
Sore itu Jihan pergi ke supermarket yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggalnya, ia harus belanja untuk membeli stok bahan makanan yang sudah habis dirumah sekalian cuci mata, pikirnya.
Sejak menikah Jihan dan Anta tinggal dirumah yang di hadiahi orangtua Anta yang letaknya tidak jauh dari rumah orangtua Anta. Katanya sih biar mereka mandiri
Tapi ada baiknya juga sih, tinggal dirumah sendiri, Jihan lebih merdeka karena tidak perlu repot- repot harus satu kamar dengan lelaki itu. Walaupun sepi sendiri dirumah sementara Anta selalu pulang larut malam entah dari mana dan apa yang di lakukan lelaki itu Jihan tidak peduli yang Jihan tau lelaki itu pasti habis senang- senang.
"Neng, jangan lewat situ tawuran" kata seorang bapak- bapak yang tengah berlari berlawanan arah dengan Jihan
"Tawuran...." Jihan baru saja ingin bertanya tepi terdengar riuh segerombolan anak muda lengkap dengan seragam yang masih melekat ditubuhnya berlarian ke sana kemari, begitu juga dengan Jihan yang baru pertama kali melihat tawuran langsung berlari mencari tempat untuk bersembunyi.
Jihan berlari masuk ke dalam sebuah gang terus mengikuti jalan setapak itu hingga ia mendengar suara orang- orang yang tertawa Jihan langsung besembunyi, ia bahkan sempat menahan nafasnya saat segerombolan anak muda tadi lewat di dekat.
"Cih! Biar mampus ketua geng Maxloska"
"Siapa bilang dia ga bisa di kalahin buktinya sekarang kita bisa."
"Biar mampus sekalian"
Tubuh Jihan menegang, mereka bilang apa tadi ketua geng Maxloska. Itu artinya
Jihan keluar setelah memastikan orang- orang tadi sudah jauh, ia berlari mengikuti jalan setapak ini dan menemukan jalan buntu di sana ia menemukan Anatriksa, lagi- lagi ia seperti merasa de-javu
"Anta"pekik Jihan, gadis itu langsung membalikan tubuh Anta dan meletakan kepala lelaki itu di pangkuannya.
Tangan Jihan bergetar, bau anyir menyeruak menusuk indra penciumannya, tangannya basah dengan darah milik Anta
"Anta.. bangun Anta..." Air mata Jihan langsung menetes tak tega melihat lelaki itu terbaring dengan wajah pucat bersimbah darah.
****
Air mata Jihan terus mengalir, ia berhasil membawa Anta ke rumah sakit setelah menelpon ambulan, ia juga sudah menghubungi mamanya yang kebetulan saat itu sedang bersama ibu mertuanya saat ini mereka sedang dalam perjalanan.
Pikiran- pikiran aneh terus berkeliaran di dalam kepalanya, apalagi saat menemukan Anta dalam keadaan yang membuat Jihan sendiri takut.
Bagaimana kalau lelaki itu sampai meninggal?
Jihan memang tidak menyukai Anta tapi ia juga tidak tega kalau seandainya lelaki itu harus pergi dengan cara tragis seperti itu. Biar bagaimanapun suka atau tidak suka, mengakui atau tidak mengakui Antariksa tetaplah suaminya, mereka sudah terikat dalam sebuah komitmen bukan hanya dua insan tapi melibatkan sang pencipta.
"Jihan"
Jihan yang sedang duduk didepan ruang tunggu langsung memeluk Sylla.
"Keadaan Anta gimana Ji?" Tanya Sylla
__ADS_1
Jihan menggeleng, ia masih menunggu dokter yang kini sedang memeriksa keadaan Anta.
"Apa yang sebenarnya terjadi Ji?" Giliran Sandra yang memeluk menantunya yang masih terus menangis.
"Jian ga tau Bunda, Ji..Jian nemuin kak Anta di jalan udah ga sadarkan diri... Kepalanya berdarah... Kak Anta.."
"Udah sayang ga usah di terusin" Sandra mendekap Jihan menenangkan menantunya itu, "Kamu tenang ya Ji, bunda yakin Anta baik- baik aja.. dia kuat Ji.. kamu tenang ya sayang... Kita berdoa semoga ga ada hal buruk yang terjadi." Sandra mengusap air mata Jihan yang terus saja membanjiri wajahnya.
Sandra tidak tega melihat menantunya yang terlihat begitu sedih, tapi diam- diam ia dan Sylla tersenyum samar mereka bahagia sepertinya perlahan Anta sudah menempati ruang kosong di hati Jihan, semoga sebaliknya.
