
Jihan mengalungkan kedua tangannya di leher Anta, ia membalas pelukan Anta dengan erat seolah takut lelaki itu akan meninggalkannya. Dengan sabar Anta menenangkan gadis itu, mengusap punggungnya agar Jihan merasa nyaman dan melupakan ketakutannya.
Anta mengumpat dalam hati ini semua karena kebodohannya, kalau saja ia tidak egois Jihan tidak akan seperti sekarang ini.
Semua ini berawal gara- gara postingan kampret itu.
Mood Anta buruk sejak tiba disekolah, ia bahkan bolos dari pagi hingga pulang sekolah gara- gara postingan akun gosip yang memposting foto Dion dan Jihan di UKS kemarin
Sebenarnya Anta tau Jihan pulang dengan Dion kemarin, ia juga tau apa yang di lakukan oleh Aulia gadis yang terang-terangan menyukai Dion tapi lelaki itu tidak menggubrisnya pada Jihan kemarin hanya saja saat Anta hendak menolong Jihan, Dion lebih dulu datang menyelamatkan Jihan. Semua itu tidak luput dari pandangan Anta hingga Dion mengantar Jihan sampai di gang menuju rumah orangtua Jihan.
Walaupun ia sudah tahu, tetap saja postingan kurang kerjaan itu berhasil mengusik moodnya sepanjang hari. Hingga pulang sekolah Anta tidak sengaja bertemu dengan Alina adiknya Kyra istrinya bang Langit.
Alina mengajaknya jalan-jalan dan Anta menyetujui itu, hingga Anta melupakan Jihan yang menunggunya di halte bus. Kesannya Anta seperti balas dendam pada Jihan tapi sebenarnya ia hanya ingin menglihkan pikirannya sejenak karena moodnya kurang bagus makanya Anta menghindari Jihan, ia takut menyakiti gadis itu kalau terus- terusan berada didekat Jihan.
Hingga saat Anta pulang dan tidak menemukan Jihan dirumah jujur ada rasa khawatir menghinggapinya, tapi karena egonya lebih besar membuatnya hanya diam dan menunggu sampai ia melihat ojek yang membawa Jihan masuk ke pekarangan rumah barulah ia merasa sedikit lega.
Anta kembali mengabaikan rasa bersalahnya saat melihat Jihan masuk kedalam rumah, gadis itu pulang dengan mata sembab. Sudah pasti Jihan kesal padanya.
Tapi lagi-lagi egonya mengalahkan rasa bersalahnya Ia malah pergi berkumpul dengan teman-temannya juga Alina di bacsecamp.
Anta tidak sepenuhnya menikmati acara bersama temannya, tubuhnya memang ada di basecamp tapi pikirannya sedang memikirkan Jihan hingga hujan turun dengan lebatnya.
Anta yang teringat cerita ibu mertuanya langsung pulang tanpa pamit pada teman-temannya dan mengabaikan panggilan Alina yang melarangnya untuk pulang.
Petir yang saling bersahutan membuat jantung Anta berdegup kencang rasa khawatir semakin menyelimuti hatinya, ia yakin gadis itu tengah ketakutan sekarang.
Rasa bersalah bercampur panik Anta semakin menjadi saat memasuki kawasan perumahannya yang gelap total, tanpa membuang waktu Anta mempercepat laju motornya.
Anta mengurai pelukan mereka, ingin melihat wajah Jihan memastikan keadaan gadis itu tapi Jihan malah semakin mengeratkan pelukannya hingga akhirnya Anta memilih mengalah membiarkan gadis itu melakukan apapun yang ia mau.
Nafas Jihan yang tidak beraturan membuat Anta semakin menyesal, "Hei..."
Jihan mengurai pelukan mereka, dengan sebelah tangannya Anta menghapus sisa air mata di pipi gadis itu.
"Masih takut?"
Jihan menggeleng, "makasih Anta" Gadis itu turun dari pangkuan Anta kembali ketempat tidurnya, sebenarnya Jihan masih takut tapi setidaknya hujan sudah sedikit reda dan suara petir tidak terdengar lagi tersisa gelap tapi ada Anta disini itu sudah cukup membuat Jihan tidak setakut tadi.
