Jungkir Balik Dunia Jihan

Jungkir Balik Dunia Jihan
Part-19


__ADS_3

Jihan mengumpat sepanjang jalan, tiga jam ia menunggu Anta di halte tapi lelaki itu tidak muncul sama sekali. Kan kampret!!!


Fix, Anta bales dendam sama Jihan. Dasar kunyuk!!!!


Ojek yang ditumpangi Jihan berhenti karena lampu merah, Jihan yang mulai bosan mengedarkan pandangannya ke sekitar jalanan sore ini cukup ramai karena bertepatan dengan jam pulang kerja ,mata jeli Jihan menangkap sosok yang akhir-akhir ini menjadi perhaluannya sebelum tidur.


Lelaki berjaket kulit lengkap dengan seragam sekolah yang masih melekat ditubuhnya. Sedang bertengger tampan diatas motor Ninja hitam miliknya lengkap dengan aksesoris sepasang tangan cantik melingkar manis diperut lelaki itu, jangan lupakan wajah bahagia yang terpancar dari si pemilik motor.


Fix, kamu balas dendam mas.


Kalau biasanya Jihan akan beristigfar kali ini kebun binatang beserta kaum gaib terjun bebas dari bibir mungilnya.


Sekalinya brengsek tetep brengsek!!!!!


"Bang kita ke Jalan Pemuda." Ucap Jihan pelan sambil mengeratkan pegangannya pada tali ransel


"Kuat Ji, kuat!!!!" Tekadnya pada diri sendiri


Jihan minta diturunkan disebuah taman yang tak jauh dari rumah ibu mertuanya, ia mampir sebentar untuk melampiaskan kekesalannya sebelum pulang, ia harus terlihat baik-baik saja nanti supaya ibu mertuanya tidak khawatir.


Jihan duduk disalah satu bangku taman yang berhadapan langsung dengan danau buatan, pemandangan yang cukup menenangkan.


Sekuat apapun Jihan menahannya, sebanyak apapun umpatan yang ia keluarkan nyatanya tak mampu menahan air matanya untuk jatuh. dadanya terasa sesak. Sesakit itu ternyata rasanya melihat Antariksa bersama perempuan lain.


Bodoh


Satu kata yang menggambarkan dirinya saat ini, bagaimana bisa ia jatuh terlalu dalam pada pesona seorang Antariksa dan melupakan bahwa ada orang lain di hati lelaki itu dan orang itu bukan dirinya.


Rasanya Jihan ingin berteriak memaki-maki Anta supaya sesak di dadanya hilang. Ternyata cinta bertepuk sebelah tangan sesakit ini.


Tau ga sih rasanya tuh ga rela liat orang yang kita sayang jalan sama orang lain tapi ga bisa bilang apalagi ngelarang karena sadar kalo kamu tuh bukan siapa-siapanya dia, kamu juga ga berarti buat dia, cuma kamu yang anggap dia spesial tapi dianya biasanya. Nyesek kan? Nah itu, persis seperti itu perasaan Jihan sekarang.


Jihan menghapus air matanya saat ada orang asing yang duduk disebelahnya. Jujur ia merasa risih menangis di depan orang lain.


"Kak Dion" Jihan hendak pergi dibuat kaget melihat orang asing yang duduk disebelahnya ternyata kakak kelas yang sedang digosipkan dengan dirinya saat ini.


"Hai"


Jihan menelan salivanya, bingung mengapa dari sekian banyak orang dimuka bumi ini ia harus bertemu dengan Dion disini, kenapa Juga dari sekian banyak bangku lelaki itu harus duduk disebelahnya. Kan Jihan jadi bingung gimana cara menghindarnya


"Kalo masih mau nangis- nangis aja jangan ditahan biar lega"


Jihan menggeleng, episode nangisnya kali ini sudah bersambung. Disuruh nangis lagi ia malah bingung entah kemana stok air matanya yang masih tersisa tadi.


"Kakak ngapain disini?" Tanya Jihan basa basi


"Tiap kali gue lagi punya masalah gue selalu ke tempat ini. Rasanya tenang."


"Jadi sekarang kakak lagi ada masalah?"


Dion menggeleng, "ga ada."


"Lah tadi katanya tiap ada masalah pasti ke sini. Nah sekarang kakak disini berarti sekarang lagi ada masalah dong"


Dion tertawa, gadis disebelahnya ini sungguh lucu, "anggap aja ada."


"Hmm, semoga masalah kaka cepet selesai"


"Loe juga"


"Kok aku?"

