
Saat sedang asik-asiknya makan, kedua insan yang tengah dimabuk sate itu dikagetkan dengan ketukan pintu.
Siapa yang bertamu malam-malam begini, pikir mereka
Anta bangkit karena ia sudah selesai makan, berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang bertamu selarut ini, "loh kak Kyra"
Wanita berusia sekitar 25 tahun itu tersenyum kikuk pada Anta, "Anta maafin kakak, malem ini kakak boleh nginep disini ga?" Ucapnya ragu-ragu
"Siapa Anta?" Tanya Jihan yang ikut menyusul matanya Jihan membulat seketika melihat kakak iparnya berdiri diambang pintu, "kak Kyra, masuk kak "
wanita yang dipanggil Kyra itu masuk ke dalam bersama Jihan menyisakan Anta yang masih berdiri diambang pintu dengan perasaan bingung.
"Sebentar kak, Jihan bikinin minum" Jihan langsung berlari ke dapur membuat minuman untuk kakak iparnya,
beberapa saat ia kembali ke ruang tengah dengan nampan berisi secangkir teh "diminum kak"
"Makasih Ji."
Jihan menatap Anta seolah meminta penjelasan namun yang ditatap malah mengangkat bahunya.
"Maaf ya Anta, Jihan kakak ganggu kalian dateng ke rumah kalian malem- malam begini, kakak.." Kyra menjeda ucapannya air matanya mengalir seperti ada beban yang tengah disembunyikannya.
"Kalo kakak ga siap ga usah cerita kak." Kata Jihan berusaha menenangkan Kyra
Kyra mengangguk "Malam ini boleh kakak nginep disini?" Tanya Kyra
Jihan melirik Anta yang sedari tadi hanya diam, namun sedetik kemudian lelaki itu mengangguk.
"Boleh kak,.."
Kyra tersenyum, "terima kasih Anta, Jihan maaf kakak ngerepotin kalian"
"Iya kak gak apa- apa"
Berhubung kamar tamu di rumah ini belum difungsikan terpaksa Jihan harus mengalah dan merelakan kamarnya untuk ditempati Kyra malam ini.
Baru aja mau merdeka, udah disuruh satu kamar lagi sama Anta. Hufttt
Jihan mengetuk kamar Anta sebelum masuk ke kamar lelaki itu, dilihatnya Anta tengah bersandar di atas tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya.
Rasanya canggung, Jihan sering keluar masuk kamar ini sekedar bersih- bersih tapi kali ini ia merasa gugup karena untuk pertama kalinya ia harus tidur dikamar ini.
Berbekal selimut yang ia bawa dari kamarnya tadi sebelum Kyra masuk, Jihan siap menyambangi lautan mimpi meringkuk diatas sofa.
"Ngapain tidur disitu?"
Jihan menatap Anta bingung," kalo ga tidur di sofa Jihan harus tidur dimana?"
"Loe tidur di sini " ucapnya sambil menepuk sebelah tempat tidurnya yang kosong
"Terus Anta tidur di Sofa gitu? Jangan deh Anta masih sakit biar Jian aja"
"Siapa bilang gue mau tidur di sofa? Dikamar gue sendiri pula. Loe tidur disini sama gue. Lagian gue ga se-tega itu ngebiarin loe tidur di sofa semetara gue di kasur, "
Walaupun terdengar menjengkelkan plus ngajak ribut tapi entah mengapa terdengar manis di telinga Jihan.
__ADS_1
Jihan mengangguk kemudian berjalan ke arah kasur bersiap untuk tidur, "makasih" ucapnya siap memejamkan mata
"loe tenang aja gue ga bakal macem- macem sama loe, karena loe bukan tipe gue.."
Jihan yang baru saja ingin memejamkan mata sempat terdiam beberapa saat lalu tersenyum samar, "Makasih Anta, Jian tau kok tipe Anta tuh yang sexy, cantik, bohay kaya Airin, Anta tenang aja meskipun satu sekolah mengangumi Anta tapi Jihan bukan salah satu bagian dari mereka, karena Anta juga bukan tipe Jian."
