
Jihan sarapan seorang diri karena ibu mertuanya sudah berangkat keluar kota menyusul ayah mertuanya, rumah megah ini hanya menyisakan Jihan dan Anta juga beberapa asisten rumah tangga.
Sebelah alis Jihan terangkat saat Anta ikut turun untuk sarapan, muka bantal lelaki itu terlihat lucu jangan lupakan perban yamg masih melingkar indah di kepalanya.
Ya, Anta sudah pulang lebih tepatnya memaksa pulang, setelah dua hari di rawat dirumah sakit Anta bersikeras untuk pulang, katanya malas berlama-lama dirumah sakit yang ada tambah sakit. Dasar Aneh
Jihan sebenarnya geram sendiri saat tau lelaki itu sudah pulang. Apalagi lelaki itu mengalami cedera parah, harusnya ua mendapatkan perawatan instensif tapi tetep aja ngeyel.. kalo enggak ngeyel bukan Anta namanya.
Tapi ya sudahlah urusan Anta toh yang ngerasain sakit Anta sendiri, Jihan hanya bisa mengawasi dan bantu doa saja.
Jam sudah menunjukan pukul tujuh kurang lima belas menit tapi tidak ada tanda- tanda pak Anas datang menjemput Jihan.
Dimana pak Anas, Jihan bisa terlambat kalau tidak pergi sekarang.
Anta melirik Jihan dengan ekor matanya gadis itu tampak sedang gelisah.
"Loe beneran pinter ga sih?"
Jihan menaikan sebelah alisnya. Apa maksud dari perkataan lelaki itu, apa Anta sedang mengejeknya?
"Ini udah siang, loe bisa telat. Kenapa ga pesen taxi atau ojek online gitu?"
Jihan tak menyahut, ia kembali fokus menatap ponselnya menunggu kabar dari pak Anas.
"Kenapa ga minta tolong pak Joko?" Suara Anta masih terdengar sama sinisnya seperti sebelumnya.
"Nganter Bunda ke bandara"
"Kenapa ga naik mobil sendiri?."
Jihan menggeleng, "ga bisa" Jihan memang tidak di perbolehkan menyetir oleh orangtuanya sebagai anak bungsu tersayang kemana- mana Jihan pasti di antar oleh orangtuanya ,bang Jovan kakak laki- lakinya atau pak Anas supir yang khusus dipekerjakan untuk mengantar jemput Jihan ke sekolah.
Anta tak menyahut lelaki itu langsung bangkit kembali ke kamarnya meninggalkan Jihan yang masih resah dan gelisah menunggu jemputan.
Kurang dari 10 menit Anta turun ke bawah lengkap dengan seragam , tas dan jaket jeans yang melekat ditubuhnya.
"Ayo"
"Eh" Jihan kaget melihat Anta yang sudah rapo dengan setelan sekolahnya, lelaki itu belum pulih masa iya mau sekolah?
"Buruan kita telat"
"Kita?"
"Loe mau sekolah kan?" Jihan mengangguk ia harus pergi sekolah sekarang, "ayo"
Mau tidak mau Jihan mengikuti Anta keluar menuju garasi tempat dimana motor kesayangannya berada.
Jihan mengamati Anta yang kini sudah duduk diatas motor lengkap dengan helmnya.
Rasanya seperti melihat bad boy versi nyata yang sering ia lihat di drama , tapi Kalo di pikir- pikir Anta kan emang badboy di GHS, tampang jangan ditanya, tajir udah pasti wong anak yang punya sekolah, ketua geng... Ketua apa lagi ya..
Jihan masih sibuk dengan imajinasinya hingga suara bariton Anta membuyarkan lamunannya.
"Mau sampe kapan loe diem kaya patung di situ. Buruan naik"
__ADS_1
Jihan masih melongo, yang bener aja mas masa ngajak ke sekolah naik motor. Adek pake rok nih.
Seolah bisa membaca pikiran Jihan lewat ekspresi wajahnya Anta berdecih pelan, "pake mobil lebih lama. Buruan sebelum makin telat!!!"
Jihan naik ke motor Anta dengan susah payah karena tingginya motor Anta dan kondisinya yang pakai rok sekolah, "udah"
Anta melirik Jihan sekilas melalui kaca spion motornya tanpa aba- aba dan pengumuman Jihan terkejut saat Anta menarik kedua tangan Jihan dan melingkarkan tangan itu ke perutnya
"eh-".
"Gue bukan tukang ojek, pegangan gue ogah tanggung jawab kalo loe jatoh"
Aneh
Meskipun terdengar menjengkelkan dan jauh dari kata romantis tapi kedua sudut bibir Jihan tertarik membentuk senyuman.
****
Jarak dari rumah orangtua Anta ke sekolah memakan waktu kira- kira 30 menit lamanya, jadi sengebut apapun Anta tetap saja saat keduanya sampai disekolah mereka terlambat.
Ibu Inna guru BK favorit Anta hanya bisa geleng- geleng kepala, kangen juga tidak melihat salah satu murid kesayangannya yang tiap hari ada saja ulahnya yang membuat Anta bertamu ke ruang BK.
"Antariksa,, Antariksa kayanya beberapa hari izin sakit kamu udah kangen ya ga masuk ke ruang BK " kata bu Inna
Anta tidak menanggapi ucapan bu Inna seperti biasa lelaki itu sibuk dengan muka temboknya.
"Jihan?"
"I-iya bu?"