__ADS_1


"Ya siapa tau loe lagi punya masalah semoga cepet kelar."


Jihan menggeleng, "aku lagi ga ada masalah kak."


"Terus kenapa nangis?"


"Emang kalo mau nangis harus punya masalah dulu kak?"


Dion menggeleng, "enggak juga sih, tapi emang sih cewek sukanya begitu sedih nangis, bahagia nangis, terharu nangis..."


"Yah itu cuma bentuk ekspresi aja kak,"


"Dan loe nangis dalam rangka mengekspresikan apa?"


"Pengen aja"


"Loe aneh"


Jihan menghela nafas ingin mengatakan kalau lelaki itu lebih aneh tapi takut memancing emosi jadi ya sudahlah emang Jihan agak aneh sih beda dari spesies kebanyakan "Iya kak, udah banyak kok yang bilang aku begitu"


"Masih kesel ga?"


"Kenapa?"


"Kalo loe masih kesel teriak aja sekenceng- kencengnya biar loe puas"


Jihan menggeleng, "kak, kalo ngasih solusi tuh yang berfaedah bisa ga? Kalo aku teriak- teriak ga jelas disini yang ada aku di kira orang gila lepas"


Dion tertawa mendengar ucapan Jihan, Ternyata gadis itu unik tidak salah kalau dirinya ingin mengenal Jihan lebih jauh, "kamu lucu"


"Tadi aneh sekarang lucu. Kakak Ga konsisten"


Dion mengacak-acak rambut Jihan hingga rambut gadis itu semakin berantakan, kenapa ia baru bertemu Jihan sekarang sih kalau tau ternyata gadis itu tidak se-menyebalkan yang ia kira dulu mungkin sudah sejak awal ia mengejar gadis itu.


"Mau gue anter?


"Makasih kak, tapi tempat yang aku tuju deket dari sini kok."


Dion mengangguk, "hati- hati"


Jihan mengangguk, "kakak juga. Oh ya makasih udah nemenin ngobrol."


Dion tersenyum, "boleh ga kata terima kasihnya diganti?"


"Thank you"


Dion menghela nafas gemes juga sama Jihan, culik boleh ga sih? "Bukan itu maksudnya, kata terima kasihnya loe ganti sama senyuman loe"


Jihan menggaruk kepalanya bingung, apa hubungannya terima kasih sama senyuman. Tapi tak urung kedua sudut bibirnya melengkung sempurna memamerkan lesung pipinya yang tersembunyi.


"Loe tau, senyuman loe itu cantik sayang kalo di sembunyiin terus."


Untuk sesaat Jihan terpaku tapi sedetik kemudian ia tersenyum mendengarnya, ternyata Dion tidak se-mengerikan yang ia kenal selama ini.


Jihan menatap Dion sekilas sebelum ia pergi, terlintas setan jahat yang meracuni pikirannya saat ini,


Andai ia bertemu dengan Dion lebih dulu dari pada Antariksa, mungkinkah Jihan bisa jatuh cinta pada pesona seorang Dion Dirgantara?


****


Jihan tidak jadi menginap dirumah ibu mertuanya, karena saat tiba disana Sandra sudah pergi dan menitipkan beberapa barang untuknya dan Anta. Alhasil Jihan langsung pulang ke rumah.

__ADS_1


Ia tiba dirumah sekitar jam 7 malam, saat masuk Jihan berpapasan dengan Anta yang sepertinya lelaki itu mau pergi keluar terlihat dari penampilannya yang sudah rapi dengan setelah kaos dipadu jaket dan jeans senada.


Melihat Anta yang terlihat biasa saja bahkan tidak ada raut penyesalan karena berhasil membalas dendam padanya membuat mood Jihan anjlok, kembali penghuni gaib meluncur bebas dari bibir mungilnya


Antariksa brengsek!!!!


Jihan masuk ke kamarnya dengan tergesa-gesa, karena kecerobohannya ia jatuh di tangga. Jihan mengaduh sambil mengusap Lututnya yang memerah karena membentur Anak tangga.


Lagi dan lagi ia mengumpat menyalahkan Antariksa.


Dengan langkah tertatih Jihan masuk ke dalam kamarnya, ia langsung merebahkan diri di atas kasur, sikap Anta tadi membuat mata Jihan kembalu mengeluarkan stok air matanya.


Sakit rasanya, mengingat hubungan mereka yang bisa dikatakan sudah dekat dan Jihan yang sudah terlanjur jatuh cinta pada lelaki itu.


