
Jihan menunggu di taman rumah sakit sejak jam empat sore tadi dan sekarang hari sudah berganti malam, entah jam berapa sekarang. Ia bahkan sempat tertidur tadi saking bosannya menunggu sampai akhirnya terbangun karena gigitan nyamuk.
Jujur saja sekujur tubuh Jihan benar- benar lelah ia ingin rebahan tapi tidak mungkin kembali ke dalam, apalagi masih ada Mario Cs.
Sebenarnya Jihan tidak seberani yang orang- orang pikirkan ia takut dengan yang namanya Mario dan Dion, dua kali sudah ia terlibat adu cek cok dengan mereka walaupun saat cek cok Jihan tidak tahu punya keberanian dari mana bisa melawan adu mulut mereka.
dalam hati Jihan bertekad sebisa mungkin kedepannya ia harus menghindar dari kedua lelaki itu, Jihan takut melihat tatapan tajam, dingin dan menusuk dari Dion lalu tatapan tajam dengan aura permusuhan dari Mario membuat dirinya merasa diteror oleh keduanya.
Berbeda dengan Fajar yang ramah dan Kevan yang cuek, dua titisan Anta itu benar-benar menakutkan, bagi mereka Jihan seperti seekor lalat yang sangat mengganggu dan ingin segera dimusnahkan.
Kalau di pikir- pikir tatapan Anta lebih menyeramkan dari mereka berdua apalagi kalau lelaki itu sudah mode Evil beh seremnya ngalahin Joker, tapi anehnya Jihan sama sekali tidak takut dengan aura mengintimidasi dari Anta rasanya entah mengapa semenakutkan apapun Anta, Jihan merasa ia aman didekat lelaki itu.
Apa Jihan terdengar sudah gila?
Anggap saja Jihan gila karena sudah berfikir begitu mungkin ini efek kurang rebahan ditambah badannya yang sudah bentol disana sini akibat dikerubuti nyamuk.
Jihan tidak sanggup lagi, sudah cukup ia pingsan karena mendonorkan darahnya untuk Anta dan tak ingin tepar karena darahnya diisap paksa oleh nyamuk ya kalo tepar kurang darah kalau Jihan kena demam berdarah gimana? yang repot siapa? udah pasti mama lah masa Anta.
Jihan putuskan untuk kembali ke dalam, ia yakin teman- teman Anta sudah pulang mengingat ini sudah malam dan jam besuk sudah habis. Tiba didepan pintu Jihan mencoba menguping keadaan didalam yang terdengar sunyi sepertinya tidak ada tanda- tanda ada orang selain Anta di dalam.
Dengan perlahan Jihan membuka pintu, ia takut menganggu Anta yang tengah beristirahat. Jihan membulatkam seketika, ia melihat ada Airin disana.
Ya Airin kekasih Antariksa si primadona di GHS , kakak kelas yang sudah menyiramnya dengan air ramuan entah dari mana tempo hari.
Bukan kehadiran Airin yang membuat Jihan tercengang tapi apa yang Airin lakukan pada Anta, gadis itu mencium mesra bibir Anta dan lelaki itu tanpa canggung membalasnya.
Dasar berengsek!!!!!!!!
Jihan memutar tubuhnya kembali pergi, entah kemana itu urusan nanti. Air matanya sudah banjir lagi sama banjirnya saat ia menemukan lelaki itu dalam keadaan sekarat kemarin.
Jihan mengutuk Anta dalam hati, ia menyesal telah menangisi dan mengkhawatirkan laki-laki itu kemarin. Beginikah balasan lelaki itu kepadanya.
Anta brengsek!!! Sekali brengsek tetap brengsek!!!
Dan sekali lagi Jihan kembali menjatuhkan air matanya untuk seorang Antariksa
Fix, Jihan sudah gila.
******
Paginya Jihan bersiap untuk pergi ke sekolah. Jihan sibuk sendiri merapikan buku-buku, memakai seragam mengikat rambut panjangnya. Sama sekali tidak memperdulikan Antariksa yang sedari tadi memperhatikan gadis itu.
Semalam ia sudah gila menangis entah karena apa dan baru kembali tengah malam saat Anta sudah lelap dan tidak ada satupun pengikutnya disana.
Sandra datang untuk menggantikan Jihan menjaga Anta. Melihat wajah pucat, mata sembab Jihan membuat Sandra khawatir apa yang terjadi dengan menantu kesayangannya itu semalam, "Jihan, kamu baik- baik aja nak?"
