Kaku Mayat

Kaku Mayat
TEROR!


__ADS_3

Angin malam berhembus semilir, membekukan tulang-tulangku. Dingin, rasanya seperti didalam lemari es disini. Badanku bergetar kencang, entah karena dingin atau takut, atau keduanya, aku tidak tahu. Belum pernah aku merasakan begitu terancam seperti ini. Bersembunyi, dikejar-kejar oleh sesuatu yang dapat membunuhmu, rasanya sangat mengerikan. Seandainya aku dapat mengecilkan suara detak jantungku yang terus berdentum ini, dan bisa menahan nafasku beberapa jam saja, mungkin mereka tidak akan mencariku. Mengapa mereka tidak mati saja? Mengapa mereka bangkit lagi? Mengapa harus ada kutukan? Mengapa aku harus PTT di desa terkutuk seperti ini? MENGAPA AKU HARUS MENGALAMI SEMUA INI??!!!


Mataku menatap kosong langit malam yang dihiasi bulan purnama terang. Bibirku berkecumik terus menggigil. Tanganku merangkul lututku erat-erat, seolah-olah mereka akan lepas. Aku terus menggoyang-goyangkan badanku maju-mundur, sambil sesekali menenggelamkan wajahku pada lutut. Ketakutan, kedinginan, dan frustasi berkecamuk menjadi satu. Aku bahkan tidak tahu mana yang harus aku atasi dulu.


Aku menyesal, mengapa tadi sore kami terburu-buru memasukkan mayat anak perempuan itu. Kecerobohan kami adalah meninggalkan pisau yang masih menancap di matanya itu. Kami semua tidak pernah membayangkan bahwa pisau itu kemudian digunakannya sebagai senjata, untuk merobek-robek kertas mantra yang menempel di balik pintu kayu. Mas Joko yang pertama menyadari hal itu, ketika ia melihat robekan-robekan kertas tercecer di luar pintu kamar mayat. Kami juga secara tidak langsung mempersenjatai mayat anak itu, sehingga akhirnya melukai Pak Hendra.


Yang membuatku bingung adalah belum ada satu jam, mayat Bapak itu sudah bangkit, bahkan langsung bisa berdiri dan berlari. Ia bahkan sudah cukup kuat untuk mendobrak pintu kayu -yang terikat rantai besi- dari engselnya. Padahal, aku benar-benar melihat mayat Bapak itu masih terbujur lemas –lengkap dengan beberapa luka tembak didadanya yang penuh darah- terbungkus kantung mayat. Sungguh, ini semua diluar perkiraan. Kami kira, mayat Bapak itu bangkit saat dini hari –atau paling cepat tengah malam- dan harusnya ia bangkit perlahan-lahan seperti mayat lainya, tidak serta merta berdiri kokoh seperti itu.


Pikiran negatifku menjelajah liar, menggerogoti otakku. Semakin aku berfikir semakin jantungku terus berdetak seperti dicambuk. Ditambah kegelapan ini, yang terus menyesakkan dada membuatku tenggelam dalam keputusasaan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Yang pasti, aku harus terus bertahan di persembunyian ini, sampai pagi, tidak, sampai mayat-mayat itu kehabisan tenaganya.


Aku tidak tahu bagaimana nasib mereka semua, Pak Hendra dan rekannya itu, serta Mas Joko. Setelah suara dobrakan kencang itu, rekan Pak Hendra langsung mensiagakan pistolnya dan berlari keluar puskesmas, meninggalkan kami. Saat itu aku tengah menjahit luka Pak Hendra bersama Mas Joko. Jantung kami bertiga seperti disambar petir ketika mendengar raungan keras seorang laki-laki. Setelah itu kami mendengar dua-tiga kali suara tembakan. Mas Joko memberanikan diri mengintip dari jendela, melihat apa yang sedang terjadi diluar. Sejurus kemudian ia menjengit ngeri. Aku sudah bisa membayangkan apa yang terjadi, segera aku mempercepat pekerjaanku.


Pak Hendra mencengkram tanganku yang bergemetar –sibuk membalut luka dengan kasa dan plester. Matanya melotot ngeri kepadaku, aku bisa melihat wajah hangatnya begitu ketakutan. Ia memintaku untuk berhenti merawat lukanya, dan segera bersembunyi. Pak Hendra juga memerintahkan Mas Joko untuk pergi keluar dan mematikan sekring listrik puskesmas, yang berada di tembok luar dekat pintu utama.