Persis seperti lagu Dewi Persik ingin ku teriak, nah itu Jihan pengen teriak tapi sayangnya kamar Jihan enggak kedap suara kaya kamar Anta jadi kalo Jihan teriak bisa- bisa tetangga pada dateng nantinya.


Cukup lama Jihan menangis hingga akhirnya ia tertidur karena terlalu banyak menguras air mata.


****


Suara Petir yang menggelegar ditengah malam mengusik Jihan yang sudah tertidur pulas sejak pulang tadi.


Ia membuka matanya perlahan, kedua bola matanya terasa panas mungkin akibat ia kebanyakan menangis tadi


Jihan bangkit dari tempat tidurnya, ia melirik jam dinding yang kini menunjukan jam 11 malam. Diluar hujan turun dengan lebatnya ditemani petir yang saling bersahutan dan angin kencang. Buru- buru Jihan masuk ke kamar mandi mengganti pakaiannya.


Selesai mengganti baju ia kembali naik ke atas ranjang, ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Bisa dibilang Jihan takut petir, biasanya kalau hujan disertai petir begini mama atau bang Jovan akan menemaninya,


akh!!! jadi kangen mama sama bang Jo kan jadinya.


Suara Petir kembali menggelegar bersamaan dengan listrik padam, paket komplit yang langsung membuat Jihan meringkuk ketakutan di atas kasur. Tubuhnya bergetar, kedua tangannya menutup telinga, hanya bibirnya yang terus berteriak saling bersahutan dengan suara petir


"Argh!!!!!!"


Isak tangis Jihan terdengar jelas di kamarnya. ia sendirian hanya terdengar bunyi jam dinding yang berdetak. Kalau sudah begini Jihan hanya bisa pasrah, ia tidak tahu harus meminta bantuan siapa.


Hujan, petir dan ruangan yang gelap adalah hal yang dibenci Jihan, ia benci gelap karena membuat dadanya sesak.


"An..ta"


Jihan tentu masih kesal setengah mati dengan lelaki itu, tapi dirumah ini hanya ada Anta entah lelaki itu sudah pulang atau belum Jihan hanya berharap Anta mencul sekarang dan ia berjanji tidak akan marah lagi pada lelaki itu meskipun perbuatan Anta telah membuatnya sakit hati.


Gemuruh kembali menyuarakan kegarangannya, Jihan memekik ketakutan. Kalau boleh pingsan Jihan memilih untuk pingsan sekarang jadi ia tidak perlu ketakutan seperti ini tapi nyatanya pingsan berbeda dengan tidur meskipun sama-sama memejamkan mata.


Jihan sama sekali tidak menyadari kalau pintu kamarnya tiba-tiba terbuka diikuti dengan langkah kaki yang masuk ke kamarnya. Gadis itu sibuk memejamkan matanya, dengan kedua tangan yang masih setia menempel di telinganya.


"Arghhh!!!!!." Jihan berteriak saat ada yang menyentuh bahunya


"Jihan!!! Ini gue!!"


Suaranya terdengar tidak asing, tapi Jihan memilih untuk memejamkan matanya. Ia memberontak karena takut. Tidak mungkin Anta menghampirinya jelas- jelas tadi lelaki itu mengacuhkannya, Jihan takut ini hanya ilusinya terlebih sejak tadi sore ia selalu mengumpat dengan kata-kata kasar bisa jadi kan kalo yang muncul justru bukan Anta tapi salah satu makhluk yang ia sebut di setiap umpatannya yang balas dendam dalam wujud Anta


Tangan itu kini mengangkat tubuh Jihan dan memangkunya. mata gadis itu masih terpejam tubuhnya semakin bergetar ketakutan, sebelah tangan kokoh itu menyentuh pipi Jihan.


"Jihan, ini gue... Anta!!" Ucapnya sambil menghapus air mata Jihan


Jihan membuka matanya perlahan, manik matanya yang berkaca-kaca menatap lurus tepat dimata coklat milik Anta.


Rasa bersalah mejalar di hati Anta, lelaki itu langsung membawa Jihan ke pelukannya, menenggelamkan kepala gadis itu di dadanya. Tangan kiri Anta memeluk tubuh Jihan dan sebelah tangannya lagi mengusap kepala gadis itu memberikan ketenangan.


Bukannya berhenti tangis Jihan justru makin menjadi, "Anta jahat"

__ADS_1


"Maaf" bisik Anta tepat di telinga Jihan, hanya satu kata yang keluar dari bibir Anta satu kata yang ia ucapan dengan tulus. Sungguh ia menyesal sekarang


__ADS_2