
Diandra sedang menghabiskan waktu istirahatnya di taman. Ia memang sangat jarang ke kantin, karena ia tidak suka keramaian. Di taman ia biasa santai sambil membaca novel. Walaupun ia masih tergolong anak baru di sekolah itu, ia sudah hafal tempat-tempat di sekolahnya.
Bel berbunyi. Para siswa dengan name tag menggantung di leher masing-masing berlari lalu berbaris rapi sesuai kelompoknya.
"Yang nggak dapat tanda tangan pengurus OSIS harap maju ke depan!" kata Lesti di depan anak-anak baru.
Diandra yang semula kaget dengan cepat mengubah wajahnya menjadi datar. Ia segera maju ke depan.
Bukan hanya Diandra yang tidak mendapatkan tanda tangan. Beberapa anak baru ikut berjajar di samping kiri dan kanannya, tapi_Diandra memperhatikan sekelilingnyacowok semua.
"Dave, Cin, bawa adik-adik ini ke aula! Kalian tentuin deh hukumannya di sana," suruh Lesti.
Diandra berjalan bersama yang lainnya menuju aula.
"Ayo Baris yang rapi!" seru Cindi dengan suara tegas. Anak-anak baru itu berbaris dengan rapi.
"Mau kasih hukuman apa nih, Cin?" tanya Dave.
"Lari keliling aula aja sepuluh kali, gimana?" tanya Cindy pada Dave.
"Boleh juga. Cowok semua, kan?" tanya Dave.
"Ada cewek satu," jawab Cindy. Diandra yang merasa cewek satu-satunya di sana pun mendongak.
"Yang cewek angkat tangan!" perintah Dave. Diandra pun mengangkat tangannya.
"Elo! Kenapa enggak minta tanda tangan? males?" bentak Cindy sambil mendekati Diandra. Diandra hanya terdiam.
"Siapa sih cewelnya? Coba maju kedepan !" pinta Dave. Diandra pun maju ke depan.
"Oh jadi elo. Siapa suruh songong enggak mau nurutin syarat gue," kata Dave saat melihat wajah Diandra.
"Maaf, saya tidak sombong," jawab Diandra dingin. Ia paling tidak suka ada yang menghinanya.
"Wah, songong ni anak! Hukum aja!" kata Cindy.
"Kalau lo enggak mau dihukum, lo harus nurutin permintaan gue," ujar Dave.
"Saya tidak berminat," jawab Diandra datar.
"Sudah! Ayo! Semuanya lari!" perntah Cindy. Diandra dan siswa-siswa lain pun mulai berlari.
Untungnya Diandra sering berolahraga. Tubuhnya pun cukup atletis. Dihukum lari seperti itu bukan sesuatu yang menakutkan untuknya.
Setelah setengah jam, Diandra selesai menjalani hukumannya. Ia duduk di kursi yang tersedia di pinggir aula. Dave yang melihatnya langsung menghampiri Diandra.
__ADS_1
"Nih, buat lo," kata Dave sambil menyodorkan sebotol air mineral.
"Makasih? tapi saya sudah bawa," sahut Diandra sambil menunjukkan botol minum miliknya.
" Ya udah kalau nggak mau. Oh iya, ngomongnya jangan pakai saya-saya dong, enggak nyaman gue," kata Dave.
" Maaf, tapi saya biasa bicara seperti itu," tolak Diandra.
"Tapi gue lihat lo tadi ngomong gue-elo sama siapa ya tadi? Pokoknya dia cewek," kata Dave.
"Ya deh kalau lo maksa," kata Diandra pasrah. Ia juga sebenarnya tidak nyaman berbicara dengan bahasa yang baku seperti itu.
"Gitu dong. Boleh minta nomor lo gak?" tembak Dave.
"Enggak," jawab Diandra datar.
"Kenapa? Biasanya semua cewek mau ngasih nomor teleponnya ke gue,: kata Dave.