__ADS_1


Itu adalah ide yang sangat bagus, memberi kesempatan kami untuk bersembunyi. Tetapi permintaan untuk meninggalkan dirinya sendiri di UGD ini adalah ide yang buruk, aku menolaknya mentah-mentah. Namun Pak Hendra bersikeras memaksaku, sambil menarik kerah kemejaku seperti mengancam. Kemudian ia membentak lagi Mas Joko yang masih diam terpaku, agar segera pergi mematikan sekring. Mas Joko pun berlari terbirit-birit. Hampir saja ia terjatuh saat kakinya menabrak pintu UGD.


Sejurus kemudian jantung kami sekali lagi seperti disambar petir kala mendengar suara raungan anak kecil yang saling bersahutan dengan raungan bapaknya. Saat itu juga kami baru teringat fakta mengerikan. Ada dua mayat yang bangkit malam itu.


Jantungku berdesir hebat ketika tiba-tiba lampu padam. Mas Joko sudah mematikan seluruh listrik puskesmas. Kesunyian seketika menyergap, kegelapan menyelimut disekitarku. Tentu saja, suara TV yang tadinya riuh berbunyi, kini hening seketika. Sambil terus didera ketakutan, aku mengendap-ngendap perlahan, meninggalkan Pak Hendra yang sudah mensiagakan pistolnya. Ia lebih memilih bersembunyi dibawah bed UGD sambil terus menodongkan pistolnya kearah pintu dan jendela bergantian.


Kepalaku mendongak, mengintip pintu utama kearah luar puskesmas. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Satu-satunya cahaya saat itu adalah dari sinar rembulan purnama yang menyinari rerumputan lapangan puskesmas. Tidak ada manusia, atau mayat yang terlihat, kemana Mas Joko? Suara raungan itu masih terdengar sedikit-sedikit, namun suara jeritan Polisi itu tidak lagi terdengar. Apakah dia sudah mati? Bulu kudukku begidik membayangkan itu. Aku tidak punya waktu untuk terus diam disini, aku harus segera bersembunyi. Kemudan kepalaku menoleh kearah tangga.


"AAAAAAHH!!!"


Dengan cepat aku berlari keluar, hendak menjemput Mas Joko yang masih terus berteriak. Aku ingin menutup mulutnya itu, dan mengajaknya bersembunyi, namun mayat itu sudah begitu dekat dengan Mas Joko. Aku hanya bisa diam mematung ketika melihat sosok itu bergerak dengan kaku, menghampirinya. Kali ini aku dapat melihat sosoknya dengan jelas dari dekat. Punggung mayat itu penuh lubang tembakan, tentu saja ia mati di tembak saat kabur di hutan. Namun terlihat beberapa lubang yang masih mengucurkan darah, mungkin itu lubang dari peluru rekan Pak Hendra tadi. Gila, bahkan setelah ditembak berkali-kali, mayat itu masih bisa berdiri. Inikah kekuatan dari kutukan itu. Ketakutan sudah membuat kaki Mas Joko membeku, dengan bodohnya ia hanya berteriak tanpa berusaha kabur. Mayat itu kemudian menikam Mas Joko dengan pisau.


Mayat Bapak itu dengan bengis menusuk-nusuk bahu Mas Joko. Matanya hitam kelam, dan dari wajahnya yang penuh darah itu tergores senyum menyeringai. Ia terlihat sangat puas. Mas Joko mengerang kesakitan. Aku tidak mampu berbuat apa-apa, ketakutan juga membekukan tulang belulangku, aku tidak berani bergerak. Aku hanya bisa memandangi darah Mas Joko yang berhamburan kesekitar.

__ADS_1


Kemudian terdengar suara tembakan yang keras dari arah pundakku. Begitu keras, seolah pelurunya melesat melewati telinga kananku. Dengan sedikit limbung, Pak Hendra muncul di belakangku dengan menodongkan pistolnya. Peluru Pak Hendra berhasil mengenai pelipis mayat itu, menembus hingga otaknya, dan membuatnya roboh. Memanfaatkan situasi itu, segera aku mengangkat badan Mas Joko dan menariknya masuk kedalam puskesmas, menjauhkannya dari mayat itu.


