Jungkir Balik Dunia Jihan

Jungkir Balik Dunia Jihan
Part-09


__ADS_3

Suasana di kantin di jam istirahat padat merayap, Anta and the geng sudah duduk disalah satu meja di kantin, setelah insiden Jihan pingsan ke lima lelaki itu bubar dari lapangan upacara dan pindah tempat mangkal di kantin. Alasannya cuma satu, laper. Hehe


"Ta, loe udah sehat kan?" Tanya Fajar


Seperti biasa Anta hanya menaikan sebelah alisnya untuk menanggapi.


"Maksud si Fajar tuh loe beda hari ini apalagi tadi bisa- bisanya loe care sama si Jihan" jelas Kevan


"Loe ga ada hubungan diem-diem sama dia kan Ta?" Selidik Mario, ia kenal betul bagaimana Antariksa dan sederet gadis yang yang mengelilinginya.


Lagi dan lagi Anta tidak menyahut, ia membiarkan para sahabatnya punya persepsi masing- masing tentang hubungannya dengan Jihan


"Eh iya, Airin nanyain loe kemaren" kata Dion tiba-tiba


"Kenapa?"


"Dia jenguk loe ke rumah sakit tapi loe udah balik."


"Biarin aja"


"Loe udah putus?" Tanya Fajar


"Mereka bahkan ga pernah jadian kalo loe lupa njir .." celetuk Kevan


Anta berdecih pelan, ia dan Airin memang tidak ada hubungan apa-apa, gadis itu yang dengan percaya diri menyebutnya sebagai pacar. Padahal jadian aja enggak pernah, jangankan jadian, Anta aja ga pernah nembak cewek. Kalo di tembak cewek sering. Hehe


"Cantik Ta, bohay lagi" ucap Fajar


"Loe suka. Ambil aja"


"Dikira barang kali,.."


"Cantik, tapi terlalu agresif jadi cewek. Bikin males." Ujar Kevan


"Lagian loe juga udah punya pacar kali.." cibir Mario sambil menoyor kepala Kevan


Kevan hanya nyengir seketika, ya Kevan memang sudah punya kekasih tapi ya itu LDR Jakarta - Bandung jadi ngapelnya sabtu sama minggu dan tanggal merah.


"Setidaknya gue punya dari pada Loe.." Kevan menunjuk Dion dan Mario


Diantara mereka berlima yang belum pernah pacaran adalah Mario. Bukannya ga laku karena jelek oh jelas bukan, Mario punya tampang yang layak di perjuangkan tapi ya itu seleranya sekelas Ariana Grande kan susah nyarinya makanya jadi jomblo abadi sampe sekarang.


Beda sama Dion yang pernah diselingkuhin sama mantan pacarnya, cowok ganteng wakil ketua Maxloska itu jadi lebih dingin sama cewek, berasa alergi gitu tapi tenang ga sampe pindah haluan kok.


Kalo Fajar jangan ditanya, si tukang lawak yang gagal move on itu masih setia sama mantan pacarnya. Mereka putus hampir satu tahun yang lalu, entah karena apa, hanya Fajar dan Adelia yang tau penyebabnya.


"Eh, itu dede gumush..." Tunjuk Fajar yang melihat Jihan dan Tiara baru masuk ke kantin


Anta melirik sekilas, gadis itu masih terlihat pucat, walaupun tidak sepucat tadi tetap aja kelihatannya masih lemah.


"JIHAN!!!!" teriak Fajar yang sontak semua mata tertuju pada Jihan


Jihan yang menjadi pusat perhatian sontak menarik tangan Tiara untuk putar balik kembali ke kelas. ia tidak ingin berurusan dengan Anta and the genk, tidak bagus untuk kesejahteraannya di sekolah.


"Yah kok pergi.." Fajar mendesah kecewa, ia langsung mendapat tatapan tajam dari Anta yang pergi begitu saja


"Nah loe Anta ngambek kan" kata Kevan


Mario dan Dion langsung menyusul Anta,

__ADS_1


"Kok salah gue sih???"