"Jihan gak apa- apa bun.. Jihan pamit ke sekolah ya bun. Nanti Jihan ke sininya malem" pamit Jihan
"Tapi beneran kamu gak apa- apa?" Sandra masih khawatir
"Jihan baik- baik aja bun. Jihan pamit. Assalamualaikum" setelah mencium tangan Sandra dan pamit seadanya dengan Anta, Jihan pergi ke sekolah.
Anta masih menatap punggung Jihan yang sudah hilang dari balik pintu, apa yang terjadi dengan gadis itu.
"Anta, kamu berantem sama Jihan?" Tanya Sandra yang masih khawatir takut terjadi sesuatu antara mereka berdua
Anta hanya menggeleng, seingatnya Jihan keluar kemarin sore untuk memanggil dokter dan tidak muncul lagi karena teman- temannya datang menjenguk dan entah jam berapa gadis itu kembali Anta tidak tahu karena ia sudah tidur.
****
Jihan tiba disekolah, ia langsung di sidang oleh kedua sahabatnya karena sejak kemarin hilang tanpa kabar.
"Ji, kamu kemana kemarin kok ga ngasih kabar kalo ga masuk? Kamu sakit?" Tanya Tiara
__ADS_1
"Iya, kita ke rumah loe kemaren tapi kata asisten loe ke rumah sakit. Siapa yang sakit Ji? Elo?" Juwi ikut bertanya
Jihan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "kucing gue lahiran kemaren"
"Seriously? Seorang Jihan bolos sekolah cuma karena kucing?" Juwi tidak percaya dengan alasan aneh Jihan
"Iya, itu kucing bang Jo, mama sama papa aku ga dirumah jadi ya mau ga mau kan"
"Terus kucing loe gimana sekarang?" Tanya Tiara
Jihan tersenyum samar, "dia baik- baik aja"
Ya dia baik- baik aja, apalagi udah ketemu kucing betina.
"Oh ya kamu tau ga Ji kak Anta masuk rumah sakit loh katanya dia dikeroyok sama anak Lebang" cerita Tiara
"Ya, aku tau"
"What? Seriously? Loe tau dari mana Ji?" Selidik Juwi
Jihan mengumpat dalam hati harusnya ia pura- pura tidak tahu tapi gimana ya orang Jihan yang nolongin kemaren bahkan sampe bolos gara- gara tuh kucing garong.
"Tadi di koridor banyak yang ngomongin"
"Ohh kirain tau beneran. Aku pengen jenguk tapi takut kalo pergi sendiri , aku khawatir katanya keadaanya parah, aku kepikiran sama ka Anta sampe ga bisa tidur, ga nafsu makan, ga enak ngapa- ngapain lah pokoknya" Tiara memasang wajah sedihnya memikirkan Antariksa
"Lebay banget loe,.." Juwi berdecak sebal melihat Tiara kalau sudah berhubungan dengan Anta
"Kamu sama Juwi aja ya" ucap Jihan, ia sedang tidak ingin bertemu dengan Anta
"Juwi mana mau Ji, please Ji ya pulang sekolah nanti temenin aku ke sana ya ..ya,,. ya please" Tiara membujuk Jihan dengan puppy eyes miliknya yang sampai detik ini tidak pernah gagal membujuk Jihan.
Jihan menghela nafas, ia kalah kalau sudah begini, "iya"
Jihan hanya tersenyum samar, sedang tidak mood menanggapi.
***
Sepulang sekolah Jihan mengantar Tiara ke rumah sakit menjenguk Anta, mereka mampir ke rumah Tiara sebelum pergi ke sana untuk mengambil puding buatan Tiara yang sengaja dibuat gadis itu khusus untuk Anta.
Jihan juga mengganti baju seragamnya dengan baju milik Tiara, gadis itu meminjamkan dress santai selutut pada Jihan. Awalnya Jihan menolak karena ia jarang sekali memakai dress ia lebih senang menggunakan setelah jeans dengan baju kaos lebih simple dan bebas gerak.
Tapi ya gitu, Jihan akan selalu kalah dan tidak enak hati menolak keinginan sahabatnya itu. Tiara yang memang feminim dari lahir terbiasa menggunakan dress di kesehariannya kata mamanya Tiara jadi perempuan itu harus lemah lembut dan anggun.
Mereka tiba diruang rawat Anta, Tiara yang gugup memegang erat paper bag yang dibawanya.
"Rileks..."
"Tapi takut Ji,.mana kayanya ada temen- temennya lagi"
Sayup- sayup terdengar suara gaduh di dalam, ya begitulah Anta and the genk kalo udah ngumpul.
"Jadi gimana? Mau pulang aja?"
Tiara menggeleng, "udah jauh-jauh masa pulang Ji."
