di teras koridor. Menyusul beberapa temannya yang sudah lebih dulu menyelesaikan hukuman. Joy duduk di samping Evan, teman sekelasnya sambil mengatur deru napas yang memburu. Beberapa Joy meneguk ludah saat melihat teman-temannya bisa minum dengan rakus. Ah, sial sekali Joy sampai tidak membawa air minum dari rumah. Padahal susah tahu hari ini adalah hari bersejarah untuknya.


“Tumben, terlambat Joy?” Evan melirik Joy bingung. Kalau dirinya tidak perlu diragukan lagi. Bahkan dia sudah menjadi bulan-bulanannya Bu Asri karena sering kali datang terlambat.


Lain halnya dengan Joy. Si anak berprestasi, kata Evan. Baru kali ini Evan mendapati laki-laki itu berada di barisan murid terlambat.


Joy ikut melirik Evan dan menyungging senyum tipis. Setidaknya hidup Joy tidak miris-miris amat. Ternyata masih ada yang mengenalnya juga di antara murid asing itu. Maklum saja Joy orangnya tertutup jika tidak diajak bicara lebih dulu makanya kenalannya minim.


Evan terkekeh geli. Sungguh sangat paham dengan posisi Joy. Bisa dibilang, Evan selalu berada di posisi itu setiap hari.


Saat melihat teman-temannya melintas di koridor, wajah Evan ceria kembali. Langsung beranjak menghampiri dan bergabung bersama mereka.


“Eh, gue duluan, ya, Joy!” pamit Evan menepuk pundak Joy.


Joy mengangguk singkat. Dalam diam, dia mengamati Evan bersama teman-temannya. Canda tawa dan senyum lebar itu. Andai Joy bisa humoris seperti Evan. Senyum simpul hadir di wajahnya. Joy iri.


“Joy, awas lain kali kamu terlambat. Kamu itu murid berprestasi, murid beasiswa juga. Hari ini Ibu maklumi. Tapi, kalau besok-besok masih diulangi jangan salahkan Ibu kalau beasiswa kamu dicabut!” Bu Asri datang dan memperingati Joy. Bola matanya sangat mewanti-wanti.


Joy menundukkan kepala, menyembunyikan wajah murungnya. “Iya, Bu.”


***

__ADS_1


Sepertinya sudah jam istirahat. Koridor dan lapangan, serta sudut-sudut sekolah yang lain hampir penuh oleh siswa-siswi. Joy melintas di koridor dengan tas hitam di punggung. Sedikit menarik perhatian. Tak sedikit melayangkan cemoohan pada Joy. Tidak Joy pedulikan. Dia terus melangkah dengan muka datar tanpa ekspresi.


Langkah Joy tiba-tiba terhenti. Aletta dan Arga sudah menunggunya di ujung koridor. Sedang bersedekap dada dan menatap lurus ke arahnya. Melihat Joy masih mematung di tempat, Aletta berdecak dan berinisiatif sendiri menghampirinya.


“Dari mana?” Aletta mencercanya dengan nada ketus. Alis dinaikturunkan meminta jawaban.


“Tumben terlambat. Mau cosplay jadi anak nakal lo?” Berbanding terbalik dengan Arga yang muncul di belakang Aletta dengan nada suara meledeknya.


“Mau ikuti jejak gue, ya? Ini baru teman gue!” Jika Aletta tampak kesal, tidak dengan Arga yang justru terlihat bahagia. Arga merangkul pundak Joy dan menepuk-nepuknya. Memang tidak waras, cibir Aletta dalam hati.


Joy yang risi melepaskan rangkulan Arga. “Saya ke kelas dulu,” pamitnya menghindar dari dua orang itu.


Aletta dan Arga saling melempar pandang bingung dan berkomunikasi lewat mata. Aletta mengangkat bahu tidak tahu saat tatapan Arga mengintimidasinya. Mereka memperhatikan Joy hingga punggung itu hilang di ambang pintu.


“Joy!” Seruan itu datang dari seorang gadis dari kelas lain berlari menghampiri Joy di ambang pintu.


“Apa? Aku lagi sibuk,” kata Joy pada Rani yang tahu-tahu sudah berdiri di depannya.


Senyum ceria gadis itu tampak kontras dengan raut murung Joy.


Rani menghiraukan nada cuek Joy dan menyerahkan sebotol minuman dingin pada Joy. “Buat kamu. Pasti haus, kan?”


Terperangah Joy di tempat. Hampir saja dia terlena lagi dalam manik cokelat itu menatapnya teduh. Apa Rani benar-benar perhatian padanya, atau mungkin semua ini hanya akalnya dia agar bisa memperbaiki hubungan mereka?


Joy mengambil alih botol minuman itu dan mengucapkan kata terima kasih. Tanpa menunda-nunda waktu, Joy langsung menenggaknya hingga tak bersisa. Sejak tadi kerongkongan Joy memang kering.


“Oke, aku ke kelas dulu, ya. Lain kali, jangan sampai terlambat. Itu teman aku udah panggil-panggil dari tadi.” Rani menunjuk laki-laki asing itu yang ternyata berdiri tidak jauh dari mereka.


Joy mengikuti arah telunjuk Rani. Seketika senyum kecil yang sempat terpatri di bibirnya pudar tanpa sisa. Lagi dan lagi, laki-laki asing itu lagi. Dari sorot matanya, Joy tahu laki-laki itu tidak suka dengan kedekatan mereka. Lihat saja iris matanya yang terus menatapnya sinis.


Joy melengoskan pandangan dan mengangguk. Joy mendengus kesal saat Rani benar-benar berlalu dari hadapannya.


Tak jauh dari samping Joy berdiri Aletta dan Arga tanpa ekspresi. Entah apa yang mereka pikirkan. Yang jelas, kobaran api cemburu membara dalam hati. Dada mereka bergemuruh hebat dan menciptakan sesak.


Aletta sejak tadi berkerut tak suka saat gadis asing itu menghampiri Joy dan bersikap sok kenal dengan sahabatnya itu. Makin geram Aletta saat gadis itu memberikan air minum pada Joy dan dengan sukarela menerimanya.

__ADS_1


Berbanding terbalik dengan Arga yang dalam pikirannya terus berputar pertanyaan yang sama. Joy dan Rani, ada hubungan apa mereka?


...****************...


__ADS_2