"Karena gue enggak mau dan satu lagi, enggak semua cewek mau sama lo". Diandra berdiri lalu menggendong tasnya.
" Emangnya siapa yang enggak mau sama gue?" tanya Dave.
"Gue!" Diandra melengos lalu keluar aula sambil berlari kecil.
"Tawa Cindy terdengar sumbang di telinga Dave.
" Kasihan deh, yang ditolak sama targetnya," ejek Cindy
"Lihat aja nanti. Gue bakalan dapetin itu cewek," kata Dave.
"Kalau enggak dapat gimana?" tanya Cindy.
"Gue bakalan berhenti jadi playboy ,"kata Dave dengan nada yakin.
" Oh ya? Gue nggak yakin sama omongan lo," kata Cindy meremehkan.
"Gue cowok, dan gue bakalan pegang omongan gue," kata Dave.
"Baru tahu gue kalo lo cowok," ajek Cindy lalu keluar.
Gue pasti bakal dapetin lo, Diandra! batin Dave.
Setelah Diandra membaca pengumuman di mading, ia langsung mencari kelasnya. Beberapa menit kemudian gadis itu menemukan kelasnya dan segera masuk. Diandra memilih bangku di tengah-tengah.
__ADS_1
Tiba-tiba dua orang pengurus OSIS masuk ke kelas itu. Dave dan Bisma. Mereka masuk dengan gaya cool, yang membuat cewek-cewek dikelas berteriak histeris. Berbeda dengan Diandra yang memilih membaca novel, ketimbang melihat wajah dua orang yang membuatnya ingin muntah.
" Hai, guys! Gue mohon perhatiannya sebentar," kata Dave.
Semuanya memusatkan perhatian padanya, kecuali Diandra.
"Tolong dong cewek yang disana fokus ke gue. Gue mau ngasih pengumuman. Emangnya novel itu lebih tampan dari pada muka gue?" tanya Dave.
" Diandra Mendongak.
" Enggak, tapi lebih bagus gue lihat novel ini, ketimbang lihat muka lo. pingin muntah gue," sahut Diandra santai.
" Ha ha ha!" Seisi kelas pun tertawa kecuali Dave dan Diandra.
"Kasihan deh lo," celetuk Bisma.
"Udah, udah! Gue mau ngasih pengumuman penting!" Seketika kelas kembali hening.
"Besok kalian memasuki MOS hari kedua. Kalian memakai pakaian seperti ini lagi. Tapi foto di name tag kalian diganti pakai foto pengurus OSIS yang paling ganteng atau cantik, lalu isi apa alasan kalian memilih dia," jelas Dave.
"Mengerti?"
Semuanya mengangguk.
"Sekarang kalian boleh pulang."
Para siswa pun kembali berdesakan di pintu kelas. Diandra hanya menunggu. Setelah sepi, Ia pun keluar dengan berjalan pelan menuju pintu kelas.
"Lan!" panggil Dave yang masih berada di kelas.
"Lo manggil gue?" tanya Diandra bingung.
"Iya."
"Nama gue Diandra.D-I-A-N-D-R-A," eja Diandra.
"Nama lo kepanjangan," kata Dave.
"Tauk ah. Cepetan lo mau ngomong apa?" desak Diandra.
"Nih!" Dave memberikan sesuatu pada Diandra. "Lo pasti mau majang foto gue kan di name tag," sambungnya dengan pede.
Diandra mengamati benda yang diserahkan Dave itu. Ternyata foto Dave.
"Ge-er banget sih! Lebih baik gue majang foto monyet daripada foto lo!" tukas Diandra lalu pergi meninggalkan Dave yang cengo.
__ADS_1
" Gue baru tau kalau monyet lebih ganteng daripada lo?" ejek Bisma.
"Diem lo!" Dave keluar kelas dengan menghentak-hentakkan kakinya. Ia kesal. Sangat kesal. Ia sudah dipermalukan oleh seorang perempuan. Tapi Sifat Diandra yang seperti itu malah membuat Dave semakin tertarik.