"Yaudah ketok abis itu masuk"
"Tapi takut Ji.."
"Yaudah aku yang ketok" sebelah tangan Jihan sudah terangkat siap mengetuk pintu tapi ditahan oleh Tiara
"Aku aja" biar bagaimanapun Tiara tidak rela masa Jihan yang ngetok pintu kan yang mau jenguk Anta itu dirinya sementara Jihan cuma nemenin Tiara.
__ADS_1
Tiara mengetuk pintu sebanyak tiga kali hingga pintu dibuka, "eh ada Decan sama dede gemes" sapa Fajar orang yang membukakan pintu
"Hai kak" sapa Tiara ramah sedangkan Jihan hanya menganggukan sedikit kepalanya
"Boss, ada dede cantik sama dede gemoy nih mau jenguk loe" kata Fajar
"Hai kak" sapa Tiara pada Anta
Seperti biasa Anta tidak menanggapi hanya memasang wajah datar.
Ada mahluk kaya gitu, cibir Jihan dalam hati
Tiara lalu duduk di kursi yang ada didekat ranjang sementara Jihan berdiri di samping Tiara.
"Aku bikinin puding buah buat kakak, di makan ya kak" Tiara meletakan paper bag yang di bawanya di nakas
Anta hanya menanggapi dengan anggukan.
"Ji, duduk sini..." Fajar menepuk sofa disebelahnya yang masih cukup luas dan kosong, "loe mirip bodygurad kalo berdiri disitu"
Jihan baru menyadari posisinya benar kata Fajar ia mirip bodyguard yang menjaga nona mudanya, ia pun mengangguk menyetujui usulan Fajar, dari pada berdiri disitu jadi obat nyamuk ya kan.
Jihan melirik Dion dan Mario sekilas, mereka memang sedang sibuk main game di ponselnya tapi tetap saja Jihan takut.
"Udah jangan takut, Dion sama Mario udah jinak kalo mereka jahat ntar kita iket di tiang infus"
Jihan tersenyum mendengar ucapan Fajar dan duduk disebelah lelaki itu. Bingung harus melakukan apa. Ia juga menulikan telinganya tidak ingin mendengar percakapan antara Tiara dan Anta yang entah mengapa membuat dadanya sesak seperti semalam.
Saking sibuknya Jihan melamun ia sampai kaget sendiri saat ponselnya berdering. Jihan langsung mengangkat telponnya tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Halo, Assalamualaikum, sayang kamu dimana?"
"Waalaikumsalam bun, Jihan lagi nemenin temen Jihan jenguk temennya yang sakit. Ada apa bun?"
"Gak apa-apa. Bunda lagi di jalan mau nganter makanan buat Anta. Kamu-
"Hah?????" Pekik Jihan, bisa berabe urusannya kalau bunda melihatnya ia sini apalagi ada Tiara dan teman- teman Anta.
"Kamu kenapa sayang?"
"Enggak bun, Jian kaget tadi."
"Kamu nanti kalo mau ke rumah sakit tolong bawain handuk Anta ya tadi bunda udah siapin tapi lupa bawa."
"I-iya bun"
"Bunda tutup dulu ya nak, bentar lagi udah mau sampe nih. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam." Jihan mengigit bibir bawahnya ia harus mencari alasan untuk kabur dari sini sebelum ibu mertuanya datang.
"Kenapa Ji?" Tanya Tiara yang melihat gelagat aneh Jihan
"Anu....anu .. itu..." Jihan geram sendiri bisa-bisanya nge-blank disaat genting seperti ini
"Apa sih Ji ga jelas deh" Tiara jadi ikutan greget melihat tingkah Jihan yang aneh
"Kucing tetangga... iya kucing tetangga aku mau lahiran Ra, aku disuruh pulang sekarang"
Bukan hanya Tiara yang melongo mendengar alasan Jihan tapi Anta dan teman-temannya juga
"Kan kucing tetangga loe yang lahiran apa hubungannya sama elo?" Tanya Fajar yang ingin tertawa mendengar alasan Jihan
Jihan mengumpat dalam hati kenapa harus ditanya sih ia sudah tidak bisa berfikir lagi, Jihan harus pergi secepat mungkin, "itu kak, kucingnya di hamilin sama kucing aku jadi sebagai pihak keluarga aku harus tanggung jawab. Udah ya kak aku duluan.. Tiara aku duluan bye..."
__ADS_1
Jihan langsung berlari secepat kilat kabur dari ruangan Anta. Karena semua orang sibuk memperhatikan tingkah aneh Jihan tidak ada yang menyadari kalau sebelah sudut bibir Anta tertarik membentuk senyuman.