
Jihan sedang rebahan di sofa setelah sadar dan merasa baik- baik saja, ia putuskan untuk pindah ke kamar Anta sambil menjaga lelaki itu.
Ibu mertuanya pulang untuk mengambil keperluan milik Anta dan Jihan selama dirumah sakit. Sementara mamanya pergi ke kantin untuk membeli sarapan.
Pagi ini Jihan bolos ke sekolah gara- gara Anta. Hebatkan seorang Jihan Arsylla rela bolos demi seorang Antariksa Ravindra. Kurang berbakti apa coba Jihan jadi istri.
"Ji, itu Anta disuapin makan dong, dia kan harus minum obat" perintah Sylla yang baru saja kembali dari kantin dan melihat putrinya hanya sibuk rebahan dari tadi
"Tinggal makan ma, gitu aja repot"
"Ji, Anta kan lagi sakit"
"Yang sakit kepalanya ma, tangannya enggak, lagian kan ada mama"
"Ih Jian ga romantis... Ga baik gitu Ji, kamu mau jadi penghuni neraka gara-gara jadi istri durhaka"
"Mama ikh"
"Anta bisa sendiri ma"
Anta meringis saat berusaha duduk bersandar, Jihan yang melihat itu jadi merasa tidak tega, ia pun ikut merasakan sakit di kepalanya seolah ia mengalami apa yang lelaki itu alami. Dengan cepat Jihan bangkit dari sofa menghampiri ranjang Anta.
"Biar aku aja"
Sylla tersenyum penuh arti, ia tau betul bagaimana putrinya, " nah gitu dong Ji, sama suami tuh harus sayang"
"Amit- amit"
"Amit- amit tapi kamu tangisin, Anta belum sadar kamu khawatirin . Itu namanya sayang apa najis?"
"Sesuka hati mama aja"
Jihan mulai mengaduk- aduk bubur ditangannya bersiap untuk menyuapi Anta, "mangap yang lebar"
"Ji, yang lembut dong sama suami sendiri juga"
"Ma, bisa ga sih ga ngomong suami-istri terus. risih tau ga dengernya"
"Kamu gimana sih Ji, kalian kan emang suami istri. kamu mah aneh banget" ucap Sylla tak habis pikir dengan tingkah anaknya itu, "oh ya sayang mama mau tanya kamu kenapa bisa sampai babak belur begini? Siapa yang udah bikin menantu kesayangan mama yang ganteng ini jadi kaya begini, bilang sama mama biar nanti mama ulek jadi ayam geprek"
Anta tersenyum samar, "biasalah ma anak muda"
Jihan menatap Anta tak percaya, seenteng itu jawabanmu mas, ya gusti.
Tidak tahukah Anta, kalau saja Jihan tidak datang tepat waktu mungkin dirinya kini sudah didalam pusara meninggalkan Jihan dengan status Janda. Amit- amit!!
"Tapi jangan diulangin ya nak, mama sama bunda khawatir apalagi Jihan, dia nangis dari kemaren sore sampai tengah malem berenti sebentar pas pingsan karena abis donor darah buat kamu. Untung aja kamu cepet sadar kalo enggak mama sama bunda kamu ga tau gimana caranya diemin Jihan nangis"
Jihan memasang wajah datarnya, Astaga berkata kasar sama orangtua udah pasti dosa,
mama yang cantik sudah cukup ma Jihan malu...bisa- bisanya mamanya sendiri membuka aib anaknya bisa besar kepala dia ma, dia kira Jihan khawatir, punya perasaan atau apapun lah ke dia.
"Iya ma?"
Sylla tersenyum melanjutkan ceritanya "iya terus ya, pas dokter bilang kamu kehilangan banyak darah dan butuh donor darah Jihan langsung nanya apa golongan darah kamu terus dokter bilang AB, Jihan langsung masuk ke ruangan sambil ngelap ingusnya dia bilang gini 'Ambil darah saya aja Dok golongan darah saya AB'"
Jihan ingin sekali mengusir mamanya pergi saat ini juga, sudah cukup aibnya di bongkar, rasanya ia sudah tidak punya harga diri lagi dihadapan Antariksa.
