Jungkir Balik Dunia Jihan

Jungkir Balik Dunia Jihan
Part-11


__ADS_3

Mario pulang tanpa teman- temannya yang kini pasti sedang menuju basecamp Maxloska. Ia ditelpon sang mama untuk segara pulang katanya minta di anter arisan.


Sebagai anak yang baik hati ,tidak sombong , suka menabung dan suka bolos, Mario mana bisa menolak permintaan sang mama.


Berbakti pada orangtua juga merupakan bunyi salah satu sumpah di Maxloska. Katanya tanpa restu orangtua ga bakal berkah, ya ga sih?


Saking buru-burunya Mario tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan dengannya.


Terdengar suara mengaduh, Mario mengumpat pelan siapa yang sudah berani menabraknya saat ia sedang buru- buru untuk pulang.


Mario baru saja ingin mengeluarkan kata- kata pedas terpaku ditempat saat gadis yang ditabraknya itu mengibaskan rambut panjangnya lalu tersenyum manis pada Mario, senyuman yang membuat Mario tak bisa mengedipkan matanya barang sesaat dan menguapkan amarah yang sudah siap diledakkan oleh Mario detik itu juga.


"Maaf kak, aku ga sengaja nabrak kakak karena ga liat jalan "


Mario masih membeku, kalau di adegan sinetron gadis yang di tatap Mario saat ini tampak bercahaya dengan rambut yang berkibar diterpa angin. Dan rasanya ia terpesona untuk pertama kali terhadap seorang gadis.


"Kak,, kak Mario ga apa- apa?"


Mario tersentak kaget saat tangannya di tepuk-tepuk pelan oleh gadis itu, "eh iya.."


"Kakak Mario ga apa-apa?"


Mario menggeleng, "gue gak apa- apa..loe ada yang luka?"


"Enggak kak.."


"Loe kanal gue?" Tanya Mario memastikan ia tidak salah dengar kalo gadis tadi sempat menyebut namanya


"Cuma tau kak, siapa sih yang ga kenal kak Mario, semua disekolah ini juga tau kali grup inti Maxloska, sahabat terbaik kak Anta"


Mario nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ternyata ia se-famous itu, "oh ya loe mau kemana?"


"Ke ruang guru kak, aku piket mau balikin buku"


Mario langsung menumpuk buku- buku yang tadi dibawa gadis itu dan meletakkannya diatas tangannya.


"E-eh kak itu ..."


"Nama loe siapa?"


"Tiara..."


"Oke Tiara, gue bantu." Mario tersenyum tipis pada Tiara


Tiara mengedipkan matanya beberapa kali, ia tidak salah liat kan? Apa betul yang ada dihadapannya itu Mario?


"Kok bengong. Ayo"


Tiara tersentak kaget, akhirnya ia pergi ke ruang guru bersama Mario. Kalau Jihan sama Juwi lihat, mereka pasti ga bakal percaya.


*****


Siang itu hujan tiba- tiba turun, Jihan yang masih menunggu jemputan pak Anas harus terjebak di halte.


Sudah dua jam berlalu pak Anas tidak muncul juga, karena hari semakin sore Jihan memutuskan untuk memesan ojek online saat hujan sedikit mereda karena ia lupa membawa dompet dan uang disakunya hanya cukup untuk membayar ongkos ojek.


Saat jalan masuk ke dalam komplek perumahannya hujan kembali menguyur dengan begitu lebatnya. Jihan yang tidak memakai jas hujan menjadi basah kuyup begitu tiba dirumah.


Sambil mendekap tubuhnya, Jihan merogoh saku tasnya mencari kunci rumah tapi ia tidak menemukannya.


Ia lalu menepuk keningnya pelan, kunci rumahnya ada disaku jaket yang ia pinjamkan pada Juwi tadi karena baju Juwi yang basah.


"Haduh Jian, kenapa bisa ceroboh sih. Terus gimana caranya masuk sekarang?"


Jihan berjalan ke arah garasi rumah, tidak ada motor Anta disana yang artinya lelaki itu belum pulang. Terus nasib Jihan gimana? Ia sudah menggigil kedinginan. Berapa lama ia harus menunggu Anta pulang.


