Kakak Kelas

Kakak Kelas
#5#


__ADS_3

"Aduh! Aduheh aduh," latah Bu Inah, guru BK.


"Maaf, Bu," kata Dave.


"Kamu itu hati-hati dong!" kata Bu Inah.


"Iya, Bu, saya permiai dulu," Dave langsung ngibrit pergi.


"Eh, tunggu dulu. Tu anak ngapain di kamar mandi cewek ya? Berarti dia ngintip dong?" Bu Inah tersadar.


"Dave! Tunggu kamu!" teriak Bu Inah.


"Ampun, Bu!" Dave terus berlari, tetapi ia dicegat oleh Bu Asna.


"Mau ka mana kamu?" tanya Bu Asna yang berada di depan Dave.


"Mau__mau ke sana, Bu," jawab Dave.


"Buat ulah apa lagi kamu?" tanya Bu Asna sambil menjewer Dave.


"Saya enggak ngapa-ngapain, Bu. Jangan ditarik dong, Bu! Lama-lama telinga saya bisa lebar kalau Ibu giniin teris," kata Dave.


"Nah ketangkap kamu!" Bu Inah datang sambil ngos-ngosan.


"Kenapa, Bu Inah?" tanya Bu Asna.


"Ni anak bikin ulah lagi. Dia ngintipin cewek-cewek," lapor Bu Inah.


"kamu ini! Ibu kan sudah bilang ke kamu jangan ngintipin cewek!" kata Bu Asna sambil menjewer lebih kencang.


" Ampun, Bu! saya nggak ngintip, cuma ngeliat," kata Dave.


"Kamu itu!" kali ini Bu Inah ikut menjewer telinga Dave yang satu lagi."Telinga saya yang bagis ini jadi enggak berbentuk gara-gara Ibu," keluh Dave.


"Biarin! Bu Inah, bawa anak ini ke ruang BK. Saya males ngurusin dia," kata Bu Asna.


"Saya juga," kata Bu Inah.


"Ya udah, kalau enggak ada yanv mau ngurusin saya, saya juga enggak minta kok," kata Dave.


"Kamu itu! Ikut aaya ke ruanv BK," kata Bu Inah sambil memarik Dave.


Dave mengikuti Bu Inah masuk ke ruang BK. Ia sangat bosa dengan ruangan ini. Setiap hari pasti ia masuk ke ruangan ini entah apa yang ia lakukan.


"Apa kamu tidak bosan terus-menerus keluar-masun BK?" tanya Bu Inah sambil duduk di kursinya.


"Bosen lah, Bu," sahut Dave santai.


"Terus kenapa kamu terus mau masuk BK?" tanya Bu Inah.

__ADS_1


"Siapa yang mau masuk? Bukannya tadi Ibu yang narik telinga saya sampai ke sini," jawab Dave.


"Maksud saya, kenapa kamu suka melanggar peraturan? Dan satu lagi, kenapa nilai ulanganmu juga hancur semua?" tanya Bu Inah.


"Saya enggak melanggar peraturan. Kan saya cuma ngejahilin teman dan setahu saya di tata tertib sekolah tidak tertulis 'Dilarang menjahili teman'. Kalau masalah pelajaran saya emang enggak bisa. Kan semua orang punya kakurangan. Enggak ada yang sempurna, Bu," jelas Dave.


"Ngomong sama kamu biki pusing." Bu Inah memegang kepalanya.


"Saya juga pusing ngomong sama Ibu," sahut Dave santai yang langsung diberi hadiah cubitan di lengannya.


"Nih! Kasih orang tuamu!" Bu Inah memberikan surat yang sudah sering Dave dapatkan setelah masuk BK yaitu surat peringatan.


"Ya udah, saya pamit dulu ya, Bu. Sampai jumpa besok," pamit Dave lalu meninggalkan ruang BK menuju kantin.


