Jungkir Balik Dunia Jihan

Jungkir Balik Dunia Jihan
Part-17


__ADS_3

"inget loe cuma boleh pulang sama gue"


Jihan mengangguk, "siap Tuan Anta"


Anta mengacak-acak rambut Jihan sebelum berlalu, "gue duluan"


Jihan melambaikan tangannya, pagi ini ia kembali berangkat bersama Anta. Setelah perdebatan alot akhirnya Jihan mengalah.


Flashback on


"Kenapa sih emang kalo gue anter?"


"Anta banyak paparazi, Jihan males kena damprat mulu kalo berurusan sama fans Anta"


Anta menghela nafas, 'gue jamin ga bakal ada yang berani ngusik loe lagi di sekolah"


"Tapi- " melihat tatapan tajam Anta nyali Jihan ciut, ia pun akhirnya mengangguk, "oke tapi turunin deket halte aja"


"Bawel"


Flashback off


Jihan melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Kali ini ia percayakan kesejahteraannya pada Anta kalau ada yang melabraknya lagi gara-gara Anta lihat saja dirumah nanti bakal Jihan geprek pake pentungan pos ronda


Hubungan Jihan dan Anta sudah semakin dekat. walaupun belum bisa dikategorikan pasangan ideal saling mencintai tapi keduanya sudah lebih akrab, dan saling peduli satu sama lain.


"Hai Ji.."


Jihan menoleh, Tiara baru saja datang menghampirinya"Hai Ra,,,"


"Kok jalan kaki Ji, biasanya dianter sampe depan?"


Jihan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "aku naik ojek Ra, jadi berenti deket halte tadi pengen jalan kaki masih kepagian soalnya."


"Tumben Ji?"


"Pak Anas cuti Ra"


Tiara mengangguk paham, tidak lagi bertanya.


"Morning my bestie"


Keduanya menoleh, Juwi setengah berlari menghampiri mereka sambil tersenyum lebar. "Laper ke kantin dulu yuk belom sarapan nih" Juwi langsung menarik tangan Jihan dan Tiara menuju kantin


Seperti biasa ketiga gadis itu memesan donat menul bu Siti dan sekotak susu.


"Ra, gimana kak Mario?" Tanya Juwi penasaran


"Ya gitu."


"Gitu gitu?" Tanya Jihan


"Tiap hari chat, malam minggu kemaren nganterin makanan, terus nanti malam ka Mario ngajak jalan"


"Serius????" Tanya Jihan dan Juwi bersamaan


Tiara mengangguk pelan.


"Kok lesu gitu? Loe ga suka ya?" Selidik Juwi


Tiara menggeleng, "bukan itu"


"Kamu bingung ya Ra?" Tanya Jihan


"Hmm" Tiara mengangguk


"Menurut kamu selama ka Mario deketin kamu dia orangnya gimana?" Tanya Jihan


"Ka Mario baik Ji, care dan ga seperti yang sering kita liat keliatan jutek, sangar. Aslinya baik malah kalo udah akrab gilanya sama kaya ka Fajar"


"Terus?"


"Aku cuma bingung aja"


"Bingungnya kenapa Tiara?" Tanya Juwi yang ngemas dengan sahabatnya yang satu itu


"Emm..."


"Hai..."


Ketiga gadis itu menoleh, Jihan membulatkan matanya saat melihat ada Fajar, Mario dan Dion yang mendekat ke arah mejanya.


Sial!! Kenapa harus ketemu sih?


Susah payah Jihan menghindari Dion sejak insiden 'hampir' makan bareng di kantin waktu itu, sebisa mungkin selama di sekolah Jihan selalu saja mencari kesibukan untuk menghindar agar tidak bertemu dengan Dion tapi pagi ini sepertinya ia lengah.


"Hai Jihan,.."


"Iya kak" balas Jihan kikuk

__ADS_1


"Berasa jadi obat nyamuk ga sih loe?" Tanya Fajar pada Juwi


Juwi mengangguk setuju, "iya kak" Juwi menoleh ke samping kanan ada Tiara dan Mario yang terlihat akrab ngobrol, sementara di samping kirinya Jihan dan Dion yang hanya sibuk diam.


"Ntar pulang bareng gue ya " kata Dion


"Hah?"


Dion tersenyum, kenapa Jihan kalo lagi kaget ngegemesin banget sih.


"Gimana?


Gimana ini Jihan udah janji duluan sama Anta. Duh cara nolak yang baik gimana ya.


Wahai otakku yang pinter tolong keluarkan alasan supaya bisa nolak ajakan kak Dion.