Perkataan Jihan barusan cukup telak untuk membungkam seorang Antariksa.
****
Jihan terbangun karena merasa tenggorokannya kering, ia membuka matanya perlahan merasa ada yang aneh dengan posisi tidurnya. Ada sesuatu yang hangat menerpa wajahnya membuat Jihan merasa geli seketika.
Jihan menoleh ia terkejut saat pipinya bersentuhan dengan hidung mancung milik Antariksa dan yang membuatnya lebih terkejut lagi ia tidur dengan sebelah tangan Anta yang di jadikan bantalan kepalanya.
Kalau biasanya Jihan akan segera kabur melihat Anta lain halnya sekarang gadis itu tidak merubah posisinya sedikit pun, kalo boleh jujur ini posisi ternyaman bagi Jihan.
di bawah remang- remang lampu tidur Jihan bisa melihat wajah Anta dengan jelas, menikmati pahatan ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna.
Anta yang tertidur pulas terlihat begitu tampan dimata Jihan, apalagi wajahnya yang begitu damai saat tidur benar- benar membuat hati para gadis berteriak ingin diposisi Jihan saat ini.
Tapi beda lagi ceritanya kalau si pemilik wajah ini dalam mode melek, bawaannya pengen ngajak gelud aja.
Apa Jihan baru saja mengatakan kalau ia mengagumi wajah Antariksa? Kalau iya, sepertinya ia harus menarik kata- katanya beberapa jam yang lalu kalau ia bukan salah satu penggemar Antariksa.
Tapi Jihan memang bukan salah satu penggemar Anta, ia adalah seorang istri Antariksa yang baru menyadari ketampanan suaminya sendiri. Ya kan? Bisa aja ngelesnya neng
Jihan langsung menutup matanya saat Anta menggeliat, ia tidak ingin tertangkap basah sedang mengagumi wajah lelaki itu saat sang empu tengah tidur, bisa geer nanti si abang.
disaat Jihan berpikir Anta akan menyingkirkan kepalanya dari tangan kekar lelaki itu, hal yang terjadi justru sebaliknya Anta malah menariknya ke dalam pelukan lelaki itu menjadikan Jihan guling hidup baginya.
Jantung Jihan langsung berdetak lebih cepat dari biasanya, ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri, bersamaan dengan hembusan nafas Anta yang megenai kepalanya.
Celaka
Ini akan jadi malam yang begitu panjang bagi Jihan dan jantunganya.
****
Paginya Jihan bangun lebih dulu, setelah sudah payah melepaskan diri dari Anta yang menjadikannya sebagai guling hidup, rasanya benar- benar warbiasah yeoreobun.
Jihan bangun lebih awal menyiapkan sarapan pagi untuknya, Anta dan Kyra. Saat Jihan tengah sibuk menata piring di meja Kyra turun menghampiri Jihan.
"Pagi kak"
"Pagi Ji, maaf kakak kesiangan."
"Gak apa- apa kak. Oh ya sarapan dulu kak."
"Anta mana Ji?" Tanya Kyra yang tidak melihat batang hidung Anta
"Dia belum ba-" ucapan Jihan terhenti saat melihat Anta turun dari kamarnya langsung duduk manis di meja makan
"Pagi Anta.."
Anta hanya balas mengangguk seperti biasa, lagi sariawan doi.
__ADS_1
"Anta, Jihan kakak minta maaf ya ngerepotin kalian " ucap Kyra saat mereka tengah menikmati nasi goreng buatan Jihan
"Santai kak, kakak kaya sama siapa aja" sahut Jihan
"Sebenernya kakak malu, tapi kakak ga mungkin pulang ke rumah bunda. Apalagi rumah orangtua kakak di luar kota, Kakak ga mau sampe bunda atau orangtua kakak tau kalo rumah tangga kakak sama bang Langit lagi ga baik- baik aja."