Sedangkan Bu Inah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


 


Diandra duduk di kantin untuk pertama kalinya. Tadi Kirana memaksanya menemaninya dan ia juga lupa membawa bekal dari rumah. Di kantin Kirana mengenalkannya pada Luna. Awalnya Diandra mengira Luna anak yang sombong dan menyebalkan, namun setelah mengenalnya ternyata Luna menyenangkan.


Luna Natasha. Cewek bermuka bulat dan berpipi chubby yang sangat menggemaskan, ditambah kacamatanya membuatnya sangat imut. Ia anak yang ceria dan humoris.


"Eh, Ra, kok Kak Dave liatin lo terua sih?" tanya Kirana.


"Masa?" tanya Diandra.


"Iya, Ra," jawab Luna ikut-ikutan memanggilnya Rara.


"Apaan sih tuh cowok?" Diandra balik badan.


"Iya, kakak itu kan yang nyium lo?" tanya Luna.


"Hmph!" dengus Diandta lalu melahap baksonya.


"Ehem!"


Terdengar seseorang berdeham di telinga Diandra. Ditambah teriakan histeris cewek-cewek di sekitarnya. Diandra hanya menganggapnya angin lalu.


"Ra!" Kirana menjawil tangan kanan Diandra.


"Apa__"


Perkataan Diandra terpotong saat melihat Dave di sampingnya.


"Hai!"


Diandra tidak menghiraukannya. Ia kembali melanjutkan makannya.


"Ikut makan bareng gue, yuk!" ajak Dave.

__ADS_1


"Enggak mau!" jawab Diandra.


"Kalau enggak mau, gue gendong nih!" kata Dave.


"Coba aja kalau bisa!" tantang Diandra.


Tidak sampai satu menit Diandra telah berada di pangkuan Dave ,membuat teriakan histeris kaum hawa kembali terdengar. Dave menggendong Diandra ala bridal style dengan mudah, karena Diandra sering berolahraga menyebabkan tubuhnya menjadi ramping.


"Turunin gue monyet!" teriak Diandra lalu memukul-mukul dada bidak milik Dave.


"Nih gue turunin!" Dave menurunkan Diandra di depan Ryo dan Bisma.


"Hebat lo Dave," Bisma bertepuk tangan.


"Ga usah muji gue," kata Dave.


"Heh! Urusan lo sama gue!" kata Diandra yang masih tidak terima.


"Urusan apa sih, sayang?" tanya Dave.


"Sayang, sayang! Pala lu peang! Tau ah, enggak guna ngomong sama kakak kelas yang tengil kayak lo!"


Diandra berbalik namun tangannya dicekal oleh Dave, lalu ditarik, membuat Diandra berada di pangkuannya dan suara teriakan pun kembali terdengar.


"Apaan sih lo! Lepasin!" Diandra meronta-ronta tetapi bukannya melepas, Dave malah memeluk Diandra dari belakang.


"Lo harus makan dulu." Dave menyendok baksonya.


"Enggak!" Diandra masih meronta-ronta.


Dave mendekatkam bibirnya ke telinga Diandra. "Kalau lo enggak mau makan, gue pastiin second kiss lo bakal gue ambil juga," bisiknya mengancam.


Mau tak mau Diandra membuka mulut.


"Gitu, dong." Dave menyuapkan bakso ke dalam mulut Diandra. Diandra tidak mengunyah baksonya, membuat pipinya menggembung. Dave yang melihat itu hanya bisa tertawa geli.


"Apa lo? Lepasin gue!" Diandra bangkit. Karena Dave sudah tidak memeluknya, ia bisa dengan mudahnya pergi.


"Besok duduk sama gue lagi, ya!" seru Dave saat Diandra berjalan menuju mejanya sendiri.


Diandra tidak mendengarkan perkataan Dave.


"Cieee....," goda Kirana saat Diandra telah sampai di meja mereka.


"Apaan sih?" tukas Diandra.


"Romantis banget!" komentar Luna.


"Romantis dari mana? Itu mah namanya penyiksaan," tukas Diandra lagi.

__ADS_1


"Ha ha ha!" tawa Kirana dan Luna membuat Diandra tambah cemberut.


__ADS_2