"Mikir kelamaan banget sih Ji..." Kata Juwi gemas sendiri melihat Jihan,


"Loe mau alesan kucing lahiran lagi" ejek Fajar yang kini terdengar seperti sindiran pada Jihan


"Liat nanti kak.." ucap Jihan pada akhirnya. otaknya benar- benar tidak bisa di andalkan saat ini.


"Gue tunggu loe di parkiran." Dion mengacak- acak rambut Jihan sebelum berlalu pergi


Jihan yang mendapat perlakuan begitu hanya bisa bengong, lain cerita kalau Anta yang lakuin udah pasti jantung Jihan auto disco.


****


Begitu bel pulang sekolah Jihan langsung kabur lewat pintu belakang supaya bisa langsung ke halte menunggu Anta.


Entah memang Jihan lagi apes atau ketiban sial niat menghindari Dion di parkiran Jihan malah bertemu sekelompok kakak kelas entah kelas berapa Jihan tidak tau tapi yang pasti mereka sedang berjalan ke arah Jihan sekarang.


"Loe Jihan?"


"I-iya kak" jawab Jihan gugup perasaannya kembali tidak nyaman teringat kejadian Airin tempo dulu


"Punya hubungan apa loe sama Dion?" Tanya kakak kelas itu lagi yang kalo tidak salah liat nametagnya tadi namanya Aulia


Tuh kan Jihan bilang juga apa waktu itu pasti ada yang ngelabrak dia kalo berani deket- deket sama Anta dan antek-anteknya.


"A-aku ga ada hubungan apa- apa kak"


"Alah pake ga ngaku lagi, waktu itu loe pingsan di gendong Dion" kata teman Aulia


"I-itu aku juga ga tau kak , kenapa kak Dion yang nolongin"


"Ga cuma itu aja Lia, berapa kali mereka juga sempet makan bareng di kantin, tadi pagi juga" timpal teman Aulia yang lain


Kakak kelas bernama Aulia itu langsung menarik rambut Jihan hingga gadis itu meringis, "cewek kaya loe mau nyikingkirin gue dari Dion, jangan mimpi loe"


"A-aku ga ada hubungan apa-apa sama kak Dion kak, sumpah"


"Alah jangan percaya Li, dia pasti pake trik murahan supaya deket sama Dion" kata temannya Aulia


"Kasih dia pelajaran biar sadar diri, cewek cupu kaya loe mau bersaing sama gue. Ngaca loe ga pantes buat Dion"


Astaga!!! Siapa juga yang mau saingan ngerebut Dion sih. Ya Allah kenapa orang cemburu bisa buta begini sih ga bisa bedain yang mama yang bener atau salah


Jihan mengaduh saat rambutnya kembali ditarik oleh salah satu temen Aulia.


Ya Allah satu aja rasanya sakit apalagi dua begini. Rasanya kepala Jihan mau copot. Mereka manusia bukan sih.


"Aulia!!!!!"


Aulia dan temannya yang sedang menarik rambut Jihan dibuat kaget saat mendengar sebuah suara seseorang di ujung sana. Aulia yang panik langsung mendorong Jihan hingga terjatuh membentur pot bunga


"Di-Dion" suara Aulia terdengar gugup


Dion langsung menghampiri Jihan melihat keadaan gadis itu, "Jihan..."


Jihan meringis memegang keningnya yang berdarah, "gak apa-apa kak"


Dion lalu menatap tajam pada Aulia dan teman-temannya, membuat ketiga gadis itu ketakutan melihat kemarahan seorang Dion Dirgantara.


"Sekali lagi gue liar loe berani nyentuh cewek gue. Loe tanggung sendiri akibatnya" ancam Dion


"Cewek kamu. Maksudnya?"


"Loe bego beneran apa pura- pura bego sih. Dia cewek gue"


Bukan cuma Aulia dan kedua temannya yang dibuat tercengang tapi Jihan yang mendengar ucapan Dion barusan pun ikut dibuat shcok terapi jilid sekian.


Ya Allah, masalah apalagi yang akan Jihan hadapi kalau satu sekolah tau pernyataan Dion tadi. Bisa-bisa Jihan dituduh pacar Dion beneran.


"Tapi Ion kita-"


"Pergi dari sini gue muak ngeliat loe" bentak Dion


Aulia dan kedua temannya menatap kesal pada Jihan tapi tidak berni berbuat apa-apa didepan Dion, mereka masih sayang nyawa, apalagi sampai membuat seorang Dion marah. Tamat sudah

__ADS_1


"Ayo kita ke UKS"


"Ga-gak usah kak, nanti di obati dirumah aja"


"Ntar infeksi... ayo" Dion menarik tangan Jihan mengajak gadis itu menuju ruang UKS


Dengan telaten Dion membersihkan luka di kening Jihan dan menempelkan plester untuk menutup lukanya.


"Ma-maksih kak"


"Loe ga apa- apa kan? Apa lagi yang sakit?"