Jihan duduk didepan pintu sambil memeluk lututnya, kedua telapak tangannya sudah mengkerut saking dinginnya, bibirnya bahkan bergetar.


Berapa lama lagi Jihan harus menunggu ia sudah tidak tahan lagi.


Anta pulang, please....

__ADS_1


*****


Bunyi bising dari suara motor Anta terdengar masuk ke pekarangan rumah, Anta langsung memarkirkan motornya di garasi. Berjalan perlahan mengitari rumah.


Langkahnya terhenti saat menemukan Jihan menundukkan kepalanya sambil memeluk kedua lututnya.


Anta menaikan sebelah alisnya, mengapa gadis itu tidak masuk? Mengapa duduk didepan pintu seperti itu?


"Ngapain loe di situ?" Tanya Anta sambil memutar kunci pintu


Tidak ada sahutan dari Jihan


Anta menghela nafas menepuk bahu Jihan pelan, "oh Sh****" baju gadis itu nyaris kering ditubuhnya, ia langsung mengangkat kepala Jihan wajah gadis itu sudah pucat, bibirnya bahkan membiru karena kedinginan.


Mata Jihan terbuka, "Anta" ucapnya Lirih


Tanpa basa basi Anta langsung menggendong Jihan masuk ke dalam membawa gadis itu ke kamarnya. Ia mendudukan Jihan di atas sofa, mengambil baju milik gadis itu.


"Masih bisa ganti baju kan?" Jihan mengangguk pelan


Anta kembali menggendong Jihan ke kamar mandi, "kabarin gue kalo udah selesai"


Anta turun ke bawah membuat teh hangat untuk Jihan. Ia kembali ke kamar mendapati gadis itu sudah berbaring membungkus dirinya dengan selimut.


"Minum dulu.."


Jihan meminumnya perlahan hingga tersisa setengah lalu meletakkannya dimeja kecil sebelah ranjangnya bersiap kembali merebahkan diri.


"Loe .."


"Maaf Jian nyusahin Anta, pak Anas ga jemput , Jian pulang kehujanan naik ojek, kunci rumah Jian ketinggalan di kantong jaket terus jaketnya dipinjem Juwi. Makasih Anta udah nolongin Jian. Maaf Jian ngerepotin" sela Jihan


"Istirahat, nanti gue bangunin kalo makanannya udah dateng."


"Ga usah Jian mau tidur aja."


Anta menghela nafas, di situasi seperti ini gadis itu masih saja keras kepala.


*****


Dengan sabar Anta mengompres kening Jihan dengan handuk dan air hangat. Anta yang mengantuk nyaris terlelap saat Jihan menangis dalam tidurnya.


"Enggak.... Enggak... Lepasin... Lepasin... Lepas... Mah... Mama tolongin Jian ma... Papa... Bang Jo.. jian takut... Tolong..."


Anta mengucek matanya sebelum menepuk pelan pipi Jihan, mata gadis itu terpejam, keningnya dipenuhi keringat, mulutnya terus merancau memanggil orangtua dan kakak laki-lakinya meminta tolong.


'Jihan.... Jihan.. bangun.. hei.. bangun"


"Tolong lepasin... Ma.. pah.. bang Jo... Tolong Jian.. Jian takut"


"Jihan ...hei... Jihan"


Jihan membuka matanya dengan nafas terengah- engah, ia melihat sekeliling menemukan Anta disebelahnya menatap bingung.


"Anta..." ucapnya nyaris tanpa suara


"Loe kenapa?"


Jihan menggeleng masih dengan nafas yang memburu seperti orang abis lari maraton keliling Stadion GBK.


Anta menyodorkan gelas berisi air putih, tapi Jihan menggeleng gadis itu malah menutup wajahnya sambil menangis.


"Loe kenapa? Ada yang sakit?" Anta meraih tangan Jihan yang menutupi wajah gadis itu sebelah tangan Anta mengangkat dagu Jihan agar menatapnya


Jihan menggeleng


"Mimpi buruk?" Anta menghapus air mata Jihan yang membekas di pipi gadis itu


Jihan mengangguk pelan.


Anta menggeser tubuhnya supaya lebih dekat dengan Jihan, menarik bahu gadis itu kemudian membawa Jihan ke dalam pelukannya, "gue di sini loe ga usah takut"

__ADS_1


Jihan mengangguk sambil menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya. Ia masih ketakutan.


