
Di jalanan desa, beberapa bulan setelah peristiwa itu. Lagi-lagi ada seorang warga yang meninggal karena suatu penyakit. Beberapa warga desa berkumpul –berbaris dengan rapi- kemudian berjalan bersama-sama sambil mengangkut keranda jenazah seorang wanita paruh baya. Wajah mereka tampak tegang, namun tidak denganku. Sekali lagi, aku harus memakai "metode" ini. "Metode" yang aku temukan pada hari itu. Tenang saja, aku sudah berhasil membuktikan pada Dokter Denny, Pak Badrun, dan seluruh warga desa, bahwa "Metode" ini berhasil.
Rombongan jenazah itu berjalan tidak menuju ke arah makam desa atau ke puskesmas. Tidak menuju ke kamar jenazah dengan mantra-mantra jawa yang dulu mereka banggakan. Kertas-kertas mantra itu sudah rusak dan dukun mereka sudah mati. Kamar jenazah itu sudah tidak efektif lagi. Kini mereka hanya bisa menaruh harapan padaku, pada "Metode" ini.
Setelah melalui malam yang mengerikan hari itu, bertarung dengan mayat-mayat hidup, aku akhirnya bisa menyingkap tabir kutukan Ki Bramanthoro, dan menciptakan cara ini. Wajahku tampak begitu yakin ketika memimpin rombongan jenazah itu berbelok menuju sungai.
Setelah dikeluarkan dari keranda, warga segera mengikatkan sebuah rantai besi ke pinggang mayat itu. Rantai besi itu terhubung pada sebuah pemberat berupa batu kali besar yang sangat berat. Butuh hampir 5 orang untuk mengangkat batu itu. Kemudian –sesuai arahanku seperti biasanya- warga bahu membahu menenggelamkan batu dan mayat itu ke bagian sungai yang terdalam. Mereka berjalan perlahan melawan arus sungai, dan menenggelamkan keduanya persis ditengah-tengah sungai.
Setelah memastikan benar-benar tenggelam, warga kembali ke pinggiran sungai dan membubarkan diri. Meninggalkan hanya aku sendiri disana yang tengah menatap kosong sungai. Telinga kananku, yang kini sudah tuli itu, kembali berdenging setiap aku melakukan "Metode" ini. Seolah mengingatkanku akan kejadian mengerikan hari itu, "Tragedi Puskesmas". Metode "Penenggelaman Mayat" ini sudah beberapa kali kami lakukan dan selalu berhasil. Namun sepertinya aku sendirilah yang belum berhasil, mengatasi traumaku.
__ADS_1
Ya, mayat-mayat itu bangkit mengikuti proses Rigor mortis atau kaku mayat. Dimulai dua jam setelah kematian, mereka mulai bangkit, diawali dari mata yang membuka. Kemudian mereka akan mulai menggeliat pertanda kaku mayat mulai terjadi di beberapa otot anggota geraknya. Lalu setelah 6 jam kematian, seluruh tubuh akan kaku penuh dan mereka mulai "Bangkit". Mereka akan kembali hidup, bergerak-gerak mencari mangsa hingga 12 jam lamanya. Setelah itu, mereka akan mulai melemas lagi, dan akhirnya benar-benar mati.
Bila seperti itu kenyataanya, maka pemikiran sederhana agar mayat itu tidak bangkit adalah dengan tidak melalui fase kaku mayatnya. Mayat itu sebenarnya tetap bangkit, kutukan itu tetap berjalan, namun apabila kita bisa melalui, atau mempercepat fase kaku mayat ini maka mereka tidak akan merepotkan, kan?
Tenggelam, ya, aku masih ingat betul cerita dosen forensikku tentang mayat yang tenggelam. Pada saat mayat tenggelam makan Algor mortis atau penurunan suhu mayat akan menurun jauh lebih besar karena lingkungan air. Kemudian bakteri-bakteri di air akan masuk kedalam kulit dan mempercepat pembusukan nantinya. Setelah mayat diangkat dari air maka pembusukan akan menjadi lebih cepat, bahkan 18x lebih cepat dari keadaan normal.
................................................................