Jihan menggeleng, "ga ada kak."


"Loe tenang aja mereka ga bakal berani ganggu loe lagi."


Jihan mengangguk, kini ia Kembali mendapat jaminan ketenangan dan ketentramannya di sekolah yang pertama dari Anta dan yang kedua dari Dion. Semoga saja sesuai ucapan kedua lelaki itu kehidupan di sekolahnya kembali tentram seperti dulu.


"Gue anter loe pulang "


"Ta-tapi kak"


"Gue ga terima penolakan" sela Dion yang langsung meraih ransel Jihan


Astaga!!!! Ga Anta ga Dion kenapa sama aja sih. Sama - sama tukang maksa.


****


Jihan diantar pulang oleh Dion ke rumah orangtuanya. Ia sengaja minta diturunkan di gang dekat rumah, bisa berabe urusannya kalau mamanya tau Jihan diantar pulang oleh laki-laki lain, bisa dipecat jadi anak sama mama Sylla.


Awalnya Dion memaksa untuk mengantar sampai depan rumah tapi Jihan beralasan kalau kakak laki-lakinya alias bang Jovan tidak suka kalau adik kesayangannya ini diantar oleh laki-laki.


Walaupun terdengar konyol, tapi Dion tidak lagi memaksa dan tentu saya membuat Jihan merasa lega.


Jihan menekan bel pintu menunggu sang mama membukakan pintu untuknya


"Assalamualaikum ma"


"Waalaikumsalam sayang.." Sylla memeluk putrinya tak lupa mencium kedua pipi chubby Jihan


"Mama kenapa tiba-tiba nyuruh Jihan ke rumah?" Tanya Jihan sedikit khawatir saat sang mama menyuruhnya untuk pulang ke rumah tanpa memberi tahu alasannya apa.


"Mama sendirian dirumah jadi pengennya kamu sama Anta nginep disini."


"Oh Jihan kirain ada apa ma."


"Oh ya menantu kesayangan mama mana? Kok kamu sendirian ke sininya, padahal tadi pas mama telpon Anta bilang lagi nungguin kamu"


Mata Jihan membulat, "mama nyuruh Anta ke sini juga?"


"Iyalah Ji, kan Anta anak mama juga gimana ceritanya nyuruh kamu nginep disini ga ngajak suami kamu."


Jihan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, perasaan panik mulai menjalar di hatinya bagaimana kalau Anta masih menunggunya di sekolah karena tadi pagi mereka sudah janjian pulang bareng.


"Ji, kenapa ga bareng sama Anta?" Tanya Sylla lagi karena sedari tadi Jihan hanya diam tak menjawab


"Enggak ma, tadi..."


"Tunggu, ini kening kamu kenapa?" Sela Sylla yang baru menyadari ada yang aneh di kening Jihan


Jihan menyentuh keningnya yang balut diplester tadi oleh Dion, "jatoh ma"


"Hati-hati sayang, tapi ga apa-apa kan?" Tanya Sylla khawatir


"Cuma lecet ma. Ga apa-apa kok "


"Syukurlah, eh itu Anta..."


Jihan spontan menoleh saat sebuah motor Ninja hitam masuk ke pekarangan rumahnya menuju garasi.


Jantung Jihan sudah mulai beraksi kali ini bukan karena jatuh cinta tapi karena takut menghadapi kemarahan seorang Antariksa


Anta memarkirkan motornya di garasi, melepas helm lalu menghampiri Jihan dan Sylla yang sedari tadi masih berdiri didepan teras.


"Anta, menantu mama yang paling ganteng apa kabar sayang?" Sapa Sylla pada menantunya itu


"Baik ma"


Jihan melirik Anta yang ada disebelahnya, lelaki itu sepertinya malas menatap Jihan,


fix Anta marah.


Jihan memperhatikan wajah Anta yang putih bersih itu tampak kemerahan lengkap dengan keringat yang menempel di dahi lelaki itu.


Ya Allah, Jihan merasa bersalah sekarang. Anta pasti nungguin dari pulang sekolah tadi. Bodohnya kamu Jihan kenapa ga ngabarin biar Anta ga nungguin.


"Mama heran deh kalian kan satu sekolah, kok pulangnya bisa ga bareng sih? Masa iya Anta nungguin Jihan tapi ga ketemu, memangnya gerbang disekolah kalian ada berapa sih?"


Jihan ingin menangis rasanya, mendengar ucapan sang mama. Taukah mama Jihan sedang dilanda kecemasan tingkat nasional takut setelah ini Anta pasti marah padanya, tapi dengan gamblangnya Mama malah membuka topik yang sudah pasti memancing emosi lelaki itu.

__ADS_1


Tamat riwayat anakmu ma... Tamat


__ADS_2