Kaku Mayat

Kaku Mayat
Mayat Hidup?


__ADS_3

Lebam mayat terjadi akibat berhentinya sirkulasi darah dalam tubuh. Darah yang berhenti tersebut kemudian keluar dari pembuluh darah dan menembus kulit sekitar, sehingga menimbulkan gambaran lebam. Apabila lebam itu disentuh maka darah dibawah kulit akan tertekan dan tergeser kesekitar. Kulit yang tertekan akan terbebas dari darah sehingga menimbulkan bekas. Itulah teori kedokteran yang aku ingat saat Dokter Muda.


Aku melihat bekas genggaman tanganku dilengannya. Perempuan itu tidak mungkin masih hidup, dia sudah menjadi mayat. Kulitnya sudah mengeluarkan lebam mayat dan aku menyentuhnya, sehingga genggaman tanganku berbekas. Itu berarti PEREMPUAN ITU SUDAH MATI SAAT AKU MENYENTUHNYA SEMALAM. Aku tidak percaya, aku terus mengulang-ulang, membolak balik logikaku. Lantas bagaimana bisa mayat itu duduk? Aku menyaksikannya sendiri ia duduk di bed sambil menunduk. Aku menyentuhnya, aku merasakan dingin tubuhnya, merasakan kaku mayatnya, semuanya begitu nyata. aku tidak gila kan? Aku juga melihatnya berdiri dan mengejarku sembari memuntahkan cairan putih. Yang menjadi pertanyaan besar dikepalaku sekarang adalah Apa mungkin orang yang sudah mati bisa hidup lagi?


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, berusaha mencerna semua ini. Oh iya aku ingat! Setelah dikejar aku terjatuh akibat tersandung rantai besi di lantai, kemudian aku terbangun di kamar jaga keesokan paginya. Apa Cuma mimpi ya? Tetapi kepalaku sakit ketika bangun, atau aku pingsan karena ketakutan? Dari dulu aku selalu tidak bisa mengendalikan ketakutanku, kan? Lalu siapa yang memindahku ke kamar dokter? Mas Joko? Ah, aku tidak berani bertanya. Dari dulu aku selalu kesulitan mengendalikan rasa takutku. Aku takut, takut apabila semua ini nyata. Aku sendiri juga tidak yakin apa yang aku lihat malam itu nyata.


Mas Joko, Dokter Denny, dan Pak Badrun tidak ada yang membicarakan mayat perempuan itu lagi sejak hari itu. Kami beraktifitas seperti biasa, puskesmas ini berjalan seperti biasannya. Mungkin benar aku tersandung malam itu, dan Mas Joko memindahkanku diam-diam. Aku malu sekali apabila fobiaku saat Dokter Muda dulu muncul kembali. Mungkin, saking takutnya aku melihat mayat, aku jadi berhalusinasi yang tidak-tidak. Berarti aku pingsan karena ketakutan melihat mayat. Dan mayatnya... Ahhh nggak mungkin! udah-udah! Aku mengerang frustasi. Kalau aku cerita ini, Mas Joko pasti menertawakanku. Lebih baik aku lupakan saja kejadian itu. Toh beberapa hari sudah berlalu, tidak ada hal yang aneh terjadi.


Sudah dua minggu sejak malam pertama itu, memang tidak ada lagi kejadian yang aneh. Sebenarnya lebih tepatnya belum ada mayat lagi yang dikirim ke puskesmas. Selama dua minggu ini, aku tidak bisa tidur, dihantui rasa takut dan penasaran. Maka dari itu, aku diam-diam saja selama ini, menjalani shift malam puskesmas dengan normal seperti biasanya. Aku dan Mas Joko -dua orang tenaga medis yang selalu berjaga malam- juga tidak lagi membicarakan tentang malam itu. Kami bercanda gurau bertegur sapa seperti biasanya, melakukan aktifitas pelayanan seperti biasa, tidak ada yang aneh. Lebih tepatnya, belum ada yang aneh.


..............................................................


Sore itu aku duduk bersantai di teras depan rumah tinggalku. Teras sederhana dengan keramik putih yang sedikit kotor –aku malas bersih-bersih akhir-akhir ini. Rumah tinggalku itu, berada di tepi desa, jauh dari pusat keramaian desa. Tidak ada rumah lain yang menghimpit di sisi kanan dan kiriku. Namun beberapa meter di sebelah kanan, ada rumah tinggi menjulang mewah. Itu adalah kediaman pemilik asli rumahku ini.


