Kakak Kelas

Kakak Kelas
#6#


__ADS_3

Pagi ini Diandra berangkat naik taksi. Tadi ia terlambat bangun dan Satya, kakaknya, sudah berangkat.


Diandra melihat jam tangannya. Pukul 07:01. Sembilan menit lagi pintu gerbang sekolah akan ditutup, sedangkan ia masih terjebak macet dan masih jauh dari sekolah.


" Pak, ini ongkosnya. Saya turun di sini saja." Diandra menyodorkan selembar uang seratus ribuan, lalu membuka pintu.


"Kembaliannya, Neng!" teriak Sopir itu.


"Ambil aja!" Diandra menutup pintu taksi.


Ia berjalan di trotoar. Di dekat situ ada pangkalan ojek. Ia bisa ngojek ke sekolah. Tapi saat ia sampai di pangkalan,ternyata di sana sama sekali tidak ada ojek yang mangkal. Dengan dongkol Diandra berjalan kaki.


Tiba-tiba terdengar bunyi motor gede berhenti di sampingnya. Refleks ia menengok. Diandra hampir yerjungkal saat melihat Dave di sana dengan cengiran khasnya.


"Ngapain lo di sini?" tanya Diandra.


"Seharusnya gue yang nanya, ngapain lo di sini? Bukannya sebentar lagi gerbangnya ditutup?" Dave balik bertanya.


"Macet. Jadi gue turun dari taksi," jawab Diandra.


"Sama gue aja, yuk!" ajak Dave.


"Enggak!" jawab Diandra.


"Ya udah. Gue ingerin aja, hukuman di sekolah kita itu beda lo dari pada sekolah yang lain," kata Dave."Yuk ah, gue pergi dulu."


"Eh, tunggu! Gue ikut," kata Diandra.


"Tapi ada syaratnya," kata Dave.


"Apa?" tanya Diandra.


"Peluk gue," kata Dave mulai modus." Yanv kenceng."


"Enak aja lo!" kata Diandra tak terima.


"Ya udah kalau enggak mau," Dave mengegas motornya.


"Iya deh, tapi gue pegang tas lo aja, sahut Diandra mengalah lalu naik ke motor dan berpegangan ke tasDave. Motor pun melaju kencang.


"Sialan lo" Pelan-pelan! entar gue jatuh," seru Diandra.


"Jatuh aja sono! Siapa suruh enggak pegangan," balad Dave.


Kayaknya Dave berkepribadian ganda deh! Kadang-kadang romantis, kadang-kadang nyebelin, batin Diandra.


Dave menambah laju motornya. Refleks Diandra memeluk Dave.


"Pelan-pelan, Nyet," seru Diandra.


"Lo mau telat?" tanya Dave.


"Ya nggak, lah!" Jawab Diandra.


" Ya udah."

__ADS_1


Dengan lihainya Dave mengemudikan motornya melalui jalan-jalan tikus. Bahkan di gang-gang sempit pun ia bisa dengan lihainya ngebut.


"Lo mau bikin gue mati?" tanya Diandra marah.


"Enggak lah, sayang," jawab Dave.


Bener-bener ganda ni orang, batin Diandra.


"Najong," sahut Diandra datar.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sekolah. Sayangnya mereka sudah terlambat dua menit.


"Coba kalau gue enggak sama lo, pasti gue enggak telat," kata Diandra.


"Yee, nyalahin gue. Kalau enggak ada gue lo bakal telat banget," bela Dave.


"Sama aja. Gerbangnya udah ditutup. Bakal keliling lapangan deh," kata Diandra.


"Kan gue udah bilang di sini hukumannya bade. Liat aja deh bentar lagi anak-anak OSIS pada keluar," kata Dave.


"Oh"


Dave benar. Beberapa pengurus OSIS tampak di gerbang.


"Telat lagi, Dave?" tanya Lesti sinis.


"Napa? Masalah buat lo?" tanya Dave.


"Enggak!" jawab Lesti datar.


"Kasian Diandra. Pasti lo yang bikin dia telat!" tebak Ryo.


"Enggak lah," jawab Dave. Diandra hanya menunduk karena malu.


"Cuma dua orang yang telat?" tanya Alex.


"Hmm....," jawab Lesti mengiyakan.


"Dave, Dave, lo itu pengurus OSIS. Masih aja telat," kata Cindy.


"Siapa aja yang telat?" Tiba-tiba Bu Vina selaku guru piket yang terkenal galak datang.


"Dave sama" Lesti tidak mengetahui nama Diandra.


"Diandra," jawab Bisma.


"Kamu lagi, kamu lagi. Kamu itu OSIS tapi kok suka melanggar peraturan?" komentar Bu Vina sambil geleng-geleng kepala.


"Kasih hukuman apa, Bu?" tanya Lesti.


"Kalian berdua bersihin lab," kata Bu Vina.


"Siap, Bu!" jawab Dave lalu menarik Diandra.


"Kok bersihin lab?" tanya Diandra.

__ADS_1


"Ati-ati labnya angker lo," kata Bisma membuat Diandra merinding.


"Semoga dapet modusin doi," bisik Ryo pada Dave tapi semua anak di situ dapat mendengarnya. Diandra memutar matanya.


"Yoi, bro! Gue cabut dulu," sahut Dave. Ia membawa Diandra menuju lab yang dimaksud.


"Ini labnya? Serem banget!" kata Diandra merinding.


"Takut?" tanya Dave.


"Hmm"


"Ada abang di sini," ujar Dave membuat Diandra geli.


"Apaan dah?"


Dave membuka pintu lab lalu melangkah ke dalam. Ia mencari-cari tombol lampu lalu menyalakannya. Diandra memberanikan diri menyusul ke dalam.


"Lan!" panggil Dave.


"Apa?" tanya Diandra.


"Pintunya jangan ditut" Dave terbelalak saat Diandra menutup pintunya.


"Kenapa?" tanya Diandra.


"Jangan ditutup!" kata Dave panik.


"Udah gue tutup," kata Diandra tenang.


"Hah!?" Jangan bercanda," Dave berjalan menuju pintu lab. Ia bersaha membuka pintu itu, namun tak berhasil. Dave menoleh ke arah Diandra. Tampangnya agak kesal.


"Kenapa sih?" tanya Diandra menghampiri Dave, lalu berusaha membuka pintu Tapi pintu itu tak terbuka.


"Soalnya sering kekunci sendiri," jawab Dave menjawab tanya di wajah Diandra.


"Terus, kita kekunci?" tanya Diandra panik.


"Nanti juga ada yang lewat," jawab Dave santai. " Tapi"


"Tapi apa?"


"Gue kan udah bilang sama lo, kalau tempat ini terkenal angker. Mana ada yang mau lewat sini?" tanya Dave sedikit menakut-nakuti.


Tiba-tiba lampu mati.


"Dave" panggil Diandra sedikit bergetar, karena takut.


"Jangan takut, sayang," Dave memeluk Diandra.


"Jangan modus!" tukas Diandra.


Dave nyengir. "Iya, duduk yuk!" Mereka pun duduk di salah satu bangku.


"Astaga!"

__ADS_1


__ADS_2