"Maaf ya Anta"
Sebelah alis Anta terangkat kenapa jadi dia yang minta maaf kan dirinya yang salah, "buat?"
"Nyusahin Anta. Pasti Anta mikir Jian lemah banget sama petir aja takut, sama gelap aja nangis."
"Gue ga pernah mikir ke sana. Lagian setiap orang punya ketakutan tersendiri. Ada yang takut gelap, jarum suntik, atau hewan"
"Iya sih"
"Ga selamanya gelap itu kelam dan menyeramkan, ada banyak hal yang terlihat Indah di kegelapan" sebelah tangan Anta masih menggenggam tangan Jihan, "tidur gih masih malem, gue temenin sampe loe tidur"
Jihan merebahkan tubuhnya, matanya masih enggan terpejam, hujan kembali turun dengan derasnya, cahaya remang-remang dari lampu emergency cukup menerangi kamar Jihan.
"Tidur "
"Belom ngantuk Anta"
"Mau gue nyanyiin"
"Eh-" Jihan kaget, ia tidak salah dengar kan, Anta mau nyanyi, bu-buat Jihan gitu?
"Sini" Anta menepuk bantal yang ditidurinya agar Jihan mendekat, "gue nyanyiin tapi loe tidur ya"
__ADS_1
"Emang Anta bisa nyanyi?"
"Ga bisa sih, gue jamin loe bakal milih tidur dari pada dengerin gue nyanyi."
Jihan hanya mengangguk sambil tersenyum, ia sudah tidak bisa berkata-kata saking sibuknya mengontrol detak jantungnya yang sudah tidak karuan rasanya.
"Goin' out tonight, changes into something red"
Baru satu bait yang dinyanyikan Anta, Jihan sudah dibuat meleleh mendengar suaranya. Suara Anta yang serak- serak basah begitu sopan masuk ke telinga Jihan
Arghh!!! Kalo kaya gini gimana ga makin jatuh cinta sama bang Anta
..."Her mother doesn't like that kind of dress...
...Everything she never had she's showin' off...
...Drivin' too fast, moon is breakin' through her hair...
...She's headin' for somethin' that she won't forget...
...Havin' no regrets is all that she really wants"...
Bukannya tidur pipi Jihan malah merah merona, dinyanyiin dengan jarak sedekat ini sama Anta menimbulkan reaksi aneh di tubuh Jihan.
Rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam tubuhnya, detak jantungnya yang sudah tidak karuan membuat mata Jihan enggan terpejam, bawaannya melek ngeliatin Anta terus.
..."We're only gettin' older, baby...
...And I've been thinkin' about it lately...
...Does it ever drive you crazy...
...Everything that you've ever dreamed of...
...Disappearing when you wake up...
...But there's nothing to be afraid of...
...Even when the night changes...
...It will never change me and you"...
Hingga Anta menyelesaikan bait terakhirnya Jihan masih menatap kearahnya tanpa berkedip. Bukannya tidur malah kesemsem tuh bocah
"Tidur .."
Jihan sedikit tersentak kaget lalu membalikan tubuhnya membelakangi Anta. Sedikit malu karena tanpa sadar pesona Anta kembali memporak porandakan hati Jihan.
Gimana ga ambyar, Anta udah paket komplit dengan plus minusnya. Beruntung banget yang bisa dapetin hati Anta.
Setetes air mata Jihan mengalir tanpa permisi ingatannya tadi sore saat melihat Anta boncengan entah dengan siapa Jihan belum pernah melihatnya membuat hatinya serasa dicubit.
Gadis yang beruntung.
****
Moto hidup Jihan pagi ini adalah," move on"
Setelah sepanjang malam berdebat dengan hatinya Jihan putuskan untuk move on dari Anta. Entah dibawa kemana pernikahan merka nanti terserah Anta tapi tekad Jihan adalah menjaga hatinya untuk tidak jatuh cinta terlalu dalam pada Antariksa.