Bu Inna sedikit takjub untuk pertama kali melihat murid teladan seperti Jihan datang terlambat ke sekolah.
Belum selesai bu Inna memberikan hukumam, Kegaduhan kembali terjadi saat bu Tasya masuk membawa Fajar CS ke ruang BK.
"Halo ibu cantik" sapa Fajar dengan senyum lebarnya
"Kalian..."
"Biasa bu, kita mah solidaritasnya tinggi" kata Fajar dengan wajah sumringah melihat boss besarnya yang sudah beberapa hari libur kini kembali masuk sekolah, "eh ada dede gumush "
"Solidaritas...???" Bu Inna hanya bisa geleng- geleng kepala dengan tingkah muridnya itu Anta dan gengnya memang langganan masuk BK setiap hari. Rasanya kurang afdal kalo tidak absen di buku pelanggaran.
"Ibu harusnya bangga bu, punya murid kaya kita- kita jiwa solidaritasnya tinggi" ujar Fajar
"Bikin masalah kok bangga. Yaudah anggap ini sebagai perayaan penyambutan Antariksa yang kembali bersekolah kalian berlima dan kamu Jihan ibu hukum hormat bendera sampai jam istirahat."
"Yesss!!!"
Jihan menghela nafas pasrah, menatap heran pada kelima lelaki yang tampaknya saat senang dihukum yang artinya tidak perlu pusing- pusing memikirkan pelajaran.
****"
Kata para ahli kesehatan berjemur di bawah matahari pagi itu bagus untuk kekebalan tubuh, bagus untuk kesehtan tulang dan meningkatkan produksi vitamin D. Tapi masalahnya pagi ini terik matahari sedang tidak bersahabat dengan Jihan.
Seolah matahari dan para siswi penggemar Antariksa and the genk bekerja sama karena tidak suka melihat Jihan ada diantara kelima Pandawa- nya SMA Galaxy.
__ADS_1
Istirahat pertama masih sangat lama, Jihan bahkan baru berdiri hampir setengah jam tapi peluh keringatnya sudah membasahi baju seragamnya.
Anta diam-diam melirik Jihan dengan ekor matanya, gadis itu berdiri disebelahnya diapit oleh dirinya dan Fajar. Anta yakin ini hukuman pertama Jihan disuruh hormat bendera dibawah teriknya matahari pagi.
"Jihan, kok tumben telat?" Tanya Fajar
"Kesiangan kak"
" kalo ga kuat mending loe mundur " kata Kevan yang ada disebelah Fajar
"Aku masih kuat kak" kata Jihan
Sebenarnya Jihan berbohong, jujur saja kepalanya sudah sedari tadi terasa pusing. Tapi ia tahan bukan karena ia sok kuat tapi bagi Jihan inilah sikap tanggungjawab.
"Ga usah sok kuat, nanti pingsan nyusahin lagi."ucap Anta
Jihan ingin sekali menyahut lalu mencibir Anta tapi ia harus hemat tenaga, bagaimanapun jam istirahat masih lama, rasanya Jihan meminta bala bantuan, siapapun bawakan air minum yang di dalam tas Jihan.. ia sangat haus sekarang.
Bisik- bisik dari siswi entah kelas berapa masih terdengar di telinga Jihan
"Enak banget ya jadi tuh cewek di hukum tapi di kelilingi pangeran"
Pangeran gundulmu, sahut Jihan dalam hati
"Mau deh gue gantiin dia asal bisa berdiri disebelah kak Anta."
Sini gantiin, aku dengan senang hati kalau ada yang mau
"Besok gue mau dateng telat biar bisa di hukum bareng ka Anta Cs."
Dasar aneh
Anta masih melirik Jihan kali ini wajah gadis itu sudah tampak pucat, tapi masih saja keras kepala memaksakan diri, "kepala loe sakit?"
Jihan menoleh sesaat agak kaget saat mendengar pertanyaan Anta, sempat terpikir kalau lelaki itu peduli padanya tapi mengingat kata-kata terakhirnya beberapa menit yang lalu ia tepis pikiran negatif tadi, "enggak"
Anta berdecih pelan, masih saja mengelak. Anta berani bertaruh sebentar lagi Jihan pasti pingsan.
Dan benar saja, belum sampai lima menit tubuh Jihan terhuyung nyaris ambruk ke tanah kalau tidak di tahan oleh Anta.
Fajar, Kevan, Mario dan Dion dibuat kaget melihat Jihan yang ambruk dan tambah kaget karena dengan sigapnya Anta menahan tubuh gadis itu.
Dengan sekali sentakan Anta membopong tubuh Jihan sambil tersenyum samar melihat wajah pucat gadis itu, "gue bilang juga apa?" Ucapnya sambil berjalan membawa Jihan ke UKS
Keempat sahabat Anta masih melongo, masih tidak percaya dengan yang barusan mereka lihat ini kejadian langka.. sangat langka
"Itu Anta bukan ?" Tanya Dion
"Gue ga salah liat kan?" Fajar mengucek matanya ia takut sedang berhalusinasi, rasanya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Kayanya kepala Anta bermasalah gara-gara di pukul pake batu kemaren" celetuk Mario
"Fix loe gila Jar..." Kata Kevan sama dengan yang lainnya masih belum percaya
"Kenapa jadi gue yang gila, njir?" Fajar mengumpat bisa- bisa Anta yang aneh dia yang di katain gila.. berarti semua yang ngeliat keanehan Anta itu pada gila dong?
__ADS_1
Fix, kalian juga gila.
*****