Kevan hanya geleng- geleng kepala menyusul ketiga temannya meninggalkan Fajar yang masih bingung.


"Kenapa jadi ninggalin gue sih. Beb tungguin aku" teriak Fajar mengejar Anta dan yang lainnya.


*****


"Ji, kok puter balik sih?" Tanya Tiara bingung Jihan menyeretnya kembali ke kelas


Jihan hanya menggeleng, "kepala aku pusing Ra"


Tiara menghela nafas, "mau ke UKS?"


Jihan menggeleng ia merebahkan kepalanya diatas meja.


"Yaudah aku kabarin Juwi aja ya buat beliin cemilan. Kayanya tuh anak masih di kantin deh"


Jihan tak menyahut, matanya terpejam teringat kejadian di UKS tadi.


Flashback on


Jihan membuka matanya perlahan, kepalanya berdenyut nyeri dengan sebelah tangannya Jihan memijit pelipisnya pelan


Ia memperhatikan sekitar, bukan lagi lapangan upacara melainkan ruang UKS.


Samar- samar Jihan ingat saat di lapangan tadi kepalanya begitu sakit setelah itu penglihatan Jihan mulai kabur dan ia ambruk seketika.


Terus siapa yang bawa dia ke sini? Masa iya...


PLAK


"Dasar murahan"


Alis Jihan terangkat, ia menatap Airin bingung "maksud kakak?"


"Kemaren- kemaren loe cari gara- gara sama Anta, sekarang loe malah kecentilan deket- deket Anta. Apa namanya kalo bukan murahan"


Jihan semakin tidak mengerti, "kakak ngomong apa sih?"


"Gue peringati loe jangan deket- deket sama Anta atau loe tau akibatnya." Airin berlalu meninggalkan Jihan yang masih menatapnya dengan bingung


Tak berapa lama Airin pergi, Tiara dan Juwi datang menghampiri Jihan.


"Ji, kamu gak apa- apa?" Tanya Tiara khawatir


"Aku udah gak apa- apa"


"Kok bisa kesiangan sih Ji?" Giliran Juwi yang bertanya heran sepanjang mengenal Jihan gadis itu paling anti sama yang namanya telat.


"Pak Anas telat jemput Wi makanya aku kesiangan"


"Tapi syukurlah kamu gak apa- apa. Tau ga tadi heboh loh kamu di hukum bareng ka Anta cs terus katanya pas kamu pingsan kak Anta yang gendong kamu sampe UKS" cerita Tiara


"Hah? Kak Anta?" Beo Jihan


"Iya, ihh aku jadi iri sama kamu Ji" ucap Tiara dengan mimik sedihnya


"Pingsan aja gih deket kak Anta gue pengen liat dia peduli apa enggak" cibir Juwi

__ADS_1


"Ihh Juwi kamu mah gitu"


Jihan masih terdiam mencerna ucapan Tiara tadi, sakit kepalanya membuat Jihan agak lemot. Dan sekarang ia mengerti alasan Airin melabraknya tadi.


Flashback off


****


Jihan dan Anta tiba di rumah mereka jam 8 malam. Entah angin ribut dimana Anta mengajaknya pulang ke rumah mereka padahal Jihan baru saja berencana untuk membujuk lelaki itu untuk pulang ke rumah mereka tapi ternyata lelaki itu lebih dulu mengajaknya, ehm bukan ngajak lebih tepatnya memberikan titah tapi apapun itu dengan senang hati Jihan mengikutinya.


Bagi Jihan tinggal dirumah sendiri lebih nyaman walaupun rumah kedua orangtuanya atau mertuanya berkali- kali lipat lebih nyaman tapi tetep saja rasanya berbeda


Seperti lirik lagu, lebih baik di sini... Rumah kita kita sendiri,.eaa


Jihan sudah selesai membereskan barang- barang miliknya, juga memasukan baju kotor ke dalam mesin cuci ia lanjut bersih- bersih rumah karena rumah ini sudah kosong selama beberapa hari, sudah pasti banyak debu yang bertebaran dan Jihan tidak suka itu


Sebenarnya baik orangtua Jihan maupun mertuanya sudah menawarkan untuk mempekerjakan seorang asisten rumah tangga tapi Jihan menolak dengan alasan, ia masih sanggup mengurus rumah ini sendiri toh ia hanya tinggal berdua dengan Anta, dan lelaki itu cukup rapih dalam hal apapun jadi Jihan tidak merasa terlalu lelah membereskan rumah sendiri.