Dimulai dari jaga jarak seperti diawal- awal mereka menikah tidak peduli satu sama lain. Dua orang asing yang disatukan tanpa sengaja, saling terikat tapi ada di jalan masing-masing. Ngerti ga sih
__ADS_1
Jihan bangun lebih pagi, membuat sarapan, bersiap lalu memesan ojek online ia putuskan untuk berangkat lebih dulu dari Anta, tepatnya menghindar dari Anta.
Begitu mendapat notifikasi dari babang ojek, Jihan langsung keluar menemuinya di luar.
Entah Jihan yang lelet atau abangnya yang kurang sabar nunggu saat Jihan keluar ojek pesanannya sudah pergi begitu saja tanpa membawanya.
Bibir mungil Jihan sudah siap mengumpat dengan kata-kata baik tapi ia tunda saat melihat Anta berdiri tak jauh darinya sambil melipat kedua tangannya didada. Mata elangnya menatap tajam ke arah gadis itu siap mengeksekusi Jihan hanya dengan tatapan matanya.
Oh- my- God!!!!
"Ngapain loe pesen ojek online?"
Yang mau dihindari malah harus dihadapi, Jihan hanya bisa nyengir dengan wajah tanpa dosa padahal didalam hatinya sudah tak karuan rasanya, Anta dengan mata elangnya adalah kombinasi sempurna yang bikin Jihan mendadak mules saking tegangnya "ma-mau berangkat se-sekolah"
Anta langsung masuk ke dalam meninggalkan Jihan yang bertanya-tanya episode selanjutnya gimana?
Jihan bingung, andai beribu andai orangtuanya tidak begitu melarangnya untuk belajar naik motor atau mobil, mungkin sekarang Jihan tidak akan sebingung ini berangkat sekolah naik apa. Mana Anta jadi ngediemin Jihan , kalo begini situasinya Jihan kan jadi bingung, serba salah harus ngapain.
Anta keluar lengkap dengan jaket kebangsaannya dan ransel yang disandang di bahunya.
Anta jangan begini dong, Jian bingung kalo ngikutin Anta ntar ke-GRan tapi kalo ga pergi bareng masa hari ini Jian bolos, batin Jihan
"Buruan"
"Eh-" Jihan kaget saat Anta berhenti didepannya dengan mobil bukan motor kesayangannya
"Loe masuk atau gue tinggal!"
Astagfirullah!!! Masih pagi udah sensi banget sih bang.
Sambil ngedumel dalam hati Jihan masuk ke dalam mobil. Ia berjanji tidak akan mengajak ngobrol lelaki itu lebih dulu.
"Loe mau menghindar dari gue?" Tanya Anta setelah cukup lama mereka diam
Jihan sedikit kaget, apa iya gerak geriknya terbaca atau Anta punya indra ke enam yang bisa baca pikiran orang, kok tau sih kalo dirinya berniat menghindari lelaki itu.
"Eng-enggak, ngapain menghindar kita bahkan satu rumah, satu sekolah juga.."
"Baguslah. Jangan coba-coba menghindar dari gue atau loe tau akibatnya."
Glek
Jihan susah payah menelan salivanya, diliriknya Anta yang sedang fokus mengemudi. Apa maksud perkataan lelaki itu barusan? Apa tadi Anta sedang mengancamnya?
Fix, Jihan kalah sebelum ia memulai misinya.
Sepanjang sisa perjalanan mereka habisnya dengan diam dan sibuk dengan pikiran masing- masing. Hingga mobil Anta berhenti di dekat halte bus.
"Pulang nanti tungguin gue disini"
"Ta-tapi..."
"Loe tunggu gue disini atau gue samperin ke kelas loe"
Mata Jihan melotot seketika, bisa heboh satu kampung kalo Anta nyamperin Jihan di kelas, buru-buru gadis itu menggeleng, "o-oke" ucapnya yang langsung keluar dari mobil Anta.
Anta tersenyum semu, puas sekali melihat wajah gadis itu. Cukup lama Anta diam didekat halte hingga punggung Jihan menghilang dibalik gerbang sekolah barulah ia menyalakan mesin mobilnya melaju ke arah sekolah.
***
hari ini cukup ya besok lagi😊😊😊😊
__ADS_1