Langit Ravindra putra sulung Ravi dan Sandra, kakak tertua Antariksa. Jihan pernah bertemu dengan Langit beberapa kali saat kakak iparnya itu menginap dengan istrinya Kyra.
"Kakak bisa tinggal disini selama yang kakak butuh, anggap aja rumah sendiri." Kata Jihan yang tidak tahu harus berkomentar apa tapi sedetik kemudian ia menyesali ucapannya secara tidak langsung Jihan membuat posisinya terus terjebak dalam satu kamar yang sama dengan Anta.
"Makasih ya Ji, tapi kakak udah mau pulang kok. Kakak harus segera menyelesaikan masalah ini sama Langit biar masalahnya ga berlarut apalagi sampe ayah sama bunda tau mereka pasti sedih"
"Iya kak, Jihan doain semoga masalah kakak cepet kelar "
"Makasih ya Ji"
Jihan mengangguk, ia melirik Anta yang sedari tadi hanya diam mendengarkan tanpa berniat berkomentar apapun.
Dasar patung Liberto
*****
Pagi itu Anta dan the genk datang tepat waktu, mereka sedang berkumpul di kantin padahal bel sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu.
"Bro, kayanya ada yang beda deh sama pak ketu" bisik Fajar pada ketiga sahabatnya itu, ia merasa sejak kemarin ada yang aneh dengan Antariksa
"Apaan? Jangan bilang kalo dia tambah cakep? Sorry, gue masih normal. Kalo loe mau sono gih jangan ajak-ajak gue" jawab Kevan lalu menggeser posisi duduknya menjauhi Fajar
"Bukan gitu maksud gue Marzuki, tapi lebih ke bahagia gitu.. ada apa kah genangan, apa mungkin telah tumbuh bunga- bunga cinta di hati Antariksa?" Fajar menaik turunkan alisnya
"Ngaco loe" kata Mario yang tidak melihat tanda- tanda yang seperti yang disebutkan Fajar
"Makanya banyak ibadah jangan nonton yang 18+ mulu ketutup kan mata batin loe" cibir Fajar
"Apa hubungannya coba?" Mario geleng- geleng kepala
"Makanya jatuh cinta biar tau rasanya" cibir Fajar yang langsung mendapat hadiah jitakkan dari Mario
"Sakit ******" Fajar mengelus keningnya yang marah lalu beralih menatap Anta "Ta, abis menang lotre ya? Kayanya lagi happy banget" Fajar memberanikan diri bertanya pada Anta dari ada penasaran kan ya, kalian juga pasti kepo kan? Ya kan? Jawab iya gitu susah amat sih
"Biasa aja"
Fajar mencibir pelan, susah ngomong sama Antariksa. Ngomongnya irit, ga jelas pula.
Saat Fajar tengah sibuk dengan cibirannya matanya menangkap sosok yang akhir-akhir ini jadi perbincangan hangat bagi penggemar Antariksa.
"Heh, itu Jihan kan ya? Doi sama siapa?" Tanya Fajar yang melihat Jihan sedang berjalan dengan seorang laki-laki, ganteng sih tapi tetep masih gantengan Anta cs kemana-mana
Ucapan Fajar sukses membuat mata elang milik Anta menatap tajam kearah Jihan yang tengah berjalan di koridor bersama seorang laki-laki.
Anta terus memperhatikan keduanya apalagi Jihan terlihat ramah bahkan sempat tertawa setelah mendengar apa yang dikatakan lelaki disebelahnya itu.
"jangan- jangan gebetannya lagi" ujar Fajar
ucapan Fajar membuat mood Antariksa berubah drastis. tatapan tajamnya tak lepas dari dua anak manusia yang berjalan semakin jauh diujung sana.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu meskipun wajah Anta tetap datar sedatar papan triplek tapi sebelah tangannya terkepal sempurna di bawah meja.