Ya Tuhan!! Kirimkan bala bantuan
Saat tengah serius berghibah seorang perawat masuk menjeda acara ghibah mamanya Jihan dengan sang menantu.
"Permisi keluarga pasien Antariksa Revindra"
__ADS_1
"Iya sus, ada apa?" Tanya Sylla
"Ini ada obat yang harus ditebus di apotik bu"
Sylla mengangguk, "baik sus terima kasih.. sayang mama tinggal sebentar ya.. Ji pastiin Anta makan yang banyak"
"Iya ma"
Setelah Sylla pergi suasana menjadi hening, lebih tepatnya agak merinding bagi Jihan. Ia yang masih menyuapi Anta dibuat ngeri dengan tatapan aneh lelaki itu apalagi setelah aibnya dibuka oleh sang mama.
"Thanks"
Jihan yang sedari tadi sibuk mengaduk, menolehkan kepalanya menatap Anta tidak percaya, apa lelaki iitu baru saja mengucapkan terima kasih padanya.
"buat?"
Sebelah tangan Anta terulur menyentuh pucuk kepala Jihan"Loe nolongin gue lagi, kalo loe ga ada mungkin gue udah mati."
Jihan membeku seketika, seluruh tubuhnya mendadak kaku saat merasakan hangatnya usapan tangan Antariksa diatas kepalanya.
Aneh
Kenapa Jihan merasa jantungnya jadi berdebar begini, apalagi saat melihat Anta tersenyum manis padanya.
*****
Jihan setengah berlari di koridor rumah sakit untuk memanggil salah seorang dokter karena Anta mengeluh kepalanya sakit.
Saking terburu-burunya Jihan menabrak seseorang, cukup kuat hingga tubuh mungil Jihan terhuyung kebelakang hampir terjatuh kalau tidak ditahan oleh seseorang.
"Pake mata Woy kalo jalan!!!!"
"Dede gemoy gak apa-apa?"
"Loe lagi loe lagi. Bosen gue liat loe dimana- mana" kata Mario yang langsung emosi melihat Jihan apalagi ia teringat insiden kemarin di lapangan
"Udah sih dia ga sengaja. Kenapa diperpanjang" sahut Kevan
"Tau nih kasian tau dede gemes" Fajar melempar senyum pada Jihan
"Gemes loe bilang?" Seringai Dion,"bikin sial iya"
"Woy, lambe kasar banget jadi cowok pantesan ga laku" cibir Fajar tak habis pikir kenapa mulut Dion lebih pedes dari sambel rujak di abang-abang perempatan sekolahnya
"Dari pada loe gamon" ledek Mario
"Itu artinya gue setia sama Adel.." Fajar bangga dengan predikatnya yang sudah setahun berlalu masih belum bisa melupakan mantan pacarnya Adelia anak kelas 12 IPS 1
"Bacot loe" Dion langsung pergi disusul Mario dan Kevan
Fajar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat teman- temannya yang merupakan titisan Lambe nyir-nyir, "maafin mereka ya dek, mereka lagi pada dateng bulan makanya agak sensi"
Jihan tersenyum, ternyata teman- teman Anta tidak semua mengerikan seperti yang ia duga, "gak apa- apa kak"
"Loe Jihan kan?"
"Iya kak"
"Btw loe ngapain disini Ji? Abis jenguk Anta ya?" Goda Fajar sambil menaik turunkan alisnya
"Enggak kak, abis jenguk sodara di sini."