Mas Joko nampak begitu kesakitan, wajahnya nampak pucat, sambil terus mengerang memegangi luka dibahunya. Aku segera menutup luka itu dengan tanganku, mencoba menghentikan darah yang terus mengucur. Pak hendra, dengan tertatih, lalu mendekati mayat yang tersungkur itu, sembari terus menodongkan pistolnya. Sambil menendang-nendang badannya, ia mengecek apakah mayat itu sudah benar-benar mati atau tidak. Mayat itu tidak bergeming, meski matanya yang hitam itu masih terbuka lebar.


Tiba-tiba dari kegelapan, sesosok anak kecil muncul dan menerkam Pak Hendra. Gigi-gigi kecilnya mengigit pipi Pak Hendra hingga berdarah. Seketika Ia jatuh tersungkur. Mayat anak itu tanpa ampun mencabik-cabik muka Pak Hendra. Jantungku serasa berhenti, ketika melihat Pak Hendra berteriak kesakitan. Mereka berdua bergulat dan aku, lagi-lagi, hanya bisa terpaku ketakutan ketika melihat darah yang berhamburan dimana-mana.


Kemudian pandanganku tertuju pada pantulan cahaya rembulan dari pistol Pak Hendra, yang terjatuh didekat pintu puskesmas. Dengan sigap aku berlari –meninggalkan Mas Joko yang terbujur lemas- menyambar pistol itu dan berusaha membidiknya kearah mayat perempuan itu. Tetapi aku tidak bisa menembak. Mayat anak itu bergulat memegangi kepala Pak Hendra, aku takut mengenai kepalanya. Terlebih saat itu begitu gelap, pandanganku terhalang kegelapan. Dan aku juga tidak pernah menggunakan pistol sebelumnya. Grrrrrr!! aku mengumpat kesal.


Kemudian seseorang tiba-tiba memukul tanganku, membuatku menjatuhkan pistol itu. Matanya hitam menyorot ke arahku sambil terus mencengkram. Aku bisa menghitung jumlah lubang di dadanya dengan jelas kali ini. Mayat Bapak itu bangkit lagi dan menyerangku. Jantungku rasanya seperti diremas-remas ketika tangan kanannya mulai mengayunkan pisau kearahku.


Beruntungnya aku, gerakannya kaku dan lamban sehingga ada kesempatan untuk Pak Hendra –Setelah berhasil melepaskan diri dari mayat anak itu- melompat dan mencengkram kaki mayat Bapak itu, membuatnya sedikit terguncang. Dengan wajah hancur penuh luka dan darah, serta mata yang hampir tercongkel, Pak Hendra berteriak, menyuruhku untuk kabur. Segera aku berlari masuk kedalam puskesmas, memanfaatkan perhatian mayat itu yang teralih pada Pak Hendra. Aku menyambar badan Mas Joko dan segera mengendongnya berlari menuju tangga, meninggalkan Pak Hendra yang kini bergulat dengan dua mayat hidup.


Saat menaiki tangga aku dapat melihat muka Pak Hendra dihantam tendangan keras mayat Bapak itu. Aku tidak melihatnya bergerak lagi setelah itu. Melihat Pak Hendra yang roboh, mayat anak itu kemudian melompat dan melanjutkan cabikannya yang tertunda tadi. Kupejamkan mataku dengan sedih, aku berusaha tidak menghiraukan. Aku harus menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan dulu, nyawaku dan Mas Joko. Kemudian aku melanjutkan menaiki tangga ramp itu, sambil menggendong Mas Joko yang begitu berat.

__ADS_1


Aku menyembunyikan Mas Joko di dalam laboratorium. Aku menyuruhnya diam agar mayat-mayat itu tidak menemukannya. Mas Joko mengangguk sedih. Aku bisa melihat keringat dingin bercucuran dari wajahnya, sepertinya ia menahan nyeri dengan sekuat tenaga. Kemudian aku menguncinya dari luar.


Lalu aku memandang lorong lantai atas itu, seketika terbersit sebuah ide. Aku membuka semua pintu kamar pasien dan memposisikan semua guling dan bantal tertutup oleh seprei kasur. Kalau memang insting manusia mereka masih ada –seperti pada saat mayat kakek yang mengangkat teleponku dulu- mereka pasti terkecoh dengan guling dan bantal yang menyerupai orang tidur itu. Seharusnya ini akan berhasil, aku harap mereka tidak menemukan Mas Joko. Kemudian aku berlari ke ruang tidur dokter dan bersembunyi.


__ADS_2