Jungkir Balik Dunia Jihan

Jungkir Balik Dunia Jihan
Part-03


__ADS_3

Meski matanya terpejam Jihan masih bisa mendengar mamanya sedang menelpon Anta. Ingatan Jihan kembali ke beberapa bulan yang lalu saat itu ia baru beberapa bulan menjadi siswa berseragam putih abu-abu, ia kembali mengingat hari dimana statusnya bertambah satu bukan sekedar pelajar SMA tapi juga istri seorang Antariksa Ravindra


7 bulan yang lalu


Jihan baru saja pulang dari rumah Juwi mengantar buku catatan milik sahabatnya itu. Ponsel Jihan yang lowbat membuatnya tidak bisa mengabari orangtuanya untuk minta dijemput mau tidak mau Jihan jalan kaki keluar komplek perumahan Juwi untuk mencari taxi.


Hampir setengah jam Jihan menunggu tapi tidak ada satupun taxi yang lewat karena masih sore akhirnya Jihan putuskan untuk jalan kaki siapa tau sepanjang jalan ia menemukan kendaraan umum lainnya


Sudah setengah jalan, Jihan benar- benar kelelahan entah kemana para taxi dan antek-anteknya hari ini tidak ada satupun yang lewat. Sayup- sayup ia mendengar suara rintihan.


Bulu kuduk Jihan meremang, senja kini sudah berganti warna, jalan yang dilalui Jihan pun cukup sepi karena ini satu- satunya jalan pintas yang paling cepat menuju rumahnya.


Suara yang tadinya terdengar sayup-sayup kini semakin terdengar jelas di telinga Jihan, dengan sedikit keberanian Jihan mendekati sumber suara. Betapa terkejutnya Jihan melihat seorang laki-laki tersungkur dibalik semak- semak.


Jihan ragu-ragu tapi sebagian hatinya menyuruhnya untuk mendekat dan menolong orang itu atas dasar kemanusiaan, akhirnya ia memberanikan diri mendekat, cukup sulit membalikan tubuh lelaki itu mengingat badannya lebih besar dari dirinya


Jihan tercengang saat melihat lelaki itu tidak sadarkan diri. Ia takut kalau yang ditemukannya itu mayat. Jihan meletakan jarinya didekat leher lelaki itu dan masih bisa merasakan denyut nadinya. Itu berarti lelaki itu masih hidup, bukan mayat apalagi zombie.


"Bang,...eh Bangun mas... masnya Bangun hey..." Jihan mencoba menepuk- nepuk pipi lelaki itu mencoba menyadarkannya namun orang itu masih saja diam


Ya gusti!!!! tolong


Jihan panik, bagaimana caranya menolong laki-laki itu, ponselnya yang mati membuat ia tidak bisa menelpon ambulan atau menghubungi seseorang untuk meminta bantuan, apa Jihan teriak aja kali ya.


"To...."


"Ergh.."


Jihan baru saja mau teriak, tapi terdengar erangan dari si empu, dalam hati ia berharap lelaki itu sadar setidaknya ia bisa meminjam ponselnya untuk menelpon ambulance atau keluarganya.


"Mas... Mas hei.. Bangun mas..."


Mata laki- laki itu terbuka perlahan, sebelah tangannya memegang kepala yang terluka


"Mas, gak apa- apa?" Tanya Jihan


"Loe siapa?"


"Saya.. saya Jihan..."


"Gue dimana?"


"Disemak- semak"


"Ngapain gue disini?"


"Lah, mana saya tau masnya ngapain orang saya nemuin masnya udah pingsan kok"


Lelaki itu memegang kepalanya sesekali meringis menahan sakit. Jihan buru- buru mengeluarkan sapu tangan dan botol minumnya dari dalam tas.


Lelaki itu menenggak habis air minum dari Tumbler milik Jihan.


Pelan- pelan Jihan mengobati pelipis lelaki itu yang terluka, untung saja ia punya plester didalam tasnya.


Jihan memperhatikan lelaki yang ada didepannya itu ia merasa familiar dengan seperti pernah bertemu, tapi dimana Jihan melihatnya, wajahnya yang rupawan tidak asing bagi Jihan


"Ngapain loe ngeliatin gue kaya gitu?"

__ADS_1


"Muka masnya ga asing. Kaya sering liat"


"Mas.. mas..loe pikir gue tukang nasi goreng"


Somplak banget nih orang udah ditolongin bukannya makasih malah ngomel- ngomel,Jihan mencibir dalam hati menyesal telah menolong lelaki itu


Jihan lalu memekik kaget ia ingat lelaki didepannya adalah salah satu kakak kelasnya di sekolah, "kak Anta"


"Kenapa? loe kenal sama gue?"


Jihan buru- buru menggeleng, "enggak"


"Kok loe tau nama gue? Loe fans gue? Atau..."


Jihan menggeleng, "bukan, cuma adek kelas" selanya cepat


Anta mengangguk, ia menatap sekeliling hari semakin gelap dan mereka masih ditempat yang sama, ia harus pergi sekarang tapi kakinya terasa sakit untuk digerakan, "bantuin gue berdiri"


Jihan tersentak kaget, ia langsung berdiri membantu Anta tapi sialnya tubuh Anta yang lebih besar membuat Jihan terhuyung dan mereka kembali terjatuh dengan posisi Anta yang berada diatas Jihan.


"Loe gimana sih" gerutu Anta kesal karena kakinya semakin sakit


"Gimana apanya, salah badan kakak berat aku mana kuat" protes Jihan


"Woyy mesum ya???"