"Mau gue telpon nyokap Loe?"


Jihan menggeleng pelan masih sedikit terisak.


"Yaudah, masih malem tidur lagi ya.."


Jihan tak menjawab, rasanya ia takut memejamkan matanya lagi, takut mimpi itu menghampirinya kembali.


Seolah tau gadis di pelukannya ini masih takut Anta mengusap kepala Jihan pelan, "jangan takut, gue disini. Ga ada satu orangpun yang bisa nyakitin loe selama gue masih hidup."


Perkataan Anta membuat sudut bibir Jihan melengkung, di pelukan lelaki itu Jihan merasa


Aman


Kata- kata Anta barusan terngiang di telinga Jihan


'ga ada satu orangpun yang bisa nyakitin loe selama gue masih hidup'


Apakah lelaki itu baru saja berjanji padanya?


Atau


Anta hanya sedang menghiburnya?


Apapun itu, hati Jihan rasanya menghangat. Perlakuan Anta membuat Jihan merasa nyaman dan jatuh perlahan dalam sebuah perangkap bernama cinta yang selama ini selalu ia sangkal bahwa ia tidak akan pernah jatuh cinta pada seorang Antariksa.


Jihan akui selama 17 tahun ia hidup, ia belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, bahkan saat menikah dengan Anta sekalipun hatinya masih enggan terbuka untuk lelaki itu.


Bukannya Jihan membenci Anta, hanya saja selama ini hidupnya hanya fokus untuk sekolah dan belajar, ia ingin meraih cita-citanya, membuat bangga kedua orangtuanya.


Tapi memang benar kata orang,


'Cinta hadir karena terbiasa'


Ya Jihan terbiasa melihat Anta setiap hari, hidup dibawah atap yang sama membuat Jihan terbiasa bersama dengan Anta meskipun tidak ada momen romantis diantara keduanya, jangankan romantis bicara saja bisa di hitung berapa kata perharinya tapi ya itu Jihan sudah terbiasa dengan kehadiran Anta di hidupnya.


Dan perlahan rasa itu muncul dengan sendirinya, seorang Antariksa Ravindra telah memiliki ruang khusus di hati Jihan, walaupun Jihan tahu ada orang lain di hati Anta.


***


Paginya, Jihan sudah siap dengan baju seragam yang melekat ditubuhnya lengkap dengan sepatu dan tas yang sudah disandang di bahu.


Dengan sedikit polesan bedak tabur dan liptint untuk menyamarkan bibir pucatnya Jihan siap berangkat ke sekolah.


Anta yang memang sudah bersiap berangkat terkejut saat melihat Jihan turun dari kamar sudah rapi, padahal tadi ia sengaja tidak membangunkan gadis itu supaya Jihan istirahat dirumah, demamnya memang sudah turun tapi wajahnya masih terlihat pucat.


"Ngapain sekolah sih, udah izin aja sehari"


"Enggak bisa, Jian ada ulangan matematika hari ini"


Anta berdecak pelan, "ck! Loe bisa ikut susulan, lagian ga ulangan sekali ga bakal bikin loe sampe ga naik kelas."


Jihan menggeleng, "Jian mau sekolah Anta"


"Bolos sehari aja, loe ga bakal jadi bego karena ga sekolah sehari. Loe masih sakit."


"Enggak"


Anta menghela nafas panjang, berdebat dengan Jihan bukanlah sesuatu yang mudah, gadis itu sangat keras kepala apalagi menyangkut pendidikannya.


"Gue kasih loe izin ke sekolah tapi loe harus minum obat"


Jihan ingin menggeleng, ia sangat anti minum obat kalau sakit tapi melihat tatapan tajam Anta ia terpaksa mengangguk dari pada ga di izinin sekolah ya kan.


"Ikut gue" Anta menarik tangan Jihan keluar rumah


"Kemana Anta???"


"Cari sarapan terus loe minum obat baru ke sekolah."

__ADS_1


Jihan pasrah ketika Anta menarik tangannya sambil mengulum senyumnya diam-diam Jihan menikmati jantungnya yang berdebar


__ADS_2