****
Antariksa membuka matanya perlahan setelah beberapa jam tidak sadarkan diri. Saat membuka matanya hal yang pertama ia lihat adalah ruangan yang serba putih dengan pencahayaan yang cukup menyilaukan mata
Anta memegang kepalanya yang kini sudah di balut perban, samar- samar ingatannya kembali pada kejadian kemarin sore
Flashback on
Anta berpisah dari teman- temannya saat mengejar salah satu anggota inti dari musuh bebuyutannya menuju sebuah gang , ternyata orang yang dikejarnya tadi tidak lagi sendiri, ada beberapa orang yang sudah menunggunya ternyata mereka sudah merencanakan ini semua menyerang Anta secara keroyokan.
Anta dihadang oleh 6 orang anak muda seusianya dari kubu lawan. Ia tersenyum sinis
"Cih! Beraninya keroyokan malu sama jenis kelamin"
Melawan mereka tidaklah sulit bagi Anta ketua genk Maxloska yang terkenal ahli bertarung pemegang sabuk hitam Taekwondo, Judo, dan sederet ilmu bela diri lainnya pernah dipelajari oleh Anta sejak dini.
Tapi ternyata jumlah mereka kini bertambah dua kali lipat. Sehebat apapun Anta ia sudah kalah tenaga kalau diserang secara keroyokan seperti ini. Satu pukulan berhasil mengenai perutnya membuat Anta mengumpat.
"Cupu!!! beraninya kroyokan dasar banci!!!!
Anta berhasil melumpuhkan 8 dari dua belas orang yang menyerangnya. Ia yang sibuk menghajar lawan didepannya tidak menyadari saat seseorang dibelakangnya memegang sebuah batu besar dan langsung menghantam kepala Anta.
Anta terdiam meresapi perasaan aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya, kepalanya mulai terasa nyeri, tangannya menyentuh kepala bagian belakang yang kini basah, tangan Anta kini berwarna merah dengan bau anyir yang menusuk indra penciumannya.
Kepala Anta berdenyut hebat, ia masih berusaha untuk tetap sadar, ia tidak boleh mati konyol disini sebelum menghabisi musuhnya.
"Bang***!!! Beraninya kroyokan. Kalo berani maju sini loe satu lawan satu!! "
"Mau mati aja banyak bacot!!! Serang!!?"
Anta kembali diserang 10 orang secara bersamaan. Penglihatan Anta mulai kabur saat pukulan telak mengenai rahangnya dan Anta langsung ambruk seketika.
"Mampus loe!!!!"
__ADS_1
Anta tidak selemah itu untuk langsung pingsan, ia sengaja pura-pura tak sadarkan diri saat salah satu anak Lebang memeriksa keadaannya.
"Mati bos!!! Kagak ada nafasnya!!"
Tawa kedua belas orang itu menggelegar saat tau musuh terbesar mereka kini berhasil di lumpuhkan.
Anta masih mendengar saat mereka meninggalkannya dengan tawa penuh kemenangan. Kepalanya kembali berdenyut hebat, ia mencoba menjaga kesadarannya tidak boleh mati konyol dalam keadaan mengenaskan seperti ini.
Sayup- sayup Anta mendengar seseorang berlari ke arahnya.
"Anta"
Gadis itu
Anta melihat wajah Jihan yang panik bercampur khawatir sesaat sebelum kesadarannya menghilang.
Flashback of
"Anta, kamu udah sadar nak? Alhamdulillah"
"Bunda..."
"Sebentar jangan banyak bicara, bunda panggil dokter dulu" Sandra menekan tombol darurat yang berada didekat ranjang untuk memanggil dokter.
Beberapa dokter dan perawat datang langsung memeriksa keadaan Anta yang baru saja sadar.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Sandra
"Syukurlah lukanya tidak menyebabkan geger otak dan lainnya, kami akan terus memantau perkembangannya dan memastikan tidak ada gejala lainnya."
Sandra mengucap syukur, setelah mengucapkan terima kasih beberapa dokter dan perawat yang menangani Anta keluar dari ruangan.
"Gimana nak, keadaan kamu?" Tanya Sandra
Anta hanya mengangguk lemah, kepalanya masih terasa nyeri.
"Yasudah sebaiknya kamu istirahat. bunda mau kesebelah liat keadaan Jihan sama ngasih tau kalo kamu udah sadar"
"Jihan?" Beo Anta
"Dia yang bawa kamu ke sini, tadi dia pingsan setelah mendonorkan darah buat kamu."
Anta tersentak kaget, Jihan mendonorkan darah untuknya? Bukankah gadis itu membencinya? Tapi kenapa?
__ADS_1
Kalau di pikir- pikir Jihan sudah beberapa kali menolongnya, walaupun pertolongan pertama gadis itu malah berujung mengubah statusnya dari lajang jadi menikah.