Rumah tinggalku cukup luas untuk dihuni seorang diri. Bangunan satu lantai dengan atap coklat layaknya rumah di perumahan modern. Pemiliknya mengecat rumah ini dengan warna putih polos. Aku masih bisa mencium bau catnya, dan beberapa debu bangunan disana-sini. Sepertinya, baru beberapa bulan saja rumah ini selesai dibangun. Didalamnya tersedia dua kamar yang jarang aku tiduri –aku hampir setiap hari berjaga malam. Rumah ini cukup nyaman dan layak, serta harga sewanya terjangkau.

__ADS_1


Secangkir kopi susu hangat menemaniku menikmati senja. Udara di desa ini tidak sejuk sama sekali, rasanya aku seperti tinggal di perkotaan saja, hanya sepi orangnya. Udara puskesmas masih lebih sejuk daripada disini. Baru kali ini aku keluar dan duduk-duduk di sore hari sambil membunuh waktu, menunggu jam jagaku nanti malam.


Di jalanan tanah depan rumahku banyak motor bobrok berlalu lalang. Anak muda sok kreatif yang memodifikasi knalpot motor tua mereka, hingga bunyinya memekakan telinga. Dengan bangganya mereka melintas di jalanan desa yang sepi ini. Namun sepertinya tidak ada warga yang terganggu. Seolah sudah menjadi rutinitas setiap sore, mereka berjalan-jalan, berkendara memamerkan motor mereka. Tidak lupa rokok yang terapit di jari telunjuk dan jari tengah, yang menambah keren dan garang penampilan mereka. Hahaha, aku berdoa mereka segera kena TBC.


Ah aku jadi ingat cerita orang-orang puskesmas mengenai desa ini. Pemuda-pemudi mabuk-mabukkan, balapan liar, freesexs. Orang-orang dewasanya pun juga tidak kalah. Judi, miras, prostitusi dan banyak lagi kegiatan bejat yang tidak tersebutkan. Aku tidak menyangka desa seterpencil ini dosanya sama banyaknya dengan perkotaan. Hah... rasanya tidak seperti PTT daerah terpencil yang diceritakan senior-seniorku. Aku hanya berpindah lokasi aja, dengan suasana kebejatan yang sama.


"Ngelamun aja nih dok..."


Aku terkejut, seorang bapak-bapak tua tiba-tiba datang menyapaku "Oh pak kades... monggo pak... silahkan duduk"


Aku terlarut dalam lamunan sampai aku tidak menyadari Pak Kades, kepala desa ini datang menghampiriku. Aku mengenal baik beliau, pemilik rumah tinggalku ini, sekaligus orang pertama yang aku kenal di desa. Beliau membawa kopinya sendiri dari rumahnya yang mewah itu. Beliau ramah dan baik, padahal warga desanya begitu bejat dan tidak ramah.


"Pak... bapak percaya gak si... kalau ada mayat bisa hidup lagi?" ucapku iseng.


Pak kades kaget bukan main. Ia bahkan sampai tersedak. Dengan terbatuk-batuk ia menumpahkan kopi yang sudah hampir ditelanya tadi. Aku sedikit panik dan menepuk-nepuk pundak Pak Kades.

__ADS_1


"Uhuuk-Uhuuuk..."


"Ya ampun pak... gak papa?"


"Hahaha gak papa dok... Uhuuk... Makasih-makasih" ucapnya sambil mengusap bibirnya dengan tangan.


"Kenapa pak? Kaget sama pertanyaan saya?"


Aku menatapnya serius. Wajahnya menekuk, matanya mengedar kesana-kemari, tidak berani membalas tatapanku. Pak Kades sepertinya sedikit takut.


"Hahaha... Nak dokter... Nak dokter... Jelas kaget lah... Nak dokter ini orang medis, DOKTER!" Ucap pak kades tegas "...Berpendidikan! Masak percaya dengan hal mistis begitu.."


Aku hanya diam dan menatapnya kosong.


"Kalau Dokter Denny dengar... nak dokter pasti ditertawakan hahahaha... wong DOKTER, kok percaya sama begituan... hahha... gak logika..." ucapnya dengan santai sambil kembali meminum sisa kopinya.

__ADS_1


Tapi aku berani sumpah, tangan beliau gemetaran saat memegang gelas. Beliau bahkan hampir menumpahkan lagi tegukan keduanya ini.


Aku merasa seperti ditampar, dihina-hina dengan perkataannya itu. Tetapi aku mencoba bersabar dengan orang tua ini. Aku kemudian mengalihkan topik pembicaraan ke hal yang lain, dan kami pun ngobrol hingga senja tenggelam.


__ADS_2