Pada hari berdarah itu, kami membawa seluruh jenazah korban "Tragedi Puskesmas" –mayat Pak Kades, Bu Kades, Dukun tua, dan beberapa warga- itu ke sungai. Kami memasukkan mereka masing-masing kedalam kantung jenazah yang diikat rapat-rapat dengan tali. Lalu kami menenggelamkan mereka semua dengan bantuan batu pemberat seadanya, kala itu. Dan sama seperti yang dilakukan Dukun itu 19 tahun yang lalu, kami bergiliran berjaga selama 24 jam penuh di pinggiran sungai, untuk memastikan mayat-mayat itu tidak ada yang naik ke permukaan. Kemudian setelah sehari penuh, kami semua mengangkat kantung-kantung itu keluar dari air dan mengeluarkan mereka.
__ADS_1
Metode ini sukses besar! Beberapa mayat terlihat sudah melewati fase kaku mayatnya dan tidak bergerak sama sekali. Beberapa ada yang masih dalam fase kaku mayat, namun mereka tidak bisa bergerak bebas. Badan yang penuh terisi air itu pasti sangat berat, otot-otot mereka tidak akan sanggup menopang. Bahkan kelopak mata mereka, yang harusnya terbelalak kaku, hanya bisa menyipit sayu.
Cara ini kemudian kami gunakan untuk mayat-mayat lainnya yang meninggal di desa ini. Dengan penuh kecermatan dan sistematis kami semua bekerjasama dalam melakukan metode "Penenggelaman Mayat" ini. Semua pihak kami libatkan, bahkan termasuk pegawai pemerintahan dan kepolisian. Dokter Denny, Pak Badrun –yang kini adalah Kades baru desa ini- Kepala Polisi, dan seluruh pegawai dinas pemerintahan, -yang datang pada hari mengerikan itu- serta seluruh warga desa, begitu bahagia dan antusias dengan metode ini. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa ada cara yang seperti ini. Dan berkat pengetahuanku, kutukan ini akhirnya berhasil "teratasi"
Sebenarnya ada cara yang lebih mudah dan tidak perlu melelahkan menunggu selama 24 jam penuh di pinggiran sungai. Yaitu dengan "Pembakaran Mayat". Prinsipnya, proses pembakaran akan mempercepat terjadinya kaku mayat, dan mengakhirinya lebih cepat pula, seperti yang terjadi pada Cadaveric spasme. Mayat akan dibakar, kulit, organ, dan tulang mereka akan menjadi abu. Resikonya adalah pada saat pembakaran, bisa saja mayat itu bangkit dan mulai berlarian. Meski fase "bangkit" tersebut lebih cepat selesai, namun mayat hidup dengan kondisi badan penuh api, akan lebih susah untuk diatasi.
Kemudian warga juga tidak setuju, apabila mayat-mayat sanak saudara mereka -atau mayat mereka sendiri kelak- terbakar tak bersisa menjadi abu. Mereka menginginkan ada pemakaman yang layak. Kemudian, apabila seluruh mayat menjadi abu, maka akan sangat mencurigakan bagi desa-desa lain. Kutukan ini sungguh sangat dirahasiakan dari dunia luar. Bahkan hanya pegawai pemerintahan dan polisi-polisi tertentu saja yang mengetahui apa yang terjadi di desa ini. Tentu saja, bahkan polisi-polisi yang membantu pada hari tragedi itupun, sebagian besar awalnya tidak tahu menahu tentang kutukan ini. Hanya mendiang Pak Hendra dan beberapa polisi terpilih sajalah, yang dipecayai menangani dan menjaga desa ini.
Kemudian kami membawa mayat-mayat yang basah itu, lalu memakamkannya ke kuburan desa. Kami melakukan pemakaman dengan layak, mendoakan mereka dan menaburkan bunga seperti biasanya. Ketika kami meninggalkan pemakaman, terlihat beberapa warga melirik kembali ke makam-makam baru itu. Tentu mereka masih trauma. 19 tahun lalu, gundukan tanah makam baru itu bergolak longsor. Mayat hidup pertama, yang mereka lihat dengan mata kepala mereka, memanjat keluar dan mulai meneror desa. Tetapi kali ini, mayat-mayat itu tidak bangkit lagi. Gundukan tanah makam itu masih tetap utuh, lengkap dengan bunga-bunga yang kami tebar.
__ADS_1