
Fajar belum menyingsing, tetapi Joy sudah lebih dulu bangun. Subuh-subuh sekali remaja itu sudah mandi dan mencuci piring yang kotor sisa mereka semalam. Bahkan sudah memasak untuk sarapan pagi mereka.
Sudah biasa bagi Joy bangun sepagi itu waktu di kampung. Santi memang berhasil mengajarinya bukan hanya tentang sikap dan tingkah laku saja, tetapi juga tentang seputar dapur dan semua yang mencakup di dalamnya. Katanya supaya Joy bisa mandiri ketika sudah berada jauh dari radiasi Santi.
Nasi goreng sederhana ala Joy adalah pilihan yang tepat dijadikan breakfast. Salah satu menu kesukaan Joy. Kini tersaji dan tertata rapi di atas meja.
Lanjut remaja yang sudah rapi dengan seragam sekolah itu merebus air. Nantinya akan dipakai untuk menyeduh teh, juga kopi untuk bapak. Saat air sudah mendidih dan Joy hendak menyeduh dua macam minuman itu, tangannya tidak sengaja menyenggol teh yang baru saja diseduh.
Gelas itu berlenggak-lenggok beberapa saat hingga kemudian jatuh di lantai. Menghasilkan bunyi yang nyaring.
Joy terperanjat. Untuk beberapa saat membeku di tempat dengan degup jantung yang menggila. Astaga, apa yang baru saja dia lakukan?
Tersadar, cowok itu langsung membungkuk dan membersihkan pecahan gelas yang terbagi menjadi beberapa bagian kecil dan besar. Beling-beling kecil yang tidak bisa dijangkau dengan menggunakan tangan, Joy sapu sampai benar-benar bersih. Takutnya beling kecil tak kasat mata itu melukai orang nantinya.
Suara gaduh yang diperbuat Joy berhasil membangunkan Ari dan Eros. Dua lelaki itu terbangun dengan bola mata merah. Keduanya saling melempar pandangan. Masing-masing kerutan terbit di kening.
“Apa yang terjadi?” Eros bertanya, dibalas dengan endikkan bahu oleh Ari.
Kemudian Ari beranjak dari tempat tidurnya. Sementara Eros masih mengumpulkan nyawa.
Ari melirik ke tempat tidur Joy. Sudah kosong. Adik laki-lakinya itu sudah bangun.
Sambil mengusap matanya beberapa kali, Ari melangkah ke sumber suara. Didapatinya Joy yang sudah membersihkan pecahan kaca yang diperbuatnya. Ari hanya melayangkan tatapan tanpa ekspresi saat bola mata mereka bertubrukan.
Remaja itu menatapnya cemas. Ada ketakutan yang tersirat di kedua bola mata itu. Hingga Ari menarik sudut bibirnya melengkung ke atas. Senyum yang berhasil membuat Joy mengembus napas lega.
Berjalan mendekat ke arah Joy, lanjut mengusap pelan rambut lelaki itu yang masih sedikit basah. “Udah. Enggak usah takut. Abang enggak marah,” katanya menenangkan.
Joy yang tadinya was-was perlahan mengukir senyum di bibir. “Makasih, Bang.”
Namun, senyum itu tak bertahan lama. Berganti raut wajah sendu dengan kepala tertekuk. Ari mengerut bingung sebelum mendengar ucapan dari bibir Joy.
“Maaf. Joy enggak sengaja pecahin gelasnya,” lanjut Joy berujar penuh sesal.
__ADS_1
Ari menghela napas panjang, mencoba untuk sabar. Padahal dia tidak marah. “Yaelah, Joy. Gelas kalo pecah bisa diganti kali,” rutuk Ari penuh geraman.
“Ada apa ini ribut-ribut?” Dua lelaki itu serempak menoleh. Kesunyian yang tercipta beberapa detik lenyap oleh kehadiran Eros di tengah-tengah mereka.
“Ini, Pak. Joy merasa bersalah karena enggak sengaja pecahin gelas padahal Ari enggak marah,” adu pemuda itu. Sesekali bergantian menatap Joy dan Eros saat berbicara.
Eros tidak menanggapi penjelasan yang diberikan oleh putra sulungnya. Namun, tatapannya kini beralih pada Joy di belakang Ari. Tidak ada ekspresi di wajah dan tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari bibir saat menatap remaja itu.
Kecanggungan melanda beberapa saat. Joy hanya bisa merunduk takut. Tak berani sekalipun mendongak jika hanya diperhadapkan dengan raut dingin Eros. Rasanya dua kali lipat Joy terintimidasi oleh tatapan itu dibanding tatapan Ari sebelumnya.
“Sarapan. Setelah itu, Bapak anterin ke sekolahnya,” tutur Eros kemudian. Lanjut berlalu dari ruang dapur begitu saja.
Joy hendak menghentikan dan memberi kopi yang baru saja diseduhnya itu. Namun, niatnya dicegat oleh Ari. Gelengan pelan yang diberikan oleh pemuda itu membuat Joy menurut dan mengurungkan niat.
Joy hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Apa dia baru saja melakukan kesalahan fatal sampai-sampai Eros begitu cuek padanya?