"Mau jenguk Anta ga? Yuk bareng"
__ADS_1
Jihan menggeleng, "aku mau pulang kak"
"Okedeh kalo begitchu.. hati- hati ya"
"Iya kak"
Fajar melambaikan tangannya sebelum pergi menuju kamar Anta. sedangkan Jihan harus mencari tempat pengungsian sementara sampai teman- teman Anta pulang
"Lama banget loe abis pedekate ya sama dede bang*** loe itu" sinis Mario
"Sensi amat loe kaya perawan, heh dia udah minta maaf yang di tabrak juga tadi si Dion kenapa loe yang tensi"
"Ketemu dia bawa sial tau ga" kata Dion
"Udah kali , jangan emosi mulu. Kita ke sini mau jenguk Anta bukan mau gelud" Kevan yang sedari tadi diam akhirnya bersuara juga
"Pada ngomongin apa ?" Tanya Anta yang tengah berbaring memperhatikan sahabat- sahabatnya itu
"Itu tadi dede bang***nya si Fajar nabrak si Dion" jelas Mario
"Ketemu Jihan di koridor tadi dia kaya lagi buru- buru gitu terus ga sengaja nabrak Dion" ralat Fajar
"Belain aja terus. Naksir loe?"
"Kalo gue naksir kenape? Masalah buat EL. Siapa tau dia bisa jadi jalan ninja gue dari yang maha kuasa supaya gue muvon dari Adel. Ya ga sih?"
"Si Anying... Maksa banget. Gue yakin dia cewe normal ga bakal milih elo" sarkas Kevan
"Ucapanmu sungguh nauzubillah mas, aku terlukah" Fajar menirukan salah satu artis lawas idola ibunya
"Jijik Jar Jijik"
Fajar merubah mimik wajahnya menjadi serius "Tapi ya Mario, Dion...gue saranin loe berdua jangan terlalu benci sama orang takutnya loe kena tulah terus jatuh cinta sama tuh orang"
"Najis!!!!" kata Dion
"Hari ini loe bisa bilang najis .. siapa yang tau besok atau lusa malah kesemsem sama dia" ujar Kevan
"Lagian ya kalo menurut gue Jihan anaknya manis... Ya kalo dibandingin sama daftar Fans Anta dia kalah telak tapi justru dia yang paling unik yang pernah gue temuin, apalagi lesung pipinya kalo lagi senyum... Deeh kaya ada manis- manisnya gitu"
"Lemin kali.. di endors lo" celetuk Kevan
"Kenapa jadi ngomongin dia sih" kuping Dion mulai panas mendengarnya
"Btw Ta, gimana kronologis loe bisa sampe babak belur begini?" Tanya Kevan mengalihkan pembicaraan
"Mereka ngejebak gue di gang, awalnya gue lawan 6 orang tapi ternyata jumlah mereka jadi dua kali lipat, gue hampir ngalahin mereka tapi ada yang mukul kepala gue pake batu..." Anta tak lagi meneruskan ucapannya toh teman- temanya sudah tau ending tragis yang menimpa dirinya
"Kurang ajar!!!!! Beraninya keroyokan. Ga malu apa... Kalo gue sih malu mending ngumpet di ketek emak" maki Mario
"Tunggu aja mereka harus dibalas setimpal nanti!" Dion mengepalkan tangannya tak terima jika ketua mereka diperlakukan seperti ini.
"Iya nanti kita bales kalo pak ketu udah sembuh, sekarang biarin dia pulih dan kita cari tau siapa aja yang terlibat penyerangan." Kevan berusaha mencairkan ketegangan akibat emosi Dion dan Mario, jujur ia emosi tapi tidak di situasi seperti ini
"Setuju deh sama bebeb Kevan" suara Fajar dengan centilnya
"Najis Jar najis gue masih normal, masih Sayang juga sama Dea" sahut Kevan
"Dea jauh mending sama gue yang ada didepan mata" goda Fajar sambil mengedipkan sebelah matanya
"Allahu, istighfar Jar, nyebut gamon boleh belok jangan"
Anta tersenyum semu tak habis pikir, bisa-bisanya ia punya teman modelan mereka kaya begini.
__ADS_1