Ngomong-ngomong soal Anta, Jangan tanya dimana dia. lelaki itu langsung pergi begitu mereka tiba. Anta meletakan tas miliknya di sofa lalu pergi entah kemana, lelaki itu pasti sengaja supaya Jihan yang membereskan barang- barang milik Anta.


Dasar Malin Kondang, maki Jihan


Jihan membawa tas milik Anta ke kamar laki-laki itu dan membereskan barang- barang milik Anta. Lelaki itu tidak keberatan jika Jihan masuk ke kamarnya sekedar untuk bersih- bersih, mengambil baju kotor atau meletakan baju yang sudah di setrika.


Anta hanya melarang Jihan untuk ikut campur dengan urusan pribadinya. Tanpa Anta suruh Jihan juga tidak peduli dengan apa yang di lakukan lelaki itu.


Ga peduli tapi ditangisi, dasar Jihan!


Jihan memegang perutnya yang sudah dangdutan, ia belum makan apa- apa sejak tadi siang semua ini gara- gara Fajar yang memanggilnya di kantin dan Jihan yang kaget karena jadi pusat perhatian di kantin memilih untuk balik badan kembali ke kelas dan ga jadi makan deh.


Jihan merebahkan dirinya di sofa, sudah jam 10 malam kemana ia akan mencari makan. Delivery sudah terlalu malam, pengen minta tolong Anta yang pasti pulangnya tengah malem, keburu tepar Jihan.


Terdengar suara pintu terbuka, Jihan langsung bangkit merubah posisinya dari rebahan menjadi duduk.


Panjang umur, ternyata Anta. Lelaki itu muncul dihadapan Jihan saat gadis itu tengah memikirkannya, "Anta..."


"Jangan berisik" sela Anta menyebalkan seperti biasa


Jihan mengelus dadanya pelan, baru mau minta tolong. Sudahlah lebih baik Jihan pergi ke kamar saja, kalau terus berlama- lama dengan Anta, Jihan bisa meninggal di usia muda gara- gara darah tinggi menghadapi sikap Anta yang menjengkelkan.


"Gue tau loe laper, gue abis beli makan. Loe mau ga?"


Jihan menoleh, ia tidak sedang berhalusinasi kan saking lapernya? Yeoreobun barusan Anta ngajak Jihan makan kan bukan ngajak gelud?


Tapi melihat Anta sibuk makan sendiri membuat Jihan kembali berfikir apa benar Anta mengajaknya untuk makan bersama atau sekedar basa-basi belaka.


Jihan masih larut dengan pemikirannya hingga suara berat Anta kembali terdengar, "gue tau loe belom makan dari siang. Mending loe makan kalo loe sakit siapa yang mau ngurusin loe? Gak ada"


Jihan menghela nafas, cuma Anta yang bisa bikin Jihan baper dengan kata- kata sadisnya, ucapan Anta yang sebenernya jauh dari kata romatis karena agak sadis terdengar manis menurut Jihan intinya Anta peduli hanya saja ya begitu lah


Dari pada berakhir sakit Jihan akhirnya mendekati Anta yang sedang makan sate dengan lahapnya.


Melihat Jihan yang terlihat ogah- ogahan Anta mengambil alih bungkus sate yang ada ditangan Jihan lalu membukanya.


"Makan, nanti loe sakit"


Tuh kan Jihan bilang juga apa, Anta tuh care tapi ya itu gengsinya gede.


Jihan menundukakan kepalanya sudut bibir Jihan melengkung sempurna, jantungnya berdegup kencang hanya karena sebuah Kalimat sederhana tapi berjuta makna bagi Jihan.

__ADS_1


__ADS_2