Jihan mendorong Anta yang jatuh menimpanya, ternyata kesialan mereka belum berakhir. Kini mereka berada ditengah- tengah kerumunan warga lebih tepatnya beberapa bapak- bapak yang baru pulang dari masjid.


"Siapa yang mesum. Kita jatoh" sahut Anta tak terima


"Astagfirullah neng.. masih sore... Disemak- semak pula.. "


Jihan melongo, tidak begitu paham maksud si bapak tapi sepertinya mereka menduga kalau ia dan Anta sedang berbuat mesum karena posisi mereka yang kurang estetik saat jatuh dimana Anta jatuh menimpa Jihan "Pak, ini salah paham pak,.. saya nolongin orang ini tadi.." kata Jihan mencoba membela diri


"Alah.. alasan aja. Udah pak bawa ke pak lurah aja"


"Mau ngapain pak?" Tanya Jihan panik


"Karena kalian sudah tertangkap basah berbuat mesum dan sesuai hukum di desa ini maka kalian harus di nikahkan"


"Apa? Menikah?????" Teriak keduanya kaget


"Iya menikah"


"Pak ini salah paham pak... Pak" warga sudah tidak mau mendengar penjelasan Jihan dan Anta akhirnya menggiring paksa keduanya ke rumah kepala desa yang tak jauh dari sana.


Jihan tak henti- hentinya menangis, ia takut kedua orangtuanya marah, apalagi kesalahpahaman ini terdengar seperti aib yang memalukan untuk kedua oranhtuanya. Bagaimana bisa gadis sepolos Jihan berbuat hal seperti itu, kalau pun iya Jihan akan memilih idolanya untuk di ajak berbuat mesum, lumayan kalo di grebek kan ya nikah sama Idola.


Satu jam kemudian Orangtua Jihan datang bersamaan dengan orangtua Anta.


"Jihan, sayang???"


"Mama" Jihan langsung menangis memeluk mamanya


"Anta ada apa ini?" Tanya ayah Anta Ravindra


"Ayah.. ini...".

__ADS_1


"Anak- anak bapak dan ibu tertangkap basah telah berbuat mesum" kata bapak Kades


"Enggak pah, mereka salah paham..." Kata Jihan disela isak tangisnya, Jihan baru ingin bersuara tapi Ayahnya Anta langsung mendekati papanya


"Ardi?"


"Ravi?"


Kedua pria paruh baya itu saling merangkul membuat seisi ruangan menatap mereka dengan bingung, kok malah reuni


"Sylla"


"Sandra"


Jihan makin melongo saat mamanya ikut berpelukan dengan ibunya Anta, lalu melanjutkan obrolan mereka seputar kabar dan kesibukan ibu rumah tangga.


"Sudah lama kita ga ketemu, kamu tinggal dimana?" Tanya Ravi


"Aku di Puri Indah. Kamu?" Ardi bertanya


"Garden Hills, astaga aku ingat kita bertemu beberapa tahun yang lalu. Kamu masih saja sama"


"Akh kamu terlalu memuji bilang saja ingin di puji balik. " Kekeh Ardi


"Ekhem.. bapak ibu maaf menganggu acara reuninya. Bisa kita lanjutkan permasalahannya" kata pak Kades


Kedua orangtua Jihan dan Anta pun diam, kembali ke topik permasalahan anak- anak mereka.


"Pak bu sesuai hukum di desa ini, karena anak bapak dan ibu tertangkap basah telah berbuat hal tidak senonoh di desa kami maka dengan terpaksa kami mengambil tindakan untuk menikahkan mereka demi menghindari fitnah dan terjerumus dalam dosa yang lebih jauh." Jelas pak Kades


"Pah, dengerin Jihan dulu ini semua salah paham pah" Jihan menarik baju Ardi supaya mendegarkan penjelasannya


"Papa percaya Jian anak baik..." Ardi mengusap kepala anaknya


"Kak, jangan diem aja ,ngomong dong" Jihan menyuruh Anta untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi


"Yah, Bund, tolong dengerin penjelasan Anta" Anta yang sedari tadi diam menahan sakit dikakinya langsung menjelaskan kronologi dirinya bisa ada dibalik semak-semak lalu ditemukan Jihan sampai akhirnya mereka di arak ke kantor desa oleh bapak- bapak sekalian.


Ravi menghela nafas panjang, ia percaya putranya tidak mungkin berbuat hal yang mencoreng nama baik keluarga meskipun Ravi tau bagaimana nakalnya Anta tapi putranya itu tidak pernah mempermainkan perempuan.


"Ayah percaya..,"


"Bagaimana bapak ibu keputusannya?" Tanya pak Kades


"Rav?"


Ravi menarik nafasnya pelan, "mungkin ini sudah takdirnya Di, sebelumnya kita memang sudah punya niat untuk menjodohkan anak- anak kita tapi aku tidak percaya akan secepat ini dan dengan cara seperti ini. Jadi aku dan keluargaku berniat melamar putrimu untuk dinikahkan dengan putraku Antariksa"


"Pah, Jihan ga mau nikah sama dia..." Rengek Jihan


"Loe pikir gue mau nikah sama loe" sinis Antariksa


"Ini yang terbaik sayang.." Ardi mengusap air mata Jihan yang sudah banjir.


"Yah..." Anta mencoba protes tapi tatapan Ravi menandakan kalau keputusan itu sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi.


"Kalaupun kamu menolak warga tetap akan menikahkan kalian secara paksa" kata Ravi

__ADS_1


Akhirnya malam itu menjadi malam bersejarah bagi Jihan dan Anta. Status mereka kini bukan hanya sekedar seorang pelajar tapi sepasang anak muda yang sudah mengemban tanggung jawab sebagai suami dan istri


__ADS_2