***
Lepas sarapan pagi---tepatnya hanya Joy yang sarapan, sementara Ari dan Eros hanya meminum kopi buatan Joy---mereka bertiga pergi secara serempak. Eros dan Joy dengan tujuan yang sama, yakni Eros hendak mengantar Joy ke sekolah barunya. Sementara Ari hendak melaksanakan rutinitasnya bekerja.
“Bapak anternya sampai sini saja. Masuk, entar telat!” kata Eros begitu mereka tiba di depan gerbang sekolah. Kepalanya melongok ke dalam lingkungan sekolah sejenak. Lalu beralih menatap Joy sembari bergumam, “Sekolahnya juga sudah ramai.”
Joy mengangguk singkat. Baru saja dia dibuat kagum oleh interior bangunan sekolah barunya yang sangat megah dan keren. Untuk pertama kalinya Joy akan bersekolah di sekolah dengan bangunan bertingkat dua. Bukan hanya itu, suasana lingkungan sekolah yang rindang penuh akan pepohonan menambah kesan sejuk.
“Joy duluan, Pak,” pamitnya setelah menyalami tangan Eros. Kemudian remaja itu berjalan masuk ke dalam lingkungan sekolah dengan senyum ceria terpancar di wajah.
Eros hanya merespons dengan gumam malas. Pria itu tidak langsung beranjak pergi begitu putranya berlalu meninggalkannya, melainkan menatap lamat punggung yang perlahan jauh lalu menghilang dari pandangannya.
Eros hendak memanggil Joy lagi. Dia hendak memberi kata-kata motivasi pada anak itu di hari pertamanya bersekolah. Namun, entah kenapa suaranya terkecat di tenggorokan seakan ada yang mencegahnya. Pada akhirnya Eros memilih bungkam. Diam merenung di tempat sebelum beranjak dari sana. Hanya embusan napas kasar yang terdengar.
Sesak Eros rasakan di dada. Eros merasa ada sekat kian tebal yang membentangi hubungan dia dan anaknya.
***
__ADS_1
Hari pertama dan kedua MOS berhasil Joy lewati tanpa gangguan apapun. Semuanya masih baik-baik saja. Datang lebih awal di sekolah, bertemu lalu berkenalan dengan teman-teman baru, melakukan kegiatan yang dikomandoi oleh kakak kelas mereka, hingga beberapa kali mendapat hukuman dari kakak senior karena melanggar aturan, dan setelah itu pulang. Begitulah siklus aktivitas Joy selama dua hari.
Namun, ada yang berbeda dengan hari ini. Hari ketiga atau hari terakhir MOS. Joy yang terlambat bangun karena begadang. Ari mengajaknya mabar hingga larut malam, dan pemuda itu juga yang menertawakannya melihat Joy terburu-buru dengan raut panik.
Dan di sinilah Joy berakhir. Berdiri di depan tiang bendera sembari hormat---sebagai hukuman karena telat dua puluh menit.
Teriknya matahari membuat remaja itu tiada henti berkomat-kamit merapalkan sumpah serapah yang ditujukan pada Ari. Karena laki-laki itulah, dia dihukum. Andai bapak tahu mungkin Joy sudah mendapat hukuman dua kali lipat. Untung saja Eros sudah pulang ke kampung kemarin sore. Katanya masih banyak pekerjaan yang sudah dia tinggalkan beberapa hari.
Bunyi bel istirahat sudah berdering beberapa menit lalu, tetapi hukuman Joy tak kunjung usai. Joy mencebik sebal, menatap iri teman-temannya yang sedang istirahat di teras koridor sambil minum air mineral dan makan jajanan baik yang mereka beli di kantin maupun yang dibawa dari rumah. Beberapa kali tanpa sadar Joy meneguk ludah. Kerongkongannya yang kering sudah meronta-ronta ingin dipuaskan.
Seolah peka dengan keadaan Joy, seorang senior mendatangi Joy dari samping dan menyodorkan sebotol air mineral.
“Buat kamu.”
Joy menoleh begitu mendengar suara bernada lembut. Fokus pertamanya adalah sebuah botol yang terjulur ke arahnya tepat di depan mata. Lalu beralih pada seorang gadis cantik yang sedikit lebih tinggi darinya.
“Kamu!” Sama terkejutnya dengan Joy, gadis itu pun membulatkan bola matanya.
“Jadi kamu sekolah di sini?” tanya gadis itu kemudian setelah sesi kaget.
Tersenyum canggung Joy merespons, “I-iya.”
Dibalas dengan senyum senyum semringah oleh gadis di depannya. Lalu sebuah tangan terjulur ke hadapan Joy, sementara botol air mineral tadi beralih ke tangan kiri.
“Rani. Senior kamu di sini,” ujarnya memperkenalkan diri disertai kekehan kecil di akhir.
Joy menatap tangan itu sebentar kemudian membalas dengan ikut mengulurkan tangan. “Joy,” katanya singkat masih dengan senyum canggung.
“Ohya, nih air minum. Aku perhatikan dari tadi kamu kayaknya haus.”
Botol air minum itu kembali terjulur ke hadapannya usai jabat tangan mereka. Dengan ragu Joy menerimanya.
“Makasih.”
__ADS_1
Benar bahwa dunia begitu sempit. Siapa sangka Rani, tetangga kost Bang Ari adalah kakak senior Joy di sekolah?
***